
Makan malam berlangsung dengan begitu nikmat bahkan Ara sangat bahagia dengan suasana yang tercipta di antara mereka bertiga. Iya tak memungkiri jika perlakuan Anggun benar-benar semakin menghangatkan hatinya dan berharap semua kebahagiaan itu akan selalu menjadi milik bersama. Akan tetapi wanita itu tidak menyadari jika semua hanyalah tipu muslihat semata.
Tidak ada kebenaran di dalam diri Anggun yang bisa diberikan untuknya sebagai seorang sahabat bahkan lebih tepatnya semua sudah direncanakan untuk tujuan egois sang sahabat sendiri. Mungkin jika orang tahu bagaimana sih sikap dan sifatnya akan mengatakan jika wanita satu itu sangatlah bodoh hingga bisa selalu diperdaya oleh ucapan manis serta kepercayaan yang sebenarnya palsu dari orang-orang di sekitarnya.
Namun pada kenyataannya adalah ilusi yang diciptakan oleh orang terdekat seperti nirwana yang tidak bisa dilepaskan meskipun mata tetap terjaga. Layaknya pelangi yang memiliki warna begitulah rasa di hati yang akan semakin menyatakan diri bahwa mereka memiliki ikatan yang sama dengan emosi dan juga pikiran sejalan. Padahal tidak ada yang bisa dikatakan menjadi milik bersama.
Alih-alih merasakan sesuatu yang terlalu mencolok itu memiliki niat lain, arah justru begitu menikmati suapan demi suapan yang membuat hatinya terus berbunga-bunga. Apalagi obrolan malam ini cukup membuatnya semakin lebih dekat dengan kedua insan yang sudah dianggap keluarga hingga setelah menyelesaikan semua hidangan yang mengganjal perut. Wanita itu melanjutkan menikmati puding beras yang ia buat.
"Aku harap kalian suka hidangan satu ini, rasanya sudah aku pas kan agar tidak begitu manis dan kita bisa menikmatinya saat dingin. Semoga seperti rasa yang kuat hubungan kita bisa semakin lebih baik dan selalu saling mengasihi." ucap Ara seraya menyendok puding beras dari mangkuk miliknya.
Anggun tersenyum, ia menganggukkan kepala dan masih sibuk menyuap nasi yang memang belum habis dipiringnya begitu juga dengan Akbar karena porsi makan lebih besar dari para wanita. Sebenarnya Anggun sendiri sudah memberikan kode pada sang suami agar tidak terburu-buru menghabiskan makan malam karena sesuai janji mereka akan menghabiskan waktu bersama sehingga akan lebih baik membiarkan marah kembali ke tempatnya ya terlebih dulu.
Tampak begitu menikmati setiap suapan dengan rasa manis yang khas membuat Arah tak bisa menahan diri wanita itu bahkan menambahkan puding beras ke dalam mangkuk nya hingga tiba-tiba ia menghentikan kegiatannya tidak tahu kenapa rasanya seperti mengantuk bahkan ia tak bisa menahan diri lagi. Sontak saja ia menguap menunjukkan bahwa saat ini Kondisinya benar-benar sudah ingin beristirahat.
"Mas, Anggun, aku balik ke rumah dulu. Ngantuk banget ini, nggak papa kan?" pamit Ara sebelum berangkat dari tempat duduknya ia tak ingin sang suami dan sahabatnya berpikir dirinya tidak sopan karena pergi meninggalkan jamuan makan malam.
Akbar yang memperhatikan perubahan sikap Ara bisa melihat ada sesuatu hal aneh dalam diri istrinya tetapi ia juga tak ingin ambil pusing dan berpikir memang wanita itu sudah kelelahan bekerja seharian maka tidak perlu menambah beban kesibukan malam ini, "Istirahat saja, sayang. Selesai makan aku mau ngitung pengeluaran di perkebunan dulu, jadi nyusul sedikit terlambat. Mimpi yang indah, istriku."
"Maaf, ya, gara-gara bantu aku, kamu jadi kecapean. Tidur, gih! Nanti selesai makan biar aku bereskan meja makannya," sahut Anggun menunjukkan perhatian dan juga penyesalan meski tatapan mata tampak redup tetapi senyum senang samar tercetak tak bisa dihindari dari penglihatan Akbar.
