
Ingin percaya dengan Vir, tetapi sebagai pengacara dirinya lebih memahami siapa lawan dalam kasus kali ini. Jika pengacara lawan bukanlah anggota keluarga Putra, maka tidak akan berpikir seratus kali. Terlebih lagi keadaan akhir bisa semakin buruk andai memihak pihak yang salah.
"Tuan muda sepertinya sangat yakin dengan keyakinan diri. Apa itu berarti laporan dari pelapor benar adanya?" tanyanya lagi hanya untuk memperjelas situasi.
Vir mengangguk, membuat pengacaranya menghela napas berat. Tidak peduli apapun alasan di balik tindakan pemuda itu. Sebagai sesama manusia maka seharusnya saling menghargai bahkan jika memang benar apa yang dikatakan. Maka bukan berarti boleh mengobarkan pencemaran nama baik.
Tidak habis pikir dengan jalan pikiran tuan muda yang tampak bertindak begitu gegabah. Apalagi setelah pemuda itu dengan sukarela menyerahkan ponsel kepadanya yang mana berisi konten postingan di halaman media sosial. Akun media milik si pemuda dengan hasil tindakan nyata.
Bagaimana caranya membela dan percaya? Ketika klien sendiri sudah jelas melakukan kesalahan fatal. Ia selalu mengandalkan kepercayaan yang mana mengakui akan kejujuran dan kemampuan seseorang benar-benar dapat memenuhi harapan.
Akan tetapi melihat situasi, haruskah membantu kasus kali ini demi menyelamatkan citra tuan muda. Publik bisa saja terkejut dengan berita terbaru sehingga sang klien harus mengantisipasi hal tersebut dengan seterusnya melakukan pencitraan demi pencitraan hanya untuk merebut sebuah kepercayaan.
Pencitraan itu, tidak terjadi dari berbagai merk barang produk di televisi dalam rangka promosi barang dan pencitraan demi merebut kepercayaan pasar. Di situlah letak tinggi nilai kepercayaan karena pencitraan yang sebenarnya bukan seperti itu.
Namun, pencitraan itu adalah pembuktian, artinya terbukti bahwa pada diri orang tersebut terlihat ada kemampuan dan kejujuran sehingga dapat dipercaya. Hal ini dapat dilihat dari sikap terjangnya sehari-hari, seperti antara lain ada nilai kejujuran dan kemampuan pada dirinya, orang banyak tahu bahwa dia orang yang mampu, jujur dan terpercaya.
Hanya saja terlalu banyak insan berlomba-lomba menunjukkan pencitraan baik tetapi sekedar di muka umum saja. Hal ini sangatlah tidak baik dan bisa merugikan orang lain. Jika terus dibiarkan maka bisa berujung pada kepercayaan buta tanpa melihat kebenaran di balik layar.
__ADS_1
"Nyonya Panwar, lakukan saja semuanya seperti keinginan Vir. Berikan kompensasi seratus juta atau cek kosong. Aku tidak peduli dengan nominalnya asal Vir bisa pulang bersamaku dan kasus ditutup," ujar tuan Ardian yang tak tega dengan keponakannya itu.
Sebagai orang tua, dia hanya ingin selalu berkumpul dengan anak-anaknya. Jika sampai kasus Vir melebar, maka kemungkinan akan sering berpisah. Padahal baru kemarin bisa membujuk sang keponakan agar kembali tinggal di rumah dan sekarang sudah justru tersandung kasus hukum.
Dikembalikannya ponsel milik Vir kepada pemuda itu, lalu ia beralih menatap tuan Ardian dengan tatapan serius. "Tuan Ardian yang terhormat, saya akan ingatkan satu hal sebelum Anda membuat keputusan. Lawan kali ini adalah Tuan Alkan Putra. Wakil CEO perusahaan yang baru saja bekerja sama dengan perusahaan keluarga Anda."
"Jika Anda lupa, cobalah ingat lagi pertemuan dengan Tuan Bryant Angkasa. CEO dari perusahaan keluarga Putra itu adalah keponakan dari pengacara ini. Jadi, apa menurut Anda kasus ini karena segepok uang?" nyonya Panwar sengaja menyindir keras kliennya agar tidak salah jalan.
Seharusnya akal digunakan untuk mendapatkan jawaban dari setiap pertanyaan tetapi terkadang perasaan menutupi kebenaran yang ada di depan mata. Kenapa manusia begitu rentan oleh emosi hati? Ketika logika bekerja diterjang getaran jiwa seketika gentar dan selamanya tetap teguh pada pendirian yang nyata.
