
Suara salam yang terdengar familiar, membuat Bunga bergegas membukakan pintu. Dimana Bunda Widya datang me kamarnya hanya untuk memberikan sebuah selimut tambahan. Wanita itu lupa dengan ekstra fasilitas dari pihak asrama sendiri karena keasyikan ngobrol bersama papa Bima.
Atas kebaikan ibu pemilik asrama, Bunga tak lupa langsung mengucapkan terima kasih dan juga bertanya tentang beberapa hal yang bisa mempermudah setiap langkahnya agar tidak tersesat ketika kembali ke asrama. Meski jarak antara asrama dan kampus tempat ia belajar tidaklah begitu jauh.
"Disini aman, Non. Kalau mau ke kampus Yarsi cuma jalan sepuluh menit, trus kalau mau ke mall nambah waktu lima menit," ucap bunda Widya menjelaskan kepada Bunga. Tiba-tiba ia ingat sesuatu yang menghadirkan seulas senyum lebar, "Nanti malam jiga ada pasar malam di belakang asrama, loh!"
"Non bisa jalan-jalan bareng sama ibu kalau mau. Sebenarnya pasar malam diadakan setiap sebulan sekali, tapi sudah sebulan ini selalu ada setiap seminggu sekali. Jadi mau ibu temani untuk melihat-lihat?" tanya bunda Widya menjelaskan sedikit kebiasaan dari orang-orang sekitar asrama yaitu para warga setempat dan tentu bisa sedikit mengusik ketenangan para penghuni asrama jika tidak menyukai keramaian.
Pasar malam yang dimaksud bukan pasar malam kelas pertama dengan berbagai macam wahana dan digelar selama sebulan penuh. Justru pasar malam di belakang asrama bunda Widya merupakan gagasan warga setempat dan juga warga sekitar. Dimana mereka menggunakan acara tersebut sebagai silaturahmi.
Selain itu bisa saling membagi rezeki satu sama lain sebab dari warga yang berjualan akan dibeli oleh warga setempat dan para pengunjung yang tidak sengaja lewat. Terdengar begitu sederhana dan pastinya memiliki kebaikan untuk bersama. Walau hanya dari warga untuk warga, bukan berarti diselenggarakan secara dadakan alias tanpa rencana.
Setiap warga yang ingin berjualan harus mendaftarkan diri pada panitia dan mendapatkan surat izin. Benar, pasar malam tersebut juga terorganisir dengan sangat baik karena pelopor yang mengusulkan acara dan mendirikan serikat kerjasama juga memberikan bimbingan kepada warga secara rutin. Bunda Widya hanya mengatakan ada pasar malam dan masih belum membicarakan si pencetus ide yang juga salah satu penghuni kamar VVIP.
Pernyataan Bunda Widya membuat Bunga tersenyum karena gadis itu akhirnya menemukan solusi yang terbaik, "Alhamdulillah, aku datang di waktu yang tepat. Terima kasih, Bunda. Jika tidak merepotkan saya mau ditemani ke pasar malam!"
__ADS_1
"Tidak apa-apa, Non. Enaknya panggil Bunga saja, ya, sekarang sebaiknya kamu istirahat atau mau cari makan bisa ke depan saja. Di sana semua sudah tersedia dan dengan harga yang pasti murah meriah," lanjut bunda Widya yang dibalas anggukan kepala saja.
Si pemilik asrama pamit meninggalkan Bunga untuk kembali ke rumah utama, sedangkan gadis itu langsung masuk ke dalam dan merebahkan tubuh ke atas ranjang. Sejenak ia ingin beristirahat dengan tenang. Rasanya bahagia ketika satu jalan berakhir buntu, tiba-tiba muncul jalan baru untuk ia lewati.
Dikeluarkannya ponsel dari saku jaket sebelah kanan, lalu membiarkan si benda pipih di depan wajah sekian detik hingga layar menyala. Kunci layar memang menggunakan wajahnya, kemudian jemari berselancar mencari aplikasi yang dirinya inginkan. Istirahat tidak lengkap jika tanpa mendengar musik, iya 'kan?
"Lagu viral? Enak gak nih, ya," Bunga melihat iklan dari aplikasi musik yang menjadi pilihannya. Selama ini hanya mendengar lagu Inggris atau Indonesia saja, tapi kali ini ingin mencoba sesuatu yang baru. "Dengarkan dulu sebelum menilai!"
