Karena Cinta

Karena Cinta
Part 50#PAPA BIMA SETUJU DENGAN SYARAT


__ADS_3

Tatapan mata menelisik mencoba mencari kepastian. Bukan ragu tetapi ia hanya ingin memastikan jika janji tersebut bisa dipegang dan tidak ada drama di kemudian hari. Sebenarnya hati yakin ketika sang putri sudah memutuskan untuk memberikan janji, maka gadis itu akan ditepati.


Namun untuk kali ini ia benar-benar lebih waspada hingga melihat sang istri mengedipkan mata untuk meyakinkan ia sekali lagi bahwa semua akan baik-baik saja. Bima menghela napas kasar, lalu melepaskan tangan yang melingkar di lehernya, kemudian ia bimbing sang istri agar duduk di pangkuan seraya memberikan pelukan hangat untuk menetralkan seluruh kegelisahan yang masih menyergap hatinya.


"Jika memang itu benar, baiklah. Papa akan izinkan Bunga untuk tinggal di asrama di dekat kampusnya tapi sesuai kesepakatan hanya tiga bulan dan tidak boleh lebih dari satu detik pun setelah tiga bulan berlalu. Jika Bunga menyetujui dan mau menandatangani surat perjanjian, maka deal!



"Papa tidak meragukan tetapi ini semua agar untuk dijadikan pelajaran di kemudian hari. Jangan ada tindakan pemberontakan yang bisa menjadi perdebatan sengit antara anak dan orang tua karena itu hanya berakhir kesalahpahaman saja, kuharap mama mengerti maksud dari papa!"


Speechless sebab suaminya masih sempat berpikir tentang surat perjanjian. Padahal ini dengan putrinya sendiri, ia benar-benar tidak tahu harus berkata apa lagi. Akan tetapi jika tidak menurut maka kemungkinan akan terjadi penolakan dan Bunga akan kembali memberontak. Bingung antara mengiyakan atau justru mengeluhkan.


Ketika melihat situasi ia harus bersikap adil ketika sudah menjanjikan kebebasan untuk putrinya, maka setidaknya ia juga harus menerima syarat karena telah meyakinkan hati suaminya yang sangat protektif terhadap putri mereka berdua. Serba salah.


Ternyata menjadi seorang ibu dan sekaligus sebagai seorang istri. Justru posisinya seperti sedang bertegur sapa mencoba untuk berdamai di tengah-tengah hingga seringkali dirinya sendiri mengalah dan terlupakan. Meski begitu ia selalu siap siaga walaupun sering kali harus merasa serba salah menghadapi dua insan yang sangat dirinya cintai.


Apalagi ketika terjadi argumen diantara ketiganya yang pasti hanya ia seorang yang memilih diam menyimak dan tanpa harus menguras tenaga, "Lakukan saja seperti keinginanmu, Mas. Cuma aku tekankan satu hal padamu agar surat perjanjian nanti dibuat tanpa harus memberikan penekanan pada satu aturan yang ada di rumah ini!"



"Di sini kita harus mengingat bahwa Bunga tinggal di asrama sebab ingin kebebasan dan jika memang kita mengharapkan gadis kita belajar dewasa, maka biarkan dia bebas. Sebagai orang tua kita bisa selalu mengingatkan agar gadis itu selalu menjaga diri dari dunia luar yang memang sangat liar."



Bukan kegelisahan lagi yang menguasai hati melainkan pendapat anggota keluarga yang lain. Meski tidak ada yang akan berargumen menyudutkan, ia sadar putrinya selalu dicintai semua orang. Sehingga jika sampai kepindahan ke asrama bocor, akhir dari perdebatan hanya akan menjadi keputusan final.


"Pa, kita tidak boleh melupakan andai keluarga besar tahu dan bisa saja hal ini akan menjadi masalah. Bukankah kita harus antisipasi untuk menangani hal tersebut dan mencoba untuk menenangkan semua orang? Sungguh aku berharap Bunga mau memahami keadaan kita, jika terjadi emergency yang membuat ia harus tiba-tiba pulang."


