
Bunda Widya menggelengkan kepala karena memang tidak menghubungi orang tua si gadis mata hazelnut. Ia tahu bahwa niat Bunga tinggal di asrama agar bisa memiliki kehidupan normal layaknya anak remaja pada umumnya. Selain itu, jiwa muda memberi kesan tidak ingin dipatahkan semangat dari kesempatan yang ada.
Apalagi mengingat berapa tuan Bima mengantisipasi berbagai hal kemungkinan agar putrinya itu nyaman di kehidupan masa remaja. Sehingga tidak memberikan pengawalan yang ketat selama masa kebebasan. Orang pasti berpikir bahwa orang-orang bebas pasti bisa terbang seperti burung di angkasa.
Namun kebebasan itu sendiri memiliki makna yang kuat dan begitu dalam dan jika menganggap kebebasan sekedar berlari dengan kaki sendiri. Maka tidak bisa dikatakan seratus persen benar. Sebab kebebasan adalah kemampuan untuk melakukan apa yang diinginkan, atau hak dengan anugerah dan kelebihan yang dimiliki (yaitu hak istimewa).
Kebebasan, juga dapat diartikan memiliki kemampuan untuk bertindak atau berubah tanpa batasan. Dan bisa juga berarti kekuasaan atau kemampuan bertindak tanpa paksaan; ketiadaan kendala (hambatan); kekuasaan untuk memilih tindakan seseorang vis-à-vis negara, yang seringkali dilihat di dalam arti kebebasan dasar (fundamental freedom).
Saat ini Bunga mengharapkan memiliki kebebasan itu sendiri agar bisa menjalani kehidupan layak sebagai seorang remaja beranjak dewasa. Kebebasan yang juga disebut kebebasan menjadi (freedom to be), yang ditandai oleh pengalaman keberadaan-diri yang asali berkaitan dengan mistisisme yang kepedulian utamanya adalah kebebasan pribadi, bukan kebebasan politis.
Kebebasan pribadi adalah kebebasan mutlak (absolute or infinite freedom), yang terdapat di dalam kehidupan spiritual, yang juga disebut sebagai kebebasan moral (kebebasan menentukan sendiri
tanpa hambatan sebab-sebab eksternal), atau kebebasan batin pada pikiran dan imaginasi.
Lalu menuju kebebasan bertindak (freedom to act) yang ada dalam batas-batas yang dipaksakan oleh realitas eksternal kepada manusia. Kurang lebih pada intinya bebas memilih jalan kehidupan, tapi tetap mengingat tanggung jawab sebagai anak sekaligus seorang manusia.
"Terima kasih, Bunda. Bunga bisa lega mendengar itu," perlahan gadis itu berada bangun dari posisinya yang masih berbaring dan dibantu oleh bunda Widya.
__ADS_1
Wanita berhijab begitu telaten merawat Bunga seperti anaknya sendiri dan itu membuat si gadis mata hazelnut nyaman. Bunga merasa menemukan rumah kedua setelah rumah keluarganya sendiri, sedangkan di kamar sebelah Mahavir masih terlelap tanpa ada yang berani mengganggu.
Ponsel di atas meja belajar terus berkedip tetapi tak bergetar, apalagi bersuara sebab sudah di mode silent. Pemuda itu sengaja mendiamkan benda pipihnya agar orang-orang tidak ada yang datang membubarkan mimpi indahnya. Sederhana bukan?
Setiap kali sudah tinggal di asrama dan bukan istana. Mahavir selalu memiliki cara untuk menjalani kehidupannya. Ketika orang-orang mengenal dirinya sebagai salah satu arti, maka ia akan bersikap dingin. Akan tetapi berbeda lagi jika dikenal sebagai pedagang bakso.
Penghasilan memang tidak seberapa bahkan bisa dikatakan lebih menggiurkan gaji seorang artis. Hanya saja jika bisa memilih, ia lebih suka menjalani orang biasa yang banyak teman tulus dan tidak pernah memandang dari fisik saja. Kehidupan orang biasa memang layak untuk dihargai.
Waktu berlalu begitu cepat di mana mentari berganti sinar pijar lampu di atas tiang gantung taman. Terlihat lentera masa kini tanpa api, apalagi sumbu yang begitu terang menerangi jalan setapak diseberangan taman. Langkah kaki seseorang berjalan menyusuri rerumputan seraya mendengarkan obrolan dari seberang.
