
Baru saja melangkahkan kaki tiba-tiba tubuh tersentak sentuhan tarikan tangan yang mengejutkan yang membuatnya spontan ikut mengangkat tangan melampiaskan kekesalan. Tak ayal suara keras tamparan menjadi sambutan pertemuan kedua tatapan mata yang saling bersinggungan.
"Aku sudah peringatkan jangan kasar tapi kamu justru semakin kurang ajar. Lepas!" ucap Bunga tak lagi menjaga nada bicaranya. Gadis itu sudah kehabisan rasa sabar yang selama beberapa waktu masih ditahannya.
Ia tidak ingin Vir berpikir bahwa dirinya lemah dan hanya mengandalkan perlindungan keluarga. Sebagai seorang wanita harus memiliki sikap tegas agar para pria mengerti perbedaan status bukan berarti bisa ditindas seenaknya. Terlebih lagi dengan santai main sentuh tanpa memiliki sopan santun untuk meminta izin terlebih dahulu.
Vir sendiri terpana dan harus menerima hukuman pertama dari gadis pujaannya. Sensasi panas yang menghantarkan kehangatan di pipi kanannya benar-benar menyentak sisa kesadaran miliknya, "Sorry, aku tidak bermaksud kurang ajar. Tolong dengarkan dulu penjelasan dariku ...,"
"Cukup sudah!" Bunga mengangkat tangan kanan yang menghentikan pembelaan Vir begitu saja. Muak dengan sikap agresif si pemuda yang sepertinya memang tidak bisa diajak kerjasama. Entah kenapa pemuda itu begitu keras kepala.
Namun sekali lagi berusaha menahan diri agar tidak membuang kata-kata secara cuma-cuma, "Selesaikan syarat dari pengacaraku dan tidak ada lagi masalah atau hubungan di antara aku dan kamu. Jangan datang dan pergi sesuka hatimu karena aku bukan mainan atau barang yang bisa dipermainkan."
__ADS_1
"Aku tahu, kamu berusaha mencari celah agar bisa menemuiku. Semua usaha itu tidak diperlukan karena masalah di antara kita sudah menjadi tanggung jawab pengacaraku. Sampai disini saja takdir membuat kita terikat. Assalamu'alaikum," Bunga tak lagi melanjutkan ucapannya, ia merasa semua sudah jelas tanpa harus mengulang penjelasan yang sama secara berulang-ulang.
Takdir memang tidak bisa ditentukan sehingga cukup memberikan kenyataan di antara kebenaran dan perjuangan. Takdir merupakan ketetapan Allah SWT yang telah ditentukan kepada setiap makhluk ciptaan-Nya, termasuk manusia. Meyakini adanya takdir termasuk dalam rukun iman terakhir, yakni iman kepada qada dan qadar.
Namun takdir dalam bahasa Arab berasal dari kata 'qadara, yuqaddiru, taqdir' yang artinya menaksir, menentukan, menetapkan, membandingkan, dan menjadikan kuasa. Sedangkan berdasarkan istilah tauhid, takdir ialah sesuatu yang telah ditentukan Allah SWT sejak zaman azali atau zaman belum diciptakannya seluruh ciptaan-Nya.
Ajaran Islam mengenal dua macam takdir, yaitu takdir muallaq atau takdir yang masih dapat diubah melalui ikhtiar serta takdir mubram yang tidak dapat diubah. Takdir yang telah ditetapkan Allah SWT tersimpan dalam Ummul Kitab atau Lauhul Mahfudz, sebagaimana diterangkan dalam firman-Nya melalui Al-Qur'an surat Ar-Ra'd ayat 39:
Artinya: "Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya-lah terdapat Ummul-Kitab (Lauhul Mahfuzh)." (QS Ar-Ra'd: 39).
Ketetapan takdir Allah SWT banyak terdapat dalam beberapa ayat Al-Qur'an lainnya beserta hadits Rasulullah SAW. Seperti yang terdapat di Surat Al-An'am Ayat 59:
Artinya: "Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauhul Mahfudz)." (QS Al-An'am: 59).
"Wahai Rasulullah, perbuatan hari ini sesuai dengan apa? Apakah sesuai dengan sesuatu yang pena-pena telah kering dengannya dan takdir-takdir berlangsung dengannya ataukah sesuai dengan sesuatu yang akan datang?"