Mama Milea melanjutkan pengakuan hatinya karena mendadak ia sendiri meragukan keputusannya. Entah kenapa, tapi ia merasa sesuatu akan terjadi dan firasat seorang ibu tidak pernah salah. Sesaat ingin menarik ucapannya hingga sekelebat gambaran senyum bahagia Bunga menepis kegelisahan hati. Pasti keputusan suaminya akan membuat putrinya bahagia.


Kebahagiaan sejatinya selalu sederhana sebab itu berasal dari diri sendiri. Bahagia itu, suatu kelezatan yang terletak dalam sanubari karena mendapatkan sesuatu yang dicintai atau diinginkannya, dan berbanding terbalik dengan kesedihan sebab hanya ada rasa sakit di dalam sanubari karena kehilangan atau luput dari sesuatu yang dicintai dan diinginkannya.


Kunci kebahagiaan menurut perspektif Islam pun sangatlah banyak. Setidaknya ada tiga belas di antaranya, Iman kepada Allah dan beramal sholeh. Beriman kepada qadha dan qadar karena qadha dan qadar, baik buruknya semua dari Allah. Faham ilmu syariat para ulama yang mengenal Allah. Banyak dzikir dan membaca Al quran.

__ADS_1


Ada juga kedudukan hati yang lapang. Baik kepada manusia. Memandang urusan dunia lebih rendah daripada urusan akhirat. Tidak tamak dunia dan selalu siap mati. Yakin kebahagiaan hakiki bagi seorang mukmin adalah akhirat. Bersahabat dengan orang sholeh.



Yakin perbuatan jahat orang lain akan menjadi kebaikan bagi dirinya maka maafkanlah. Berbicara baik hapuslah perbuatan buruk dengan perbuatan jahat dan selalu kembali kepada Allah. Akan tetapi letak kebahagiaan adalah di dalam hati, yaitu hati yang memiliki keimanan, yang selalu merasa cukup dan selalu bersandar pada Allah Ta'ala.



Sekarang sudah jelas begitu banyak kunci agar bisa bahagia, tapi perlu digaris bawahi dimana kebahagiaan itu sendiri memiliki beragam makna untuk setiap insan yang berjiwa. Ada yang bahagia hanya karena bersyukur masih bisa melihat sinar mentari pagi, ada yang bahagia ketika berhasil sukses dan ada juga yang bahagia ketika sudah menyudahi masa lajangnya.



Definisi kebahagiaan terlalu luas bak samudra yang membentang di seluruh alam semesta. Akan tetapi pada dasarnya akan berasal dari dalam diri sendiri dan semua kembali pada makna bahagia itu sendiri! Jika bersyukur, maka InsyaAllah kebahagiaan mudah diraih.



Namun dalam pandangan Bunga atas tindakannya bukan berpatokan pada bahagia, melainkan kebebasan dan hak seorang anak untuk melihat dunia luar. Tidak semua bisa memahami hidup mewah di rumah bak istana dengan setiap hal berkecukupan, maka bisa dikatakan benar-benar bahagia. Sebab tanpa orang lain tahu, di dalam lubuk hati masih tersisa ruang kosong yang semakin hampa.




Bunga yang sudah menunggu lima menit sebelum kedua orang tuanya turun dengan sopan menyalami tangan papa, dan mamanya begitu datang memasuki mushola yang ada di dekat taman. Lalu sholat yang dipimpin papa Bima segera dimulai dengan makmum kedua bidadari rumah dan juga para pelayan. Suasana begitu teduh ditemani semilir angin dingin nan menyusup pori-pori.



Sholat subuh berjamaah memiliki banyak keutamaan dan sebagai umat muslim tentu tahu mengenai hal ini seperti berpeluang mendapatkan berkah dari Allah Ta’ala. Sebab, aktivitas yang dilaksanakan pada waktu pagi, terlebih aktivitas wajib dan dilaksanakan berjamaah seperti shalat Subuh, telah didoakan agar mendapatkan berkah.



