LEGENDA DEWA PEDANG

LEGENDA DEWA PEDANG
V2 # CH 159 GAME THE POWER OF JAVA ( PART 13 )


__ADS_3

Setelah berada hampir lima belas menit berada di dalam portal, Heilong Akhirnya sampai di tempat yang menjadi stage terakhir dalam game ini. Dia segera melompat keluar dari portal teleportasi dan melihat hamparan kebun pohon sakura yang sangat luas. Bunga-bunga di pohon itu sedang bermekaran seperti saat musim semi.


“ Tempat ini sangat indah, sayang sekali jika tempat seindah ini akan hancur karena dijadikan arena pertarungan. Selagi aku sedang berada di sini aku akan memanfaatkannya untuk menikmati pemandangan dan udara segar tempat ini. ”


Heilong merentangkan kedua tangannya lebar-lebar di tengah kebun pohon sakura itu dan mengirup nafas dalam-dalam, udara yang dihirup olehnya terasa sangat menyegarkan dan benar-benar bersih.


Mata Heilong tiba-tiba terpana saat melihat seorang gadis cantik yang memakai kimono berwarna putih yang selaras dengan warna kulitnya yang seputih mutiara dan rambut hitamnya yang sehitam malam. Mata gadis itu memiliki pandangan tajam yang memikat bagi siapapun yang memandangnya. Bibirnya yang berwarna merah laksana buah strawbery yang manis dan imut namun sedikit asam yang membuat ketagihan saat digigit. Gadis itu sedang berjalan dengan lambat diantara pohon-pohon sakura menuju ke tempat Heilong berdiri.


“ Siapakah gadis itu, apakah dia lawanku di stage ke empat ini yang dimaksud oleh kakek. ” gumam Heilong yang tidak bisa mengedipkan matanya saat melihat gadis yang sangat cantik itu sedang berjalan mendekat ke arahnya.


Saat tiba di depan Heilong, gadis itu tersenyum saat melihat Heilong yang seperti patung ketika sedang melihat kedatangannya. Gadis itu pun segera menegur Heilong. “ Jangan menatapku seperti ini kau membuatku jadi malu. ”


Heilong pun segera tersadar dan menjadi salah tingkah. “ Maafkan aku, aku tadi seperti sedang melihat seorang dewi yang sedang berjalan menghampiriku. Apakah kamu yang akan menjadi lawanku... ? ”


“ Benar, aku adalah lawanmu di stage ke terakhir ini. Namaku adalah putri Bianca. Aku adalah salah satu anggota dari delapan raja api. Jika kamu bisa menang melawanku maka aku akan memberimu bola inti elemen api sebagai hadiah pembuka dari warisan delapan raja api yang akan kamu terima saat kamu berhasil datang ke pagoda raja api dan aku juga akan memberimu bagian terakhir dari peta yang menunjukkan lokasi pagoda raja api berada. ” ucap Bianca dengan bibir indahnya yang menghipnotis mata Heilong.


Saat putri Bianca sedang berbicara pandangan Heilong tidak pernah bisa lepas dari bibir putri Bianca yang indah itu. Putri Bianca menegurnya kembali ketika menyadari tatapam Heilong yang penuh nafsu sedang tertuju pada tubuhnya. “ Bukankah aku tadi sudah memperingatkanmu agar jangan menatapku dengan tatapan seperti itu. Apakah kamu ingin aku membakarmu dulu baru kamu mau mendengarkan peringatanku. ”


Saat menegur Heilong, Putri Bianca mengeluarkan apinya yang berwarna putih di tangan kanannya. Api berwarna putih itu terlihat sangat indah tapi membawa hawa panas yang sangat menyengat ke kulit, panasnya hampir setara dengan api emas yang pernah di keluarkan oleh Feng Tzuyu. Heilong sedikit terkejut melihat api itu. “ Api macam apa itu, kenapa sangat panas sekali. ”


“ Ini adalah api peringkat ke tiga dari daftar peringkat api dewa. ” jawab Bianca sambil mengarahkan apinya kehadapan Heilong agar dia bisa melihatnya lebih jelas lagi.


