Karena Cinta

Karena Cinta
Part 147#IKATAN SAUDARA


__ADS_3

Jawaban Bunga cukup mengejutkan, tidak tau kenapa perasaan tak tenang ikut menghantui hatinya. Apa mungkin saat ini adiknya itu sudah mencintai seorang pria tetapi tidak diketahui oleh keluarga. Jika iya, bagaimana akan melangkah maju bila tidak ada perkenalan.


"De, apa kamu mau nikah muda? Siapa dia, darimana dan pekerjaannya apa?" tidak bisa menahan diri dari rasa penasaran yang terus datang menyapa benak pikirannya.



Bagi sang kakak tentu penting mengetahui sosok pria yang menjadi penguasa hatinya tapi takdir tak memberikan hak untuk mengatakan bahwa cinta miliknya memang dijadikan persinggahan terakhir oleh kekasih hati dalam kisah tanpa nama. Mungkin untuk menyatakan perasaan maka hari dengan keberanian akan segera tiba.



Tidak tahu kenapa, perasaan tak asing selalu mengatakan bahwa suatu hari nanti memiliki masa dimana bibir siap mengungkapkan rasa yang ada. Sementara ini, ia hanya bisa menyimpan setiap serpihan asa tanpa mengelabui dunia nyata. Apa yang ditakdirkan untuknya maka akan datang dengan sendirinya.



Seulas senyum tersungging menghiasi wajah anggun tetapi tatapan mata tidak seterang biasanya, "Mungkin masih tidur jodohku, Ka. Bunga cuma nanya tapi gak ada pacar juga, lagian masih jauh kecuali ada pria tampan seperti kakak, baru bisa aku pikirkan. Iya, gak?"



"Gadis nakal, kalau seumuran kakak jadiin abang aja. Kalau jadi suami nanti malah di dominasi, loh, de." Bryant menggoda Bunga mengusir ketegangan yang ada. Hati percaya atas setiap pilihan adiknya dan jika nanti memang memutuskan nikah muda, ia sendiri akan berusaha memahami situasi yang ada.



Kedua alis saling bertautan sedangkan tangan memainkan bibirnya, "Apa itu ide bagus, Ka? Kalau kebanyakan kakak laki-laki, oh, no. Nanti yang ada malah kalian ribut. Pokoknya Bunga cuma perlu satu laki-laki terakhir yang bisa menjadi pelengkap kehidupan fana."



"Puitis bener, De. Kakak cuma berharap, siapapun pilihanmu nanti adalah pria yang bisa menjaga, melindungi dan menghormati adikku sebagai kekasih halalnya. Pernikahan memang tidak luput dari banyak problematika tapi ketika sepasang suami istri bisa menghadapi suka duka bersama, itu sudah cukup mempertahankan kebahagiaan bersama."



Pengalaman memang tidak bisa membohongi kehidupan yang sudah terlewat begitu saja. Meski sadar bahwa pernikahannya juga bermasalah sejak awal, pada kenyataan yang ada di depan mata. Memanglah pernikahan antara ia dan Hazel, bukan sebuah contoh yang patut untuk ditiru. Apalagi setiap kali mengingat semua bermula karena satu kesalahan tidak disengaja.


__ADS_1


Seolah memahami maksud dari perkataan kakaknya, gadis bermata hazelnut mengusap lengan pria yang tampak tegar menjalani biduk rumah meski kapal yang disinggahi hampir karam tenggelam ke dalam terjangan ombak ujian. Ia bisa merasakan kesedihan yang disembunyikan oleh Bryant hanya saja tidak ingin memaksa lebih jauh lagi.



"Kita lupain masalah kehidupan dulu, Ka. Hari ini, hari bersenang-senang. Ingat saja, apapun yang terjadi di dalam kehidupan kita nanti maka sebagai saudara akan saling melindungi dan mendukung satu sama lain. Tidak boleh ada celah kesalahpahaman, agree?" ucap Bunga seraya menyodorkan tangan kanan yang mengepal ke arah kakaknya.



Ketulusan yang terasa menghangatkan jiwa tidak memungkiri ikatan saudara semakin kuat dan itu saling melengkapi satu sama lain. Apa yang dikatakan adiknya merupakan kebenaran dan tidak bisa diabaikan bahkan sebagai kakak, jujur dirinya salut memiliki saudara seperti Bunga. Tidak ada lagi keraguan atas persaudaraan mereka berdua.



