
Niat hati telah pasti dengan langkah kaki berjalan menghampiri kamar mandi. Perasaan tak bisa berbohong, dimana ia merasakan getaran di dalam dada yang selama ini tersembunyi tak diperhatikan. Apa benih cinta mulai tumbuh atau hanya sekedar rasa penasaran saja?
Lelaki normal pasti memiliki keinginan sama ketika mempunyai istri polos yang masih belum tersentuh siapapun. Meski selama ini terhalang janji pada istri pertama, tapi sekarang bisa bertindak sesuai keinginan tanpa takut akan diamuk. Hanya saja di saat memperbaiki hubungan tak semudah membalikkan telapak tangan.
"Ara, boleh aku ikut masuk?" tanyanya seraya mengetuk pintu kamar mandi.
Kata permisi yang diajukan tak mendapatkan jawaban dari balik kesibukan. Dimana Ara masih bermain air membersihkan diri setelah mengoleskan sabun untuk yang kedua kalinya. Wanita itu hanya menikmati kesendirian tanpa gangguan bahkan mengabaikan suara panggilan dari luar.
Seolah disia-siakan, Akbar kembali mengurungkan niatnya. Pria itu harus menyerah sebelum perang dimulai, lalu ia mengambil pakaian ganti dan justru berpindah ke kamar lain. Dimana dirinya juga ikut membersihkan diri. Keduanya hanya menghabiskan waktu sesuai dengan keinginan masing-masing hingga akhirnya bertemu di meja makan setelah lima dua puluh lima menit berlalu.
Senyum manis menawan menyambut kedatangan suami yang baru saja turun dari lantai atas. Bersyukur karena semua hidangan sudah siap dan bisa langsung dinikmati bersama. Dimana ia juga tak lupa mengundang semua pekerja agar bisa berkumpul bersama. Sesi makan sore yang diadakan sebagai bentuk kepedulian terhadap seluruh anggota yang sudah dianggap sebagai keluarga.
"Mas, mau diambilkan sekarang? Menu yang mana, nih?" Ara dengan cekatan mengisi gelas air bening di depan suaminya dengan jus jeruk, lalu tak lupa membalikkan mangkuk yang tengkurap.
Perhatian serta pelayanan terbaik selalu diberikan oleh sang istri. Terkadang ia merasa cukup bisa mendapatkan istri seperti Ara, hanya saja hati tidak mencintai wanita itu. "Sayang, kamu masak banyak sekali. Apa semua ini tidak berlebihan?"
Di atas meja panjang memang tersedia beberapa menu makanan seperti bakso sebagai hidangan berkuah, ayam geprek untuk hidangan panggang, sop iga sebagai pelengkap nasi, dan beberapa menu sederhana lainnya. Ara bahkan memasak semuanya seorang diri agar orang-orang terdekat memahami kasih sayang yang selama ini diajarkan oleh ayahnya.
__ADS_1
"Mas, tidak ada yang berlebihan kalau cuma siapin hidangan. Apalagi ini semua kan buat keluarga, sekarang kita nikmati dulu makanannya, ya. Ayo, kalian juga ambil dan jangan sungkan!" Ara mempersilahkan semua orang yang tak lebih berjumlah hanya lima pelayan.
Selama ini, memang ia belum bisa memahami kebiasaan dari keluarga istrinya. Meski ayah mertua sudah meninggal dunia, wanita itu tetap menjaga tradisi yang dianggap sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama. Suasana makan tampak begitu khidmat yang juga disertai pujian dari para pelayan.
Semua orang benar-benar menghargai usaha Ara sampai-sampai makanan yang ada di atas meja hampir ludes hanya dalam waktu kurang dari satu jam saja. Di tengah keramaian yang tak seberapa tiba-tiba Anggun muncul dan mengejutkan semua orang. Dimana wanita itu juga membawa buah-buahan sebagai hadiah kecil untuk jamuan makan.
Melihat betapa baiknya sang sahabat, Ara merasa tersanjung dan dengan senang hati membiarkan sahabatnya itu berbaur bersama yang lain. Acara ngumpul bersama semakin riuh tanpa ada kecanggungan tetapi tanpa wanita itu sadari. Di bawah meja ada dua tangan saling bergandengan mesra.
