
Setelah berhasil bertemu dengan teman lama yang pernah ditinggalkan setelah menyelesaikan misi. Pria itu meninggalkan tempat pelelangan seorang diri tetapi bukan melewati jalan depan melainkan menggunakan pintu belakang seperti petunjuk yang diberikan wanita penjaga ruang pertukaran. Sikap waspada dari temannya membuat ia merasa lebih hati-hati membawa barang hasil lelang.
Sebenarnya ia sendiri kurang tahu isi di dalam barang lelang miliknya karena berdasarkan penjelasan singkat saat acara lelang hanya menjelaskan sebuah perkamen tanpa jejak kepemilikan dan sudah tersimpan selama lima belas tahun di tempat lelang. Ia benar-benar menjadikan acara tersebut sebagai jalan singkat untuk melakukan pertemuan dengan teman lama.
Setelah berjalan melewati lorong panjang akhirnya menemukan jalan keluar yang ternyata berakhir di dekat sebuah bangunan tua. Dari depan saja dinding terlihat begitu tidak sedap dipandang tetapi itulah tempat yang harus ia datangi sehingga dengan santai melangkahkan kaki berjalan memasuki bangunan tanpa kata permisi. Pesan singkat dari teman lama cukup mudah dipahami olehnya.
Namun untuk mendapatkan barang lama, ia sendiri harus bersabar dengan penantian menunggu kembalinya si wanita penjaga ruang pertukaran ke tempat pertemuan. Alih-alih membuang waktu untuk diabaikan, pria itu memilih duduk di dekat ruang makan seraya memperhatikan sekitar yang terlihat begitu rapi seolah dihuni dan sering dibersihkan.
Diletakkan peti hitam ke atas pangkuan tetapi ia tengah memikirkan kemungkinan dari isi di dalam barang hasil pelelangan. Jika perkamen yang di maksud bukan barang penting maka ia hanya membuang uang secara percuma. Meski begitu ia cukup penasaran begitu mengingat harga awal dari barang yang tampak biasa saja.
"Mending kubuka daripada terus mikir tanpa kejelasan," gumamnya menyudahi perenungan, lalu mengeluarkan kunci dari balik saku dalam, kemudian memasukkan kunci ke lubang mini. "Apa dewi fortuna berada di pihakku atau?"
Setelah memutar kunci akhirnya terdengar suara dari dalam peti yang mana membuat tutup atas terbuka sesenti. Melihat itu, si pria melebarkan tutupnya, kemudian mengambil kertas gulung usang dari dalam peti. Lalu ditariknya pita putih tipis berbahan sutra sehingga dengan tenang ia memeriksa isi perkamennya.
"Hah, kok kosong?" tanya si pria terkejut melihat hasil dari barang yang sudah dibayar begitu saja. Ia tidak tahu kenapa mendapatkan sampah dari sebuah tempat lelang yang memiliki popularitas di kalangan orang berada.
Keterkejutannya hanya sesaat sebelum kembali tenang bahkan seulas senyum terkembang menghiasi wajahnya yang tampan. Hampir saja mengeluh karena barang tak biasa di depannya, tapi setelah mengingat beberapa metode lama barulah ia memahami trik di balik harga barang murah miliknya. Kini ia harus mengungkapkan rahasia di balik perkamen kosong.
__ADS_1
Kesibukan pria itu tanpa ada gangguan sehingga membuatnya benar-benar fokus pada tujuan. Tidak ada yang bisa menyulitkan keberadaannya selama keberuntungan masih menyertainya, sedangkan di pihak lain terjadi perdebatan sengit antar kolega. Dimana beberapa pihak merasa dirugikan setelah penantian panjang dan menganggap waktunya melakukan perlawanan.
Suara keras berdegum kencang mengalihkan perhatian orang-orang dari ketegangan. Apalagi tatapan mata nyalang menatap tajam tanpa ingin mendengar bantahan. Selama setengah jam diam mendengarkan begitu banyak keluhan dari suara sumbang, maka kini tidak perlu lagi bersabar atau mencoba mendamaikan keadaan agar kembali tenang di tengah pertemuan.
"Apa kalian sudah cukup membualnya? Jika sudah sekarang dengarkan aku, tidak satupun dari kalian akan mendapatkan senjata terbaru dari perusahaanku selama chip belum ditemukan. Kalian hanya bisa berkoar-koar saling menyalahkan dan bukan mencari solusi untuk menemukan chip. Pertemuan ini tidak bisa dilanjutkan, silahkan keluar!"
Amarah yang menyeramkan membuat orang-orang bungkam dan enggan meneruskan perdebatan sehingga tanpa menambah masalah, satu per satu meninggalkan ruang pertemuan. Setelah membiarkan semua orang pergi, barulah pemilik perusahaan kembali menghidupi lampu ruangan menggunakan remote kontrol di atas meja depannya.
"Kenapa begitu sulit mendapatkan barang milik papa," gumamnya seraya memainkan jemari yang sibuk mengetuk meja memainkan nada lagu favorite nya.