Yang mendoakannya adalah Rasulullah shalallahu'alaihiwassalam: “Ya Allah, berkahilah umatku pada waktu paginya. (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ibn Majah).”


Beliau juga bersabda, “Tidak akan masuk neraka, orang yang melaksanakan shalat sebelum matahari terbit dan sebelum tenggelamnya.” (HR.Muslim)

__ADS_1


Sehingga kita sebagai umat muslim harus berlomba-lomba untuk melakukan sholat subuh berjamaah. Bila masih meragukan maka carilah keutamaan sholat subuh berjamaah di laman pencarian internet agar satu pesan nasehat dari sebuah cerita novel tetap bisa masuk ke dalam sanubari. Lalu ditanamkan dalam kebiasaan sehari-hari. Aaamiin.



Suara salam yang terdengar mengakhiri shalat dua rakaat yang dilakukan keluarga Bima, tapi seperti dimana para pelayan mendapatkan waktu untuk menyibukkan diri mengaji atau berdzikir serta berdo'a kepada Allah SWT. Sebagai majikan ia tidak ingin bersikap sewenang-wenang hanya karena merasa berhak atas tenaga yang sudah dibayarkan.



Ia ingin putrinya juga mengenal dunia dimulai dari dalam rumah sehingga sejak dilahirkan dan mulai memahami arti kehidupan. Baik ia maupun sang istri sangat berhati-hati dalam bertindak dan juga bertutur kata, bahkan tidak sekalipun berteriak meski emosi pernah datang mengetuk hati. Khilaf bisa saja dimaklumi, tapi tidak untuk dibenarkan.



"Nak, papa cuma mau tanya satu hal saja padamu. Apa benar kamu ingin tinggal di asrama dan jauh dari orang tua?" Papa Bima menatap putrinya serius tanpa memudarkan tatapan mata yang terpatri pada manik hazelnut.



Bunga yang kini duduk di hadapannya setelah ia sendiri menggeser posisi baru saja selesai berdzikir dan mengusap wajah dengan kedua tangan setelah berdoa sepenuh hati. Gadis itu mengangguk pasti tanpa melepaskan mukena. Dari binar mata sudah jelas menunjukkan tidak ada keraguan dan pertanyaan sang papa hanyalah agar ia mundur secara perlahan.



Apa boleh dikata? Ia tidak bisa menahan keras hatinya Bunga mengenai keputusan final karena keras kepala putrinya juga menurun dari dia sendiri. Sang istri memiliki sifat suka mengalah dan selalu berusaha memahami semua orang, sedangkan ia seringkali mengedepankan keputusan mutlak dan sungguh tidak menyangka menurun menjadi sifat Bunga.



"Apa mama sudah mengatakan syarat dari papa?" tanyanya sekali lagi untuk memastikan bahwa Bunga tidak mempermasalahkan surat perjanjian yang ia buat.



Kali ini tidak ada namanya penekanan sebab isi surat perjanjian benar-benar murni hanya tentang ketetapan waktu dan juga berlakunya jam malam termasuk asrama yang akan dipilih oleh kedua orang tua dan sebagai anak bebas tanpa harus kembali ke rumah selama tiga bulan. Meski begitu ada klausul yang menjelaskan tidak ada larangan untuk saling berkunjung dan maksimal dua minggu sekali.



Adil 'kan? Bagi Bunga tidak masalah karena satu keinginan untuk tinggal di asrama sudah diperbolehkan sehingga bisa jalan dan tanpa khawatir para pengawal yang akan selalu mengekor seperti biasa. Gadis itu bukan tidak tahu jika ia tetap diawasi, tapi satu hal pasti yaitu orang-orang tidak akan risih dengan pengawalan ketat dari orang tuanya.

__ADS_1



Dikeluarkannya surat perjanjian yang sudah ditandatangani dengan senyum manis dan pipi merona bahagia. "Deal! Makasih, Pa, Ma. Kalian berdua yang terbaik!" Bunga mengembalikan lembaran kertas tanpa sampul kepada papa Bima yang menerima dengan senyum terpaksa.


__ADS_2