
Ejekan yang dilakukan Vir diterima Bryant dengan senang hati. Pemuda itu bahkan masih belum mau sadar atas kesalahannya. Sikap semakin berani menunjuk ke arah pria muda dewasa yang memang jauh lebih tampan dari dirinya. Ibarat kata, sebagai seorang pria tampan masih jauh dari kata kharisma.
"Tuan Bryant, apa kamu siap bersaksi?" Al bertanya tanpa menoleh ke belakang karena indra penciumannya sudah mengabarkan adanya makhluk tak kasat mata.
Sadar bahwa keponakannya itu datang bersama siluman cicak yang pasti memiliki niat di balik tindakan kali ini. Meski menyadari ada yang tak beres, tetap saja ia bersikap tenang tanpa menunjukkan kecurigaan. Selain itu dirinya juga bisa mengambil kesempatan di dalam kesempitan.
"Tentu saja, Tuan Alkan Putra. Kedatanganku kemari hanya untuk memberikan kesaksian agar mata dunia yang buta bisa segera melihat kebenaran dan berhenti menuduh serta merendahkan martabat seorang wanita. Silahkan dimulai!" tegas Bryant mempersilahkan sang paman untuk melanjutkan sesi hukum.
Sesuai dengan permintaan awal yang mana akan diadakan sesi pertemuan seluruh pihak terkait untuk mendamaikan kesalahpahaman pertama. Apa yang akan terjadi selama proses tentu dipengaruhi dari kedua belah pihak dan jika tidak mencapai titik mufakat, maka proses akan langsung masuk ke pengadilan tanpa menunda jam.
Bryant menerima sumpah sebagaimana yang biasa dilakukan saat sidang pengadilan. Pria itu dengan santai, pasti tetapi tenang menjelaskan latar belakang keluarga yang mana juga merupakan keluarga Bunga. Selain itu, ia juga menyertakan bukti konkrit seperti salinan akta kelahiran serta kartu keluarga.
Tampak raut wajah Vir memucat, tatapan mata sendu, bibir berkedut, alis terangkat. Raga pemuda itu bergetar hebat menahan rasa yang tidak bisa dikatakan melewati kata-kata. Ia tak menyangka bahwa selama sebulan lebih membenci orang tanpa alasan yang pasti.
Malu. Ya, entah wajahnya harus ditaruh dimana setelah saksi dan bukti berkata tentang kebenaran hingga membukakan mata hati yang buta selama ini. Ia sungguh merasa seperti orang paling bodoh karena telah menilai seseorang tanpa mencari tahu fakta di balik satu peristiwa. Apakah kini ia masih bisa diselamatkan?
"Anak muda, jalan hidupmu masih panjang tapi tuduhan yang kamu sandingkan pada sepupu suamiku tidak bisa dibenarkan. Sebagai istri, aku tidak rela ada yang mencemarkan nama baik mas Bryant dan juga keluarga besar. Semoga hukuman tetap diberikan agar sebagai generasi muda memiliki kesadaran diri untuk menjaga tindakan." sahut Hazel membantu Bryant, padahal suaminya tidak membutuhkan bantuan apapun.
__ADS_1
Nyonya Panwar tak habisnya menghela napas berat karena kliennya sungguh sudah kelewat batas. Apalagi mencari masalah dengan lawan tak sebanding. Jika pengacara pihak lain mau, tentu proses mediasi tidak diperlukan dan bisa dipastikan akan langsung masuk ke dalam balik jeruji besi.
Harus ia akui untuk bersyukur karena mendapatkan belas kasih dari seorang pengacara handal hanya saja di balik keuntungan pasti akan terdapat kerugian. Pertanyaannya adalah siapa yang harus menerima hukuman dan dalam bentuk apa? Inilah tugasnya saat ini dengan mencari tahu keinginan pihak lawan.
"Tuan Al, saya minta maaf atas nama klien. Jika tidak keberatan, bisakah Anda katakan secara langsung syarat agar masalah hukum cukup sampai disini saja. Maaf harus menyela pembicaraan yang lebih berpengalaman," nyonya Panwar menundukkan pandangan menyadari posisinya harus memberikan penghargaan kepada lawan.
Al tersenyum sinis tetapi tak berniat memberikan banyak tekanan pada pengacara yang ia kenal sebagai wanita jujur. Sebagai sesama pengacara, maka tentu memiliki hubungan dari lembaga firma hukum setempat meski mereka bekerja bukan untuk pemerintah. Tetap saja saling memiliki informasi akurat satu sama lainnya.