Kehidupan memang sangat singkat tapi tidak ada banyak tempat yang memiliki keadilan. Begitulah yang dia pelajari selama ini, hal itu menjadi cambuk kedewasaan bahkan diusianya sekarang meski baru menginjak usia delapan belas tahun. Apa kata dunia, ia benar-benar tidak peduli selain mengandalkan kemampuan dan juga kecerdasan.
__ADS_1
"Nona muda, saya ingin melaporkan sesuatu. Apa boleh masuk?" seru seseorang dari luar yang terdengar tergesa-gesa ingin bergegas menyampaikan kabar pada sang atasan.
Entah apa yang akan menjadi awal dari perubahan di dalam kehidupannya, ia merasa angin berembus berganti haluan. Tak ingin meneruskan perenungan lalu ia persilahkan seseorang di luar untuk masuk kedalam ruangan dan mengatakan laporan yang mungkin sangat penting disampaikan tanpa menunda waktu penjelasan.
"Nona muda, seseorang telah mengkonfirmasi atas barang yang Anda cari selama lima tahun terakhir. Hanya saja posisi barang masih belum diketahui." lapor seorang bawahan yang merupakan pelacak barang dari perusahaan tempat atasannya menjamin seluruh kebutuhan hidup di dunia.
Berita yang mengejutkan tetapi seperempat informasi hanya menjadi bayangan kegelapan tanpa kepastian. Jika baru mengetahui barang sudah muncul ke permukaan maka ia menunggu seseorang memecahkan kode yang telah dipasang oleh pemilik barang sah. Satu pertanyaan mencuat datang mengetuk pikiran, apa seseorang itu bisa menemukan rahasia di balik rahasia?
Bagaimanapun keluarganya menjadi orang pilihan yang memiliki tingkat kecerdasan di luar kemampuan orang-orang luar. Sebab itu leluhur mendirikan perusahaan yang berfokus pada senjata biologi. Dimana senjata yang menggunakan patogen yaitu bakteri, virus, atau organisme penghasil penyakit lainnya dan digunakan sebagai alat untuk membunuh, melukai, atau melumpuhkan musuh.
Dalam pengertian yang lebih luas, senjata biologis tidak hanya berupa organisme patogen, tetapi juga toksin berbahaya yang dihasilkan oleh organisme tertentu. Akan tetapi dalam kenyataannya, senjata biologis tidak hanya menyerang manusia, tetapi juga hewan dan tanaman. Bahkan ada lambang internasional untuk bahaya biologis yaitu biological hazard.
Pembuatan dan penyimpanan senjata biologis telah dilarang oleh Konvensi Senjata Biologi 1972 yang ditandatangani oleh lebih dari 100 negara. Alasan pelarangan ini adalah untuk menghindari efek yang dihasilkan senjata biologis, yang dapat membunuh jutaan manusia, dan menghancurkan sektor ekonomi dan sosial. Namun, Konvensi Senjata Biologi hanya melarang pembuatan dan penyimpanan senjata biologis, tetapi tidak melarang pemakaiannya.
Sejarah penggunaan senjata biologis sendiri dimulai pada tahun 400 SM, ketika orang Iran Kuno (scythians) menggunakan panah yang dicelupkan ke dalam feses (kotoran) dan mayat makhluk hidup yang telah membusuk. Hal serupa juga dilakukan oleh bangsa Roma yang mencelupkan pedangnya ke dalam pupuk dan sisa hewan yang telah membusuk sebelum berperang dengan musuhnya.
Sehingga apabila musuhnya terluka oleh senjata tersebut, maka terjadi infeksi penyakit yang dapat menyebabkan kematian. Bahkan peristiwa penting dalam sejarah kuno penggunaan senjata biologis terjadi ketika bangsa Mongol mengusir bangsa Genoa dari kota Kaffa di Laut Hitam dengan memanfaatkan mayat-mayat manusia yang terinfeksi wabah pes. Sehingga ketika bangsa Genoa menyingkir hingga ke Venice, mereka tetap diikuti oleh kutu dan tikus yang terinfeksi pes sehingga akhirnya menimbulkan "kematian hitam" atau dikenal dengan black death di wilayah Eropa.
Sejarah senjata biologis memang cukup menjelaskan betapa berbahayanya hasil dari bisnis yang keluarganya jalankan. Akan tetapi setiap pergerakan hanya terjadi dibalik layar sehingga dunia hanya melihat bisnis tambang yang sebenarnya sudah cukup memberikan keuntungan dan membayar para karyawan di setiap cabang perusahaan.
__ADS_1
Mengibaskan tangan tanpa membuka mata yang membuat bawahannya mengundurkan diri tanpa banyak tingkat dan ia kembali mendapatkan ketenangan setelah sekian lama, "Aku tidak sabar mendengar kabar baik darimu, siapapun kamu maka mulai hari ini menjadi milik perusahaanku."