
Perintah sang tuan segera dijalankan Zack dimana pria itu keluar meninggalkan ruang pertemuan yang merupakan tempat penyiksaan. Selamat harus diberikan pada Vir karena satu pertanyaan karena keberanian pemuda itu sejenak menghentikan hukuman meski masih menikmati dinginya rendaman air es yang menyusup membekukan kedua kaki.
Siapa yang bisa mengetahui masa depan? Tentu tidak seorangpun, sama seperti Vir, ia tidak menyangka di masa mudanya harus menghadapi bahaya hanya karena keteledoran dan tindakan rak bertanggungjawab yang sudah membangkitkan amarah seorang pria berkuasa.
Baru saja penyiksaan dimulai tetapi seluruh tubuh bagian kaki sudah mulai mati rasa. Belum lagi harus bertahan agar tetap bernapas di suhu dingin yang memenuhi rongga dada. Salju saja masih lebih baik dibandingkan dengan keadaannya saat ini.
Namun apa mau dikata, selain menunggu dan mencoba tetap memiliki kesadarannya sendiri. Setelah beberapa saat tidak ada kegiatan apapun selain mengamati wajah pria tampan tanpa ekspresi di luar sana, tiba-tiba perhatian teralihkan ke arah suara ketika pintu terbuka bersambut raga yang terhempas begitu saja.
Ghea? Benar, itu memang Ghea. Ada apa dengan gadis itu dan kemana rambutnya yang panjang?~gumam hati Vir tak percaya dengan pemandangan di depan mata.
Di depan sana seorang gadis tanpa rambut tersungkur akibat di dorong masuk oleh Zack yang tidak berperasaan. Benar-benar pria berdarah dingin, lalu bagaimana dengan tuan yang dijadikan bos mansion? Bergidik ngeri tak ingin lebih membayangkannya lagi.
Seorang wanita bisa dikatakan mempesona melalui helaian rambut panjangnya. Bahkan menjadi keutamaan untuk kaum hawa dengan tetap membiarkan rambutnya terurai panjang. Terutama wanita yang merawat dirinya dan bersolek untuk suaminya dihitung sebagai ibadah.
Tentu saja, menyisir rambut bagi wanita dalam rangka bersolek untuk suami juga dinilai ibadah. Wanita diharapkan bisa merawat dirinya termasuk urusan rambut agar rambut menjadi perhiasan dan mempercantik dirinya.
__ADS_1
Dalam hadis disebutkan, "Siapa yang mempunyai rambut (indah), maka muliakanlah (peliharalah)." (HR Abu Dawud). Intinya, rambut pendek bagi wanita tidaklah masalah. Yang paling penting kemuliaan yang diberikan Allah kepadanya berupa rambut hanya diperuntukkan bagi mahram dan suaminya.
"Bos, apa rambutnya bisa tumbuh lagi?" Zack yang baru tahu mengenai hukuman untuk Ghea sedikit kasihan pada gadis muda itu, ia merasa perlu mendengarkan kepastian agar asumsinya tidak salah paham.
Seulas senyum samar menghiasi wajah Al, "Bisa, tapi jika diberikan penawar racunnya. Hey, anak muda, tanyalah pada calon istrimu yang bermulut bisa. Selesaikan perhitungan dan putuskan hukuman untuk kalian berdua atau?"
Menghentikan pernyataan agar kedua jiwa muda itu bisa menentukan pilihan tanpa perlu diberikan banyak tekanan. Semua akan seperti harapan yang bisa menentukan nasib satu sama lain dan tentunya menyelesaikan masalah hingga ke akarnya. Akan tetapi kekejaman berselimut kelembutan menjadi hukuman berduri.
Ketegangan masih bisa dirasakan, tetapi raga semakin tak kuat bertahan meski kesadaran utuh. Sekuat tenaga mengumpulkan sisa energi tuk berdiri dari tempatnya terjatuh tanpa sandaran, "C!h, apa kalian pria sejati tapi bisanya cuma main tangan pada wanita saja."
"Apa salahku sampai diperlakukan sehina ini? Apa kalian tidak tau, jika aku cucu dari pengusaha terkenal yang ... " Ghea begitu bersemangat menyombongkan diri tanpa memikirkan jika di dunia yang luas masih banyak pebisnis serta keluarga sukses melebihi keluarganya.
