Karena Cinta

Karena Cinta
Part 66#SAHABAT YANG TERNODA


__ADS_3

Kehidupan damai ketika memiliki dunia nyata tanpa sandiwara dan hal itu tidak berlaku bagi si wanita yang keluar meninggalkan kamar panasnya. Langkah kaki berjalan menghampiri ruang tamu dengan wajah berusaha menyunggingkan seulas senyum nan tulus meski sangat dipaksakan.



"Siang, Ara. Tumben kesini? Ayo, masuk dulu!" Anggun mempersilahkan gadis manis dengan wajah polos tanpa make up untuk pindah ke dalam rumahnya.



Sebagai pemilik rumah kontrakan yang sudah ia tempati selama beberapa tahun, maka rumah itu seperti rumah sendiri karena memang belum pernah berpindah tangan. Keduanya masuk berurutan dan duduk di kursi kayu yang terlihat sudah begitu usang. Pertemuan tidak selalu pasti hanya saja jarang bercengkrama bersama.



Ara meletakkan keranjang buah yang dibawa dari rumah ke atas meja, "Aku kesini cuma mau tengok kamu. Semua baik-baik saja bukan?"



"Emangnya aku kenapa, Ra?" tanya balik Anggun dengan senang hati mencomot buah jeruk yang terlihat begitu segar dengan warna senja tersiram hujan.



Ara menatap Anggun dari atas kepala hingga ke ujung kaki. Jika diperhatikan dengan seksama tanpa melepaskan apapun, sahabatnya itu benar-benar baik tanpa ada kekurangan. Lalu, kenapa sang suami berkata sesuatu yang bertolak belakang?


Melihat si tamu malah melamun, sontak saja ia menggoyang bahu gadis polos itu, "Ara! Kamu kenapa, sih?"


"Eh, gak papa, kok. Lupain saja, mungkin mas Akbar salah lihat. Aku seneng kamu baik-baik saja," ujar Ara tak ingin melanjutkan obrolan niat awal dari tujuannya datang ke rumah sang sahabat.



Apalagi setelah melihat dengan mata kepala sendiri bahwa Anggun dalam keadaan sehat walafiat. Padahal dari cerita suaminya, ia mendengar bahwa sang sahabat sedang mengalami kesusahan. Katanya tidak sengaja melihat pertengkaran antara sepasang kekasih di pinggir jalan bahkan sampai ada adegan pemukulan.



Namun yang terlihat saat ini, kondisi Anggun tak kurang suatu apapun. Jadi apa cerita suaminya itu benar? Sebenarnya ingin bertanya tapi tak enak hati karena sejak menikah dengan Akbar malah hubungan mereka lebih renggang dari biasanya. Sekarang untuk melakukan pertemuan saja harus benar-benar melonggarkan waktu.



Pengakuan Ara, membuat Anggun mulai paham kemana arah pembicaraan yang dimaksud sahabatnya itu. Sudah pasti ulah Akbar dan semua itu bagian dari rencana agar bisa pindah, lalu tinggal serumah. Akan tetapi mengingat situasi, ia tidak ingin buru-buru.

__ADS_1


Anggun tak mau melanjutkan rasa penasaran Ara, jadi wanita itu sibuk mencicipi buah jeruk, "Aku gak paham maksudmu apa, Ra. Pokoknya makasih buat buahnya, seger, loh."


"Sama-sama, ngomong-ngomong kamu libur kerja, ya?" Ara mengedarkan pandangan melihat ke sekelilingnya yang ternyata masih sama sejak terakhir kali dirinya datang berkunjung.


Rumah kontrakan yang ditempati Anggun tidaklah begitu luas, tapi bisa disebut rumah. Dimana ada dua kamar tidur, satu kamar mandi dalam kamar, satu ruangan dapur dengan kamar mandi luar, ruang tamu ukuran empat kali lima, dan teras depan untuk duduk bersantai hanya cukup sebagai tempat berteduh kala hujan.


Anggun mengangguk, lalu beranjak dari tempat duduknya, "Aku ke dapur sebentar, buatin kamu minum. Mau teh atau air putih?"


"Anggun, gak usah bikin minum. Aku cuma mau lihat keadaanmu saja, kok. Sekalian langsung pamit," cegah Ara yang membuat Anggun berbalik menatap ke arahnya. "Sebentar lagi mas Akbar pulang kerja, jadi aku harus sudah ada dirumah. Pulang dulu, ya!"



"Iya, hati-hati di jalannya, Ra," sahut Anggun sedikit memelas agar Ara merasa dirinya sedih jika ditinggal begitu cepat.



