
Bukannya menjawab pertanyaan Ara. Pria itu terus menatap wanitanya bahkan tak berkedip. Untuk pertama kalinya setelah pernikahan dari sudut hati terdalam bisa merasakan getaran aneh. Bias sayang yang selama ini hanya bualan dan perlahan tumbuh mencoba mengisi kekosongan jiwa.
Dilepaskannya tangan beralih mengusap pipi lembut yang merona merah karena malu. Jelas saja Ara tak sama dengan Anggun. Istri keduanya itu masih sangat polos bahkan tidak sekalipun ia mencoba untuk melakukan lebih dari sekedar pelukan.
"Mas, jangan lihatin Ara gitu, malu, ih," Ara menangkup wajahnya menggunakan kedua tangan yang membuat Akbar kembali tersadar dari ulahnya.
Apa yang baru saja dilakukannya tak sesuai dengan rencana. Apalagi ia melihat bayangan Anggun yang berada di balik jendela kaca. Sontak saja menarik tangan dari pipi Ara dan berpura-pura batuk hingga sang istri kedua panik. Wanita itu bergegas turun dari ranjang begitu melihat teko air sudah kosong.
"Ara ambil minum di dapur dulu, ya. Mas Akbar tetap di kamar saja!" Ara melenggangkan kaki meninggalkan kamar tanpa membiarkan pintunya tertutup rapat.
Kesempatan itu digunakan Akbar ikut keluar dari kamar, lalu menarik Anggun keluar dari tempat persembunyian yang sudah ia awasi sejak awal. Dibawanya sang istri pertama masuk ke dalam kamar atas yang merupakan kamar bekas orang tua Ara.
Tatapan mata saling beradu tak mau mengalah, "Apa kamu sudah gila? Jika Ara sampai lihat bisa tamat riwayat ... " keluhannya tak bisa dilanjutkan ketika bibir terbungkam sentuhan manja yang selalu berhasil meruntuhkan emosinya.
Pagutan frontal membawa keduanya ke dalam kenikmatan sesaat sekaligus mengobati batuk yang mendera bersambut tangan nakal berkelana tanpa aturan. Kebersamaan pasutri itu menyatukan malam di tengah kegelapan yang justru kian membuai kehangatan bersama.
"Sayang, nanti istrimu balik, lepasiiin, " ia tak tahan membawa prianya itu ke dalam pelukan cinta hanya saja masih sadar bahwa saat ini bukan berdua saja karena ada Ara.
Sebagai seorang sahabat, ia hanya tak mau semua terbongkar begitu saja dan tanpa mendapatkan apapun. Semua harus sesuai dengan rencana awal, maka demi tujuannya ia rela menunggu meski sangat merindukan suaminya itu. Terlebih lagi sekarang sudah seatap.
"Ck, aku lepaskan, tapi ingat harus membayarku dua kali lipat. Sekarang aku balik ke kamar dan kamu tunggu saja sampai malam! Aku pasti datang ke kamarmu." tegas Akbar menyudahi permainannya.
Pria itu buru-buru kembali ke kamar sebelum Ara datang membawakan minuman untuknya. Kali ini akan menjadi drama rumah tangga seatap, sedangkan di kamar lain hanya ada pelukan rindu tanpa menyisakan jarak. Suara deru napas terdengar begitu teratur hingga membuat si wanita berpikir prianya sudah terlelap.
__ADS_1
*Punya suami tapi mana pernah bisa membuatku puas. So, sekarang aku harus kemana dan minta dimanjain siapa? Bosan juga dengan pacar gelapku, come on thinking something Hazel! ~ Hazel menggerutu tak terima dengan perlakuan Bryant*.
Setelah berpisah selama beberapa hari dan tidak ada komunikasi, lalu kenapa pria itu seperti biasa saja? Apa tidak merindukannya sebagai seorang istri? Tanda tanya kian menelusup, apalagi setelah menemukan sang suami mulai kembali ke rumah keluarga kandung.
Jujur saja, hati tak tenang melihat kedekatan Bryant bersama keluarga utama. Apalagi setelah semua yang ia lakukan dimana berusaha memisahkan anak dari orang tua. Setiap langkah sudah dipastikan agar jarak yang dirinya ciptakan tak pernah terhapus, kemudian tiba-tiba membaik begitu saja.
Sentuhan jemari yang menari di atas dada terasa menggelikan membuat si pria kembali membuka mata, "Sayang, kenapa gak tidur? Sudah malam dan besok kamu ada jadwal pemotretan. Tidurlah!"
"Ish, suami ku tak peka. Kita terpisah lama, loh. Serius nih, kamu gak kangen aku?" tatapan mata membalas pandangan santai Bryant yang malah tersenyum atas keluhannya.
Senyum tampan terus menghiasi wajah tampan seraya melepaskan pelukan beralih menguasai raga wanitanya, "Kangen, aku cuma nunggu istriku ngambek dulu, sekarang mau apa? Aku tidak mau membuatmu lelah, sayang."
