Karena Cinta

Karena Cinta
Part 65#AWAL DAN AKHIR


__ADS_3

Kakaknya terlalu banyak pikiran sampai-sampai tidak mendengar jawaban yang sudah ia utarakan dengan penuh pertimbangan. Padahal di dalam pengakuan juga mengatakan alasan kenapa ia ingin kuliah layaknya homeschooling. Akan tetapi takdir memblokir kebenaran pada waktu tak tepat.



"Lupakan saja, Ka. Setelah ini, ka Bry mau pulang ke rumah mama atau ke istana kosong?" tanya balik Bunga menyudahi perbincangan berat antara kakak beradik.



Bukan tidak ingin melanjutkan hanya saja semua yang terjadi pastilah memiliki alasan tepat. Lagi pula sebagai seorang adik, ia harus sadar diri keadaan kakaknya sendiri. Sudah pasti Bryant memiliki banyak masalah dan pekerjaan yang menumpuk dan jika ditambah mengurus masalahnya. Apa itu tidak merepotkan?



Bryant mengalihkan perhatian ke arah cangkir kopi yang ternyata sudah habis tanpa sisa, "De, temenin kakak ke rumah mama, yuk! Nanti malam kamu tak antar pulang, deh."



"Ciye, masa udah gede masih minta ditemenin, Ka. Kuy!" sahut Bunga terkekeh pelan menggoda Bryant yang tersenyum simpul.



Tidak ada penolakan yang membatalkan keinginan hati. Bryant dan Bunga meninggalkan cafe, lalu kembali masuk ke dalam mobil yang merupakan milik sang adik. Sejak pindah ke asrama, gadis itu sudah mendapatkan beberapa fasilitas baru dan salah satunya adalah mobil baru.



Mercedes C-Class yang menjadi pilihan papa Bima untuk putri kesayangannya. Mobil medium mewah yang menawan dan nyaman digunakan. Harganya kurang dari 1 miliar, tetapi C-Class dikenal tangguh, efisien, kuat, dan aman.


Apalagi Mercedes Benz C-Class memiliki kelebihan yaitu rem aman dan andal, ruang kargo juga cukup minimalis. Namun bukan merupakan mobil terbaik untuk kelasnya yang mengutamakan desain sporty karena agak sempit. Jadi dengan kata lain agar Bunga tidak sering bersama banyak orang.


Sepanjang perjalanan hanya ada obrolan ringan dimana baik Bryant dan Bunga saling bercerita mengenai kenangan beberapa tahun silam. Masa-masa indah ketika seluruh keluarga masih menjadi satu. Kehidupan akan terus berputar sebagaimana mestinya.



Ketika satu kehidupan dimulai, maka ada kehidupan lain yang berakhir. Meski tidak selalu mengenai sisa umur dari insan yang bernyawa, ada rasa pelebur jiwa menghancurkan logika tanpa menyisakan makna. Sakit di dada sekedar kata tak bersuara.



"Sayang, apa kamu serius dengan rencana ini?" tanya seorang wanita yang masih sibuk menikmati dorongan bersambut tarikan sang pria di atasnya.


__ADS_1


Di sela olahraga ranjang, ia tak melepaskan sesi diskusi karena sudah tidak tahan lagi untuk hidup seorang diri. Bagaimana bisa menjadi istri sah malah berakhir menjadi rasa simpanan? Tentu saja hati tak mau menerima hal tersebut lebih lama lagi.



Baginya, suami hanya bisa dibagi sekedar nama di atas materai saja dan bukan di atas ranjang untuk berbagi peluh kenikmatan. Baik nafkah lahir maupun batin, keduanya hanya hak dia seorang dan bukan istri kedua dari suaminya itu. Lagi pula ia memberikan izin pernikahan hanya agar bisa menguasai harta sang sahabat bodohnya.



Tangan menarik squash kenyal yang terus naik turun mengikuti ritme permainannya, "Honey, sudah cukup keras kah?"



"Aa@hh ... pelan dikit, mas! Nanti copot tidak ada gantinya," sahut si wanita yang ikut menggenggam tangan nakal suaminya.



Wanita itu membimbing prianya agar memperlakukan ia selembut mungkin bahkan saking berusahanya mata ikut terpejam menikmati sentuhan tangan kekar yang semakin mempermainkan squash kenyal penghantar kenikmatan. Suara lenguhan manja lolos begitu saja.



