Karena Cinta

Karena Cinta
Part 126#MENGAKHIRI SEGALANYA


__ADS_3

    Kepergian kedua orang tuanya, membuat Bunga merebahkan tubuh yang terasa lebih lelah dari sebelumnya. Ia sadar tidak memiliki semangat apapun sejak pulang ke rumah dan itu menjadi alasan kekhawatiran papa mama yang ingin selalu melihat dirinya baik-baik saja. Apa kali ini sudah berlebihan?


    Ia hanya merasa lebih baik berdiam diri sementara waktu dan menenangkan pikiran karena mungkin besok semua baik bahkan langsung melupakan semua kesedihan dari dalam hatinya. Lagipula kehidupan bukan hanya tentang satu hal saja. Perlahan menepis kekecewaan yang membelenggu jiwa seraya menyalurkan perasaan hangat cinta dari kedua orang tua.


    "Tidur lebih baik daripada trus mikirin hal gak penting. Kalau mereka memang tidak percaya sama aku, jadi tidak ada kewajiban menjelaskan masalah antara aku dan Vir. Anggap saja semua sudah berakhir dan besok harus memulai awal kehidupan baru."


    "Keluarga cukup bagiku," Bunga memejamkan mata, lalu meringkuk memeluk guling kesayangannya. Melepaskan sisa ketegangan yang sempat mengunci seluruh kesadarannya tetapi kini sudah aman tanpa kekeliruan rasa.


    Khayalan tak nyata selalu datang menyapa pada rasa yang tidak biasa. Samar tetapi tampak nyata dan tak mengubah dunia fana. Atas nama cinta yang terjerat kata-kata manis akan indahnya gelora jiwa. Hingga tak seorangpun lepas dari tipu daya.


    Apakah kebenaran bisa tenggelam selamanya? Tentu tidak karena pada kenyataannya akan selalu terungkap begitu saja. Tidak peduli itu cepat atau lambat, semua hal yang terpendam bisa bangkit kapan saja tanpa diminta apalagi direncana. Tak mengubah kebenaran selama apa adanya.


    Begitulah kehidupan di dunia fana. Yang mana satu masalah datang menerpa mencoba menggoyahkan keyakinan hati tetapi terhenti oleh keberanian jiwa menolak penguasaan emosi diri. Tidak satupun insan di dunia ini terlepas dari ujian hidup.


    Meninggalkan Bunga yang menjemput alam bawah sadar bermain rembulan tanpa bintang menjelajahi mimpi sendirian. Penderitaan teramat menyakitkan justru dirasakan si pemuda malang dimana tengah menerima hukuman kedua atas nama dari tindak kesalahan yang dilakukan sang calon istri. Dingin menusuk tulang tetapi berusaha diabaikan meski hampir kehilangan kesadaran.

__ADS_1


    "Hentikan! Hiks, hiks, aku yang berbohong, please jangan sakiti Vir. Hiks, hiks," Ghea berusaha memberontak dari pengawal yang mencengkram kedua tangannya setelah menolak mengakui tindakan provokasinya.


    Suara tepuk tangan memenuhi ruangan dengan tatapan tajam menerkam lawan. "Anak baik, untung saja pemuda itu masih hidup. Bagaimana jika mati? Tentunya semua itu karenamu. Zack, bereskan sisanya!"


    Dilemparkannya remote ke atas awan yang dengan sigap ditangkap sang tangan kanan, sedangkan ia tak ingin meneruskan ketegangan hanya untuk memberikan pelajaran. Masalah yang terlanjur sudah bisa diakhiri tanpa menambah kerugian. Terlebih lagi usia muda harus dipertimbangkan.


    Tidak masalah menyingkirkan beberapa nyawa sekaligus tapi bukan berarti kejam tanpa menyesuaikan kejahatan yang dilakukan. Lagipula anak-anak masih memerlukan proses pendewasaan karena kehidupan masih sangat panjang. Sementara dia sendiri harus melanjutkan pekerjaan yang lebih penting.


    Apalagi setelah mendapat pesan yang menyatakan kondisi darurat di perusahaan. Tentu ia harus bergegas meninggalkan mansion Teratai sehingga dalam waktu satu jam kurang sudah kembali menginjakkan kaki di lobi gedung milik keluarga yang menjadi pusat kehidupan banyak orang. Langkah kaki berjalan menuju ruangan sampai mengabaikan sapaan para karyawan.


