Karena Cinta

Karena Cinta
Part 137#DEMI KEPUASAN MAKA?


__ADS_3

 Demi mencapai tujuannya, Anggun rela dan siap melakukan apa saja. Wanita itu tidak ingin memikirkan hal lain lagi selain merencanakan jadwal penyiksaan hati untuk Ara. Tentu saja harus bisa menciptakan neraka rumah tangga untuk sahabatnya.


    Kepuasan akan didapatkan jika semua keinginan hati tercapai dan untuk itu, ia harus bermain emosi. Mungkin kedepannya nanti harus memprovokasi Akbar agar melupakan dan menghapus rasa sayang yang mulai menghuni hati. Apalagi melihat kebenaran yang tersaji, jelas suaminya memiliki tempat untuk Ara.


    Manusia adalah makhluk pencari kepuasan. Ia memiliki segudang keinginan dan kebutuhan yang harus dipenuhi. Maka itu ia disebut Homo Economicus. Disamping keinginan dan kebutuhan fisikal, ia juga adalah pencari kepuasan social. Ia butuh orang lain, ia butuh relasi.


     Ini menjadi suatu kebutuhan dasar pada diri manusia, maka itu ia disebut homo socius. Kedua sifat dasar manusia, yaitu homo economicus dan homo socius ini berjalan di jalurnya masing-masing, namun ada kalanya mereka harus berjalan seiringan.


     Akibatnya, terkadang di dalam diri manusia harus mengalami tabrakan-tabrakan yang tidak dapat ia hindari di dalam pemuasan kedua sifat ini. Contohnya di dunia bisnis, Seorang yang ingin mendapatkan keuntungan materi yang lebih untuk memajukan ekonominya, namun untuk mencapai hal itu ia harus rela menjatuhkan saingan bisnisnya.


     Akibatnya, hal-hal kotor harus terjadi dan menodai hubungan antar pengusaha itu. Akibat tabrakan kedua sifat ini, manusia disebut sebagai homo homini lupus , yaitu manusia menjadi serigala bagi sesamanya. Manusia memahami bahwa ia makhluk yang mencari kepuasan, akan tetapi manusia tidak pernah dapat menjawab ukuran kepuasaannya itu sampai pada taraf seperti apa dan ukuran yang bagaimana.


     Sebab itu, ia tidak pernah dapat menentukan dirinya sudah mencapai kepuasan atau belum. Malahan yang terlihat adalah manusia menjadi makhluk yang “rakus” dalam pencarian kepuasannya itu. Permasalahannya adalah tolok ukur manusia dalam mencari kepuasannya adalah hal-hal seputar material dan atau barang-barang yang fana dan tidak kekal.


    Dimana manusia akan terus menerus mengalami kehausan ketika ia menggantungkan tingkat kepuasan dirinya kepada hal-hal yang bersifat sementara. Kepuasan yang sejati tolak ukurnya adalah Yesus Kristus. Blaise Pascal mengatakan bahwa di dalam diri manusia terdapat sebuah ruang kosong yang hanya dapat ditempati oleh Allah.


    Tetapi, selama ini, manusia salah menempatkan sesuatu di dalam ruang kosong itu. Manusia mengisi ruang kosong itu dengan hal-hal fana dan bukan Allah. Akibatnya ia selalu menjadi haus dan tidak pernah mencapai kepuasan. Ruang itu harus ia berikan untuk hadirat Allah menempatiNya.

__ADS_1


    Sehingga ketika seseorang membiarkan Allah mengisi ruang kosong di dalam dirinya, maka ia akan mengalami kepuasan yang sejati dan dapat berkata “cukup” pada hal-hal yang menantang ia untuk menjadi seorang serigala yang rakus.


    Anggun berpikir jika sampai Akbar berubah haluan maka sama saja menjadi balas dendam senjata makan tuan. Tidak bisa dibiarkan karena bagaimanapun harus mendapatkan hasil memuaskan. Terlebih lagi tujuan utama bukan hanya untuk menghancurkan hati sahabatnya tetapi mengambil alih semua kekayaan peninggalan orang tua Ara.


       Lagipula tidak seorang pun di dunia ini yang tidak mendambakan kepuasan dan kenikmatan hidup. Setiap orang tentulah menginginkan agar hidupnya selalu dalam keadaan tenang dan tentram serta selalu dapat merasakan adanya kepuasan hidup. Untuk mendapatkan ketenangan dan ketentraman hidup itu, berbagai cara dan jalan dilalui.


    Termasuk menghalalkan segala cara demi membuat hidup lebih baik dan terjamin seperti yang dilakukan Anggun. Sebenarnya beberapa orang yang beranggapan bahwa, kepuasan hidup itu terletak pada adanya harta kekayaan yang menumpuk. Maka untuk memperoleh kepuasan hidup itu, ia berusaha mengumpulkan harta kekayaan sebanyak-banyaknya.


     Dan sering terjadi bahwa, untuk mendapatkan harta kekayaan itu, di tempuhlah berbagai cara dan jalan, tidak peduli apakah cara itu dibenarkan oleh agama atau tidak. Yang penting asal harta kekayaan dapat dikumpulkan. Sedangkan sebagian orang lainnya beranggapan bahwa, kepuasan hidup itu terletak pada adanya pangkat dan kedudukan yang tinggi.


    Dan untuk memperoleh kepuasan hidup itu, dengan berbagai cara dan jalan, di kejarlah pangkat dan kedudukan itu. Dan tidak jarang pula bahwa, dalam mengejar pangkat dan kedudukan itu di tempuhlah cara-cara yang tidak wajar. Hanya saja dalam batas-batas tertentu memang benar bahwa, harta kekayaan dan pangkat bisa membuat seseorang menjadi puas dan senang.


