
Satu pertanyaan dari putrinya berhasil mengalihkan fokus utama dari persiapan perjalanan mereka berdua. Ia merasa heran karena baru pertama kali ini sang putri mau tahu kriteria idaman yang bisa menjabat sebagai menantu sekaligus suami Bunga di masa yang akan datang.
Tanpa rasa curiga dilepaskannya tangan sang putri, lalu beralih mengusap punggung tangan yang terasa begitu lembut dan harum. Bunga memang memperhatikan penampilan, tapi bukan di area wajah melainkan perawatan seperti skincare saja dan sesekali mengunjungi salon untuk perawatan rutin yang pasti ditemani oleh para wanita dewasa.
"Apa putri kesayangan papa sudah punya pacar?" tanya papa bima mencoba memulai perbincangan antara ayah dan anak tanpa gangguan orang lain.
Bunga menggelengkan kepala membantah pertanyaan dari papanya karena memang tidak berniat pacaran. Akan tetapi, ia harus memastikan sesuatu untuk meneruskan niat hatinya. Bukan hal sulit membuat keluarga terkesan hanya saja lagi-lagi harus sadar diri mengingat status yang menjadi penghalang terbesar dalam mencapai tujuan hati.
"Putriku yang selalu dimanja oleh keluarga dan juga dijaga sepenuh hati, maka pasangannya harus bisa menghapus rasa khawatir kami ketika melepaskan tanggung jawab sebagai orang tua nanti. Papa tidak akan segan untuk menolak, jika pemuda yang menjadi pilihanmu masihlah bergantung pada orang tua.
"Bagaimanapun sebagai seorang ayah, aku masih egois karena memikirkan kebaikan masa depanmu. Bawa saja pria yang berhasil mengambil alih separuh napasmu, tapi jangan tunjukkan para pemuda tak berakal ke hadapan papa. Intinya adalah kamu bebas bergaul karena itu hakmu.
"Nak, di dunia ini banyak sekali pria yang hanya bermodalkan tampan dengan harta kemewahan milik orang tua. Jarang papa menemukan pemuda pekerja keras yang mau berjuang dari nol tanpa mengandalkan koneksi keluarga. Papa harap, kamu bisa benar-benar selektif dalam memilih pasangan nantinya.
"Bersikap tegas, tapi untuk menjaga harga diri dan kehormatan. Papa percaya padamu tanpa harus mendengarkan penjelasan akan setiap keputusan dalam hidupmu nanti. Baik diriku, kamu maupun mama, kita bertiga memiliki hak dan kewajiban yang sama meski berbeda porsinya."
__ADS_1
Apa yang dikatakan oleh papa Bima memang benar dan tentu saja bisa dianggap sebagai nasehat orang tua kepada anaknya. Pria itu berbicara dengan terus terang karena obrolan serius yang menjadi topik pembahasan bisa dikatakan cukup sensitif. sebagai seorang ayah, ia tidak ingin Bunga mengalami masalah mengenai kebimbangan hati.
Padahal tanpa ia sadari. Bunga sudah jatuh dalam rasa cinta yang begitu dalam dan tak ingin bangkit dari mimpi terindah dalam hidupnya. Jatuh cinta pada sang paman adik dari bude nya sendiri. Hubungan yang diharapkan menjadi kenyataan, tapi penghalang terbentang luas menjadi tembok benteng pertahanan.
Lega rasanya karena sang papa hanya menjelaskan garis besar calon menantu idaman tanpa menyebutkan merk, "Jadi tidak ada kriteria khusus kan, ya? Alhamdulillah, Bunga tidak harus nyari cowok yang mirip Tiger Shroff atau Aryan Khan, apalagi Bruce Lee. Kalau nyari yang kek begitu, bisa jadi harus pindah tempat kuliah dulu, Pa."
Ketika mendengar beberapa aktor dari Bollywood dan Hollywood. Siapa yang tidak melongo? Apalagi yang disebutkan sang putri merupakan aktor terkenal bahkan bisa dijadikan inspirasi. Meski pada bidang pekerjaan sebagai seorang seniman akting. Tetap saja sangat dihargai dan dicintai oleh para penggemar yang berasal dari berbagai belahan dunia.