    Tanpa permisi mendorong pintu kaca ruang rapat yang ternyata tidak diawasi oleh seorang penjaga pun di luar. Suasana di dalam tampak tegang bahkan orang-orang yang mengikuti rapat saling bertatapan tidak memiliki ketenangan. Apa yang terjadi dan kenapa bisa lepas di luar kendali?


    Terlihat wajah tegang seketika memucat begitu menyadari siapa yang menegur tanpa menumpahkan banyak kata dalam keterkejutan, "Bryant, apa kamu bisa jelaskan, kenapa rapat bisa sekacau ini? Apa yang kalian ributkan selain keuntungan."


Keberadaan wakil CEO yang menyita perhatian membuat langkah seseorang meninggalkan keramaian, ia berjalan menghampiri Al yang terlihat tidak senang. Sudah pasti sang paman akan meminta penjelasan atas kekacauan yang disaksikan. Dan itu menjadi tanggung jawabnya untuk menyampaikan situasi sekarang.

__ADS_1


"Om, maafin Bry, ya. Aku sendiri baru datang lima menit lalu karena terjebak macet dan begitu masuk ruang rapat sudah seperti ini keadaannya. Mereka mau keuntungan ditambah dan kontrak kerjasama diperpanjang. Sementara dari data perusahaan yang sudah aku pelajari itu tidak mungkin. Kinerja mereka saja hanya dua puluh persen tapi ingin hasil delapan puluh persen. Tiga kali lipat dari kerja keras masing-masing."


"Semua sudah di rekap ulang baik data dari bawahan sampai ke meja atasan. Perhitungan dua banding tujuh, aku masih belum menemukan siapa yang berani menggelapkan uang perusahaan untuk beberapa proyek selama dua bulan terakhir. Sekretaris dan pengacara sudah melakukan penyelidikan, kita tunggu saja mereka datang."


Bryant yang mengungkapkan kebenaran tanpa sungkan melibatkan semua orang. Baginya masalah sekecil apapun di perusahaan harus langsung diselesaikan terlebih lagi jika sudah menyangkut kesejahteraan seluruh karyawan. Ia tidak ingin menjadi pemimpin gagal hanya karena menginginkan keuntungan.


Pernyataan Bryant membuat Al menghela napas pelan. "Masalah ini biar aku yang tangani. Kamu pulang saja dan periksa keadaan Bunga. Jaga adikmu dan kita bisa ketemu saat makan malam membahas sisa pekerjaan. Pergilah, Bry!"


"Om, apa yang terjadi pada Bunga? Everything okay?" khawatir mengingat adiknya yang selama beberapa hari tidak memberikan kabar apapun padanya. Ia pikir semua aman terkendali tapi permintaan sang paman barusan menyatakan sebaliknya.


Al menggelengkan kepala, "Bima cuma minta kamu buat ke rumah dan bisa nemenin putrinya. Jangan tunda waktumu lagi, Bry. Perusahaan aman dan masalah bisa diatasi, kamu pulang saja."


"Thanks, Om. Bry pamit dulu, assalamu'alaikum," langkah kaki berlari meninggalkan ruangan rapat meninggalkan kericuhan yang sempat membuat kepalanya dilanda gempa bumi.


"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarokatuh, sekarang aku bisa tenang. Waktunya menyelesaikan masalah diperusahaan. Kenapa orang-orang suka sekali memicu keributan hanya karena keuntungan atau percintaan. Sungguh merepotkan seolah tidak ada kedamaian yang bisa di genggam.

__ADS_1


"Apa yang harus aku lakukan pada kalian semua? Begini saja, satu per satu tulis mau kontrak kerjasama seperti apa. Lalu serahkan padaku, syaratnya mudah. Kedua belah pihak memiliki kebebasan untuk menentukan pasal kerjasama sesuai yang diinginkan masing-masing. Okay kan?" Al berjalan melewati orang-orang yang ikut menghadiri rapat hari ini hingga ia terhenti di kursi kebesaran yang menjadi tempat sandaran raga.


Orang-orang saling pandang memikirkan ide Al yang terdengar menggiurkan sehingga satu per satu mulai disibukkan menuliskan kontrak kerjasama tanpa memikirkan maksud dari sang wakil CEO yang justru tersenyum miring melihat kesibukan semua orang. Kenapa orang berpendidikan bisa lupa kata-kata berlawanan, ia pun hanya bisa menggelengkan kepala karena heran.


__ADS_2