
Tidak heran tapi hanya merasa kasihan pada insan yang suka keserakahan apalagi untuk harta tidak seberapa. Jika seseorang bekerja keras dan tidak mengandalkan serta membayangkan tumpukan kilau keuntungan. Manusia bisa memahami jika segala sesuatunya memiliki efforts yang tidak lepas dari tanggung jawab masing-masing.
Setelah menunggu beberapa waktu akhirnya setiap klien secara serentak mengumpulkan kertas yang berisi kerja sama menjadi satu tumpuk, lalu seorang pria paling ujung berdekatan dengan tempat duduk wakil CEO menyerahkan hasil semua orang. Kontrak kerjasama dadakan beralih di atas meja putra kedua keluarga Putra. Wajah tampan tanpa senyuman menyambut hangat hasil dari harapan para hati tak berakhlak.
"Duduk! Kalian sudah menulis pasal kontrak kerja sama dari satu pihak, sekarang giliranku. Tunggu bagian kalian masing-masing." Al mengambil pulpen yang terpasang di saku jas sebelah kanan.
Pria itu benar-benar disibukkan dengan tulisan tangan seraya sesekali berdecak dan terkadang hanya mengembangkan senyum miring yang terlihat menyepelekan. Di dalam benak pikiran cukup riskan melihat bukti kehidupan dari jalan pilihan orang-orang yang ada di ruangannya. Satu per satu ia bubuhkan pasal kerjasama dari pihaknya.
Setelah memastikan semua kertas mendapatkan hak dan kewajiban yang sesuai dengan permintaan para kliennya. Kertas ia kembalikan pada orang yang duduk di sisi kiri meja, "Bagikan pada semuanya sesuai nama masing-masing. Setelah mendapat kontrak kerjasama, silahkan dibaca syarat dari perusahaan keluarga Putra. Jika setuju, mari kita lanjutkan dan kalau tidak, pintu keluar di sana. Siapapun boleh angkat kaki dan jangan berpikir untuk kembali."
Ancaman Al tidak lagi main-main dan itu bukan hanya omong kosong belaka. Apalagi ekpresi wajah para klien tampak diam mematung dengan bibir pucat, tatapan mata nanar tak berdaya. Dua dari tangan yang menggengam kertas tampak gemetar menatap hasil akhir kontrak kerjasamanya. Sungguh tidak menyangka akan di luar dugaan.
Tapi tiba-tiba kesunyian yang melanda tergoyahkan adanya gebrakan meja dari salah satu peserta rapat dengan pancaran murka memandang sang wakil CEO. "Apa Anda sudah kehilangan akal tuan Alkan Putra?" kertas diayunkan sekedar menunjukkan alasan di balik amarahnya.
"Ini namanya bukan kontrak kerjasama tapi kerja rodi. Apa Anda pikir, kami bekerja dengan Belanja pada masa penjajahan? Permintaan tidak sebanding dengan harapan kami yang hanya ingin memiliki sedikit uang saku demi kelangsungan hidup. Kenapa kalian semua diam saja? Sudah tau ini tidak adil buat kita." Si pria berkemeja merah begitu berapi-api mencoba memprovokasi situasi di ruang rapat.
Namun Al malah tersenyum aneh membalas tatapan mata yang berani menuduhnya sebagai seorang pemeras. Tidak habis pikir dengan orang yang berpikir picik seperti itu, kehidupan memang dipenuhi banyak manusia dengan karakter berbeda. Akan tetapi faktanya keserakahan ada dimana-mana tanpa mengenal tata krama.
"Apa kamu serius menyebut kontrak kerjasama sebagai kerja rodi? Disini semua orang tahu kerja rodi merupakan sistem yang diterapkan oleh pihak kolonial Belanda yang memaksa masyarakat untuk bekerja tanpa mendapatkan upah apapun dari pekerjaan yang diperintahkan dan dilakukan. Sedangkan kalian, coba baca ulang pengajuan keuntungan masing-masing! Apa itu masuk akal?
