
"Bai gege, aku sudah mengatakan semua rahasiaku. Sekarang kamu telah mengetahui identitasku yang sebenarnya. Apakah kamu akan marah padaku karena selama ini aku menyembunyikan identitasku yang asli darimu?" tanya Feng Tzuyu menatap Heilong dengan mata berkaca-kaca.
Dia takut Heilong akan marah setelah mengetahui bahwa selama ini dia telah berbohong tentang identitas aslinya.
Heilong lalu meraih kedua tangan Feng Tzuyu dan menggenggamnya erat-erat. “Aku tidak akan marah padamu. Aku bisa memahami alasanmu menyembunyikan identitasmu yang sebenarnya. Dan aku pasti akan membantumu untukku mendapatkan mustika air buaya salju itu.”
Feng Tzuyu menatap mata Heilong dan tersenyum bahagia. Lalu dia membenamkan tubuhnya dalam pelukan Heilong.
“Terimakasih Bai gege,” ucap Feng Tzuyu manja.
La ... La ... La ... Lala …
Tiba-tiba Heilong dan Feng Tzuyu dikejutkan oleh suara nyanyian yang berasal dari gunung taring putih.
Suara nyanyian ini terdengar sangat aneh karena suara ini tidak seperti suara manusia.
“Tzuyu siapa yang menyanyi malam-malam begini? Apakah ada seseorang yang tinggal di Gunung Taring Putih itu,” tanya Heilong setelah mengetahui dari mana suara nyanyian ini berasal.
“Tidak ada orang lain yang berani tinggal di sekitar Gunung Taring Putih selain kami. Suara nyanyian ini adalah suara dari Kirin Es. Setiap malam bulan purnama, dia memang selalu bernyanyi. Tidak ada yang tahu apa maksud dari nyanyian ini. Terkadang suara nyanyian ini terdengar seperti sebuah tangisan dari pada sebuah nyanyian,” jawab Feng Tzuyu yang ikut mendengarkan suara nyanyian kirin es.
Samar-samar Feng Tzuyu mendengar suara langkah kaki seorang wanita sedang mendekat ke tempat mereka.
Feng Tzuyu buru-buru melepaskan tubuhnya dari pelukan Heilong.
Sesaat kemudian bibi Lang datang menghampiri mereka membawakan makan malam.
"Nona, makan malam anda sudah siap,” ucap Bibi Lang.
“Bibi taruh saja makanan itu di atas meja yang ada di tengah taman. Kami berdua akan segera menyusul ke sana,” ucap Feng Tzuyu dengan gugup.
Bibi Lang segera pergi ke taman. Letak taman ini tidak jauh dari teras, jaraknya hanya sekitar dua meter saja dari teras.
“Hehe … Kenapa kamu terlihat gugup? sepertinya mulai sekarang aku harus sering-sering memelukmu supaya kamu tidak gugup lagi.” Heilong tidak melewatkan kesempatan untuk menggoda Feng Tzuyu.
__ADS_1
Feng Tzuyu tidak menjawab, tapi dia mencubit pinggang Heilong.
“Auw …” teriak Heilong lirih karena terkejut ketika jari lembut Feng Tzuyu mencubit pinggangnya.
“Sudah bercandanya. Yuk kita ke taman. Aku sudah lapar karena seharian ini kita blm makan,” ajak Feng Tzuyu.
Mereka berdua segera berjalan menuju ke taman.
**
Bibi Lang segera menata piring-piring yang berisi makanan di atas sebuah meja yang ada di tengah taman, begitu dia sampai di taman.
Tidak berapa lama kemudian, Heilong dan Feng Tzuyu akhirnya sampai di taman.
Di taman ini, Heilong bisa melihat berbagai macam bunga yang di tanam dan di tata dengan sedemikian rupa sehingga seolah-olah bunga-bunga itu mengelilingi sebuah meja yang ada di tengah taman.
Heilong dan Feng Tzuyu segera berjalan ke tengah taman dan duduk di sana.
Feng Tzuyu melihat makanan di meja dan bertanya. “Bibi Lang, makanan apa yang bibi masak hari ini? Makanan ini terlihat berbeda dari makanan yang biasanya Bibi masak. Dan semua makanan ini juga kelihatan sangat enak.”
“Buku resep makanan?!” Feng Tzuyu terlihat terkejut karena dia merasa tidak pernah memberi buku resep makanan.
Bibi Lang lalu mengeluarkan sebuah buku dari saku yang ada di apronnya.
