
SATU JAM KEMUDIAN
"Di mana wanita itu?" tanya Daniel kepada salah satu pembantu.
"Nyonya Arina belum pulang, tuan." jawab pembantu.
"Dia belum pulang?" tanya Daniel.
"Benar Tuan Daniel, Nyonya Arina belum pulang." jawab salah satu pembantu.
"Wanita itu belum pulang, lalu dia sembunyi di mana?" Daniel yang sedikit kebingungan.
Memang sengaja Arina tidak masuk lewat pintu depan, wanita itu Lewat Pintu Belakang dan dia masuk ketika para pembantu tidak ada di sana.
"Ya biarlah dia mau hilang mau kemanapun itu terserah padanya." ucap Daniel.
Langkah kaki Daniel menaiki anak tangga menuju lantai 2, tatapan mata Daniel menatap Arina yang sudah duduk di kursi goyang yang dulu sering dipakai oleh ibunya.
"Kok dia ada di sini? katanya belum pulang." Daniel yang kebingungan.
"Kenapa kamu lihat-lihat."
Arina yang berbicara dengan begitu galak.
"Kok kamu ada di sini, katanya kamu belum pulang?" tanya Daniel.
"Siapa bilang aku belum pulang, dari tadi aku di rumah kok." jawab Daniel.
"Tapi kenapa kamu ada di sini, para pembantu bilang kalau kamu belum pulang?" tanya Daniel yang membuat Arina tertawa mengejek.
"Aku ini punya ilmu menghilang, setelah aku menghilang aku mau menampakkan diri di mana saja itu urusanku." jawab Arina yang kemudian meninggalkan suaminya tersebut.
"Dasar wanita sableng tidak tahu diri." ejek Daniel.
"Kamu itu yang Sableng, kamu itu yang gila." ejek Arina kembali.
"Kamu mau mengaku bertengkar ya?" tanya Daniel.
"Ngapain juga bertengkar dengan kamu, lebih baik aku makan daripada bertengkar sama kamu. dasar pria menjengkelkan." setelah mengatakan hal itu akhirnya Arina berjalan ke dapur.
Wanita itu ingin memasak masakan kesukaannya, sedangkan Daniel berada di kamarnya. Dia sedang membersihkan dirinya dari semua rutinitas yang ada di perkebunan, hari-hari yang ada di sini benar-benar menyebalkan. hidup dengan wanita menyebalkan membuat kepalaku semakin pusing.
Daniel yang terlihat memijat kepalanya, beberapa menit kemudian ponsel Daniel terlihat berdering. pria itu menatap ponselnya, tertera di sana nama Wahyu.
"Dasar pria Kurang ajar, beberapa hari ditelepon tidak bisa ngapain juga sekarang dia telepon-telepon aku." gerutu Daniel yang kemudian mematikan ponselnya.
Sesaat kemudian ponsel milik Daniel berdering kembali.
"Ngapain Coba dia terus-menerus menelponku." ucap Daniel.
DRETTTT..
__ADS_1
DRETTTT..
ponsel Daniel berdering.
"Ada apa?" tanya Daniel.
Daniel menjawab panggilan telfon dari Wahyu.
"Ada apa?" tanya Daniel.
"Tidak apa-apa, sebenarnya semuanya baik-baik saja." jawab Wahyu.
"Kalau semuanya baik-baik saja, kenapa kamu telepon-telepon aku?" Daniel yang marah.
"Memangnya aku tidak boleh menelpon kamu?" tanya Wahyu.
"Kamu tidak boleh menelpon aku, kamu itu selalu membuat aku kesal. kamu itu selalu membuat aku marah, aku tuh semakin kesal padamu." jawab Daniel.
"Apa, kesal? Kamu kira aku itu pacaran sama kamu, dasar pria menjijikkan." cibir Wahyu.
"Cepat katakan, Ada apa kamu menelponku?" tanya Daniel.
"Oh ya, bagaimana keadaanmu di sana?" tanya Wahyu.
"Keadaanku baik-baik saja, memangnya kenapa?" tanya Daniel dengan kesal.
"Oh ya, Apa kamu sudah bulan madu sama wanita itu? kamu sama dia sudah belah duren nggak?" tanya Wahyu yang membuat Daniel langsung mematikan teleponnya.
"Dasar pria gila, ngomong Apaan dia. Dia kira aku ini mau sama wanita itu." kesal Daniel.
