Karena Cinta

Karena Cinta
Part 84#PENOLAKAN BRYANT, JANJI TEMU


__ADS_3

Sadar akan ketidaknyamanan yang dirasakan prianya, membuat si wanita beranjak dari tempat duduknya. Wanita itu melangkahkan kaki berjalan menghampiri sang suami bahkan tangan tak tinggal diam dimana perlahan tapi pasti melepaskan resleting gaun hingga penutup raga terlepas terjun bebas begitu saja. Aroma parfum menguar menyebar memenuhi indra penciuman.


"Sayang, apa kamu marah?" disingkirkannya tangan sang pria dari dada, kemudian tanpa kata ia duduk di pangkuan suaminya membuat pria di hadapannya terjebak pesona raga yang ia tunjukkan. "Come, aku obati amarahmu!"



Bisikan lembut nan mendayu memulai langkah pertama perenggutan raga. Sentuhan lembut yang memaksa menguasai prianya tanpa ada kesabaran. Agresif begitulah caranya mempertahankan pria itu. "Ay, mandi bareng, yuk!"



"Hentikan! Aku harus pergi," rasa yang biasa ia nikmati tetapi kali ini terasa begitu hambar. Entah kenapa, ia merasa ingin menghindar dari kegiatan olahraga ranjang. "Rapat masih harus di atur. Kamu mandi saja dan malam ini, aku bakal lembur di kantor. Take care, Ay!"



Untuk pertama kalinya ia menyingkirkan raga yang selalu membawanya terbang melayang. Hati benar-benar tidak bisa diprediksi terlebih lagi akal sehat terus menerus menolak kontak fisik dengan sang istri. Penolakan yang dirinya lakukan memang memiliki alasan valid dan tentu bukan dibuat-buat.



Hazel terpaksa beranjak dari pangkuan Bryant dengan tangan mengepal yang bersembunyi di balik punggung. Ingin sekali mengeluh tapi melihat keadaan tidak memungkinkan dimana setelah menolak keinginan suaminya, ia harus menjaga hubungan agar tetap baik dan untuk itu, maka rela melepaskan kepergian sang suami.


__ADS_1


Mau, tak mau, suka, tak suka. Tatapan mata merelakan langkah Bryant meninggalkan kamar, kini ia hanya seorang diri. Niat hati ingin membawa suaminya bermain api tapi berkat penolakan tak biasa. Ia merasa dicampakkan dan sudah seharusnya melampiaskan kekesalan dengan cara yang seperti biasa.



Tanpa basa-basi wanita itu menganti pakaian baru, lalu menyambar tas dan menyusul Bryant. Hanya saja bukan untuk membujuk suaminya, melainkan ingin pergi ke tempat yang bisa melepaskan ketegangan. Langkah kaki tak mau mengalah karena kemenangan selalu menjadi miliknya seorang.



Tanpa wanita itu sadari, dimana setiap pergerakannya selalu ada pengawas yang siap mengabadikan momen bersejarah di list kehidupan seorang Hazel. Meski begitu, setiap pergerakan sangat teratur hingga tak meninggalkan jejak kecurigaan. Sementara di belahan bumi lain terjadi sebuah pertemuan rahasia dengan pembahasan cukup sensitif.



"Jadi, Anda ingin belajar bagaimana menjadi pengelola rumah bordil sepertiku. Boleh saja, imbalannya tentu Anda tahu kan?" Seorang wanita cantik yang sibuk memainkan cat kuku berbicara begitu santai di tempat nan remang.




Secepat kilat tangan kekar menyambar kantong yang berisi koin emas. Pria dengan tato belati itu seperti menemukan harta karun tetapi tugasnya memang memastikan uang transaksi sesuai dengan kesepakatan tanpa ada kecurangan. Sebab itulah, tak seorangpun berani menghentikannya.


"Non, genap seribu seratus koin seperti yang dikatakannya," lapor si pria yang merupakan manajer sekaligus tangan kanan si nona pirang. Pria itu bertepuk tangan dimana membuat semua orang yang ada di area pertemuan membubarkan diri. "Permisi, silahkan lanjutkan!"

__ADS_1


Kepergian semua orang termasuk si manajer membuat dua wanita cantik memiliki waktu hanya berdua saja tanpa ada yang bisa mengganggu. Keduanya tampak tenang, meski tidak saling berhadapan karena wanita pertama yang merupakan tuan rumah hanya fokus pada sapuan cat kuku.



Sementara wanita kedua yang menjadi tamu masih menunggu jawaban yang ia butuhkan. Setelah pergi ke negara asing, bagaimana pulang dengan tangan hampa? Tentu saja tidak bisa dibenarkan. Maka hari terakhir liburan harus mendapatkan hasil terbaik setelah itu bisa kembali ke Indonesia.



"Sebelum menjelaskan trik mengelola rumah bordil yang baik. Akan lebih baik jika kamu tahu sejarahnya dulu, disini hanya ada satu kali penjelasan. Jadi kuharap kamu benar-benar mendengarkan tanpa menyela. Paham?" Si pirang melirik ke arah tamunya yang mengangguk menyanggupi semua syarat tanpa keluhan.


Melihat sang tamu siap, maka ia meletakkan cat kuku. Obrolan harus serius tanpa bisa diganggu gugat. Apalagi ketika menyangkut sejarah dari profesinya. Orang luar mungkin meremehkan tetapi pekerjaan yang dirinya jalani merupakan hal terbaik yang bisa memberikan kehidupan lebih baik.


"Rumah pel@curan atau bordil adalah tempat yang digunakan untuk pel@curan atau prostitusi. Di sini pelacur dapat bertemu dan berhubungan badan dengan pelanggan mereka. Di beberapa tempat, rumah bordil dapat beroperasi secara legal. Selain itu di beberapa negara, panti pijat dapat digunakan sebagai bordil.



"Tapi berbeda dengan rumah bordil yang mana para pekerjanya dipaksa bekerja tanpa diperbolehkan untuk keluar, hanya memperoleh sebagian kecil uang dari pihak pengelola. Hal ini biasanya berlangsung dengan perdagangan manusia di negara-negara yang melarang adanya kupu-kupu malam.


"Dari satu pekerjaan saja di bagi menjadi beberapa jenis. Pertama rumah bordil yang mana tempat kupu-kupu malam sebagai pegawai, menerima gaji tetap dan sebagian uang dari pelanggan. Ada lagi rumah bordil yang kupu-kupu malamnya membayar sewa untuk fasilitas, dan sebagai pengelola tidak terlibat dalam transaksi antara sang pelayan dan pelanggan."


Sejenak berhenti agar sang tamu memiliki waktu untuk mencerna penjelasan pertamanya karena ia bisa melihat betapa wanita di depannya itu membutuhkan ilmu. Jangan tanya alasan sebab sebelum melakukan janji temu, anak buahnya sudah menyelidiki latar belakang dan baru bisa mengiyakan sebuah pertemuan.

__ADS_1



"Nona bisa lanjutkan!" tegas sang tamu yang terlihat begitu santai tanpa ketegangan.


__ADS_2