Setelah mendapatkan izin dari kedua insan yang ia anggap keluarga. Akhirnya Ara meninggalkan meja makan, wanita itu merasa dirinya benar-benar membutuhkan istirahat apalagi terus aja menguap bagan tidak tahu kenapa rasa kantuk teramat sangat ia rasakan. Apa karena seharian disibukkan dengan banyak kegiatan sehingga ia benar-benar tidak memiliki energi lagi.
Lagi penasaran dengan apa yang terjadi pada dirinya wanita itu tetap berpikir positif dan memilih untuk mengistirahatkan diri tanpa memikirkan hal lain lagi meski begitu memasuki kamarnya sendiri melihat dekorasi kamar yang indah Ia hanya berharap sang suami segera kembali. Tak ingin menunda apapun lagi arah bagan memilih untuk langsung berkati pakaian yang sudah ia pesan. Penampilan tetap menawan meski rasakan dengan tak bisa ia singkirkan.
"Aku harap, Mas sabar bisa mengerti jika nanti masuk dan melihat pakaianku tapi mungkin aku memang memerlukan tidur terlebih dahulu." Ara langsung merebahkan diri ke atas ranjang yang justru merusak hiasan berbentuk cinta dari kelopak bunga mawar merah.
Sang malam yang temaram di luar sana membiarkan para Insan di dunia menjemput alam bawah sadar. Seperti sang rembulan yang berada di angkasa, semua insan yang masih terjaga berusaha menguasai dunia dengan cara mereka. Seperti yang terjadi pada kedua insan di ruang pertemuan sembari menatap penuh godaan. Tangan bahkan disibukkan berkelana tanpa aturan.
"Suamiku, kamu gak mau balik ke kamar Ara? Disana kamar kalian, tapi disini?" jemari menari di atas dada yang terbuka lebar karena ulahnya.
Akbar mengeratkan cengkraman tangan di pinggang wanitanya, "Aku perlu nenagih janji seseorang yang katanya bakal memberi tempat peristirahatan terbaik. Atau harus kurebut tanpa izin?"
"Uft, tidak sabaran. Malam ini, kubuat dirimu tidak bisa melupakan permainanku. Sini!" tangan menyambar dagu di depannya bersambut pertemuan pertama memulai perjalanan demi mendapatkan kenikmatan surga.
Bukan hanya Akbar yang tidak sabaran bahkan Anggun tidak memberi suaminya kesempatan merebut star atas permainan malam ini. Wanita itu menunjukkan kebolehannya menyenangkan ekspektasi dari impian seorang pria di atas ranjang dengan memojokkan Akbar terperdaya rayuan.
__ADS_1
Suasana malam semakin panas membuat kedua insan kian bersemangat menunjukkan kemahiran melakukan olahraga ranjang hingga suara derit ranjang mulai terdengar memenuhi ruangan. Tanpa memperdulikan apakah perbuatan mereka bisa memancing seseorang.
Kesibukan kedua insan itu sampai melupakan waktu hingga penantian seseorang kehilangan kesempatan menikmati tujuan dari sebuah pernikahan. Siapa lagi jika bukan Ara, wanita itu terbangun karena terganggu rasa haus yang tidak bisa di tahan lagi. Meski mata setengah terpejam, ia menyadari tidak ada setetes air putih di kamarnya.
Sepertinya sebelum tidur dirinya lupa untuk menyiapkan air minum di kamar, sehingga memaksakan diri turun dari ranjang. Lalu berjalan pelan meninggalkan kamar. Langkah kaki begitu hati-hati apalagi rasa kantuk masih mendera. Awalnya tidak ada yang aneh dengan suasana rumahnya.
Namun setelah mendapatkan minuman dari dapur dan kesadarannya sedikit kembali menguasai diri. Tatapan mata tak sengaja melihat ke arah meja makan dimana sisa makan malam masih tergeletak begitu saja, ingin heran tetapi hanya bisa berpikir mungkin semua orang memang memerlukan istirahat seperti dirinya.
"Besok pagi saja aku bereskan. Sekarang masih ngantuk," Ara kembali menguap tak bisa menahan rasa kantuk yang enggan pergi meninggalkan dirinya.