Ia berjalan dari satu sudut hingga ke sudut lain tanpa menyudahi percakapan santai yang sesekali menghadirkan senyum manis nan menawan. Sudah hampir satu jam, tapi masih enggan tuk mengucapkan kata-kata perpisahan mengingat waktu sudah begitu malam hingga dari kejauhan tampak langkah kaki lain berjalan mendekat.
Pemuda itu tidak ingin ketahuan. Apalagi jika sampai Bunga tahu mereka satu asrama malah bisa semakin merepotkan dirinya saja, "Aku chat bunda saja, tapi udah jam sembilan. Sudahlah, nanti malah gangguin bunda. Aku lihat dari sini saja"
Ia tidak khawatir hanya saja lingkungan asrama tidak seramai kota dan ia tahu benar bahwa beberapa pemuda yang merupakan penduduk asli memiliki kebiasaan buruk. Ada yang mengikuti trend anak kota dengan berpesta minuman dan suka mengganggu gadis ketika malam tiba.
Ia memang jarang kembali ke asrama tepat waktu karena itu sangat hapal dengan tingkah laku beberapa anak desa. Bahkan para pemuda yang memiliki kebiasaan sama menyebut diri mereka sang pujangga cinta. Padahal baginya tak lebih sekedar para pemuda hilang sandaran.
__ADS_1
Lima menit telah berlalu, ia masih menunggu dengan tenang tanpa memperdulikan dengungan nyamuk yang datang menyerang hingga lima belas menit kemudian terdengar suara berpamitan. Suara percakapan tidak lagi ada membuatnya mengintip ke arah depan di balik pohon tempat persembunyian.
Tidak ada orang begitu ia memperhatikan tempat di sekitar Bunga berada. Gadis itu sudah menghilang entah kemana dan tentu berpikir sudah pulang kembali ke asrama yang berjarak hanya sepuluh meter di depan sana. Penantiannya percuma meski tidak memiliki niat apapun juga.
"Balik ke asrama lah! Cape juga berdiri kagak jelas cuma buat nungguin sugar baby ... " belum juga usai mengucapkan isi pikirannya tiba-tiba ia merasakan tepukan tangan yang mendarat di pundak kanan.
Aroma parfum menyeruak menusuk hidung. Ia bisa mencium perpaduan antara sandalwood, citrus dan lily yang menyatu sempurna hingga menyebarkan aroma khas wewangian nan elegan. Manis, energik dan begitu menyegarkan. Parfum yang ia yakini dari salah satu brand ternama di Paris.
"Kamu siapa dan ngapain ngintip dari balik pohon? Kurang kerjaan, ya?" tanya Bunga hanya sekedar mengajukan pertanyaan dari rasa penasaran yang menyapa benak pikiran.
Sesaat seolah ia sudah tersudut tetapi kemudian baru ingat ternyata masih mengenakan masker wajah sehingga merasa aman jika harus berbalik. Hanya saja, apakah perlu untuk menjawab Bunga? Ia merasa tidak harus menjelaskan kepada gadis itu mengenai tindakannya.
Sekilas ide muncul yang membuat Mahavir menyunggingkan senyum di balik maskernya, "Aku cuma lewat, lagian asrama ku ada di depan sana. Apa itu jadi masalah buatmu?"
"Ouh, gitu," Bunga menarik tangannya kembali, lalu ia berjalan melewati Mahavir tanpa menoleh ke arah samping. "Bye, aku balik duluan!"
Dingin dan acuh. Itulah Bunga! Baru berpikir bakal ketahuan tapi langsung terhempas dari kenyataan yang ada. Ia perlu memahami seperti apa gadis itu karena entah sampai kapan harus main kucing-kucingan hanya untuk menghindari pertemuan. Padahal tidak ada larangan menunjukkan jati diri.
__ADS_1
"Siapa lagi yang telpon malam-malam gini? Bodoamat, waktunya aku istirahat dan no more discus!" Mahavir mematikan ponsel yang bergerak di genggaman tangan kirinya lalu menyusul langkah kaki Bunga karena harus kembali ke asrama.