
Bagi setiap insan pemilik jiwa yang enggan melukai perasaan orang ketika sudah memiliki hubungan di atas pertemanan, pria muda nan tampan berusaha mengendalikan emosi hati agar tetap berdiri di tempat sama. Dia tak mengharapkan sesuatu hal buruk menimpa orang tersayang apalagi mencoba memupuk rasa melewati batas kesadaran. Meski di tengah kenyataan masih lah menyita seluruh kebenaran.
Tangan terangkat yang dilabuhkan ke atas kepala sang sahabat, ia usap rambut indah nan berkilau dengan sepenuh hati. "Sava, kita lupakan saja pembicaraan tadi. Lagi pula di sini kita hanya bisa menikmati liburan dan bukannya mencari penyakit hati. Bagaimana kalau pindah tempat melukisnya?"
"Hmm, terserah kakak aja." tukas Sava yang tidak ingin melanjutkan perdebatan, gadis itu merasa saran Denis lebih baik dan tentunya akan mengakhiri ketegangan di antara mereka berdua.
Setelah sepakat, akhirnya kedua insan itu bergegas mengemas barang lalu mencari tempat dengan pemandangan alam yang indah untuk dijadikan objek lukisan. Kebersamaan selalu menghadirkan kehangatan meski tidak mengekang batasan. Hubungan yang kian melengkapi menjadikan keduanya semakin terbuka untuk satu sama lain.
Detik berganti menit hingga waktu berlalu begitu cepat sehingga tak menyisakan kesempatan mengucapkan keluhan. Di tengah kesendirian malam setelah menyelesaikan pekerjaan yang begitu melelahkan akhirnya si pria pemilik wajah datar mendapatkan waktu duduk di kursi santai dengan sandaran sebagai tempat peristirahatan. Tentu ditemani pemikiran yang bercampur satu walau masih terpisahkan.
__ADS_1
"Kukira urusan bisnis kali ini bisa selesai cepat tapi sepertinya bakal tertunda. Aku heran kenapa masih ada yang suka memainkan trik kotor hanya untuk memenuhi hasrat kebutuhan mandiri. Seberapa besar ego milik para pecundang di wilayah kekuasaanku," gumamnya seraya memainkan jemari yang mana memainkan nada dengan ketukan berirama.
Belum juga genap seminggu mengatur ulang segala sesuatunya di perusahaan baru yang memang harus dibuat dengan sistem baru, ia sudah menemukan beberapa hal mencurigakan di balik hubungan dari orang-orang dalam sehingga memerlukan kerja ekstra demi mengungkap kebenaran muncul ke permukaan. Akan tetapi ia sendiri tidak terburu-buru dalam penyelesaian kali ini.
Pikiran terbang melayang tetapi bukan tenggelam memikirkan masalah perusahaan. Baginya masih ada hal jauh lebih penting dibanding kesibukan mengurus perusahaan. Rasa yang menyita ketenangan bersambut helaan napas panjang dengan sisa kedamaian di tengah kesendirian tanpa sandaran.
__ADS_1
"Satu alasan sudah cukup menjadi awal dan akhir sebuah kisah. Pepatah ini yang selalu terucap dari bibirnya tapi aku tak menyangka begitu alasan ditemukan justru menarik simpul rahasia dari dalamnya kebenaran. Bahkan tidak bisa berandai-andai meski itu sekedar harapan semu. Terlalu naif diriku saat dulu."
Sekelebat ingatan menghentak kesadaran membawanya pada kisah dimana ia hanyalah seorang pria biasa dengan perasaan cinta yang siap memerangi seluruh dunia. Betapa dirinya dulu banyak tingkah, sangat bersahaja tetapi karena kurang pengalaman dan bisa dikatakan sangat sederhana. Ia terlihat bodoh dan tidak masuk akal karena seluruh pikiran hanya mengedepankan emosi hati.
Kini, ia sadar bila seseorang yang memiliki sifat naif seringkali dianggap negatif. Hal ini disebabkan oleh orang-orang naif yang sangat mudah untuk dimanfaatkan dan dimanipulasi oleh orang lain untuk kepentingan tertentu. Naif sendiri merupakan sikap yang apa adanya di mana seseorang akan bertindak terlalu lurus-lurus saja dan terlalu polos. Seperti saat jatuh cinta pada orang yang dianggap sebagai rumahnya.
Kepercayaan memang merupakan hal yang diperlukan agar sebuah hubungan bisa berjalan dengan baik. Namun, ia tak pernah menyangka pepatah milik sang kekasih hati lamanya menjadi pembuktian atas kisah dari hubungan mereka sendiri. Apa yang sudah terjadi maka tak bisa diubah tetapi ia masih berharap mendapatkan pengampunan setelah semua kebenaran terungkap.
Dilema hati tak bisa dihindari meski ia menganggap segala sesuatunya pasti akan membaik suatu hari nanti. Penantian tak bisa menjadi akhir dari satu kisah saja, begitulah pemikirannya. Sementara di tempat nan jauh dari keramaian dunia diselingi suara tanya jawab setelah keheningan melanda. Tiga insan yang duduk bersama mencoba untuk saling terbuka demi memahami situasi di sekitar mereka.
"Kamu tidak tahu gimana rasanya jadi aku!" sentak suara pertama yang merasa tidak didengarkan oleh kedua insan di depannya. Ia tak terima saran yang menurutnya hanya akan menimbulkan rasa sakit semakin menganga.
__ADS_1