
Bibir enggan berucap tetapi tangan dengan sigap menarik raga yang terus saja mencoba mengusik waktu tenangnya. Perlahan membuka kelopak mata yang bersambut seulas senyum manis nan menggoda di depannya. Pandangan kian terbelenggu merengkuh keindahan ciptaan Allah yang kini telah menjadi miliknya.
Lirikan mata memainkan perannya dengan tangan yang tak mau tinggal diam mengusap wajah tampan suaminya, "Om, kenapa liatin aku segitunya? Aku tahu, istri kecilmu ini memang cantik."
"Hmm, apa sepagi ini kerjaan mu hanya mengganggu suami sendiri? Bagaimana dengan tugas seorang ibu, tidakkah princess menunggu mommynya untuk sarapan bersama." sahut Al tanpa melepaskan kedua tangannya yang memerangkap Bunga ke dalam dekapan.
Kebersamaan kedua insan halal yang selalu menghadirkan cinta kasih tak pernah luntur meski pernikahan sudah berjalan cukup lama. Akan tetapi jauh di dalam lubuk hati seorang wanita mengharapkan kehidupan lengkap sebagai seorang istri yang masih belum juga memberikan pewaris untuk suaminya. Memikirkan kehadiran anak ditengah pernikahan bukan sesuatu yang salah kan?
Wajah tertunduk mengingat beberapa hal yang menjadi pengacau isi kepalanya tersaji begitu saja sehingga membuat Al mengubah posisi mereka. Dimana pria itu membawa raganya duduk bersama tanpa banyak kata yang dibalut selimut menutupi polosnya tubuh mereka. Suara deru napas terasa hangat menyentuh pundak kanan Bunga.
"Istri kecilku, apa kamu punya keluhan untukku atau sedang memikirkan pekerjaan? Aku perhatikan sejak beberapa hari, kamunya dimana dan pikiran entah kemana. Coba cerita biar suamimu ini juga berguna," ucap Al dengan lemah lembut menjaga perkataannya, ia hanya ingin Bunga mendapatkan yang terbaik di dalam kehidupan selama bersamanya.
__ADS_1
Seulas senyum tersungging menghiasi wajah Bunga, gadis pemilik mata hazelnut itu terlihat ragu mengutarakan isi hati dan pikirannya tapi kegelisahan kian menuntut keadilan. Ia merasa semakin berusaha tetap tenang, hati justru memberontak mengharapkan kejelasan. Apa bisa dibenarkan emosi hati miliknya?
Diraihnya kedua tangan kekar yang ia biarkan melingkar memeluknya dari belakang, "Om, aku ingin kita memiliki baby. Jangan salah paham, bagiku Alma tetap putri pertama kita dan dialah alasan hubungan pernikahan antara kamu dan aku tetap bahagia."
"Jujur saja, aku sudah memikirkan ini beberapa bulan terakhir, hanya saja kesibukan om membuatku memilih menahan diri. Jika om merasa sekarang bukan waktu yang tepat untuk memiliki anak kedua, Bunga tidak apa-apa." Bunga yang terlihat bingung merangkai kata, pada akhirnya berbicara begitu saja.
Al tersentak akan pernyataan Bunga, ia merasa telah kehilangan kewarasan dan melupakan kewajiban seorang suami. Selama ini, dirinya sudah berusaha keras memberi waktu dan perhatian untuk keluarga kecilnya tapi pagi ini, hati menyadari jika Bunga juga berhak atas kebahagiaan nyata dalam pernikahan mereka. Apakah ia terlalu fokus pada masalah sendiri sampai mengabaikan kebutuhan istrinya?
"Bunga, maafin, Om. Suamimu ini benar-benar tidak peka. Selama bertahun-tahun senyum tulus dengan perhatian nyata selalu menjadi benang ikatan keluarga. Aku bodoh karena hanya memikirkan kebahagiaan sendiri saja, maafin aku, ya, istri kecilku." Al semakin mengeratkan pelukannya hingga membuat Bunga tak tega melanjutkan permintaan hati yang dia punya.
__ADS_1
Sungguh apapun yang menjadi kehidupan mereka bukan sesuatu untuk diperdebatkan tapi cinta di hati tidak mengizinkan untuk melukai perasaan satu sama lain. Ia sadar jika dunia milik Al tidak sederhana bahkan untuk tetap menjadi istri tangguh, dirinya harus selalu siap menghadapi badai yang menerjang pondasi kebahagiaan keluarga. Kebenaran ini sudah mengalir menyatu dengan nadinya.
"Om, jangan bicara ngelantur, deh. Kita ini pasangan suami istri, apapun yang terjadi selalu mendukung satu sama lain. Tidak ada yang bodoh, lagian aku sendiri yang belum punya waktu untuk duduk bersama dan berbagi cerita. Sebenarnya mengingat Alma dengan usianya yang sekarang, dokter menyarankan agar kita memberi adik untuknya."
"Di usia ini, Alma bisa memiliki adik satu lagi. Aku juga berharap anak-anak nantinya bisa tumbuh bersama saling melindungi, apa harapanku terlalu berlebihan, Om?" Bunga menoleh, ia mengalihkan pandangan matanya menatap wajah tampan Al yang terlihat tenang dengan bibir rapat.
Keinginan memiliki anak adalah hak mereka berdua. Al menyadari bahwa Bunga bukan wanita yang akan membedakan anak ketika nantinya sudah menjadi ibu sesungguhnya, ia juga ingin melihat wanita kesayangannya mendapatkan kebahagiaan di dalam pernikahan mereka. Meski selama ini selalu baik-baik saja.
"Aku menerima dengan senang hati harapan istri kecilku tapi ada satu masalah. Sebelum melanjutkan lebih jauh, kita berdua akan melakukan pemeriksaan. Bunga, mari kita lakukan program bayi kembar, apa kamu setuju?" Al angkat bicara setelah memikirkan langkah selanjutnya, ia tak pernah melakukan sesuatu hanya setengah-setengah saja.
__ADS_1
Mata mengerjap tak percaya mendengar ajakan suaminya, "Bayi kembar, om? Apa om serius?" binar mata dengan sinar bahagia menghadirkan rasa yang luar biasa. Ia benar-benar merasa terbang di angkasa.