"Orang harus bekerja keras hanya untuk mendapatkan selembar uang dan bahkan beberapa mempertaruhkan nyawa. Sementara kalian ingin bekerja lebih sedikit dan mendapatkan untung banyak. Perusahaan mana yang menerima tuntutan hasil bagi 70 banding 30?
"Aku pasti setuju dengan permintaan di luar batas kalian asal syarat terpenuhi. Jika tidak, untuk apa perusahaan membayar kalian. Tujuan kalian ingin mapan dan memiliki kehidupan layak, jadi jangan jadi pemalas. Bekerja dulu baru memikirkan upahnya!"
Al harus mengungkapkan masalah yang sebenarnya karena ia sendiri tidak ingin ada omongan sok pintar dari para kliennya. Bagaimanapun permintaan dari klien tidak bisa dibenarkan karena memang tidak masuk akal. Wajar bukan jika ia menetapkan jam kerja lebih ekstra agar sesuai dengan hasil yang di dapat kedua pihak.
Lebih tepat jika orang-orang tak berakal di ruangannya hanya sekumpulan pemalas saja. Jika bisa, mungkin lebih baik duduk di sofa nonton TV sambil makan cemilan tetapi hujan uang turun begitu saja. Sayangnya kehidupan memerlukan kerja keras dan bukan hanya berpangku tangan.
Pada dasarnya, setiap orang pernah merasa malas. Namun, rasa malas yang berlangsung lama bisa menjadi kebiasaan buruk. Salah satu ciri-ciri orang pemalas adalah kerap menunda pekerjaan. Sedalam ingatan selalu mengingat keluhan yang sudah berlalu termasuk hasil kinerja para klien.
__ADS_1
Jika seseorang yang terbiasa menunda pekerjaan maka akan membuat tugasnya menumpuk dan memicu stres. Jadi salah satu ciri-ciri orang pemalas adalah kerap menunda pekerjaan. Pada dasarnya, banyak orang yang sering menunda pekerjaan dan berakhir kewalahan saat mendekati batas waktu pengumpulannya.
Di samping itu, menunda pekerjaan juga bisa memicu terjadinya stres. Itulah mengapa, kebiasaan menunda pekerjaan ini bukanlah hal yang positif, karena bisa membuat seseorang menjadi tidak produktif. Orang pemalas juga emar bangun kesiangan atau terlambat. Seperti yang terjadi pada beberapa orang dimana suka memasang alarm berturut-turut, tetapi hanya dimatikan dan kembali tidur.
Dampaknya adalah seseorang menjadi bangun terlambat dan telat datang ke sekolah atau ke kantor. Hal ini tentu bisa merusak reputasinya dan menjadi orang yang tidak disiplin. Di dunia yang serba canggih ini, memang berbagai kebutuhan bisa didapatkan dengan cara instan.
Namun, siapa sangka jika seseorang selalu menginginkan hal-hal berbau instan dan cepat bisa membuatnya menjadi pemalas. Sama seperti keinginan para klien dimana berharap melakukan tugas dari pekerjaan dengan kapasitas yang sama seperti sebelumnya tetapi meminta keuntungan bagi hasil di tambah serta mengharapkan tunjangan bonus setiap bulannya.
Yang ada malah kelewat batas alias ngelunjak karena meminta hak yang bukan untuk dimilikinya. Bagaimanapun perusahaan selalu memberikan hasil yang terbaik dan akan mengapresiasi orang-orang pilihan sesuai dengan perkembangan totalitas kerja masing-masing. Jika hanya mengandalkan selembar kertas kontrak kerjasama, maka kemungkinan berakhir buruk.
Tujuan orang menjalani karir agar bisa merencanakan masa depan sesuai dengan harapan, sedangkan beberapa orang sangat suka bermalas-malasan. Seseorang yang tidak memiliki tujuan hidup cenderung beraktivitas seenaknya sendiri dan rendah motivasi. Ya, begitulah para klien hari ini.