Sang pengacara selalu teliti agar bisa meminimalisir kerugian jika sampai berhadapan dengan lawan yang cukup menyulitkan. Apalagi jika benar seperti yang dikatakan wanita itu, maka nasib perusahaan juga akan diambang failed. Apakah akan sampai berimbas pada perusahaan keluarga juga?
"Aku gak tahu maksud bibi apa, tapi keputusanku tidak bisa diubah. Namanya manusia bisa saja hanya melakukan pencitraan kan? Jadi kenapa harus mundur. Jika paman tidak bisa memberi uang kompensasi, aku sendiri akan menggunakan milikku. Just it!" tegas Vir kekeh dengan keputusan tak mendasar tanpa berpikir panjang.
Keras kepala yang terlalu mendominasi membuat siapapun lawan Vir hanya bisa geleng-geleng kepala. Di balik sikap dewasa ketika tinggal di asrama, pemuda itu menjadi pribadi berbeda kala bersama orang-orang sekitarnya dengan kekuasaan yang ada di tangan. Ia masih tak ingin membuka hati untuk melihat kebenaran yang ada.
Tanda disadarinya langkah kaki berjalan maju memasuki area terlarang yang bisa membumihanguskan seluruh kerja keras keluarga. Pemuda itu terlalu mengedepankan ego hingga melupakan fakta akan dunia memiliki banyak sudut pandang disetiap kehidupan insan yang menghuni alam semesta. Apa semua akan berakhir baik?
__ADS_1
Belum usai berdebat apalagi mendapatkan penyelesaian tiba-tiba sudah dipanggil kembali untuk berkumpul di ruang pertama. Waktu tiga puluh menit berlalu hanya untuk argumen dengan keras kepala sang klien yang memiliki darah muda. Akan tetapi tidak dengan tuan Ardian yang mulai memikirkan segala sesuatunya dengan lebih cermat.
"Vir, kali ini dengarkan permintaanku. Minta maaf dan akui kesalahanmu. Biarkan kasus ini berlangsung dengan jalan damai, ingat jangan mendebat!" putus tuan Ardian menahan tangan Vir yang hampir saja keluar membuka pintu tetapi sang keponakan tak mengindahkan permintaannya.
Pemuda itu justru menghempaskan tangan melepaskan diri dengan tatapan mata tak senang. Sudah jelas akan ada pemberontakan yang tidak bisa dihindari. Hati pasrah pada waktu yang akan menunjukkan hasilnya nanti. Akan tetapi sebagai orang tua harus diam karena tanggung jawab sebagai pemimpin perusahaan wajib dijalankan.
Kepergian Vir dengan perasaan kesal dibiarkan, tetapi ia sudah berpesan pada nyonya Panwar agar mengupayakan segala cara agar masalah Vir bisa dihentikan. Kerugian yang harus ditanggung maka ia siap menanggung asalkan tidak sampai berimbas pada perusahaan keluarga. Meski nanti akan mengorbankan harga diri.
"Sayang, kenapa kamu nyusul? Aku sudah bilang untuk tetap di rumah karena ini urusan hukum dan tidak perlu khawatir," ujarnya menahan diri agar tetap santai di hadapan sang istri yang entah kenapa mendadak ikut datang ke kantor polisi.
Tangan dengan senang bergelayut manja menggandeng lengan kiri suaminya. "Come on, Bunga juga keluargaku. Lagian kamu itu suamiku dan orang harus tahu kalau Bryant cuma milik Hazel. Ayo, masuk pasti om Al sudah nungguin kita!"
Tidak berminat untuk menunda waktu. Bryant tak bisa mundur dari tanggung jawab sehingga dengan terpaksa membawa Hazel memasuki kantor polisi. Pria itu langsung disambut oleh pihak kepolisian dan di antarkan ke ruang pertemuan dimana semua orang sudah berkumpul kembali.
Suara derit pintu terbuka terdengar setelah dipersilahkan masuk oleh pemilik ruangan bersambut dua langkah beriringan memasuki ruang pertemuan. Kedatangan Bryant dan Hazel mengalihkan perhatian semua orang termasuk Vir yang langsung berdiri memperhatikan pria di depan pintu. Bayangan lalu saat Bunga bersama pria itu kembali datang menyapa memori.
"Anda sangat hebat sekali, Tuan. Bukan hanya mendapat satu wanita tapi bisa menggaet dua sekaligus," sindir Vir dengan nada bicara mengejek Bryant tetapi yang diejek justru tersenyum simpul menunjukkan wajah tampannya yang layak dikagumi kaum hawa.
__ADS_1