Semangat ingin menikmati waktu dan kehidupan selama tiga bulan dengan hal-hal baru. Gadis itu dengan pasti mendownload lagu yang ditulis, dipopulerkan bahkan dinyanyikan oleh penyanyinya langsung yaitu Darshan Raval. Si penyanyi yang memiliki hidung bak perosotan dengan wajah imut dan pastinya baby face.
Bahkan gadis itu ikut menyanyikan beberapa bait meski sedikit belepotan karena baru pertama kali mendengar lagunya, "Ye lamha bhi guzar jaayega. Ye dard seene mein hi dab jayega. Ye baatein adhoori reh jaayegi. Tum aur main adhoore reh jayenge."
"Kaash aisa bhi hota. Tum mere hote. Main tumhara hota. Toh ye gham na hote. Jhoothi thi kasmein teri. Jhoothe the waade sabhi. Jhoothi thi teri hansi aur. Jhoote the aansu tere," jemari ikut bermain nada dengan mengetuk belakang ponsel dengan hati. Suaranya mulai seimbang dan terdengar lebih merdu, "Ab yaadon mein aaunga main. Reh jayegi meri kami. Sazaayein bhi bolengi tujhko. Yeh kya kiya? tune kiya ...,"
Kesibukan Bunga bersenandung ria di dalam kamar hanya gadis itu sendiri yang tahu. Kamar yang ditempati putri keluarga Bima sudah dipasang alat peredam suara dengan tujuan agar privasi lebih terjaga. Termasuk kebiasaan si gadis yang pasti suka bernyanyi riang di waktu senggang.
__ADS_1
Semua sudah diatur sedemikian rupa oleh papa Bima hanya saja Bunga tidak tahu sejauh apa kedua orang tuanya mengenal setiap sifat dan sikap anak mereka. Gadis itu berpikir baik papa, maupun mama hanya sibuk bekerja sampai lupa tentang anak yang menanti di rumah. Padahal apapun yang dilakukan si gadis mata hazelnut akan selalu di bawah pantauan orang tua.
Meninggalkan kamar dengan kedap suara, di luar asrama terlihat seorang pemuda baru saja turun dari motor sport hitam yang terlihat begitu mulus. Kepala masih tertutup helm fullface tetapi bunda Widya yang memang mengenali suara motor si pemuda langsung keluar dari dalam rumah utama. Wanita itu melambaikan tangan agar penghuni kamar VVIP di sebelah kamar Bunga datang menghampirinya.
Si pemuda berjalan mendatangi bunda Widya seraya melepaskan helm hingga menunjukkan wajah tampan nan rupawan bak pangeran. Seulas senyum menghiasi wajah dengan sopan ia meraih tangan kanan si wanita berhijab, kemudian mengecup hormat seperti ibunya sendiri, "Bunda mau dibantuin apa?" tanya pemuda itu menatap wajah bermata teduh di hadapannya.
"Assalamu'alaikum, Aden. Jawab salam dulu!" titah bunda Widya, membuat si pemuda semakin melebarkan senyum yang menambah kadar ketampanannya.
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, Bunda. Sekarang giliran bunda jawab pertanyaanku!" tegas pemuda itu tidak ingin mengalihkan fokus pembicaraan yang ada.
Bunda Widya melepaskan tangannya dari si pemuda, lalu mengeluarkan sesuatu dari dalam saku gamis yang panjang. Selembar amplop putih berstempel organisasi diserahkan pada pemuda itu, "Ini titipan dari warga untukmu, Aden. Tolong terima dan jangan ditolak!"
Amplop putih yang terlihat begitu tebal hanya ditatap biasa saja sebab ia tahu isinya. Sudah hal wajar bahkan terlalu sering diberikan balas jasa, tapi ia tidak pernah mengharapkan apapun dari warga. Apalagi semua yang dia lakukan benar-benar ikhlas demi kemajuan warga setempat dan supaya dilirik oleh pemerintah agar mendapatkan bantuan pembangunan yang lebih baik.
Dengan terpaksa ia terima amplop pemberian warga agar tidak mengecewakan semua orang, "Terima kasih kembali, semoga rezeki kita semua diberkahi oleh Allah SWT. Aamiin."
__ADS_1