Derit ranjang terus bergoyang hingga keduanya kelelahan dalam peraduan kenikmatan tanpa pemberitahuan. Dua jam telah berlalu, raga basah terpisahkan. Seorang pria turun dari ranjang bersiap membersihkan diri agar bisa segera pulang ke rumah istri keduanya tetapi baru menapaki lantai tiba-tiba ada yang menahan tangan.




Istri pertama yang dinikahi karena cinta dan selalu ia rindukan setiap waktu, sedangkan istri kedua sekedar menjadi batu loncat agar memiliki kekayaan. Siapapun pasti rela menikah dengan seorang gadis polos tanpa orang tua tetapi memiliki harta cukup untuk menjamin kehidupan di masa depan. Meski begitu, posisinya bukan sebuah kebetulan.



Sentuhan tangan yang merajalela menariknya kembali ke atas ranjang bersambut sekelebat bayangan akan sekilas kenangan dari sebuah perjanjian antara sepasang kekasih. Di bawah lampu temaram perhatian terfokus pada pemandangan indah keluarga bahagia. Di dalam rumah yang terpampang jelas dari jendela kaca menampilkan seorang ayah dan gadis muda tengah bercanda ria.



"Mas, kalau kamu berhasil pacari sahabatku itu, kita nikah minggu depan. Gimana?" ujar seorang gadis yang berpenampilan terbuka dengan begitu serius seraya menunjuk ke arah depan di sebarang jalan.



Dimana terlihat sebuah rumah mewah dari rumah warga lainnya. Tentu saja dianggap rumah orang berada sebab si pemilik saja merupakan salah satu pemilik kebun yang menjadi tempat bekerja beberapa warga di sekitarnya. Pria tua yang sudah usia sepuh itu hanya mempunyai satu anak yaitu gadis manis nan kalem masihlah begitu muda.

__ADS_1



Tantangan yang menggiurkan karena setelah berulang kali mengajak menikah dan selalu ditolak. Kali ini, justru pacarnya sendiri yang mengajukan persetujuan. Cuma sekedar memacari seorang gadis lugu, apa susahnya? Begitu pemikirannya hingga tanpa pikir panjang sepakat.



Demi melancarkan aksinya, pria itu sengaja melamar pekerjaan di kebun milik si gadis lugu. Sehingga selama beberapa waktu terjadi pertemuan yang lebih baik dan juga intensif. Ketika mengingat waktu, jelas saja semua terjadi begitu cepat dan bukannya pacaran yang ia lakukan. Pernikahan menjadi awal kehidupan dari pembagian ruang, waktu dan kasih sayang.



Kembali mengenang masa lalu membuat si pria melamun di bawah buaian penyiksaan sang istri yang sibuk berkelana memberikan kenikmatan. Pikiran terus melayang hingga tanpa sadar membayangkan wajah istri kedua yang ada di atasnya. Hati mulai berdegup mencoba mencari kepemilikan.



"Mas Akbar, apa kamu tidak rindu Ara?" suara tanya nan lembut menyentak lamunannya hingga tak sengaja mendorong tubuh wanitanya menyingkir dari atas raga.



Tatapan tajam terpatri menatap sang suami dengan kekesalan, "Mas! Apa gini caramu memperlakukan aku? Oh, jangan-jangan kamu sibuk mikirin wanita murahan itu. Bilang saja kalau iya, biar aku uleg itu ... "



Belum juga usai mengeluarkan suara uneg-uneg yang membakar hati tiba-tiba terdengar ketukan pintu dari arah luar. Apalagi bersambut suara panggilan nan familiar yang seketika membuat kedua insan itu saling pandang. Sadar benar bahwa keadaan mereka berdua masihlah polos tanpa sehelai benang.



"Ngapain kesini jam segini, sih? Bikin repot aja, dasar gak tahu malu!" gerutu si wanita beranjak dari tempatnya dengan malas.



Ingin sekali membiarkan tamu tak diundang tetap di luar sana, tapi ia ingat bahwa saat ini masih menjadi sahabat yang baik. Jika jujur, maka ia tak sudi berhadapan dengan seorang gadis udik yang begitu bodoh karena bisa dengan mudah dimanipulasi. Apalagi yang bisa diharapkan dari seorang gadis murahan?



Setelah mengenakan pakaian seadanya dan tentunya menutupi jejak percintaan barusan, wanita itu berbalik menoleh ke atas ranjang. Ternyata suaminya sudah tidak ada dan tengah pakaian atas, lalu di lanjutkan mengenakan celana panjang. Terburu-buru itu sangat menyebalkan.



"Aku temui dia dulu dan kamu pulang saja!" tukas si wanita seraya mengibaskan tangan kanan mengusir suaminya seperti biasa.

__ADS_1


__ADS_2