Karena Cinta

Karena Cinta
Part 74#AMARAH DAN PENYESALAN


__ADS_3

Amarah memuncak tetapi hati yakin pada Allah SWT tidaklah tidur. Sebagai seorang ibu, maka tugasnya mendoakan yang terbaik untuk kehidupan sang anak. Meski sadar bahwa putranya terbelenggu hubungan palsu atas nama cinta.



"Al, selidiki wanita itu! Kakak tidak ingin Bryant selamanya hidup dengan perempuan yang berani memperbudak anakku," tatapan mata terasa panas menahan emosi hati. Untuk kesekian kali, ia harus mengalah, tapi tidak lagi setelah malam ini.



Al yang bisa merasakan aura kemarahan bercampur kesedihan dari dalam diri kakak iparnya, ia hanya mengalihkan perhatian dengan mengkode sang kakak agar bisa menenangkan pendamping hidup yang telah melalui suka duka bersama. Sementara ia sendiri harus menahan diri tetap tenang.


__ADS_1


Bagaimana rasanya ketika ada orang yang bersikap kurang ajar terhadap keluarga sendiri? Pastinya tidak terima. Meski sikap tanpa adab tertuju pada orang asing, ia juga merasa kesal. Kenapa orang hidup di dunia tetapi justru tidak memiliki aturan dan itu sungguh disayangkan.



"Om," tanpa permisi diraihnya tangan sang paman seraya memberikan usapan. Ia tahu, prianya tengah marah hanya saja di depan keluarga sendiri selalu bersikap tenang baik dalamnya lautan. "Duduklah! Om masih belum makan apapun, jangan buat malam ini semakin tegang. Ayo, duduk!"



Sentuhan lembut setulus hati ia kerahkan tuk membimbing raga kekar yang enggan menurut hingga kekerasan hati menguasai bersambut penerimaan meski melalui paksaan. Sesi makan malam kembali dilanjutkan dan itu berselimut ketidaknyamanan, sedangkan di sisi lain hanya ada penyesalan nan dalam dari lubuk hati.


__ADS_1



Namun, apa yang dibayangkannya justru tak pernah menjadi kenyataan. Sementara rasa takut menjadi akhir pertemuan menghadirkan kekecewaan nan mendalam. Antara tanggung jawab sebagai putra dan suami, ia mengedepankan kewajiban seorang pendamping hidup dan mengesampingkan kata hatinya sendiri.


"Maafin, aku. Andai putra kalian memiliki keberanian untuk menyudahi ketidakadilan, mungkin tidak ada yang berani menyudutkan posisi orang tua dari kehidupan anak mereka. Ma, pa, kalian menderita karena hubungan ku dan Hazel. Anak macam apa aku, ini?"


Penyesalan memang datang terlambat, tapi baginya satu persen harapan sudah cukup untuk memutuskan jalan yang pasti di tempuhnya. Akan tetapi sayang, ia hanya mendapatkan rasa kecewa lagi dan lagi. Sekarang entah harus bagaimana karena kehidupan tidak mungkin diam di tempat selamanya.


"Aku harus lakukan sesuatu," tangan terus saja memukul stir yang ia kendalikan dengan sedikit emosi hati. Pikiran mencoba mencari jalan keluar dari masalah yang sedang dihadapinya.


Bagaimanapun juga, esok pasti akan ada panggilan dari sang paman tercinta. Ia tahu benar bahwa pria satu itu sudah menyiapkan pilihan yang tidak bisa dirinya pilih. Sebelum pemikirannya benar-benar terjadi, maka harus menemukan solusi yang bisa mengubah keadaan di antara persimpangan.

__ADS_1



Suara helaan napas panjang kembali terdengar mengusir kesunyian dalam kesendirian, "Semoga kali ini Hazel setuju dengan keinginanku. Semua jalan sudah tertutup kecuali jalan terakhir yang bisa menyatukan semua anggota keluarga. Apa dia bisa melakukan pengorbanan di saat karirnya berada di atas awan?"


__ADS_2