Nabi SAW menjawab "Tidak, namun sesuai dengan apa yang pena-pena telah kering dengannya dan takdir-takdir telah berlangsung."
Orang tersebut berkata, "Kalau begitu, untuk apa perbuatan itu?" Nabi SAW lalu bersabda, "Berbuatlah kalian, karena segala hal dipermudah kepada apa yang diciptakan untuknya." (HR Muslim No. 2648).
Lalu berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Ubadah bin Ash-Shamit RA, Nabi SAW pernah bersabda:
__ADS_1
"Sesungguhnya yang pertama kali diciptakan Allah adalah pena kemudian Allah berfirman (kepada pena), 'Tulislah.' Lalu sejak saat itu, terjadilah sesuatu sejak ditakdirkan hingga Hari Kiamat." (HR Imam Ahmad, Abu Dawud, dan At-Tirmidzi).
Dengan kata lain segala sesuatunya yang terjadi di dunia meliputi seluruh alam semesta serta makhluk ciptaan Yang Maha Esa tentu memiliki ketetapan. Akan tetapi sebagai makhluk hidup yang diberikan akal serta pikiran maka manusia harus bisa membedakan baik dan buruk atas tindakannya agar bisa dipertanggungjawabkan kelak setelah kembali pada Sang Pencipta.
Termasuk dengan berbuat kesalahan kecil, sedang maupun besar. Tidak akan memiliki perbedaan atas kenyataan dan juga kebenaran yang ada di depan mata. Sama halnya melakukan introspeksi diri agar bisa memahami kesalahan yang telah diperbuat, lalu menyesalinya dengan sadar, kemudian bertekad tidak akan mengulang tindakan serupa.
Terdiam tidak mampu lagi berkata-kata sehingga dengan sadar melepas egonya. Langkah kaki Bunga berjalan menjauh darinya meninggalkan rasa hampa yang menyusup ke dalam jiwa. Ia merasa terpojok dengan pernyataan gadis mata hazelnut yang ternyata tidak ingin berurusan dengan pemuda seperti dirinya.
Apakah di mata Bunga, ia sudah jatuh tak memiliki harga atau gadis itu hanya ingin menyingkirkan dirinya tanpa berusaha mengenal kehidupan satu sama lain. Entahlah karena saat ini, ia cuma tahu satu hal yaitu si gadis mata hazelnut mengharapkan perpisahan untuk mereka berdua dan itu pun selamanya.
Apakah benar bisa dilakukannya? Ia sendiri tenggelam menikmati penyesalan setelah perbuatan yang masih menjadi roda masalah di antara mereka berdua. Lalu dengan pengakuan Bunga maka bisa dikatakan memang sejak awal hubungan mereka bukanlah sebagai seorang lawan apalagi kawan.
"Sikapmu tidak menunjukkan benci tapi kenapa tetap menyakiti hatiku. Aku cuma minta satu kesempatan saja dan pasti akan memperbaiki segala-galanya," ucap lirih Vir yang termenung mematung berdiri seorang diri tetapi tatapan mata nanar terus terpatri menatap punggung Bunga yang sudah jauh di depan sana.
Setelah mendapat kesempatan bisa bertemu Bunga, ia pikir akan menyelesaikan masalah diantara mereka berdua dan mungkin bisa menjadi teman sebagai awal hidup baru. Sayangnya keinginan serta harapan hanya menjadi khayalan semata yang terhempas kenyataan di dunia nyata. Bukan miris karena lebih tepat dikatakan sebagai karma tetaplah karma.
Keheningan yang berteman embusan semilir angin membuat Vir tak ingin beranjak dari tempatnya. Pemuda itu bahkan tidak menyadari banyak pasang mata yang memperhatikan pertikaian antara ia dan Bunga. Pertemuan singkat dengan hasil tak menyenangkan justru menjadi tanda tanya banyak orang.
__ADS_1
"Ghea, apa yang sebenarnya terjadi antara Vir dan Bulan? Kamu tadi bilang calon istri Vir, jadi bisa donk jelasin kenapa dua anak itu ribut sampai tangan ikut melayang," ujar Daffi memulai obrolan yang pasti mewakili semua pertanyaan di benak teman-temannya.