Karena Cinta

Karena Cinta
Part 67# SEORANG ISTRI?


__ADS_3

Kebahagiaan seorang istri tidak akan sama dari satu istri ke istri lainnya. Akan tetapi bagi seorang gadis yang selama ini hidup penuh kasih sayang meski tidak memiliki banyak teman, istri adalah rumah tempat berpulang suaminya. Bahagia ketika melihat kepuasan yang tergambar jelas dari wajah pasangannya.



Apalagi ketika pernikahan yang baru seusia jagung masihlah memerlukan tahap pengenalan. Jika ada orang bertanya, apa itu cinta padanya. Gadis itu akan menjawab menyenangkan hati sang kekasih halal yang kini menjadi kepala keluarga. Ya, begitulah cinta di mata seorang Ayesha Ramadhani.



Namun sayangnya, gadis itu terlalu lugu hingga tidak menyadari akan tabiat Akbar yang sebenarnya. Manis di depan tetapi menyeramkan di belakang. Antara lisan dan batin sangat bertolak belakang yang membuat kehidupan tampak seperti ilusi kaca keindahan. Setiap langkah selalu diperhitungkan menjadi awal kesepakatan.



Suara bising yang saling beradu di area dapur cukup menarik perhatian, membuat seorang pria masuk dengan langkah kaki begitu pelan. Tatapan mata teralihkan menatap pemandangan yang terkesan menggairahkan, "Akbar, sadar!"



"Ngapain coba itu anak masak pake baju daster tanpa lengan? Huft, bikin gerah," Akbar mengibaskan koasnya, rasa panas yang mulai menyebar karena tak kuasa menahan godaan di depan mata.



Ingin sekali menerjang membawa Ara ke dalam kamar dan membiarkan istri keduanya itu tidak bisa jalan, tapi ia masih waras. Janji sudah terlanjur diberikan dan tidak bisa dilanggar. Ada rasa menyesal karena telah menyetujui semua syarat dan ketentuan dari Anggun.



Namun melihat masa depan yang bisa semakin runyam, kesadaran trus terjaga. Paham akan kecemasan Anggun ketika melarang dirinya bercinta dengan Ara, meski status adalah suami istri. Andai berhubung hingga istri keduanya hamil, lalu harta yang mereka inginkan jatuh ke tangan pewaris. Sama saja dengan kerja rodi, iya 'kan?



Ara menghentikan kesibukannya begitu tak sengaja melihat Akbar yang berdiri di luar pintu dapur dengan tatapan mata kosong. Entah apa yang dipikirkan sang suami sampai tak mendengar panggilannya. Sontak saja, ia berjalan menghampiri pria itu dan berniat menyapa sekedar menanyakan apa yang sudah terjadi.

__ADS_1



Beberapa langkah maju ke depan hingga memutari meja nan panjang, "Mas Akbar, mau kopi?"



Ia pikir begitu lebih dekat, maka suaminya akan mendengar. Rupanya tidak karena Akbar justru berbalik haluan meninggalkan depan ruangan dapur. Sikap tak biasa suaminya terlalu kentara hingga hati merasa kecewa. Apa pria itu tidak melihat kedatangannya?



Tak peduli seberapa besar usaha Ara untuk menjadi istri yang baik. Bagi Akbar hanya ada Anggun di dalam kisah asmaranya, pria itu selalu mengacuhkan istri kedua meski tinggal seatap. Jikapun memiliki waktu bersama maka akan dihabiskan sekedar duduk tanpa banyak kata.



Kebingungan Ara berselimut kecewa tetapi tak membuat gadis itu patah semangat hingga tetap melanjutkan sesi memasaknya. Sementara di sisi lain seorang istri tengah murka. Setelah memeriksa beberapa tempat favorit suaminya bahkan sampai kembali ke istana, tetap saja tidak menemukan keberadaan sang suami.




"Jadi, di antara orang sebanyak ini," Hazel menunjuk wajah satu per satu pelayan tanpa memperdulikan raut tak nyaman karena takut pada tekanan darinya. "Tidak ada yang tau tentang keberadaan tuan Bryant. Apa kalian semua sudah buta, hah!"