Wanita itu kembali berjalan tapi tiba-tiba teralihkan suara aneh yang berasal dari kamar bawah. Apakah mungkin suaminya masih menyibukkan diri dengan pekerjaan atau membutuhkan sesuatu dan tidak berani membangunnya. Apapun bisa terjadi bukan?
Langkah demi langkah diperhitungkan agar tidak mengganggu ketentraman penghuni lainnya tapi hati semakin tak tenang mendengar suara dari balik kamar. Ada kecemasan yang datang menyapa seolah memperingatkan agar tidak meneruskan pemeriksaan. Apa sesuatu yang salah sedang terjadi?
Perlahan mengangkat tangan, lalu menggenggam knop, kemudian dengan hati-hati memutarnya dan seraya pelan mendorong ke depan bersambut kilau cahaya lampu dari dalam kamar. Suara yang tidak lagi terhalang mengejutkan, ia merasa jerit manja di dalam sana tidaklah biasa. Apalagi bayangan yang tergambar di dinding depan sana menunjukkan penyatuan dua insan.
Sontak saja membekap mulut agar menahan suaranya yang hampir saja keluar tanpa diminta. Tubuh lemas seketika karena di depan mata menyaksikan pertandingan dua insan yang sama-sama ia sayangi. Bagaimana mungkin itu terjadi? Air mata jatuh begitu saja dan tak mampu lagi ditahannya.
__ADS_1
Sakit menusuk tetapi tidak berdarah. Rasanya bumi runtuh hingga kaki tak bisa mendapatkan pijakan lagi. Apa ia sedang bermimpi? Tanpa basa-basi mencubit pipinya sendiri yang mana itu menyadarkan diri sepenuh hati. Apa yang sedang terjadi dalam hidupnya ternyata bukan mimpi.
"Kalian berdua, kenapa tega mengkhianati aku?" ucap tanya Ara lirih pada dirinya sendiri, kaki terasa berat seolah membantu dan bibir kelu tak mampu menahan gejolak di hati.
Pengkhianatan terasa begitu menyakitkan karena dilakukan oleh orang yang mendapat kepercayaan tanpa pernah menanamkan kecurigaan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) versi daring, pengkhianatan diartikan sebagai proses, cara, perbuatan berkhianat atau mengkhianati.
Sedangkan berkhianat adalah perbuatan tidak setia; perbuatan yang bertentangan dengan janji. Pengkhianatan bisa terjadi dalam berbagai skala. Mulai skala 'kecil', seperti hubungan dengan lawan jenis, persahabatan, hingga yang 'membahayakan' seperti berkhianat terhadap perusahaan maupun negara.
Mereka yang berkhianat akan mendapat cap sebagai penghianat dan pecundang. Cap tersebut pastinya memiliki kesan negatif. Dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara, seorang pengkhianat akan mendapat sanksi sosial dan sanksi tegas lainnya. Allah tidak menyukai orang-orang yang selalu berkhianat dan Bergelimang Dosa
“Dan janganlah kamu berdebat untuk (membela) orang-orang yang mengkhianati dirinya. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang selalu berkhianat dan bergelimang dosa,” (QS. An-Nisa’ 4: Ayat 107)
Dalam tafsir QS. An Nisaa’ (4) : 107. Oleh Muhammad Quraish Shihab menjelaskan bahwa janganlah kamu membela orang-orang yang berkhianat dan selalu menyembunyikan pengkhianatannya dalam diri mereka. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang selalu berbuat khianat dan dosa.
.
.
.
"*Salah satu pelajaran tersulit dalam hidup adalah membiarkan pergi. Apakah itu rasa bersalah, kemarahan, cinta, kehilangan atau pengkhianatan. Mengubah tidak pernah mudah. Kita berjuang untuk bertahan dan kita berjuang untuk membiarkan itu pergi. Jika kau terluka sampai itu menghancurkan jiwamu menjadi berkeping-keping, perspektifmu dalam hidup pasti akan berubah, dan tidak ada seorang pun di dunia ini yang dapat menyakitimu lagi*."
...🍂🍂🍂🍂🍂...
Jangan lupa mampir ya, ☺
__ADS_1