Karena Cinta

Karena Cinta
Part 57# ADEN SI ...


__ADS_3

Bunga yang tidak sadarkan diri membuat orang-orang di sekitarnya panik. Mereka melihat apa yang sudah terjadi tetapi beruntung saja raga gadis itu jatuh ke dalam pelukan seorang pemuda dengan wajah tertutup masker. Situasi semakin tidak kondusif sehingga pemuda itu langsung menggendong tubuh yang terasa tidak begitu berat dan ditemani bunda Widya dimana langkah kaki mereka berjalan meninggalkan keramaian pasar malam.


Si pemuda terus berjalan ke depan tanpa mempedulikan tatapan mata semua orang. Ia sudah terbiasa menjadi pusat perhatian tetapi ketika satu kejadian mengubah sudut pandang, maka bisa menjadi akhir dari kekaguman. Suara-suara dari arah belakang yang membicarakannya dibiarkan karena tak ada keinginan untuk membantah. Apalagi memberikan klarifikasi.


Sementara Bunda Widya yang juga mendengar mulai merasa geram tetapi kali ini ia juga tidak ingin berkomentar sebab tahu benar bahwa pemuda itu bisa menangani masalah yang akan dihadapi suatu hari nanti. Kedua insan itu kembali ke asrama karena jarak memanglah tidak jauh sehingga tidak memakan waktu lama, lalu bunda Widya dengan buru-buru mengambil kunci duplikat dari rumah utama.


Mana mungkin ia memeriksa tubuh Bunga hanya untuk mencari kunci saja. Terlebih lagi itu disebut tidak sopan. Setelah pintu terbuka, dibiarkannya si pemuda masuk terlebih dahulu dan secara perlahan merebahkan tubuh Bunga ke atas ranjang. Lirikan mata masih bisa melihat menelusuri seluruh area kamar yang sudah berubah drastis dari warna asli asrama.


Dimana hanya ada kemewahan meski tidak sama seperti kamar pribadi. Ia yakin gadis yang terbaring dengan wajah pucat dan mata terpejam memiliki kehidupan serba kecukupan. Mendadak pemikirannya kembali melayang pada kenyataan yang membuat tangan mengepal.


Ingatan kemesraan antara Bunga dengan seorang pria yang lebih dewasa dan pantasnya menjadi seorang kakak. Sesaat ia berpikir, apakah itu kekasih Bunga? Akan tetapi lebih pantas dianggap sebagai simpanan pria dewasa dengan jemari yang mengenakan cincin pernikahan.



Lalu apa artinya jika bukan disebut sugar baby? Ia sendiri tidak bisa memungkiri bahwa Bunga memiliki wajah cantik nan anggun. Sekelebat ingatan menghadirkan ketidaknyamanan yang membuatnya ingin segera pergi dari kamar gadis itu.


"Aden mau ke mana?" tanya Bunda Widya yang melihat si pemuda hendak beranjak dari sisi Bunga. "Bunda mau buatin makanan dulu buat kalian berdua. Jadi Aden tunggu disini dulu!"


"Jangan kemana-mana, ya. Bantuin bunda buat jagain Bunga! Bunda khawatir kalau si neng terbangun dan tidak ada siapa-siapa yang membantunya," bunda Widya menyerahkan sebotol minyak kayu putih. "Sekalian oleskan minyak ini ke leher sama kakinya, ya, Aden!"


Permintaan bunda Widya tak bisa ditolaknya. Sebab ia tahu benar jika wanita berhijab itu akan selalu mengkhawatirkan anak-anak asrama karena memang memiliki tanggung jawab yang besar. Meski tidak semua anak dekat dengan sang bunda.


Kali ini ada yang berbeda karena ia sadar bahwa di mata sang bunda, Bunga memiliki tempat spesial. Tidak tahu apa alasan dibalik kepedulian tersebut hanya saja ia terus berpikir positif. Berusaha untuk menjadi manusia normal tanpa kecurigaan.

__ADS_1


Mau tidak mau harus menjaga Bunga karena bunda meninggalkan kamar tanpa menunggu jawaban keputusan darinya. Sadar bahwa bunda Widya sudah mempercayakan Bunga kepadanya sehingga ia tetap di dalam kamar.


Namun tempat ia duduk menjauh dari ranjang karena tak ingin berdekatan dengan Bunga. Ada perasaan yang ia sendiri tidak sanggup untuk mengungkapkan. Ya, perang hati dan pikiran mulai menjadi permasalahan tanpa arah tujuan.



