LEGENDA DEWA PEDANG

LEGENDA DEWA PEDANG
V2 # CH 152 GAME THE POWER OF JAVA ( PART 6 )


__ADS_3

Setelah ujung cambuk tali kolor pusaka terikat sempurna pada gagang pedang taring putih. Heilong segera memutar-mutarkan cambuk itu di atas kepalanya dengan kuat sambil mengalirkan energi angin dan es miliknya. Dia lalu menyabetkan cambuk itu beberapa kali dengan menggunakan gerakan jurus pedang membelah bumi.


“ Boom... ”


“ Boomm.... Booommm.... ”


Bayangan-bayangan pedang raksasa langsung menghujani formasi labirin tanpa ampun sehingga membuat formasi itu mengalami kerusakan yang cukup besar di beberapa titik. Para prajurit yang membuat formasi labirin menjadi sedikit kebingungan karena butuh waktu yang cukup lama bagi mereka untuk dapat menutup celah sebanyak itu.


Heilong tidak pernah menyangka jika dorongan kekuatan dari cambuk tali kolor pusaka akan membuat kekuatan jurus pedang membelah bumi yang dikeluarkannya kali ini memiliki kekuatan yang jauh lebih kuat dari sebelumnya dan jangkauannya pun juga menjadi semakin luas. Jurus pedang membelah bumi ini mampu menembus sampai tujuh dari sepuluh lapisan dari formasi labirin.


Dari atas panggung, Mahapatih Gajah Mada mengamati setiap gerakan Heilong yang mencoba untuk merusak formasi labirin. Heilong terus berjuang agar dia bisa membuka celah dan masuk ke tengah-tengah formasi labirin, dia sangat ingin segera naik ke atas panggung tempat Mahapatih Gajah Mada berada dan memulai petarungan yang sengit dengannya.


“ Pemuda ini ternyata memiliki kemampuan yang sangat hebat. Tidak kusangka dia bisa memikirkan cara seperti itu untuk memperkuat kekuatan dari jurus pedangnya. Dia bahkan tidak merasa gentar atau takut sedikitpun melawan prajuritku yang jumlahnya mencapai ribuan meskipun dia hanya maju seorang diri. Sungguh pemuda yang sangat menarik, ” ucap Mahapatih Gajah Mada memuji keberanian dan kemampuan cara berpikir Heilong dalam menghadapi sebuah masalah.

__ADS_1


Melihat para prajuritnya yang sedang kebingungan untuk mencari cara bagaimana menutup celah yang sangat banyak pada formasi labirin ini akibat dari cambukan pedang Heilong. Mahapatih Gajah Mada akhirnya memukul sebuah genderang yang ada di depannya beberapa kali untuk memberi perintah pada prajuritnya agar menutup celah yang ada di formasi itu secara bertahap. Para prajurit itupun segera bergerak sesuai dengan perintah yang diberikan oleh sang Mahapatih, mereka semua mulai bergerak untuk menutup semua celah yang ada di formasi labirin ini secara bertahap. Dimulai dari lapisan formasi yang paling dekat dari panggung lebih dulu lalu baru memperbaiki lapisan luar.


Melihat para prajurit itu sedang berusaha untuk memperbaiki formasinya, Heilong tidak tinggal diam. Dia segera memutar-mutarkan cambuknya lebih kuat dari sebelumnya di atas kepalanya. Segera suhu udara turun dengan sangat ekstrim sampai muncul salju, langit pun berubah menjadi gelap karena tertutup oleh mendung seperti akan terjadi sebuah badai salju. Lalu sebuah angin tornado yang sangat besar mulai terbentuk akibat dari gerakan putaran cambuk pusaka yang kuat di gabungkan dengan suhu pedang taring putih yang dingin. Angin tornado ini di selimuti oleh banyak sekali sepihan-serpihan es yang sangat tajam di sekitarnya.


Heilong mulai bergerak maju ke depan secara perlahan untuk menerobos ke dalam formasi labirin dengan tubuh yang di selimuti oleh angin tornado yang dingin. Serpihan-serpihan es yang ada di sekitar angin tornado melukai banyak sekali prajurit bhayangkara yang berusaha mempertahankan formasinya saat tubuh Heilong berjalan mendekati mereka karena serpihan-serpihan es ini memiliki ketajaman dan kekuatan yang lebih tajam dari pisau. Serpihan-serpihan es ini akan langsung mencabik-cabik tubuh mereka saat angin tornado mendekati tubuh mereka.


