
Memang nikmat ketika menjadi pendengar ditemani segelas jus triple berries nan menyegarkan, apalagi dengan topping berlimpah dari buah-buahan kering termasuk potongan kismis. Selain itu tersedia juga cemilan kentang goreng crispy cocol saus sambal pedas. Nikmat berkali-kali lipat.
"Dari KUHP memiliki berbagai pasal yang akan mengatur permasalahan mengenai pencemaran nama baik. Dikutip dari jurnal hukum berjudul Pencemaran Nama Baik dalam KUHP dan Menurut UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik oleh Reydi Vridell Awawangi, menjelaskan beberapa pasal pencemaran nama baik dalam KUHP.
"Pasal 310 Ayat 1 berbunyi, 'Barang siapa sengaja menyerang kehormatan atau nama baik seseorang dengan menuduhkan sesuatu hal, yang maksudnya terang supaya hal itu diketahui umum, diancam karena pencemaran dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.' Pasal ini mengatur mengenai pencemaran secara lisan.
"Tapi yang kamu tanyakan adalah Pasal Pencemaran Nama Baik dalam UU ITE. Peraturan yang mengatur mengenai masalah pencemaran nama baik adalah UU Nomor 11 Tahun 2008 yang telah diubah dengan UU Nomor 19 Tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)."
Bryant menjeda penjelasannya dan sejenak menyeruput kopi karena merasa haus. Ketika membahas masalah hukum, maka tidak boleh buru-buru karena yang mendapatkan ilmu juga harus memahami secara bertahap agar tidak keliru dalam menghapal pasal dan ayat dari undang-undang. Meski ia tahu bahwa Bunga memiliki ingatan yang baik.
"De, hukum pencemaran nama baik di media sosial dapat merujuk pada Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 pasal 45 ayat 3 yang mengatur setiap orang dengan sengaja, dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik dipidana penjara paling lama 4 tahun dan/atau denda paling banyak Rp750 juta.
"Jadi sekarang sudah jelas kan, ya? Oh, iya, selain pencemaran nama baik melalui media elektronik. Ada juga pencemaran secara lisan, tulisan dan banyak yang lainnya. Semua itu juga di atur di beberapa pasar, diantaranya adalah Pasal 310 ayat 1,2 dan 3. Pasal 311 ayat 1, Pasal 315, Pasal 317 dan Pasal 320 ayat 1.
"Jika adikku mau tau detailnya, besok kalau om Al pulang bisa tuh belajar sama dia. Gimana, ide bagus kan, de?" Bryant mengakhiri sesi menjadi guru dadakan, pria itu mengarahkan Bunga pada orang yang tepat karena memang paman mereka berdua seorang pengacara.
Jika belajar hukum, maka orang yang pantas mendapat kesempatan menjadi seorang pembimbing adalah sang paman terkasih. Hanya saja Bryant masih belum memahami jika pertanyaan Bunga adalah bentuk antisipasi. Gadis itu mulai merancang apa yang akan dilakukannya nanti bila pemuda sok tau yaitu Mahavir berbuat ulah lebih jauh lagi.
Berpikir seperti kilatan pedang dan bertindak secepat cahaya petir. Kedua hal ini saling bersinggungan dan tidak mudah untuk mengubah lawan menjadi kawan, tetapi ketika salah langkah malah berubah alur permainan. Sama seperti situasi saat ini, dimana ia masih meraba keadaan masa depan nanti.
"Ka Bry, terima kasih. By the way, tumben banget kakak jemput aku tanpa kasih kabar. Mana gak pake mobil sendiri lagi, apa semua baik?" Bunga memicingkan mata menatap kakaknya dengan tatapan serius.
__ADS_1
Sebagai seorang adik, ia hafal akan sikap dan sifat kakaknya itu. Apalagi jika sudah dalam masa kekacauan, maka pasti sibuk mencari ruang kenyamanan. Bukan dengan pesta atau jalan bersama para wanita asing, melainkan mencari teman untuk berdebat atau sekedar duduk santai tanpa emosi.
Bryant meletakkan cangkir kopinya sambil membalas tatapan Bunga dengan seulas senyum samar, "Gakpapa, De. Biasalah namanya juga seorang suami, kakak cuma rindu dan khawatir keadaan Hazel saja."