Tangan terangkat dengan senang hati menyambut tos ria yang biasa dilakukan bersama, "Agree, saudara akan selamanya menjaga disisinya. Sekarang kita have fun dulu, besok harus memulai hari baru."



Di dunia yang fana hanya mengandalkan keberuntungan, kekerabatan, kekuatan, kekayaan, dan kesetiaan. Salah satu diantaranya bisa membawa kedamaian tetapi lebih dari yang diharapkan dan semua itu kembali pada setiap insan. Sebab tujuan kehidupan akan menjadi penentu menempuh jalan dari takdir Sang Pencipta.




Tumpukan file yang menggunung di atas meja menyembunyikan keseriusan wajah seseorang. Dimana sudah sejak tiga jam hanya disibukkan memeriksa catatan perusahaan secara keseluruhan tetapi ternyata tidak semudah menikmati suapan sarapan pagi yang hambar. Mau sampai kapan berdiam diri duduk di kursi kebesaran tanpa ada teman.



Menghela napas panjang, lalu meletakkan file ke dua puluh lima kembali ke atas meja. Tangan terangkat memijat pelipisnya, "Kepalaku bisa meledak kalau trus begini, kenapa pekerjaan setahun harus dibereskan satu minggu kurang. Apa dikira otakku mesin kali, ya."



"Huft, aku kangen jalan-jalan sambil makan jajanan pinggir jalan. Tunggu dulu, tidak ada larangan kerja di manapun kan, ya?" sesaat kembali memikirkan apa yang bisa dilakukan hingga sebuah ide terlintas mengembalikan semangatnya untuk tetap bertahan menyelesaikan misi perusahaan.


__ADS_1


Ruangan mewah dengan fasilitas lengkap memang siapapun pasti akan tergiur tapi untuk seseorang seperti dirinya. Semua itu justru membosankan, bagaimanapun selama ini ruang lingkup tempatnya bekerja adalah di luar dengan kebebasan alam. Lalu secara tiba-tiba harus duduk tenang yang justru membuat otot semakin kram.



Tanpa menunggu lebih lama, di ambilnya beberapa berkas kemudian ia masukkan ke dalam koper yang memang sudah dibawa untuk berjaga-jaga. Setidaknya barang miliknya bisa dimanfaatkan saat ini dan pekerjaan tidak tertunda hanya saja harus mengubah suasana kerja. Setelah memastikan mendapatkan berkas yang penting, barulah beranjak dari tempat duduknya.



"Ayo, kita jalan-jalan sebentar saja," gumamnya melangkahkan kaki penuh semangat dengan wajah polos bak pria muda tanpa dosa.



Langkah kaki berjalan meninggalkan ruangan kerja direktur tetapi penampilan tidak biasanya semakin menyita perhatian para karyawan. Sepertinya pria itu tidak tahu, jika sejak kedatangannya sudah menjadi bahan pembicaraan orang-orang di gedung yang sama. Ia yang tampak biasa saja justru menjadi penerus pimpinan.



"Orang pada kenapa, sih, liatin aku gitu amat," ucapnya lirih bahkan hanya bisa didengarkan olehnya saja.



Melihat sambutan tidak biasa selama berjalan menyusuri lorong gedung yang sudah sangat dihafalnya. Hati merasa semakin waspada, meski tidak ada keraguan hati untuk bertindak sebagai seorang pengusaha. Hanya saja, hari baru harus diawali dengan cinta damai. Sudah cukup memikirkan pertempuran demi pertempuran karena sekarang waktunya memahami kasih sayang.



"Tuan muda, Anda mau kemana?" kedatangan seorang pria berwajah oval dengan kumis tipis menghentikan langkah kaki sang penguasa yang harus menunda keinginan hatinya.



Entah situasi normal atau tidak, satu hal harus ditegaskan dimana ia memang menjadi penerus penguasa sebelumnya. Tidak ada keraguan untuk itu bahkan jika harus berminat tegas maka sudah menjadi kewajibannya. Bukankah pemimpin dihargai ketika mampu menjalani fase terburuknya?



"Aku akan melanjutkan pekerjaan dan mencari suasana baru. Apa ada yang ingin kamu sampaikan, Pak Chen?" balas si tuan muda tanpa mengubah ekspresi wajah santainya.

__ADS_1


__ADS_2