Tak ingin mendengarkan bualan yang berbumbu omong kosong, Zack menyambar setangkai bunga palsu dari vas bunga. Lalu, ia lemparkan begitu saja hingga mengenai belakang kepala Ghea, "Bocil, gak usah bawa marga keluargamu. Disini, tempatmu cuma tahanan dan bukan tuan putri. Salah siapa cari perkara dengan keluarga Bos Altra. Sekarang rasakan akibatnya."
"Ekhem! Vir, mau tanya sekarang atau hukumannya kulanjutkan langsung?" Al memainkan remote di tangan bersiap kembali menekan tombol putih agar air kembali mengisi tabung kaca yang mengurung si pemuda.
__ADS_1
Ketegangan yang juga menjadi pemandangan langka itu tak hanya dinikmati oleh keempat insan di dalam ruangan saja. Sebab anak-anak yang lain ikut menyaksikan tayangan secara live melewati layar televisi. Ya, semua yang terlibat dikumpulkan dan tinggal di sebuah ruangan khusus tetapi sudah dilengkapi dengan peralatan virtual.
Kesibukan Al yang mencari kedamaian untuk meluruskan dan mengakhiri masalah milik Bunga justru berbanding terbalik dengan keadaan si gadis mata hazelnut. Dimana gadis itu hanya diam tanpa kata meski menerima begitu banyak pertanyaan tanpa jeda dari kedua orang tuanya.
Sudah hampir setengah jam sejak orang tua dan anak duduk bersama tapi selama itu juga hanya ada obrolan dari satu pihak saja. Papa Bima dan mama Milea sudah kehilangan kata-kata dan tidak tahu lagi harus berbuat apa. Keduannya benar-benar bingung dengan kondisi Bunga saat ini karena begitu pendiam.
"Nak, apapun yang mengganggu hati dan pikiranmu tidak bisakah mengatakan pada kami sebagai teman seperti biasanya. Papa dan mama cuma mau putri kami tidak memendam masalahnya sendiri, setidaknya biarkan beban di pundakmu kami pahami. Bunga dengar omongan mama kan?"
Berusaha membujuk untuk kesekian kalinya agar bisa mendapatkan kesempatan memahami dilema hati sang putri meski tahu benar bahwa yang dibutuhkan Bunga hanya perlu menenangkan diri. Masalah yang sedang dihadapi pasti mengguncang perasaan gadisnya karena ia bisa merasakan kesedihan dan kekecewaan dari sorot mata hazelnut milik buah hatinya.
Namun, ketenangan tidak bisa didapatkan begitu saja. Terkadang setelah bercerita akan menimbulkan emosi hari yang lega dan niatnya hanya ingin sang putri bisa kembali terbuka kepada mereka sebagai satu keluarga. Masalah kali ini cukup menyadarkan bahwa penting untuk menghabiskan waktu bersama.
"Bunga!" panggil papa Bima semakin lirih, hati seorang ayah tak tahan melihat diamnya sang buah hati. Ia merasa seperti tidak berguna tapi harus bagaimana agar putrinya mau bicara pada mereka berdua sebagai orang tua.
Menghela napas pelan, lalu melepaskan kedua tangan dari tangan Bunga. "Begini saja, kita bisa liburan bareng buat ngilangin semua ketegangan. Oh, ya, kemarin ka Bella bilang panti sosial sudah hampir siap untuk dibuka. Kenapa tidak menyibukkan diri mengurus pekerjaan sosial seperti kesukaan Bunga, bagaimana?"
__ADS_1
"Papa atur saja, tapi sekarang biarkan aku sendiri dulu. Jangan khawatir karena Bunga cuma pengen menenangkan pikiran dan menerima kenyataan yang ada. Please, papa sama mama keluar kamar dulu. Kita bisa obrolin masalah yang harus diurus setelah malam tiba," pinta Bunga meminta setulus hatinya tanpa ingin menyinggung hati kedua orang tuanya.
Tentu saja, papa Bima dan mama Milea menyetujui dan membiarkan putrinya melakukan perenungan diri. Meski khawatir, setidaknya Bunga tetap di dalam pantauan mereka berdua. Jadi sudah cukup membujuknya karena harus keluar kamar tanpa banyak tanya.