"Cuma? Bunga gak yakin, deh! Ka Bry itu terlalu lembut jadi cowok. Kakak gak bisa gitu, sekali aja buat kakak ipar diem di rumah dan gak nyusahin orang lain? Kewajipan seorang istri bukan cuma ngabisin uang suami, loh!" jelas Bunga menyindir keras Bryant karena hati seketika kesal mengingat situasi rumah tangga antara dua insan yang tampak saling cinta.
Apa arti cinta? Suami kerja setiap hari dan jangan tanya soal penghasilan Bryant. Kakaknya itu bisa memenuhi kebahagiaan duniawi tanpa kesulitan, lalu istrinya yang seorang model dan memiliki butik tentu punya penghasilan juga. Kemudian jika keduanya sama-sama bisa memenuhi kebutuhan hidup, kenapa justru mengorbankan waktu kebersamaan?
Tangan terangkat mengusap pipi Bunga yang tampak memerah, ia tahu adik dan keluarganya sangat peduli. Tentu saja tidak terima bila ada yang menyakitinya, hanya saja tanggung jawab seorang suami tak semudah kata-kata keluar dari bibir. Entah sudah berapa kali meminta hal sama pada sang istri, tapi hasil akhir akan selalu nihil.
"Ka Bryant!" panggil Bunga mencoba menyadarkan kakaknya, padahal pria yang duduk di depannya itu tidak melamun.
Pandangan mata saling terpaut dengan hawa panas yang menyebar di raga masing-masing. Ada kekesalan, kekecewaan dan juga ketidakberdayaan, tetapi masih bisa ditahan tanpa pengungkapan. Keduanya sama dengan menyimpan masalah masing-masing karena berpikir itulah yang terbaik untuk saat ini.
__ADS_1
Terkadang diam dan mencerna situasi dari sebuah masalah sangatlah diperlukan. Sebab itu, baik Bryant maupun Bunga menempatkan diri pada keyakinan hati bahwa mereka bisa menghadapi badai yang akan datang. Sesederhana itu, meski harus bersusah payah dalam menjabarkan jejak peristiwa masa kemarin dan hari ini.
"Lupakan itu, De! Kakak iparmu itu seorang model jadi wajar saja kalau sibuk. Jangan pikirkan soal rumah tangga yang masih berjalan baik-baik saja, bagaimana dengan kuliahmu?" Bryant mengalihkan perhatian Bunga dengan pertanyaan lain.
Aku hanya tak mau hubungan keluarga semakin memburuk jika tau kebiasaan Hazel. Biarlah menjadi urusanku saja.~batin hati Bryant menutupi perasaannya sendiri.
Tangan yang masih mengusap pipi disingkirkannya, "Pelajaran biasa saja, lagian ka Bry tahu semua ilmu yang diajarkan sudah aku pelajari setahun lalu. Boleh gak, sih, kalau kuliah rumahan saja?"
"Kuliah rumahan, why?" alis terangkat dengan tatapan mata menelisik akan permintaan adiknya yang terdengar aneh.
Ia heran saja atas pengajuan Bunga karena gadis itu selalu merindukan kebebasan, lalu kenapa tiba-tiba justru ingin belajar layaknya homeschooling lagi? Kabar burung pun sudah dirinya terima, dimana sang adik keluar dari rumah keluarga Bima dan tinggal di sebuah asrama.
Sudah jelas dari keputusan satu dan permintaan satunya sangatlah bertolak belakang. Bukankah patut dicurigai? Apalagi sekilas ingatan saat di kantin kembali hadir, ya, ia baru ingat tentang beberapa gadis yang berusia menjahili adiknya itu. Apa semua saling berkaitan?
Bryant terus berpikir tentang keraguan hati yang datang menghampiri hingga suara sang adik terdengar mengalihkan perhatiannya kembali ke dunia nyata. Akan tetapi karena melamun, ia tidak mendengar dengan jelas jawaban dari Bunga. Suara gadisnya bahkan terdengar begitu jauh seolah mereka berdua memiliki jarak bermil-mil.
__ADS_1
"De, barusan kamu bilang apa? Coba ulangi!" titahnya setelah kembali sadar dan sedikit menekankan permintaannya agar mendapatkan pengulangan dari Bunga.