"Hahaha, anak papa bisa saja, sih. Sudahlah, kita akhiri dulu pembahasan seriusnya. Sekarang biarkan papa fokus menyetir, by the way apa Bunga tidak mau ikut seminar yang diadakan di kantor pekan depan?" papa Bima mengajukan pertanyaan tetapi tanpa menoleh ke arah gadisnya.
Dimana setiap rumah memiliki luas wilayah yang bisa dijadikan tempat acara dadakan. Rumah utama dengan desain modern bertingkat dua, tapi di sisi kanan, kiri bahkan depan dan juga belakang masih termasuk satu paket kepemilikan. Jadi bisa dikatakan perumahan mandiri karena proses pembangunan menyesuaikan keinginan si pemilik lahan.
Maka tidak heran ketika melewati rumah lain dengan desain berbeda dan juga luas berbeda pula. Apa yang tersedia di lingkungan perumahan itu, jelas sangatlah eksklusif. Sehingga yang memiliki tanah dan bangunan juga orang-orang berdompet tebal agar tetap membayar pajak sesuai aturan tanpa ada keluhan.
Perjalanan cukup begitu tenang meski Bunga terlihat sibuk memeriksa jadwal kuliah pagi ini, "Pa, apa Ka Bry bisa menjemputku sore nanti? Semalam sudah janji mau ngajakin aku jalan. Katanya mumpung Hazel tidak ada di Jakarta."
__ADS_1
"Hubungi saja kakakmu itu langsung! Papa tidak mau menghubunginya untuk sementara waktu," jawab papa Bima dengan suara ketus yang tanpa disengaja karena terbawa emosi hati.
Bunga sadat akan perubahan nada suara dari papanya, tapi ia tida paham kenapa orang dewasa begitu kaku hanya karena satu jalan kehidupan yang tidak sesuai keinginan hati semua orang. Jika bisa, dirinya ingin mengingatkan bahwa keputusan sang kakak pastilah sudah dipikirkan secara matang.
Bukan ingin membela tanpa melihat kesalahan sang menantu pertama keluarga Putra, hanya saja dirinya cukup mengerti akan perasaan dan terjebaknya sang kakak atas semua kejadian yang membelenggu hubungan semua anggota keluarga merekaa.sehingga memutuskan keluar dari kediaman Putra tanpa memberikan kesempatan untuk memulai hubungan baru.
Sebagai anak, dirinya berusaha bersikap sesuai umur. Bukan karena takut, melainkan menunggu waktu agar hati para orang tua bisa lebih lapang dan sabar agar mau memaafkan orang yang berbuat salah. Lagipula dia juga percaya bahwa sang paman tidak mungkin berdiam diri tanpa ada pergerakan.
Perjalanan selama empat puluh menit karena macet di saat melewati persimpangan, membuat Bunga bergegas turun dari mobil begitu mobil berhenti di depan gerbang kampusnya. Gadis itu, bahkan sampai lupa mengecup telapak tangan sag papa karena terburu-buru mengingat waktunya sudah sangat mepet. Langkah kaki berlari menyusui halaman kampus nan luas tanpa menoleh kanan, apalagi kiri.
Gadis itu berlari dengan harapan tidak telat dan bisa segera sampai ke kelas. Sesekali tatapan mata melirik ke arah jam yang melingkar di pergelangan tangan kanannya, "Astagfirullahaladzim, dua menit lagi jam pelajaran dimulai. Semoga dosennya ikutan telat, ya."
Tidak ada salahnya berdoa di dalam keadaan mendesak, tapi permintaan Bunga cukup lucu karena mengharap mendapatkan dosen yang suka terlambat dan semua itu hanya disebabkan oleh keterlambatan dirinya sendiri. Langkah kaki akhirnya hampir mencapai pintu kelas yang masih berjarak tiga meter di depan sana, tapi tiba-tiba ada tangan yang menarik lengan kirinya.
"Woi, lepasin!" seru Bunga spontan seraya menghempaskan tangan si pemegang.
__ADS_1