"Ay, aku cuma mau dimanja," ditariknya tangan Bryant. Ia arahkan tangan sang suami untuk menarik tali samping piyama tanpa melepaskan pandangan mata. "Make me as your mine, hubby!"
Perlahan tapi pasti keduanya memulai permainan ditemani suara rintik hujan yang kian deras di luar sana. Hawa dingin berganti peluh kenikmatan tanpa halangan menyatukan raga dalam peraduan kebersamaan diiringi suara derit ranjang.
Detakan waktu yang berlalu mengubah detik menjadi menit berganti jam dan tak terasa malam tenggelam tergantikan sinar mentari yang menghangatkan. Suara adzan membangunkan insan dari buaian alam bawah sadar yang berpacu dari ketidakpastian.
Sayup-sayup terdengar suara sapaan pagi dari luar membuat seorang gadis buru-buru melepaskan mukena yang masih menutupi raga bagian atasnya. Langkah kaki berjalan cepat membukakan pintu yang ternyata salah satu penghuni asrama datang hanya untuk mengajaknya jalan-jalan pagi.
"Boleh, tapi sebentar aku ambil ponsel dulu," Bunga kembali masuk ke dalam kamar sekedar mengambil ponsel dan dua lembar uang yang ia selipkan di casing HP.
Cara itu paling aman dan tidak perlu repot membawa dompet. Selain itu, zaman sekarang sudah menggunakan banyak aplikasi ketika memang tidak membawa uang cash. Pasti ada yang berpikir aneh. Orang diajak jalan-jalan tapi malah repot bawa uang segala.
__ADS_1
Jangan salah, meski jalan-jalan pagi. Pada kenyataannya adalah area asrama termasuk kota yang dimana sepagi apapun sudah ada penjual di tepi jalan. Orang jalan-jalan juga akhirnya pasti merasa lapar. Nah, kalau tidak bawa uang. Masa iya mau bayar makanan dengan cara cuci piring si mamang penjual.
Setelah merasa siap dengan penampilan sederhana ala rumahan. Barulah ia kembali keluar dan bergabung dengan anak-anak lain yang ternyata memang sudah janjian. Senang rasanya bisa menikmati jalan bersama tanpa harus memikirkan penjagaan yang biasa didapatkan.
"Bunga, apa makanan favoritmu? Nanti kita bisa cari dan makan bareng, deh." seorang gadis berperawakan tinggi besar alias bongsor memulai perbincangan ke arah makanan yang langsung disoraki teman-teman.
Bunga hanya tersenyum melihat keakraban keempat gadis yang kini berjalan bersamanya. Ia bisa melihat betapa kasih sayang persahabatan itu indah tanpa rasa sungkan. Hati trenyuh karena impian masa kecilnya perlahan mulai terwujud dengan kesempatan hidup bebas yang kini menjadi dunia sederhana.
"Aku bisa makan makanan mana saja, bagaimana denganmu dan yang lain?" tanya balik Bunga tanpa ingin menjelaskan jenis makanan yang selama ini dia konsumsi.
Lagipula kehidupan sederhana itu akan lebih baik ketika tanpa mengingat makanan mewah maupun semua hal berbau kualitas wahid. Terlebih lagi mengingat ke empat tempat yang jalan bersamanya bukanlah berasal dari orang berada. Ia memilih menjaga perasaan agar tidak dianggap pamer.
Ayumi si gadis bongsor menunjuk ke depan yang mengalihkan perhatian semua temannya, "Kalau gitu kita makan bakso mas Bro aja, gimana?"
"Bakso mas Bro?" Bunga memperhatikan bangunan di tepi jalan raya yang terlihat begitu mencolok dengan adanya motor sports mewah di depan kedai. "Eh, apa itu bakso yang sama seperti di pasar malam?"
"Iyo, sama pun. Let's go, kita kesana!" Utari menarik tangan Bunga yang terlihat masih ragu, sedangkan Ayumi menyusul bersama Anna dan juga Fatma.
Kelima gadis itu benar-benar menyongsong sinar mentari dengan langkah kaki mendekati kedai bakso mas Bro. Dimana penjual bakso nya saja masih sibuk di dapur dan membiarkan para pelanggan baru masuk memilih tempat duduk sesuka hati. Bunga yang lebih suka duduk di sudut sibuk memainkan ponsel sambil menunggu pelayan datang.
Sementara yang lain ngerumpi para cogan di kampus terutama cowok dari pemain basket. Obrolan itu terdengar membosankan bagi Bunga karena wajah tampan sudah terbiasa ada di depan mata, tapi cuma satu yang menyita rasa. Hati bergejolak mengingat pahatan pria dewasa sang pemilik tahta cinta.
__ADS_1
"Pagi, para ladies. Silahkan pilih menu yang menggoda kalian!" seorang pelayan meletakkan selembar kertas ke atas meja yang diterima Ayumi dengan senang hati.