“ Jika api peringkat ketiga saja sudah sepanas ini, bagaimana dengan api peringkat pertama. ” ucap Heilong tanpa sadar.

__ADS_1


Putri Bianca tertawa melihat celetukan Heilong. “ He... He... Aku rasa kamu sudah pernah melihat api peringkat pertama. Api peringkat pertama adalah api emas milik Divine Beast Suzaku dan aku dapat mencium bau dari senjata pusaka yang ditempa dengan menggunakan api emas muncul dari dalam tubuhmu. ”


Heilong langsung teringat pada pedang taring putih. Pedang itu memang di tenpa oleh Feng Tzuyu menggunakan api emas yang diwariskan oleh divine beast suzaku pada dirinya. Heilong segera mengeluarkan pedang taring putih dari dunia jiwanya, lalu menunjukkannya pada putri Bianca. “ Dari mana kamu tahu kalau pedang ini ditempa dengan api emas, padahal aku menyimpan pedang ini di dunia jiwaku. ”


“ Masing-masing api mempunyai aroma yang khas, kamu akan mengetahuinya setelah kamu memiliki elemen api. Meskipun kamu menyimpan senjatamu itu di dalam dunia jiwa tapi bau dari senjata itu tertinggal di segel kontrak yang ada di tangan kananmu. Namun orang yang menempa pedangmu itu sepertinya belum terlalu mahir mengendalikan apinya, itu terlihat dari kedua sisi pedangmu yang sedikit tumpul. Jika kau percaya padaku, berikan sebentar pedang itu padaku dan aku akan mempertajam pedangmu itu. ” ucap Bianca sambil mengulurkan tangan kirinya ke hadapan Heilong.


Heilong merasa tak ada ruginya jika dia meminjamkan pedang taring putih itu sebentar pada Bianca karena biar bagaimanapun juga dia telah membuat kontrak dengan roh senjata yang ada dalam pedang itu jadi tidak ada seorangpun yang bisa mencuri pedang itu dari tangannya, malah itu akan menjadi keuntungan buat dirinya jika semua yang dikatakan oleh Bianca adalah benar. Heilong pun tanpa rasa curiga memberikan pedang itu pada Bianca.


Setelah menerima pedang taring putih dari tangan Heilong, Bianca segera mengusap pedang itu beberapa kali dengan api putihnya seperti orang yang sedang mengasah sebuah pedang. Beberapa menit kemudian kedua sisi pedang taring putih menjadi semakin berkilau, terlihat dengan sangat jelas bahwa kedua sisi dari permukaan pedang taring putih menjadi semakin tajam. Bianca lalu menebaskan pedang taring putih dengan lembut ke pohon sakura di dekatnya dan pohon itu langsung terbelah menjadi dua padahal Bianca sama sekali tidak menggunakan tenaga saat menebas pohon itu.


Heilong menjadi terkejut. “ Pedang itu benar-benar menjadi lebih tajam seperti apa yang telah dia katakan, ternyata dia tidak berbohong dia benar-benar bisa melakukan hal yang seperti itu. Pengendalian apinya memang sangat hebat, dia memang pantas untuk menjadi bagian dari salah satu raja api. ”


Saat Heilong masih terpana melihat ketajaman dari pedangnya yang telah diasah oleh Bianca, tiba-tiba dia dikejutkan dengan gerakan Bianca yang membuang pedang sangat jauh. Pedang itu dilempar sejauh seribu kilometer dan mendarat di atas puncak sebuah gunung.


“ Hei kenapa kau membuang pedangku...!!! Bukankah kau bilang akan membantuku untuk mempertajam pedangku. Kenapa kau malah membuang pedangku, jika kau tidak bisa melakukannya lebig baik kau kembalikan pedang itu padaku, ” protes Heilong.


Heilong akhirnya ingat bahwa Bianca mengatakan “ berikan sebentar pedang itu padaku dan aku akan mempertajam pedangmu ” bukan “ pinjamkan sebentar pedang itu ” . Itu berarti Bianca tidak harus mengembalikan pedang itu ketangan Heilong karena Bianca mengatakan berikan bukan pinjamkan.