Melihat banyak sekali korban yang berjatuhan pada pasukannya Mahapatih Gajah Mada akhirnya secara bijaksana memberi perintah untuk mundur dan membuka jalan bagi Heilong untuk lewat. Namun alasan yang sebenarnya adalah Mahapatih Gajah Mada ingin segera bertarung dengan Heilong setelah melihat kehebatan serta keberaniannya saat dia menerobos masuk ke dalam formasi labirin.


Heilong merasa kagum dengan semangat dan keberanian para prajurit Bhayangkara yang dipimpin oleh Mahapatih Gajah Mada. Mereka tidak pernah merasa takut atau mundur saat serpihan-serpihan es milik Heilong menghujani tubuh mereka. Mereka baru bergerak mundur saat Mahapatih Gajah Mada memberi perintah untuk memberi jalan pada Heilong. Dia masa depan Heilong berkeinginan untuk dapat membuat pasukan yang memeliki semangat dan keberanian seperti mereka.


Heilong pun akhirnya berhasil menerobos formasi itu dan naik ke atas panggung. Melihat Heilong sudah berdiri di depannya, Mahapatih Gajah Mada tersenyum dan memuji Heilong. “ Bagus sekali anak muda, kamu akhirnya bisa menorobos masuk ke dalam formasi labirin yang di buat oleh para prajuritku. Tidak banyak orang yang bisa menerobos masuk ke dalam formasi ini karena formasi labirin ini dibuat berdasarkan prinsip dari formasi cakrabyuha yang sangat terkenal di dalam kisah mahabaratha. Dengan berhasil menerobos kedalam formasi ini, kamu telah membuktikan padaku bahwa kamu layak untuk menjadi lawanku. ”


“ Terima kasih atas pujiannya tuan, sebenarnya awalnya saya juga tidak yakin jika saya bisa bisa menerobos ke dalam formasi ini. Tapi bagaimanapun caranya saja harus bisa menerobos formasi itu agar saya bisa bertarung melawan anda karena satu-satunya cara agar saya bisa keluar dari dunia game ini adalah dengan mengalahkan anda sehingga saja bisa maju ke stage berikutnya. ” ucap Heilong.

__ADS_1


“ Menarik kalo begitu aku tidak akan menahan diri lagi. Ayo kita bertarung sampai salah satu dari kita ada yang keluar dari panggung ini. ” ucap Mahapatih Gajah Mada meletakkan tombaknya dan mengambil sebuah gada.


Karena peraturan di pertarungan kali ini mengharuskan lawan terlempar keluar dari atas panggung agar dapat menang, maka Mahapatih Gajah Mada berpikiran untuk mengganti senjatanya dari tombak menjadi gada sebab gada mempunyai kekuatan dorongan yang lebih besar saat dipukulkan ke tubuh lawan yang bisa membuat lawannya terlempar cukup jauh.


Heilong hanya memperlihatikan saat Mahapatih Gajah Mada mengganti senjatanya, dia tidak mengerti alasan kenapa sang Mahapatih mengganti senjatanya. Menurut pemikirannya senjata tombak adalah senjata yang paling cocok untuk di gunakan dalam pertarungan satu lawan satu selain pedang.


Melihat wajah Heilong yang tampak bingung saat memperhatikannya dirinya mengganti senjata, Mahapatih Gajah Mada bisa menebak apa yang sedang dipikirkan Heilong dan diapun mulai berbicara pada Heilong. “ Kau pasti bertanya-tanya kenapa aku mengganti senjataku. Jika kau ingin tahu alasannya maka majulah dan seranglah aku. ”


Mendengar tantangan dari Mahapatih Gajah Mada, jiwa bertarung Heilong merasa tertantang. Dia pun memegang pedang taring putihnya dengan erat lalu melompat ke tempat sang Mahapatih untuk menyerangnya.


“ Pedang membelah bumi. ”


“ Bang... ” suara benturan kedua senjata terdengar begitu keras sampai membuat tanah bergetar.

__ADS_1


__ADS_2