LEGENDA DEWA PEDANG

LEGENDA DEWA PEDANG
V1 # CH 107 ACARA MINUM TEH


__ADS_3

Heilong seperti di sambar petir di siang bolong. Dia sangat terkejut saat mendengar pertanyaan Kaisar Feng Cheng, sementara Feng Tzuyu yang berdiri di samping Long Bai hanya bisa diam tersipu malu sambil menundukkan kepala untuk menyembunyikan wajahnya.


"Ijinkan aku bertanya sesuatu pada putri anda terlebih dahulu, sebelum aku menjawab pertanyaan anda," ucap Heilong.


"Baiklah. Aku memberimu waktu sebanyak yang kau mau untuk bertanya pada Putriku," jawab Kaisar Feng Cheng santai.


Heilong berbalik menghadap ke arah Feng Tzuyu, dia lalu memandang kedua matanya dengan tatapan yang penuh arti dan secara perlahan mengulurkan kedua tangannya untuk menggenggam kedua tangan Feng Tzuyu yang lembut.


Feng Tzuyu yang berdiri di depan Heilong menjadi gugup dan jantungnya tiba-tiba berdetak cepat. Wajahnya semakin memerah karena malu mendapat perlakuan yang lembut dari Heilong di depan banyak orang.


"Tzuyu, apakah kamu bersedia menikah denganku?" tanya Heilong lembut.


Feng Tzuyu membeku mendengar pertanyaan Heilong karena dia tidak pernah menyangka bahwa Heilong akan melamarnya di depan umum. Di mana ayahnya berserta para prajurit dan perdana menteri Yang Zhu akan menyaksikan semua ini dengan jelas.


"A-Aku bersedia," jawab Feng Tzuyu malu-malu sambil menganggukkan kepalanya. Senyuman yang sangat indah muncul dan menghiasi wajahnya yang cantik.


"Haha …" Kaisar Feng Cheng tiba-tiba tertawa mengangetkan mereka. Lalu dia menatap Heilong dan kembali bertanya. "Apa sekarang kamu sudah bisa memberikan jawaban?"


"Aku akan segera meminta ayahku mengajukan lamaran ke Kerajaan Red Phoenix setelah aku kembali ke Benua Timur," jawab Heilong tegas karena dia ingin memberi kesan pria sejati yang tegas di depan calon ayah mertuanya.


Senyuman Feng Tzuyu menjadi semakin indah ketika mendengar jawaban Heilong yang akan segera melamarnya. Dia tersenyum lepas karena hatinya sedang berbunga-bunga, senyumannya begitu menyejukkan hati seperti keindahan bunga yang mekar di musim semi.


Feng Tzuyu terlihat semakin cantik dengan senyuman yang menghiasi wajahnya. Hembusan angin lembut yang membuat rambutnya yang panjang dan indah terbang terurai membuat Heilong semakin terpesona.


"Bagus sekali. Aku akan menunggu saat itu," jawab Kaisar Feng Cheng.


Feng Tzuyu segera melepaskan tangannya dari genggaman Heilong dan berjalan menghampiri ayahnya.


Dia menarik tangan kanan ayahnya seperti seorang anak kecil sambil berkata. "Ayah, sudah lama kita tidak minum teh bersama. Sekarang adalah hari yang sangat baik. Bagaimana pendapat ayah kalo kita minum teh di Pavilliun Akasia?"

__ADS_1


"Baiklah, mari kita pergi ke Pavilliun Akasia. Long Bai kamu juga ikut kami minum teh karena ada beberapa hal yang ingin aku tanyakan padamu. Dan perdana mentri Yang Zhu, kamu bawalah para prajuritmu untuk istirahat di Rumah Kurma yang ada di sebelah Pavilliun Akasia," ucap Kaisar Feng Cheng.


Letak Pavilliun Akasia berada di belakang piramida api merah. Mereka semua langsung berjalan perlahan menuju ke belakang piramida.


Setelah sampai di belakang piramida mereka langsung terbagi menjadi dua kelompok.


Kaisar Feng Cheng, Putri Feng Tzuyu dan Heilong pergi ke arah kiri menuju ke pavilliun Akasia.


Sedang rombongan Perdana Mentri Yang Zhu pergi ke arah sebelah kanan menuju rumah kurma.


Seperti namanya di Pavilliun Akasia banyak di tumbuhi pohon Akasia di sekitar tempat itu, sedangkan di rumah kurma terdapat banyak sekali pohon kurma yang tumbuh di sana.