“ Sial..!! Gadis itu rupanya ingin mempermainkanku, sepertinya dia ingin balas dendam karena aku tadi telah menatap tubuhnya dengan tidak sopan. Aku telah tertipu dengan kecantikan dan keluguannya. Aku harus segera mengambil pedangku itu untuk bisa bertarung melawannya di stage terakhir ini. ” ucap Heilong lirih.


Bianca tersenyum mendengar ucapan Heilong dan mengolok-oloknya, walaupun dia mendengar ucapan itu samar-samar. “ Apakah kau ingin menggunakan pedang saat bertarung melawan wanita. Dasar pria tak tahu malu. ”


“ Aku tidak akan tertipu lagi dengan kecantikanmu. Kau sebenarnya adalah wanita yang sangat pintar. ” ucap Heilong dingin.

__ADS_1


“ Kau sebenarnya memang tidak membutuhkan pedang itu untuk melawanku di stage terakhir ini karena di stage terakhir ini kita tidak akan bertarung satu lawan satu tapi kita akan lomba lari dan garis finishnya ada di atas gunung tempat pedangmu itu terjatuh. Siapa yang lebih dulu sampai sana dan memegang pedang itu maka dialah pemenangnya. ” ucap Bianca sambil menunjuk sebuah gunung yang jauhnya seribu kilometer.


“ Apakah benar cuma semudah itu pertandingan di stage ini. ” Heilong nampak sedikit terkejut.


“ Siapa bilang itu akan mudah, akan banyak sekali rintangan yang menunggu di depanmu saat kamu berlari menuju ke gunung itu. Di depan sana ada jurang yang sangat terjal dan dipenuhi dengan batuan tajam berbentuk seerti tombak di bawahnya, di sana juga ada sebuah hutan yang dipenuhi dengan binatang buas dan ular berbisa. Terlebih lagi kamu tidak dapat menggunakan pedangmu di stage ini... He.. He... ” ucap Bianca tersenyum licik.


“ Rintangan apapun akan terasa mudah asalkan aku tidak bertarung satu lawan satu melawan wanita cantik. ” caletuk Heilong.


“ Ha... Ha... Ha... Tidak ku sangka ternyata pria hebat sepertimu takut berduel seorang wanita cantik, ” Bianca tertawa terbahak-bahak mengejek Heilong.


Heilong langsung protes untuk membela diri. “ Aku bukan takut berduel dengan seorang wanita. Tapi duel antara pria dan wanita harus dilakukan di tempat tertutup dan tidak ada yang boleh melihat. ”


“ Hmph..!! Dasar mesum. ” ucap Bianca mengumpat Heilong. Heilong pun hanya tersenyum-senyum mendengar umpatan Bianca karena Bianca terlihat semakin cantik saat sedang marah.


“ Baiklah ayo segera kita mulai pertandingannya. ” ucap Bianca.


Api berwarna putih langsung memancar dengan kuat dari tubuh Bianca, api itu membakar apa saja yang ada di dekat tubuh Bianca bahkan kimono yang dipakainya juga ikut terbakar. Mata Heilong melotot tak berkedip sedikitpun saat melihat tubuh polos putri Bianca yang seputih mutiara tanpa ada benda apapun yang menghalanginya. Tubuh Bianca kemudian berubah menjadi seekor unicorn.


Heilong terkejut melihat apa yang sedang dilakukan oleh Bianca dan tanpa sadar berucap. “ Kau mau lomba lari apa lomba kuda-kuda'an. ”


“ Diam..!! Sudah kukatakan berkali-kali jangan menatap tubuhku dengan tatapan mesummu. ” teriak Bianca marah sambil menonjok muka Heilong sampai Heilong tersungkur ke belakang dan hidungnya mimisan.


Heilong merasa sedikit kesal. Dia merasa telah ditipu oleh putri Bianca, bagaimanapun juga kecepatan lari seorang manusia pasti akan kalah jika melawan kecepatan lari seekor kuda unicorn.

__ADS_1


*****


Jika ingin tau nama-nama dari 8 raja api. kalian bisa baca di CH 111


__ADS_2