
Niat hati ingin menyusup demi menyelesaikan pekerjaan tapi tidak menyangka justru langsung ketahuan secepat itu. Kini tak ada jalan menghindar terlebih lagi melihat penyambutan si pemilik rumah yang tampak begitu santai dengan kedatangan tamu asing tanpa persetujuannya. Apa pria paruh baya dengan penampilan jadul itu benar-benar menerima kehadiran ia?
"Nak, ayo, ikut denganku ke meja makan! Tidak perlu tegang seperti itu, di sini hanya ada pria tua sepertiku. Jadi apa yang harus kamu takutkan?" ujar si pria paruh baya pemilik rumah mempersilahkan tamunya untuk bergabung dengan dia di ruang dan tempat seharusnya.
Perlakuan manis yang dirinya dapat membuat ia merasa aneh hanya saja tidak mungkin menolak sehingga lebih baik mengikuti alur. Jika memang pekerjaan harus tertunda maka biarlah. Ia masih bisa menyediakan waktu meski sekedar untuk berbasa-basi. Setidaknya sebelum melakukan tugas bisa mengetahui niat hati si pemilik rumah.
"Tuan, apa Anda tidak takut dengan penyusup sepertiku?" tanyanya sekedar basa-basi hanya untuk tahu sudut pandang pemilik rumah yang dirinya datangi.
Bagi kebanyakan orang pasti melakukan tindakan keras jika melihat seorang penyusup tapi tidak untuk si pria paruh baya. Baginya, seorang penyusup hanyalah tangan lain dari pelaku kejahatan. Meski penyusupan adalah tindakan kriminal karena memasuki properti seseorang tanpa izin dari pemilik.
__ADS_1
Ia sendiri memiliki tindakan pencegahan dalam mengatasi seorang penyusup. Di kediaman yang terlihat sederhana di matanya pun sudah dilengkapi fitur keamanan canggih dan tidak berniat menggunakan kekerasan. Di area luar rumah, ia bahkan tidak menanam ranjau atau senjata tersembunyi yang bisa langsung menembak penyusup. Akan tetapi masih banyak metode mematikan untuk musuh jika sudah masuk ke dalam keadaan berbahaya.
Lagipula tidak semua orang yang memasuki tanah orang lain tanpa izin adalah penyusup. Meski dalam hal tersebut masih memiliki kriteria seperti pengantar pizza, tukang pos, atau misionaris. Sementara pria dengan penutup wajah di depannya bisa dibilang memang datang untuk hal penting yang bersangkutan dengan ia sebagai pemilik rumah.
Namun ia tidak merasakan adanya bahaya sejak melihat kedatangan si penyusup dari layar monitor. Entah kenapa hati begitu tenang menghadapi lawan apalagi yang datang tanpa kawan, "Hahaha, kamu lucu, Nak. Di rumah reyot seperti rumahku, apa yang mau dicuri? Pencuri saja pasti kabur setelah melihat tidak ada barang berharga di rumah ini."
Meski kedatangan penyusup yang jelas-jelas menggoreskan luka di lengan, nyatanya pria paruh baya itu bisa menahan rasa sakit. Tidak ada keluhan apa lagi berusaha membalas tindakannya, apa itu yang menjadi alasan sang pengirim pekerjaan agar ia selalu bersikap rasional tanpa melibatkan emosi hati. Mungkin saja tidak sesederhana itu.
__ADS_1
Obrolan antara kedua insan yang tak saling mengenal terhenti ketika para pelayan datang menghampiri ruang makan. Asap putih yang mengepul menyebarkan aroma harum masakan menggelitik perut bagi semua orang merayu tuk bergegas mengambil bagian. Hidangan makan siang disajikan tanpa ada keributan.
"Silahkan dicicipi makanannya!" Si pria paruh baya mempersilahkan tamunya tetapi sang penyusup masih enggan dan terdiam mengamati setiap sajian di atas meja makan.
Mungkin pria tanpa wajah berpikir ia akan menaruh racun di menu makan siang. Jika seperti itu yang menjadi permasalahannya maka ia sendiri harus membuktikan bahwa makanan di atas meja tidak ada sesuatu mencurigakan apalagi berniat mencelakai tamu asingnya sehingga tanpa banyak kata mengambil makanan terlebih dahulu. Satu per satu makanan ia coba sekedar menghapus keraguan hati milik sang tamu asing.
__ADS_1
Apa yang dilakukan pemilik rumah mengubah rasa waspada di dalam dirinya sebagai seorang penyusup. Ia tidak paham kenapa mendapat perlakuan begitu baik jika niat hati jelas diketahui oleh si pria paruh baya. Siapapun pasti akan bersiap menghadapi rintangan tetapi anehnya yang didapatkan justru ketenangan dan juga sikap ramah.
"Karena Anda menyambutku dengan baik maka dengan senang hati aku menerimanya. Terima kasih atas makan siang yang membuat diriku merasa pulang ke rumah sendiri." sahut si penyusup, lalu mulai mengambil beberapa jenis menu makanan, kemudian dengan santai menyantap hidangan yang memang terasa lezat.