LEGENDA DEWA PEDANG

LEGENDA DEWA PEDANG
V1 # CH 77 CEMBURU


__ADS_3

“Memang apa saja yang bisa kita lihat dari atas atap?” tanya Heilong yang terlihat begitu penasaran kenapa Yang Tzuyu bisa berlama-lama di atas atap seorang diri.


“Kita bisa melihat isi seluruh kota ini. Tapi, sekarang sudah malam sebaiknya kalian istirahat dulu. Besok pagi aku akan mengajak kalian berkeliling kota ini,” jawab Yang Tzuyu.


Mereka bertiga segera masuk ke kamar masing-masing untuk beristirahat.


**


Lembah Embun Salju.


Tiga orang berjubah merah yang mengendarai sebuah beast robot berbentuk burung falcon raksasa berwarna hitam turun ke sebuah lembah bersalju,lembah ini merupakan perbatasan benua utara dan benua tengah.


Ketiga orang berjubah merah itu adalah tiga orang pembunuh bayaran yang dikirim oleh Klan Iblis untuk menyerang Sekte Snow Moon dan ketiganya memiliki kultivasi di tingkat grand emperor.


Mereka bertiga adalah Pisau bayangan Karzan,Penembak kegelapan Frankover dan pemimpin kelompok ini si Naga api Nash.


“Ketua kemana kita akan pergi sekarang? Apakah kita akan langsung menyerang dan menghancurkan Sekte Snow Moon?” tanya Karzan.


“Tidak. Minmei menyuruh kita menunggu di tempat ini sampai dia datang. Dia akan memberitahukan rancananya pada kita sebelum kita pergi menyerang Sekte itu,” jawab Nash.


“Jadi kali ini Minmei yang mengatur rencana penyerangan ini,” sahut Frankover sambil memainkan tangan kirinya yang telah dimodifikasi menjadi sebuat pistol mesin.


“Ingat! Kita sekarang sedang menjalankan tugas penting. Jadi kesampingkan dulu masalah perasaan,” seru Nash.


“Baik ketua. Tapi kali ini aku tidak akan membiarkan kupu-kupu yang indah itu lepas lagi dari genggamanku,” ucap Frankover.


"Dor .... Dor ... Dor ..."


Frankover tiba-tiba menembak tiga burung dara yang melintas di atasnya. “Kali ini kita dapat makanan yang lumayan enak.”


**


Kota Waerebo.


Heilong tidak bisa tidur karena pikirannya dipenuhi dengan gambaran tentang Xue Xian Hou. Dia akhirnya bangun tempat tidurnya lalu pergi keluar untuk mencari angin segar.


Dia penasaran dengan pemandangan kota ini ketika malam hari dan dia pun memutuskan untuk naik ke atap gedung.


Sesampainya di atap gedung, dia disambut dengan hujan salju yang turun perlahan. Namun, ada yang berbeda dengan warna langitnya.


Cahaya berwarna hijau, biru, merah muda, dan ungu menyala-nyala dan menari-nari di langit malam.


“Inikah yang dinamakan Aurora,” gumam Heilong dalam hati melihat keindahan fenomena alam ini.


Dia kemudian menutup kedua matanya dan mengingat kembali kejadian saat dia masih berada di Planet Bumi. Ketika dia masih kecil, dia sangat ingin sekali melihat aurora. Tapi hal itu tidak pernah terwujud dan dia hanya bisa melihat aurora di depan tv.


Heilong tiba-tiba merasakan kehadiran seseorang yang sedang berjalan mendekatinya.


“Tuan,apa yang sedang anda lakukan di sini? Di sini sangat dingin,” ucap Yang Tzuyu datang menghampiri Heilong.

__ADS_1


Yang Tzuyu tiba-tiba terbangun saat mendengar suara sebuah pintu terbuka. Setelah dia mengeceknya, ternyata pintu yang menuju ke atap terbuka. Dia lalu melihat pintu kamar Heilong yang ternyata juga terbuka.


Takut sesuatu terjadi pada Heilong, dia memutuskan untuk mengecek ke atap dan ternyata Heilong sedang berdiri sendirian di atap.


Yang Tzuyu segera kembali untuk mengambil mantel yang dari bulu Beast dan membuat dua cangkir kopi.


“Tzuyu kamu juga tidak bisa tidur ya?” tanya Heilong.


“Aku tiba-tiba terbangun tadi,” jawab Yang Tzuyu.


Yang Tzuyu lalu memberikan mantel itu pada Heilong dan meletakkan dua cangkir kopi di sebuah meja yang ada di atap.


"ini tuan pakailah mantel ini karena cuaca malam hari di sini cukup dingin. Aku juga sudah membuatkan dua cangkir kopi. Mari kita duduk disini sambil minum kopi.”


“Baiklah,” jawab Heilong.


Mereka berdua duduk sambil minum kopi di bawah salju yang turun perlahan dengan langit yang dihiasi oleh aurora yang menari-nari.


