Karena Cinta

Karena Cinta
Part 213#PANGGILAN


__ADS_3

Sebagai seorang saudara maka sudah menjadi tugasnya untuk melindungi hak yang memang menjadi milik anak tertua. Apalagi kehidupannya tidak akan mempunyai kedamaian jika sang kakak tak peduli bahkan lebih mengutamakan kebahagiaannya sejak kedua orang tua tiada. Apa yang ia raih hari ini juga berkat kebebasan dan juga rasa percaya dari keluarga satu-satunya.



Di matanya tahta hanya kursi kebesaran dan tidak bisa menggantikan kedudukan seorang saudara di dalam hatinya. Tak peduli dengan perkataan para tetua yang tampak mempercayakan urusan perusahaan padanya, ia hanya melakukan pekerjaan untuk membantu sang kakak tercinta. Lagi pula prestasi yang susah payah diraih harus mendapatkan tempat agar bisa semakin dikembangkan.



Ia ingat benar nasehat seorang kakak yang menjelaskan bahwa di dunia luar beragam manusia saling berusaha menjatuhkan bahkan tak peduli kawan atau lawan. Sehingga untuk menemukan jati diri maka seseorang harus belajar lebih keras dengan latihan nyata seperti melakukan tugas untuk membuat perusahaan lebih berjaya dan melewati berbagai rintangan kehidupan.



Kepergian para tetua tak luput meninggalkan tanda tanya apalagi dokumen berisi wasiat kedua orang tuanya masih ada di atas meja. Entah kenapa sengaja ditinggalkan padahal jelas ia meminta untuk disingkirkan. Tatapan mata terpatri pada sampul biru tua yang terlihat masih dalam kondisi baik, mungkinkah selama bertahun-tahun dijaga atau tersimpan di ruangan khusus. Ia pun tidak pernah bertanya.

__ADS_1



"Astagfirullah, saking asyiknya melamun sampai tidak sadar ada panggilan masuk. Kau ini, payah, Den." celoteh Denis seraya menyambar si benda pipih yang terus bergetar dan hampir tak terselamatkan jika terlambat sedikit saja.



Sebuah nama pemanggil tertera di layar yang membuatnya tersenyum hangat, lalu dengan cepat menggeser icon hijau, kemudian mendekatkan si benda pipih ke telinga, "Assalamualaikum, kakakku tersayang. Ada apa gerangan, kok tumben telpon jam segini? Hayo, kakak kangen adik terganteng ini, ya?"




Peristiwa penekanan yang dialami Denis sudah sampai bahkan dalam hitungan detik. Untung saja orang kepercayaannya selalu bisa mendapatkan informasi tepat waktu sehingga ia sendiri mudah mencari solusi agar tetap melindungi anggota keluarga satu-satunya. Terkadang ia harus melupakan urusan pribadi dan hanya fokus menyelesaikan masalah internal di perusahaan meski dua tahun belakangan mulai menyerahkan tanggung jawab ke pundak Denis.

__ADS_1



"Eh, aku masih ambil cuti, Ka. Kenapa kakak gak minta dia saja buat gantiin aku," Denis merasa kakaknya hanya ingin mengambil sisa waktu liburannya, tapi pemuda ini masih belum mengerti apapun ketika menyangkut situasi perusahaan yang mana terlihat baik dari luar tetapi rumit di dalamnya.



Sementara Darren hanya bisa bertindak tanpa bertanya keinginan hati Denis. Apa yang lebih penting di matanya akan segera dilakukan, ia sendiri tidak ingin egois meski tetap berujung memaksakan kehendak. Panggilan singkat diakhiri begitu saja, lalu ia memesan tiket keberangkatan untuk adiknya yang mana itu secara otomatis menjadi pemesanan milik sang adik tersayang.



Tentu saja tindakannya bisa diketahui Denis dan pemuda satu itu hanya bisa melakukan seperti yang ia mau. Setelah memastikan jadwal penerbangan dan data diri benar barulah ia mematikan ponsel agar tidak mendengar suara rintihan atau bujukan. Kini waktu yang akan menentukan masa depan dan ia berharap masih memiliki kesempatan untuk tetap melindungi Denis.


__ADS_1


"Huft, hari yang selalu kuanggap sebagai mimpi akhirnya tiba. Sekarang tidak ada tempat untuk mundur tapi apa adikku bisa menerima kenyataan? Apapun yang terjadi nanti kuharap masih bisa diperbaiki." gumam Darren sembari memejamkan mata.


__ADS_2