(apron \= celemek)
Feng Tzuyu segera mengambil buku resep makanan itu dan membacanya sebentar. Dia menemukan beberapa makanan yang ada di dalam Bulu resep makanan ini pernah di masak oleh Heilong.
Feng Tzuyu lalu menatap Heilong. “Bai gege, apakah kamu yang menulis buku resep makanan ini?”
“Benar. Aku ingin memastikan setiap hari kamu bisa makan makanan sehat dan enak. Jadi aku membagi beberapa resep makanan ke koki yang biasa masak makanan untukmu.” jawab Heilong.
Feng Tzuyu tersenyum dan memberikan kembali buku resep makanan itu pada Bibi Lang. “Bulu resep makanan ini, mulai sekarang menjadi milik Bibi Lang. Simpan dan pelajari buku itu baik-baik sama seperti ketika Bibi Lang merawat barang pemberian dariku.”
__ADS_1
“Terimakasih Nona. Terimakasih Tuan Muda,” ucap Bibi Lang setelah menerima buku itu.
Feng Tzuyu tiba-tiba teringat sesuatu. “Bibi Lang, selama bibi tinggal di sini apakah bibi telah menemukan alasan kenapa Kirin Es itu selalu bernyanyi saat bulan purnama?”
“Beberapa waktu yang lalu saat Wong Gie pergi ke kota terdekat, dia sempat bertanya pada penduduk sekitar dan mendapat sebuah informasi penting yang sangat menarik,” jawab Bibi Lang.
“Informasi seperti apa itu?” lanjut Feng Tzuyu bertanya.
“Setahun yang lalu, Kirin Es dan Buaya Salju terlibat pertarungan yang sangat dahsyat. Dalam pertarungan itu, kirin es kehilangan semua anaknya dan dia mengalami luka yang sangat parah. Sejak saat itu setiap malam bulan purnama, dia selalu bernyanyi untuk mengenang kematian anaknya,” jawab Bibi Lang.
“Lalu bagaimana dengan Buaya Salju itu? Apakah Buaya Salju itu baik-baik saja?" tanya Feng Tzuyu.
“Buaya Salju itu juga mengalami hal sama. Semua telur-telurnya yang hampir menetas dihancurkan oleh Kirin Es. Sejak saat itu, kedua Beast ini menyimpan dendam yang sangat dalam,” jawab Bibi Lang.
"Baiklah Bibi Lang, terimakasih atas infonya. Sekarang Bibi bisa kembali,” ucap Feng Tzuyu dan Bibi Lang pun pergi meninggalkan mereka berdua.
Feng Tzuyu dan Heilong memulai makan malam mereka sambil mendengarkan nyanyian dari Kirin Es.
“Paman Yang Zhu itu sebenarnya siapa? Dan kesepakatan bisnis yang kita buat bagaimana kelanjutannya,” tanya Heilong.
“Paman Yang Zhu sebenarnya adalah seorang Perdana Menteri di Kerajaan Red Phoenix. Dia mengikutiku pergi ke Benua Utara untuk menjaga keselamatanku. Dan mengenai kesepakatan bisnis yang kita buat, Bai gege tidak perlu khawatir. Bisnis itu akan tetap berjalan sesuai perjanjian awal dan usaha keluarga Yang itu adalah nyata karena awalnya sebelum menjadi seorang Perdana Menteri, paman Yang Zhu adalah seorang pengusaha yang sangat sukses dan berhasil membuka cabang usahanya di setiap Benua kecuali Benua Timur seperti yang pernah aku katakan waktu itu,” jawab Feng Tzuyu.
“Jadi dengan kata lain, usaha keluarga Yang itu sebenarnya sama sekali tidak ada kaitannya denganmu,” tebak Heilong.
“Benar sekali, aku di sana sebenarnya cuma main-main saja sambil melepas kebosananku,” ucap Feng Tzuyu sambil tersenyum manis.
“Selama perjalanan kemari, aku juga merasakan ada beberapa orang yang mengikuti kita dari belakang.” Heilong terus bertanya karena ingin mengenal Feng Tzuyu lebih jauh lagi.
“Mereka adalah pengawalku yang dipimpin oleh paman Wong Gie. Mereka semua ada enam orang dan semuanya berasal dari keluarga Wong. Kami biasa menyebut mereka Wong bersaudara,” jawab Feng Tzuyu lalu dia menatap Heilong. “Apa masih ada yang ingin Bai gege tanyakan lagi?”
“Tidak, mari kita makan nanti keburu makanan ini dingin,” jawab Heilong.
Tiba-tiba suara nyanyian Kirin Es berhenti dan muncul suara ledakan dari sungai es berdarah.
__ADS_1
“Boom …”