Hal yang terjadi selanjutnya akan selalu sama. Dimana Ara dengan penuh kasih sayang berpamitan memberikan pelukan hangat seorang sahabat disambut baik Anggun meski hati dipenuhi sumpah serapah. Keduanya hanya memiliki satu nama yaitu sahabat tetapi ternoda.



Lambaian tangan mengiringi kepergian Ara yang terlihat mengayuh sepeda hingga si gadis polos itu menghilang di balik dinding rumah warga lainnya. Dirasa tidak perlu lagi berbasa-basi, Anggun dengan santai melenggangkan kaki kembali masuk ke dalam rumah. Ia merasa gerah harus terus bersandiwara dengan sahabat palsu.




"Ara, ara, coba aja, hidupku itu kaya kamu. Sudah pasti duniaku tenang dan bisa membeli apapun sesukaku, tapi sayang bapakmu itu tidak doyan darah muda. Ck, digodain pun malah istighfar. Gadis cantik sepertiku dikira setan kali, ya?" celoteh Anggun kesal ketika sekelebat ingatan membawa kenangan masa lalu.



Daripada meminta bantuan Akbar untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Ia sebagai seorang gadis berparas cantik mulai berusaha dengan mendekati ayah sahabatnya sendiri. Memang umur dari ayahnya Ara bisa dikatakan sudah begitu tua, tapi masalah harta menjadi beda cerita.



Sayangnya usaha rayuan yang sudah semaksimal mungkin malah berujung ceramah agama panjang kali lebar dan itu sangat memuakkan. Setiap kali mengingat suara khas orang tua, ia merasa orang-orang suka menilai dari satu sudut pandang saja. Padahal tidak ada yang bisa memahami kesulitan hidupnya.


__ADS_1


Oleh karena itu dengan mengandalkan Akbar yang begitu buta mencintainya. Kini kehidupan mulai terjamin bahkan sebenarnya ia sendiri sudah keluar dari pekerjaan yang lama. Perlahan kehidupan mulai membaik, tapi masalah bertambah setelah waktu sang suami lebih banyak dihabiskan bersama istri kedua.



Bukan iri, ia cuma merasa harus menghapus semua jalan kebahagiaan milik Ara dan itu dirinya lakukan karena demi balas dendam atas sikap ayah sang sahabat sekaligus memuaskan diri atas pencapaiannya kali ini. Adil bukan?



Buta akan kebaikan orang lain dan membuat hati semakin jatuh ke dalam kegelapan. Begitulah keadaan Anggun yang memiliki obsesi menghancurkan hidup sahabatnya sendiri, sedangkan orang yang ingin dia hancurkan selalu mencurahkan cinta setulus hati. Ayesha Ramadhani atau biasa dipanggil Ara, gadis yang kini menjadi istri Akbar setelah sang ayah wafat.



"Siang, Neng Ara. Kok tumben pake sepeda mini, habis darimana?" tanya seorang warga yang kebetulan berada di luar rumah ketika Ara lewat.



Ara tersenyum manis begitu turun dari sepedanya, "Siang juga, Bu Mia. Itu dari rumah temen, bu. Mari, duluan!"



"Monggo, Neng Ara," sahut bu Mia membiarkan Ara masuk ke pekarangan rumah yang terlihat luas.



Ara meletakkan sepeda dengan menyandarkan ke sebuah pohon mangga, ia memang jarang menstandar agar di keadaan mendesak bisa langsung mengendarai si kesayangan tanpa kesulitan. Langkah kaki berjalan menghampiri rumah yang tampak begitu asri dengan suasana tenang.



Sesaat melihat kanan kiri dan ternyata tidak ada pekerja. Itu berarti rumah dalam keadaan kosong, "Assalamu'alaikum," laungan salam selalu menjadi langkah awal memasuki rumah yang dalam keadaan tidak terkunci.



Suasana begitu damai bersambut semilir angin segar dari berbagai arah karena jendela terbuka lebar dan selalu mengganti sirkulasi udara. Lirikan mata tertuju pada jam yang ada di dinding ternyata sudah menunjukkan pukul hampir satu siang tapi tumben sang suami masih belum pulang.



"Macet kali, ya?" Ara mengernyit seraya menautkan kedua tangan sekaligus mencoba mengingat apa suaminya memiliki jadwal pertemuan di perkebunan.

__ADS_1



Setelah dua menit, ia baru ingat bahwa hari ini pekerjaan memang cukup banyak termasuk membayar gaji para karyawan. "Hehehe, hampir saja ngomelin suami sendiri. Jadi hari ini masak spesial saja kali, ya? Buat mas Akbar bangga punya istri."


__ADS_2