Padahal ia sudah memesan sebuah hotel untuk bermalam dan memberikan waktu pada Akbar untuk melakukan rencana mereka berdua. Sebagai seorang istri pertama, tentu tahu benar isi pikiran prianya yang tidak jauh dari urusan ranjang. Meskipun begitu, kali ini masih dibiarkan demi mencapai tujuan.
Lagi pula, seorang wanita bisa bertekuk lutut hanya karena bisa dipuaskan. Termasuk Ara, begitulah pemikirannya. Suka, tak suka hanya mampu mengikhlaskan satu malam berbagi suami. Cemburu itu ada, tapi hati tak pernah risau akan kehilangan.
Mata berbinar mendengar pengakuan Anggun. Ia tak menyangka bahwa sahabatnya bisa secepat itu mendapatkan pekerjaan, "Alhamdulillah, gak papa, kok. Aku senang kamu dapat kerjaan. Semoga semua berjalan lancar, ya."
"Semangat, ya. Semoga memang itu rezekimu," sahut Akbar sekedar berbasa-basi agar terlihat normal di depan semua orang.
Obrolan sebagai teman sisa hari menjelang malam menghangatkan suasana hingga sesi makan berakhir dan para pelayan undur diri pulang ke rumah masing-masing. Ara juga membiarkan sisa makanan di bawa semua orang agar orang rumah bisa ikut mencicipi masakannya. Kepergian orang-orang membuat ketiga penghuni rumah itu kembali ke kamar sendiri.
__ADS_1
"Ay, bisa kita bermalam sebagai pasangan suami istri malam ini?" Akbar menggenggam pergelangan tangan Ara ketika wanita itu disibukkan melipat kemeja.
"Mas, ini, kan biasanya juga tidur bareng. Masa pake izin segala," balas Ara yang tidak paham arah permintaan suaminya itu. Sontak saja Akbar menepuk kening merasa bodoh karena tidak berbicara terus terang.
Disingkirkannya pakaian dari atas ranjang, lalu ia tarik tangan Ara hingga menggapai pinggang yang terasa pas di tangannya. Tatapan mata saling bertautan bersambut kabut pengharapan, tetapi tak ada keinginan dibalik mata redup wanitanya. Apa momen romantis tidak menarik perhatian Ara?
"Ay, apa kamu siap melakukan malam pertama?" suara lembut tanpa penekanan sengaja ia perdengarkan agar istrinya bisa terhanyut dalam buaian rayuan.
Dua kata itu sudah lama dinantikan bahkan sejak pernikahan. Akan tetapi seiring berjalannya waktu, ia merasa tidak terburu-buru untuk menunaikan kewajiban memberikan hak yang suaminya punya. Apalagi mengingat setiap malam dihabiskan hanya sekedar berbaring di atas ranjang sama tanpa melakukan apapun.
Perlahan melepaskan genggaman tangan dipinggang yang berusaha menguasainya, lalu memundurkan raga ke belakang hingga jarak kembali memisahkan kebersamaan. Jika mengikuti hati, maka secara suka rela mempersembahkan diri mewujudkan impian sang suami. Sayangnya itu bertolak belakang dengan keadaan.
"Apa ada yang mengusikmu hingga menolak malam pertama dengan suamimu sendiri? Katakan padaku!" Akbar menatap Ara kesal, baru juga ingin mencicipi malam panas dan sudah terhempas karena penolakan.
Sementara Ara sendiri bingung harus mengatakan apa ketika kondisinya memang tidak bisa melayani kebutuhan suaminya itu, "Maafin Ara, Mas. Tunggu sampai minggu depan, InsyaAllah Ara siap melengkapi ibadah kita. Mas masih bisa nunggu kan?"
"Kamu minta aku nunggu? Kita menikah sudah lama dan setelah memiliki waktu. Malam ini sudah aku putuskan untuk menyatukan hubungan kita sebagai suami istri, sekarang apa alasanmu dengan penolak keinginan suami?" sergah Akbar meluapkan kekesalannya hingga tanpa sadar meninggikan nada bicara yang membuat Ara meringkuk diam tanpa kata.
__ADS_1