Suara bernada tinggi terdengar bergema di ruang perkumpulan. Dimana nyonya rumah membuat seluruh penghuni istana berdiam diri di tempat hanya untuk mendengarkan semua kata-kata sebagai bentuk pelampiasan amarah. Sehingga semua orang memilih menulikan telinga masing-masing agar bisa kebal.



Sementara orang yang menjadi alasan nyonya rumah mengamuk baru saja selesai menikmati makan siang bersama keluarga tercinta. Suasana tampak bahagia hingga menjadi momen yang tepat untuk melepaskan rasa rindu di hati anak dan kedua orang tuanya. Apalagi ditemani obrolan canda dan tawa.

__ADS_1



"Bry, sering-sering ke rumah, ya! Mama dan papa selalu kangen kalau kamu jarang kesini. Mama tahu, putraku ini sibuk ngurus kerjaan dan istrinya," mama Bella begitu menikmati menyandarkan kepalanya di dada bidang sang putra.



Tenang ketika mendengarkan suara detak jantung yang selalu menjadi bagian dari jiwanya. Sang putra tunggal, ia merasa kehidupan Bryant tak sebahagia yang terlihat. Akan tetapi sebagai ibu hanya berharap dan memberikan kesempatan agar putranya bisa menemukan jalan pulang.



Firasat seorang ibu itu tidaklah pernah salah, hanya saja terkadang masih harus mengalah dengan keras hati seorang anak. Apa yang dilarang justru dilakukan hingga pada akhirnya mendatangkan ketidakbahagiaan. Meski sebagai orang tua akan selalu mendoakan demi kebaikan anak-anaknya.



Bryant sendiri bisa merasakan setiap kali mamanya itu mulai mencemaskan tentang kehidupan yang dijalaninya. Padahal setiap saat selalu berusaha menutupi masalah yang ada, apalagi jika menyangkut ketegangan di hubungan antara ia dan sang istri. Apalah daya ketika batin seorang ibu lebih kuat.



"Maafin, putramu yang bandel ini, ya, Ma. Bry bakalan usaha selalu nengokin mama sama papa dan next, doain semoga bisa bawa Hazel juga," jawab Bryant mencoba mencairkan suasana setelah permintaan sang mama yang masih terlihat begitu nyaman dalam delapannya.


Entah sudah berapa lama ia tak memberikan kebahagiaan sederhana pada wanita yang telah melahirkannya itu. Rasanya begitu lama, sampai hampir lupa akan rasa luar biasa damai yang memenuhi jiwa. Terkadang sebagai orang dewasa terlalu sulit memisahkan antara keras kepala dan keras hati yang sudah menyatu.


"Bry, apa kamu tidak berniat memiliki anak? Bukankah kalian berdua sudah menikah cukup lama?" tanya papa Angkasa tanpa niat menyudutkan sang putra.


Bukan bermaksud mengintimidasi atau ingin menguliahi karena sebagai orang tua, ia juga hanya ingin melihat rumah tangga putranya baik-baik saja. Memang benar baik ia maupun sang istri, tidak suka tabiat menantu pertama. Akan tetapi bukan berarti membenci Hazel.


Hanya saja, baginya dan Bella, mereka seakan tidak memiliki menantu karena Hazel menjadi alasan keluarga Putra kehilangan pewaris utama. Bryant yang selalu hidup di dalam pelukan kasih sayang terpisahkan oleh hubungan baru tanpa persetujuan keluarga. Miris karena sampai meninggalkan rumah masa kecil hanya demi mengikuti keinginan seorang istri.


"Nak, tidak ada yang memburu kalian agar cepat memiliki momongan, tapi coba pikirkan baik-baik agar segera melengkapi keluarga kecil kalian. Mama dan papa selalu mengharapkan yang terbaik untukmu, Bry," sambung mama Bella yang beranjak dari dekapan sang putra.

__ADS_1


__ADS_2