
Langalh kaki yang berlari menjauh dibiarkan pergi tapi justru berganti langkah lain dan mendekati gazebo dimana Al masih santai membereskan permainan monopoli seorang diri. Siapa lagi jika bukan Bima yang datang dan menggantikan posisi Bunga. Meski sekedar duduk menunggu nyatanya pria itu sedang kebingungan untuk mengatakan sesuatu pada sang keponakan.
"Jangan seperti anak kecil, bicara saja to the point!" ujar Al tak mau ikut kebingungan mengartikan sikap ambigu Bima.
Bagaimana tidak langsung memberi peringatan jika yang datang sedang mode sebagai seorang ayah. Sebagai seorang pria, ia paham posisi dari Bima yang memiliki putri menginjak usia dewasa. Proses dari remaja menuju kedewasaan dan belum lagi ditambah pengaruh lingkungan, apalagi jika sudah memasuki ranah bisnis. Entah berapa banyak tantangan yang harus dihadapi nantinya.
__ADS_1
"Al, kenapa kamu tidak cari calon istri? Lupain masa lalumu dengan Sifani," ucap lirih Bima tetapi sayang masih bisa didengar jelas oleh Al yang menghentikan kesibukan akibat nama sang kekasih hati disebutkan.
Tidak tau apa hak Bima hingga berani menyebutkan nama Sifani. Memang benar, pria yang menjadi adik dari kakak iparnya itu mengenal wanita kesayangannya tapi bukan berarti bisa berbicara lancang. Apalagi selama bertahun-tahun tidak seorang pun berani menyinggung tentang kisah cinta mereka berdua. Termasuk ka Angkasa, kakaknya sendiri.
"Aku tau, dia sangat berarti untukmu, Al. Tapi, ini sudah bertahun-tahun dan masih tidak ada kabar tentang keberadaannya. Bagaimana kalau dia sudah memiliki kehidupan sendiri atau punya keluarga bahagia. Apa penantianmu masih bisa memberikan kepastian? Coba pikirkan tentang ka Angkasa dan ka Bella, mereka juga mencemaskan kehidupanmu, Al."
__ADS_1
Pembicaraan sepihak yang begitu panjang melebihi gerbong rel kereta api hanya Al dengarkan tanpa keluhan. Pria satu itu justru semakin santai meneruskan kesibukan hingga seluruh bahan permainan mainan monopoli tertana rapi di kotak tempat khusus, lalu beranjak dari tempat nyamannya bahkan tanpa mengindahkan panggilan dari arah belakang.
Melihat Al yang melarikan diri, sontak saja Bima menepuk keningnya sendiri, "Payah, ngomongin Al sampai berbusa akhirnya malah dikacangin. Kebiasaan anak itu masih aja sama, entah kapan berubahnya. Ka Angkasa terlalu sabar ngadepin adik yang dinginnya gak ketulungan. Kadang heran, apa ia mereka berdua kakak adik?"
Bukan manusia jika tidak sibuk dengan pemikiran sendiri. Sama seperti Bima, pria itu harus mengalah karena lawan yang tidak mau bekerjasama. Meski sudah bertahun-tahun nyatanya tidak membawa banyak dampak perubahan dalam diri Al. Malahan ia rasa semakin keras kepala saja, jadi wajar kakak iparnya pusing tujuh keliling.
Tak ingin menimbulkan kecurigaan lain, Bima ikut menyusul masuk ke dalam rumah dan meninggalkan taman dalam. Akhirnya seluruh anggota keluarga bisa bersatu dan duduk di kursi meja makan dengan tenang tanpa ada ketegangan. Setidaknya begitulah yang terlihat, apalagi melihat raut wajah Bunga begitu sumringah.
__ADS_1
"Nak, kamu mau makan sama apa? Hari ini, mama bikin lauk banyak macamnya," mama Milea sudah bersiap melayani setiap anggota keluarganya terutama sang putri tercinta.