Demikian pula tidak jarang seseorang yang menduduki pangkat yang cukup tinggi, tetapi, dengan pangkatnya itu jiwanya selalu tidak tenteram. Ia selalu merasa dikejar-kejar orang dan sebagainya. Sebaliknya tidak sedikit pula orang dapat merasakan kepuasan hidup, pikirannya selalu dalam keadaan tenang, jiwanya tentram, padahal secara lahiriyah ia selalu dalam keadaan serba kekurangan, harta tidak dan pangkat pun tiada.


     Kepuasan batin rupanya telah memberikan imbangan terhadap ketidakpuasan yang bersifat lahiriyah. Karena dalam rangka mencari kepuasan yang bersifat batiniyah, ada beberapa kiat yang perlu dilakukan. Seperti menjauhi larangan. Dimana setiap orang yang melakukan pelanggaran, baik pelanggaran terhadap peraturan atau undang-undang negara, norma atau nilai-nilai luhur yang berlaku di masyarakat, lebih-lebih lagi pelanggaran terhadap ketentuan-ketentuan Allah, pastilah membuat hatinya tidak tenteram, selalu berdebar-debar dan gelisah.


Keadaan semacam ini tentunya merupakan siksaan batin, yang membuat kehidupannya tidak tenang. Untuk menghindari kegelisahan hidup, salah satu resepnya adalah menjauhi segala larangan, terutama larangan Allah.

__ADS_1


Sudah menjadi tabiat manusia bahwa, ia selalu merasa tidak puas terhadap nikmat yang dikaruniakan oleh Allah kepadanya. Sekiranya perasaan tidak puas itu ditujukan kepada karunia berupa ilmu pengetahuan, ini justru merupakan hal yang terpuji, tetapi, pada umumnya perasaan tidak puas itu menyangkut soal kebendaan.


Orang selalu merasa tidak puas dengan harta kekayaan yang telah dimilikinya. Tabiat tidak pernah merasa puas terhadap harta yang dikaruniakan kepadanya itu dapat dikendalikan dengan menanamkan sikap qana’ah, yaitu, bersikap ridha terhadap karunia Allah.


Artinya, dia menerima apa adanya, menerima dengan perasaan syukur atas apa yang dikaruniakan oleh Allah kepadanya. Sifat ridha dan syukur itu akan mebuat seseorang merasa paling kaya, walaupun kenyataannya dia miskin. Sebaliknya sifat thama’, loba dan serakah terhadap harta kekayaan akan membuat seseorang merasa miskin, walaupun dalam kenyataannya ia hidup bergelimang harta.


    Sebab sifat serakah membuat mata seseorang selalu menengadah, hanya melihat ke atas, melihat orang lain yang lebih kaya daripada dirinya. Dalam hubungan inilah agama islam menasehatkan agar dalam soal karunia harta, hendaknya seseorang selalu melihat ke bawah, melihat orang lain yang keadaannya lebih miskin daripada dirinya. Dengan melihat ke bawah akan tumbuhlah rasa syukur, bahwa, dirinya ternyata dalam keadaan lebih baik apabila dibandingkan dengan keadaan orang lain.


Seorang hukama’ pernah berkata bahwa, kekayaan itu tidak terletak pada uang dan harta yang melimpah, melainkan pada budi pekerti. Ketiga, mencintai sesama manusia laksana mencintai diri sendiri. Sudah menjadi tabiatnya, bahwa, setiap orang itu sangat mencintai diri sendiri.


    Meskipun diri sendiri mengandung banyak kelemahan dan kekurangan serta menyandang banyak cacat sekalipun, tetapi cinta kepada diri sendiri tidak akan berkurang. Sekiranya ada orang lain yang berani mengungkapkan kekurangan dan cacat itu, ia pasti tersinggung dan merasa direndahkan.


    Karena cintanya kepada diri sendiri, kadang-kadang membuat orang bersikap sombong dan angkuh, merasa diri sendirilah yang paling hebat, paling pintar, paling benar, paling gagah dan sebagainya. Cinta pada diri sendiri, acapkali membuat seseorang bersikap rakus dan tamak.


     Ia menginginkan agar sebanyak mungkin harta benda hanya menumpuk pada dirinya sendiri, tidak peduli, apakah orang lain menderita karenanya. Mencintai diri sendiri sebenarnya tidak dilarang oleh agama. Bahkan, agama juga menganjurkan agar kita memperhatikan kepentingan dan tuntutan diri kita, baik yang bersifat jasmaniah maupun rohaniah. Yang dilarang oleh agama adalah cinta kepada diri sendiri secara berlebihan.


Nabi saw pernah bersabda yang artinya: “Cintailah sesama manusia laksana mencintai diri sendiri, kalian akan menjadi seorang muslim sejati”. Maka kalau tidak mau dicela atau direndahkan oleh orang lain, hendaklah kita tepo seliro, tidak mencela dan merendahkan orang lain. Apabila diri kita tidak suka difitnah dan diadu domba, maka kita pun jangan pula memfitnah dan mengadu domba orang lain.

__ADS_1


Apabila kecintaan terhadap sesama manusia mencapai tingkatan serupa itu, maka menurut sabda Nabi tadi, berhakkah insan tersebut menyandang predikat sebagai seorang muslim sejati, yang hidupnya penuh kepuasan dan ketenteraman.


__ADS_2