Dilepaskannya masker yang menutupi wajah hingga pantulan cermin memperlihatkan seorang pemuda tampan rupawan yang cukup bisa menjadi kontroversi dunia maya, "Dunia sempit sampai-sampai ketemu sugar baby di asrama. Emangnya sudah berhenti jadi simpenan om om, ya? Kok bisa nyungsep di sini. Seharusnya jangan keluar rumah!"


Rupanya hati pemuda itu masih sangatlah kesal sebab mengetahui kebenaran yang tidak ingin dirinya terima. Dimana kekesalan itu kian meningkat ketika apa yang diharapkan tidak sesuai keinginan. Padahal untuk pertama kali mulai tertarik dengan yang namanya perempuan.


Pada akhirnya, apa yang belum dimulai sudah berakhir terlebih dahulu. Miris 'kan? Tanpa ia sadari bahwa hasil dari kesimpulannya itu telah menghadirkan rasa benci di dalam hati Bunga. Gadis itu tidak ingin melihatnya meski dari pantulan bayangan saja setelah apa yang dilakukan oleh si pemuda.


Rasa tidak suka mulai disingkirkan ketika ia mengingat harus mengoleskan minyak kayu putih yang dirinya genggam di tangan. Rasanya benar-benar tidak nyaman ketika tangan menyentuh permukaan kulit kening Bunga. Apa sebegitu membenci gadis itu hingga tidak sanggup melakukan kebaikan, lagi?


"Astaghfirullahalazim, Mahavir, please stop! Why do you keep thinking about Bunga's work? What is important for you!" suara tegas mencoba menyadarkan diri sendiri bahwa kehidupan Bunga bukan tanggung jawabnya, tapi hati tidak bisa berbohong ia kecewa pada gadis itu.



Langkah kaki berjalan menghampiri meja kaca yang juga sekaligus sebagai meja tamu dan sofa lembut berwarna putih menjadi teman si meja kaca. "Aden makan dulu! Biar Bunga sama bunda, kita bisa tukeran tempat. Ayo, sini ambil semangkuk bubur ayam khusus dari bunda!"



"Kenapa bunda repot-repot? Aku akan kesitu!" Mahavir ingin beranjak dari tempat duduknya tapi tiba-tiba ada tangan sentuhan lembut yang menggenggam tangan kanannya dan membuat ia tertahan bersambut tatapan mata menatap mata terpejam dengan pahatan wajah manis.

__ADS_1



Bunga yang dalam keadaan tidak sadar berhasil menghentikan kepergian Mahavir dari sisinya. Dimana hal itu juga di lihat oleh bunda Widya sehingga menyarankan akan menyuapi pemuda yang dipanggil dengan nama Aden. Akan tetapi si pemuda menolak dengan alasan masih kenyang.



Singkat cerita malam yang seharusnya dinikmati menjadi seorang pedagang bakso. Justru berubah sebagai seorang penjaga gadis tak sadarkan diri. Meski begitu Mahavir tidak sendirian sebab bunda Widya tidak membiarkan kedua insan itu hanya berdua saja.



Keesokan paginya secercah sinar mentari menelusup menyinari kamar melalui celah tirai. Uluran tangan yang menggenggam secangkir teh hangat menyambut kelopak mata berbulu lentik dengan senyuman samar bersama tatapan bingung. Tampak begitu jelas memiliki banyak pertanyaan meski tak ada kata yang meninggalkan kerongkongan.



"Terima kasih, Bunda. Maaf, apa yang terjadi semalam?" tanyanya setelah menerima secangkir teh, tapi tangan kiri memegang kepala yang terasa berdenyut hebat.



Bunda Widya duduk di tepi ranjang, lalu menunjuk ke arah selang yang terhubung dengan infus cairan. "Perubahan cuaca dan kamu telat makan, ditambah lagi langsung makan makanan pedas. Kata dokter akan baik hanya saja harus istirahat total selama dua hari. Istirahatlah!"



Penjelasan bunda Widya membuat Bunga termenung. Ia baru ingat akan kejadian semalam di pasar malam. Sungguh dirinya bersyukur akan kebaikan orang-orang disekitarnya. Jika tidak, maka sudah pasti berakhir di rumah sakit dan orang tua langsung melarang ia tinggal di asrama.

__ADS_1



"Apa bunda beritahu papa dan mamaku?" Bunga menatap bunda Widya cemas begitu mengingat rasa takut pulang ke rumah sebelum memulai petualangan.


__ADS_2