Setelah mematikan ponselnya, Daniel tiba-tiba sudah terlelap, pria itu seketika melupakan kekesalannya kepada Arina.
KEESOKAN PAGI
"Aaaa!!!"
suara teriakan dari para wanita ketika Daniel sedang berolah raga di pagi hari.
"Siapa sih wanita itu, Kenapa juga dia harus datang disaat pemandangan dari Tuhan benar-benar sangat sempurna seperti itu!" cibir seorang wanita.
"Namanya Mbak Arina, dia adalah isteri dari mas Daniel." jawab Lisa.
"Mengapa juga dia harus berada disini di saat yang tidak tepat." ucap beberapa wanita yang lain.
"Dia memang seperti itu, sok cantik, sok kaya dan sok keren." jawab Lisa.
Bukannya membuat para gadis itu senang, malah Lisa membuat para Gadis itu semakin tidak menyukai kehadiran Arina.
Arina yang berada di tepi jalan nampak wanita itu menatap Daniel yang sudah berada tidak jauh darinya.
"Maaf Haris, aku harus membawa wanita ini ke perkebunan. kalau dia tidak aku bawa pasti dia akan keluyuran." Daniel yang kemudian menyuruh Arina untuk segera naik ke atas motor.
__ADS_1
Secepat mungkin Arina langsung menaiki motor tua yang dibawa oleh Daniel,
"Mengapa kau harus membawa motor ini sih?!" tanya Arina kepada Daniel.
"Memangnya ada motor lain? kalau membawa mobil itu benar-benar tidak efisien, Apalagi jarak untuk membeli bensin agak jauh. kalau suatu waktu-waktu bensinnya habis bagaimana?" tanya Daniel.
"Alasan." cibir Arina.
"Itulah mengapa aku tidak suka berada di tempat ini, terkadang tempat ini membuatku benar-benar seperti di neraka." jawab Daniel.
"Jangan seperti itu, walaupun begitu tempat ini sangat menyenangkan, bukan?" tanya Arina.
"Kalau kau memang senang berada di sini, setiap hari dikerumuni oleh para pria itu." ladek Daniel.
"Memangnya Kenapa? apakah kau mulai cemburu pada isterimu ini." ejek Arina yang membuat Daniel langsung mencibir Arina.
"Tidak seperti itu juga kali, tapi kalau dipikir-pikir Kenapa juga para pria itu menyukaimu. apakah kau mau berpacaran dengan para itu?" tanya Daniel.
"Kau kira aku ini wanita apaan, kamu kira aku ini wanita yang selalu memacari para pria yang ada dimanapun." jawab Arina.
Perbincangan terus terjadi diantara Daniel dan Arina, mereka berdua nampak benar-benar seperti pasangan kekasih yang saling cemburu karena kehadiran orang ketiga.
CITTTT....
Daniel yang tiba-tiba mengerem motornya hingga berbunyi sangat keras. Hal itu membuat Arina langsung terbentur punggung Daniel.
"Kau tidak bisa menyetir dengan benar ya, Mengapa kau mengerem mendadak seperti itu! apa kau sengaja biar aku membentur tubuhmu, gitu!" seru Arina.
"Ngapain juga aku harus melakukannya, kalau aku benar seperti itu Kenapa tidak dari tadi biar kau bolak-balik terbentur tubuhku." jawab Daniel yang kemudian turun dari sepeda motornya.
"Ada apa Pak?" tanya Daniel yang melihat Pak tua datang ke tempat mereka.
"Ini lho mas Daniel, aku mau meminta bantuan sama mas Daniel. aku membutuhkan pekerjaan mas." jawab seorang pria tua.
"Memangnya kamu butuh pekerjaan apa, pak?" tanya Daniel.
"Kalau berbicara dengan orang tua itu yang sopan, kamu ini lebih muda tapi tidak punya tata krama sama sekali." ejek Arina.
"Diam, jika tidak mulutmu itu akan aku lakban." ancam Daniel.
"Bisanya mengancam saja, dasar biar tidak tahu diri. lihat aja aku pasti akan melakukan sesuatu kepadamu." guman Arina dalam hati.
* Bersambung *
Mohon dukungannya pada novelku yang lainnya 😊😊😊
- Mawar berduri
- Terlempar ke dunia sang kaisar
- karena cinta
__ADS_1