Sebagian besar wilayah Benua Selatan ini memang di dominasi oleh padang pasir jadi semua tanaman yang tumbuh di sini adalah tanaman yang mampu bertahan hidup di daerah gurun.


Heilong akhirnya sampai di Pavilliun Akasia, bentuk Pavilliun Akasia ini tidak sebesar Pavilliun Saung Bambu karena fungsi dari Pavilliun Akasia ini hanya untuk bersantai. Pavilliun ini lebih mirip dengan sebuah gazebo.


Mereka bertiga duduk di atas kursi yang sudah tertata rapi pada sebuah meja di tengah-tengah pavilliun. Mereka duduk dengan santai sambil menikmati hembusan angin yang sejuk dan suara aliran sungai yang menenangkan pikiran.


Meskipun Heilong saat ini sedang berada di tengah gurun tapi saat berada di Pavilliun Akasia ini, dia seperti sedang berada di pengunungan.


Selama di dalam pavilliun, Heilong sama sekali tidak merasakan panasnya cuaca sebuah gurun. Dia melamun dan akhirnya teringat ketika dia sedang berada di Bumi, dia pernah menjelajahi Gurun Sahara dan di sana cuacanya sangat terik dan panas.


Feng Tzuyu berdiri dan meracik teh yang sudah ada di meja lalu dia memberikan gelas pertama pada ayahnya dan gelas ke dua pada Heilong.


"Bai gege, tehmu sudah jadi. Ayo segera di minum," ucap Feng Tzuyu lembut.


Suara Feng Tzuyu mengejutkan lamunan Heilong, dia segera tersadar dari lamunannya dan bicara tergagap sambil tersenyum. "Oh … I-iya, aku akan segera meminumnya."


Kaisar Feng Cheng hanya tersenyum melihat Long Bai yang salah tingkah. Dia mulai mencicipi teh yang di buat oleh putrinya.

__ADS_1


"Tzuyu, sudah lama ayah tidak meminum teh buatanmu dan sekarang teh buatanmu rasanya berbeda," ucap Kaisar Feng Cheng yang masih memegang secangkir teh di depan mulutnya.


"Berbeda?! Bagaimana bisa rasa teh ini menjadi berbeda. Aku membuat teh ini seperti biasanya. Ayah mungkin sedang sariawan," jawab Feng Tzuyu sedikit bingung.


Heilong lalu mencicipi tehnya dan hanya tersenyum kecut setelah mencicipi teh itu. Feng Tzuyu yang melihat ekspresi Heilong jadi bertanya. "Bai gege, bagaimana rasa teh buatanku? "


"I-ini enak … Enak kok. Teh buatanmu ini sangat enak," jawab Heilong tergagap. Dia sebenarnya merasa bingung mau bicara apa.


Feng Tzuyu yang merasa aneh akhirnya mencoba mencicipi sendiri teh buatannya dan langsung mengernyitkan wajahnya setelah meminum tehnya.


"Astaga! Aku rupanya salah memasukkan garam ke dalam teh ini," ucap Feng Tzuyu kaget dan dia jadi salah tingkah.


"Haha … Ayah tahu bahwa kamu sudah ingin cepat-cepat menikah tapi tidak sampai harus membuat secangkir teh rasanya menjadi asin."


Kaisar Feng Cheng tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi putrinya setelah mencicipi teh buatannya sendiri.


Feng Tzuyu yang malu lalu menoleh kearah Heilong. "Bai gege, kamu telah menipuku.Teh buatanku ini rasanya benar-benar tidak enak. Ayah sini tehnya aku akan membuatkan yang baru."


Feng Tzuyu segera mengambil teh ayahnya dan juga Heilong untuk dibuatkan yang baru.


**


Sekte Snow Moon.


Waktu tiga puluh menit telah berlalu dan pertandingan pertama di babak ketiga ini akan segera dimulai.


Guru Zhi Hui segera naik ke atas panggung kerena dia akan menjadi wasit di babak ke tiga ini. Dia lalu berteriak dengan suara lantang. "Pertandingan pertama akan segera di mulai. Xue Xiang dan Luo Yi silahkan kalian maju keatas panggung."


Suara riuh tepuk tangan para penonton langsung memenuhi tempat ini ketika nama peserta pertandingan babak pertama di panggil.

__ADS_1


__ADS_2