"Mudah saja, pertama minta pada tuan muda mu untuk mengklarifikasi semua postingan yang diunggahnya dan itu untuk merbersihkan nama Bunga dari tuduhan keji. Kedua minta maaf secara langsung di depan seluruh penghuni kampus karena satu tindakannya sudah membuat hati beberapa mahasiswa tercemar yang mengakibatkan klienku diganggu saat menimba ilmu.
"Hukuman masih ringan karena Bunga tidak ingin menciptakan dendam antar keluarga, tapi jika keberatan. Bersiaplah menginap di balik jeruji besi selama beberapa tahun ke depan. Putuskan jalan mana yang ingin dilalui!" Al menyudahi jawabannya.
Pria itu ingin sekali langsung melemparkan Vir ke dalam penjara agar bisa mendapatkan pelajaran hidup yang lebih keras. Akan tetapi melihat bagaimana hasil akhir bisa menjadi permusuhan keluarga yang mungkin menyebabkan kerugian lebih banyak lagi, maka ia mencoba jalur lain dengan memberikan kesempatan terakhir pada di pemuda.
Ia bisa merasakan penyesalan di dalam diri Vir meski tidak memperhatikan dengan seksama ekspresi si pemuda itu. Perubahan atmosfer di sekitarnya sudah cukup mengatakan situasi yang mencekam dengan ketegangan tanpa sandaran. Kali ini masih dibiarkan tetapi jika sampai ada kesalahan lagi, maka ia siap menyudahi sesi negosiasi.
__ADS_1
Dengan tubuh lemah serta emosi yang terkoyak. Vir beranjak dari tempat duduknya, pemuda itu terlihat begitu kuyu bak mayat hidup tak bertenaga. Lalu tiba-tiba membungkukkan setengah badan di depan Bryant. Dimana sepupu dari gadis mata hazelnut menatap heran kearahnya.
"Tuan, saya minta maaf karena sudah salah. Semua syarat akan kulakukan hari ini juga," ia kembali menegakkan tubuhnya, kemudian beralih memandang sang pengacara. "Bi, maaf sudah menyusahkanmu. Semua ini hanya karena ego dan rasa kecewa ku. Jadi Vir akan menebus dengan memenuhi permintaan Tuan Al."
Rasanya lega mendengar pernyataan Vir yang mau menyadari kesalahannya sendiri. Apalagi siap bertanggung jawab atas tindakan yang sudah diperbuat hanya saja bagaimana dengan pihak awak media? Jujur saja hati cemas akan nasib tuan muda karena karir dipertaruhkan ketika memenuhi semua syarat dari pihak lawan.
"Tuan Al, sekali lagi saya minta maaf. Apakah mungkin mengubah syarat pertama? Saya bukannya tidak bersimpati atas masalah yang menimpa saudari Bunga, tapi jika klienku mempublikasikan klarifikasi dan mengakui telah melakukan pencemaran nama baik. Dikhawatirkan karirnya sebagai model bisa langsung kandas.
"Sebagai gantinya, saya akan mengusahakan menambah tiga kali lipat uang kompensasinya. Bagaimana?" ucap nyonya Panwar yang terlalu mengikuti hati hingga lupa bahwa tugas seorang pengacara menegakkan keadilan dan bukan belas kasihan.
Seorang pengacara dipercaya memiliki kuasa untuk menunjukkan mana benar dan mana salah. Akan tetapi ketika sudah dipengaruhi oleh masalah hati, maka pekerjaan tidak lagi murni. Sebab justru menjadi alat untuk kepuasan diri sendiri sehingga keadilan tidak lagi berlaku dalam tindakannya.
"Bi, aku ... " Vir terkesiap akan pernyataan pengacaranya yang berusaha untuk menjaga karirnya. Ia tak tahu harus berkata apalagi agar masalah yang dirinya buat bisa diakhiri tanpa menambah liku kesalahpahaman.
Al beranjak dari tempat duduknya, lalu membenarkan jas yang melekat sempurna menutupi raga kekar di balik untaian benang hitam. Tidak ada raut keterkejutan selain wajah datar tanpa senyuman. Sudah berusaha menjaga hati serta pikiran tetapi yang diharapkan justru berakhir keserakahan.
__ADS_1
"Terserah kalian mau memilih jalur apa. Syarat tidak bisa diubah, putuskan sendiri. Mau mendekam di penjara atau memenuhi semua syarat dariku. Permisi," langkah kaki berjalan menjauh dari semua orang yang juga disusul Bryant serta Hazel.