“Kenapa kamu tidak pernah bilang jika langit malam di tempat ini sangat indah.” Heilong membuka percakapan.


“Ini adalah hal yang biasa terjadi di sini setiap seminggu sekali jadi aku tidak menganggapnya istimewa karena itu aku tidak memberi tahukannya. Tapi langit di tempat ini memang sangat indah, aku sering menghabiskan malamku sendirian disini hanya untuk melihat ini,” ucap Yang Tzuyu.


Di ujung tangga yang menuju ke atap, Xue Xianzi melihat mereka berdua yang asik mengobrol. Dia ingin menghampiri mereka berdua tapi dia mengurungkan niatnya. Dia hanya megepalkan kedua tangannya lalu kembali lagi ke kamarnya.


Tidak terasa Heilong dan Yang Tzuyu mengobrol semalaman di atas atap gedung.


“Tuan, sebaiknya kita kembali karena hari sudah pagi,” ucap Yang Tzuyu.


“Long Bai. Hmm … rasanya terlalu canggung. Aku panggil Bai gege saja apa boleh?” tanya Yang Tzuyu.


"Boleh,” jawab Heilong.


“Baiklah, satu jam lagi aku akan mengajak kalian mengelilingi kota ini. Sekarang kamu bersihkan diri lalu ganti baju,” ucap Yang Tzuyu.


Mereka berdua turun dari atap dan kembali ke kamar masing-masing.


**


Saat Heilong sedang berganti pakaian, tiba-tiba ada suara seseorang mengetuk pintu.


“Tok .... Tok ...Tok ...”


“Siapa?” teriak Heilong dari dalam kamar.


“Ini aku,” jawab seseorang di depan pintu.


Heilong mengetahui bahwa itu adalah suara Xue Xianzi, dia segera membuka pintu.


“Zizi ada apa kamu mencariku pagi-pagi?” tanya Heilong.

__ADS_1


“Aku ingin mengajakmu latihan. Di belakang gedung ini ada sebuah lapangan yang cukup luas. Mungkin kita bisa bertukar beberapa jurus di sana ,” jawab Xue Xianzi.


“Baiklah.Tunggu sebentar aku akan mengambil pedangku.”


Heilong kembali masuk ke dalam kamarnya dan buru-buru mengambil pedang miliknya. Lalu mereka berdua berjalan menuju ke lapangan yang ada di belakang gedung.


Lapangan ini tidak jauh hanya berjalan lima menit mereka sudah sampai.


“Di mana pedangmu apa kamu akan latihan tangan kosong,” tanya Heilong melirik tangan Xue Xianzi


“Selendang ini adalah senjataku. Bukankah kamu sudah pernah bertarung dengan ibuku. Jurus-jurus yang aku miliki mirip dengan jurus-jurus yang dimiliki ibuku karena dia yang mengajariku ilmu beladiri,” jawab Xue Xianzi.


Xue Xianzi mulai memasukkan energi esnya ke dalam selendang yang ada di tangan kanannya. Dia mengubah selendangnya menjadi sebuah cambuk es berduri.


“Apa kamu sudah siap?” tanya Xue Xianzi.


"Seranglah aku,” jawab Heilong sambil mengeluarkan pedangnya.


Xue Xianzi mengarahkan serangan cambuknya ke tubuh Heilong.


“Ceter ...”


Heilong berhasil menghindarinya dan cambuk itu menghantam tanah dan meninggalkan bekas cambukan yang memanjang di atas tanah bersalju.


“Ceter ... Ceter ...”


Xue Xianzi terus mencambuk Heilong sampai cambuk itu berhasil mengenai tangan kanannya dan pedang yang dia pegang di tangan kanannya terlempar.


Melihat Heilong yang sudah tidak memegang senjata, Xue Xianzi tidak menghentikan serangannya.


“Ceter ...”


“Ding …”


Heilong segera menggunakan perisai esnya untuk menahan serangan cambuk Xue Xuanzi.


“Apa yang kamu lakukan? Bukankah ini cuma latihan. Kenapa sepertinya kamu ingin membunuhku?” seru Heilong menatap mata Xue Xianzi.


“Cakar Serigala Es.”


Xue Xianzi mengangkat tangan kanannya yang membentuk cakar lalu menyerang perisai es Heilong.


“Ding .... Crack ... Crack ... Pyar ...”


Lima buah goresan memanjang muncul di perisai es Heilong dan membuat retakan lalu menghancurkan perisai es itu.


“Apa yang kamu lakukan semalaman di atas atap dengan gadis itu,” ucap Xue Xianzi dingin dengan sorot matanya yang tajam.


Dia terus mendekati Heilong setelah berhasil menghancurkan perisai es nya.

__ADS_1


*****


Heilong akan tetap dikenal sebagai Long Bai karena dia memang berada di dalam tubuh Long Bai.


__ADS_2