Maka dari itu, akan lebih baik ketika seseorang mencoba membuat target hidup jangka pendek terlebih dahulu agar lebih giat, produktif, dan mengurangi rasa malas. Terlebih lagi harus memahami agar tidak suka mengeluh dengan banyak hal, terutama saat menghadapi kesulitan. Mengalami kesulitan adalah hal wajar.
Namun, apabila seseorang mengeluh saat mengalami kesulitan, bisa berisiko akan keterlambatan pekerjaan dan tidak bisa mengatasinya. Itulah mengapa, dibandingkan mengeluh, sebaiknya segera cari solusi atas permasalahan tersebut.
"Tuan, Anda tidak bisa seenaknya begini, donk. Kami juga punya hak dari hasil kerjasama sebelumnya. Masa mau di usir begitu saja, lagipula kontrak lama masih berlaku dan ...,"
"Aku lupa mengatakan bagian penting dari maksud kontrak kerjasama yang baru. Begitu kalian menuliskan tuntutan keuntungan di luar logika, maka sejak saat itu kontrak lama tidak berlaku lagi. Tenang saja karena sisa dari upah kalian akan langsung ditransfer ke rekening masing-masing. Penjaga, bawa mereka semua keluar dari perusahaanku dan pastikan tidak satupun dari orang-orang ini kembali menginjakkan kaki di gedung milik keluarga Putra!"
Mendengar penjelasan Al yang ternyata merupakan jebakan membuat para klien tercengang. Mereka tidak menyangka akan menikmati senjata makan tuan. Sampai-sampai dipermalukan dengan pengusiran tanpa rasa hormat tapi sayangnya tindakan mereka memiliki hasil dengan bayaran kontan. Sehingga apa lagi yang bisa dilakukan?
Mungkin perlakuan kejam itu pantas untuk mereka. Sehingga hanya bisa pasrah sebelum mendapatkan rasa malu yang lebih. Semua orang serentak meninggalkan ruangan rapat, mereka meninggalkan Al dengan digiring penjaga seperti tahanan saja. Sementara tuan muda kedua keluarga Putra akhirnya bernapas lega setelah berhasil mengusir hama.
Entah kenapa orang masih sibuk memikirkan keuntungan dulu sebelum melakukan hasilnya. Meski tidak semua orang malas berakhir nestapa karena faktanya beberapa orang malas justru lebih sukses. Hal itu karena mereka mempunyai pandangan ke depan. Semua yang dilakukannya bukan membuang waktu, justru selalu on point.
Mungkin, pernyataan orang malas lebih sukses terlalu berlebihan. Banyak orang tua mengatakan bahwa, kalau tidak mau apa-apa masa depan akan suram. Tetapi, kenyataannya bukan seperti itu, justru sebaliknya. Sebagai contoh Sir Winston Curchil, menurut catatan hidupnya lelaki itu hanya suka duduk di kursi goyang saja. Untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang perkuliahan saja tidak mau, tetapi kenyataannya beliau adalah politisi sukses dan hebat pada masanya. Tokoh besar lainnya ada Piccaso, Einstein, Carl marks, serta beberapa orang lainnya.
Orang-orang inilah yang selalu menghindari sikap basa-basi. Hidupnya selalu inovatif karena terkadang berpikir bagaimana caranya membuat pekerjaan itu lebih mudah, sederhana, bahkan sangat cepat. Kalau yang lain mengerjakannya dengan tangan, mereka berpikir bagaimana menyelesaikan memakai mesin.
__ADS_1
Orang malas seperti ini tidak mau harus capek atau tangannya terkena debu, bahkan sampai lecet. Tidak heran bukan dari sikap tersebut ada beberapa penemuan baru dan membantu menyelesaikan pekerjaan. Orang malas lebih sukses pun akibat mereka mampu mengatur waktu dengan baik. Tidak suka lembur dan memilih untuk istirahat.
Sehingga tidak terlalu lelah, membuat pekerjaan justru sulit selesai, atau kurang maksimal. Bahkan dalam menyusun berbagai rencana besar, seseorang memang butuh tenaga serta pemikiran tinggi. Kondisi lelah membuat pemikiran tersebut sulit mencapai maksimal.
Harusnya bisa mewah dan fantastis, akhirnya hanya tanggung. Perlu diketahui bahwa, menurut para peneliti, orang yang produktif di malam hari dan mencoba intensif olahraga justru, merusak kesehatan. Terutama, jika seseorang sudah berusia 40 tahun kesehatannya justru memburuk.
Orang malas lebih sukses juga tahu waktu yang tepat kapan harus melakukan pekerjaan sepanjang waktu, atau santai bersama dengan keluarga. Bagi mereka inspirasi itu bisa datang dari mana saja. Bahkan, saat memutuskan untuk pergi berlibur dengan keluarga dibandingkan bekerja.
Justru ide terbesar akan muncul begitu saja. Selain itu, tingkat kekhawatirannya juga sangat rendah, sehingga mereka mampu menghadapinya dengan ketenangan. Orang malas biasanya lebih pintar dan punya tujuan yang jelas. Mereka akan fokus dulu mencapai satu tujuan sebelum meraih lainnya.
Jadi, bukan dipaksakan harus berjalan berdampingan, melainkan satu dulu. Selain itu, mereka juga pandai dalam memberikan porsi tenaganya. Perlu diketahui, bahwa ada beberapa tipe karyawan, seperti pintar tetapi sangat bodoh, atau juga sebaliknya.
Seorang karyawan yang bodoh pasti akan bekerja 100%, bahkan mereka rela untuk lembur dan demi mencari muka kepada atasan. Kalau orang malas, hanya mengerjakan pekerjaannya saja, tidak mau disuruh untuk bekerja lebih. Karena seberapa tenaga yang dikeluarkan pada akhirnya akan kembali untuk para pemilik perusahaan.
Kalau diperhitungkan, maka akan kehilangan segalanya, selain itu ketika tidak diperlukan kantor akan mencari gantinya. Berbeda lagi dengan pemalas, di mana pekerjaannya on point. Mereka tidak mau berlebihan, justru seadanya saja tetapi, tidak pernah mengecewakan atasan.
Penilaian itu lebih baik dibandingkan mendapat sanjungan tetapi, kehilangan segalanya. Orang malas lebih sukses justru menyukai berwirausaha karena, pemikirannya memang besar. Gagasan untuk menjalankan sesuatu terkadang sering muncul seketika. Hal itu biasanya akan disimpan kemudian dirangkai pada saat yang tepat.
Orang pemalas lebih sering melamun, bukan tanpa tujuan. Mereka memikirkan bagaimana tahapannya, dan dilakukan dengan hati-hati. Bahkan, mampu memanfaatkan apa saja karena, tidak mau susah payah. Terkadang, bangun siang bukan karena ingin saja, melainkan masih memikirkan sesuatu, jadi saat melakukan eksekusi sudah punya berbagai plan.
Dengan berbagai alasan tersebut, membuat orang malas lebih sukses dibandingkan seseorang yang giat ini dan itu nyata adanya. Poin utamanya adalah fokus pada satu tujuan, dan punya berbagai rencana besar sehingga, saat terjadi kegagalan langsung ter-cover dengan baik.
Setelah kepergian semua orang, Al memilih melanjutkan pekerjaannya. Pria itu tidak lagi ambil pusing hanya karena kehilangan orang-orang yang tidak berguna. Kerugian pasti ada tapi lebih baik daripada menjadi sumber dana untuk kehidupan serakah yang tidak tahu terima kasih. Sementara di belahan bumi lain kesibukan seorang wanita baru dimulai yang membuatnya lupa waktu.
"Bismillah, semoga bisa selesai tepat waktu," gumamnya lalu memulai pekerjaan yang akan membuat hidupnya lebih bersemangat.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa mampir ya, ke karya temen othoor☺