
Dengan gabungan kedua kekuatan antara Heilong dan Long Bai, kelima elemen yang ada di dalam tubuhnya akhirnya bisa digunakan secara bersamaan. Dan Jurus-jurus yang dikuasai oleh Long Bai juga bisa digunakan oleh Heilong.
Heilong lalu menggunakan Jurus Sambaran Dewa Petir milik Long Bai untuk berlari dan dalam sekejap dia sudah sampai di depan Buaya Salju.
Heilong kemudian mengayunkan tangan kanannya yang telah diselimuti dengan aura energi es dan angin yang sangat merusak dan melakukan gerakan jurus pedang membelah tanah.
“Pedang Membelah Tanah.”
Kekuatan dari jurus Pedang Membelah Tanah kali ini sangat berbeda dari sebelumnya karena digunakan bersamaan dengan Pedang Taring Putih, maka kekuatan energi esnya menjadi berkali-kali lipat.
Sebuah bayangan pedang yang sangat besar segera terbentuk dari aura energi angin dan es yang dipancarkan Pedang Taring Putih saat Heilong mengayunkan pedangnya ke depan.
Dia lalu menghantam jurusnya itu ke arah Buaya Salju dan mengenai perisai air yang melindungi tubuh Buaya Salju.
“Boom ...”
“Crack ... Crack ... Pyar ...”
Perisai air buaya salju itu langsung hancur berkeping-keping dan tubuh Buaya Salju juga terpental ke udara bersamaan dengan suara ledakan yang sangat dahsyat.
Heilong tidak ingin memberi kesempatan Buaya Salju itu melakukan serangan balasan.
Sebelum tubuh Buaya Salju itu jatuh dan menyentuh tanah, Heilong segera melompat ke udara dan menyerang kembali tubuh Buaya Salju itu dengan menggunakan jurus Sambaran Dewa Petir Tanpa Bayangan.
Kekuatan energi petir yang ada di Pedang Tarian Petir membuat pedang ini menjadi sangat tajam. Pedang pusaka ini dapat memotong baja dengan mudah seperti orang yang sedang memotong roti.
Tubuh Buaya Salju langsung berubah menjadi serpihan kecil-kecil di udara dan ...
“Duar ...”
__ADS_1
Ledakan energi petir dari Pedang Tarian Petir akhirnya menyebarkan serpihan-serpihan tubuh Buaya Salju ke sungai es berdarah.
Setelah berhasil membunuh Buaya Salju, Heilong segera turun lalu menancapkan kedua pedangnya ke tanah.
Wong Bersaudara yang sedang menjaga Feng Tzuyu, menjadi terkejut dan tidak percaya saat melihat pertarungan antara Heilong dan Buaya Salju dari kejauhan.
Mereka semua tidak pernah berpikir bahwa Buaya Salju yang tidak bisa mereka kalahkan, ternyata dapat dikalahkan dengan mudah oleh Heilong yang umur dan tingkat kultivasinya masih berada jauh di bawah mereka.
“Tidak pernah aku sangka pemuda yang beberapa hari ini dekat dengan Tuan Putri kita ternyata sangat hebat. Apakah selama ini kita terlalu meremehkan dia hanya karena usianya lebih muda?” ucap Wong Gien.
“Sepertinya memang begitu. Aku juga sempat memandangnya remeh beberapa saat yang lalu saat pertama kali aku melihatnya dengan Tuan Putri. Aku sempat bertanya-tanya kenapa Tuan Putri kita bisa tertarik dengan pemuda yang ada di Lapis Emperor,” sahut Wong Ding.
“Ini bisa menjadi pelajaran buat kita. Kelak kita tidak boleh meremehkan seseorang hanya karena usianya yang lebih muda dan tingkat kultivasinya yang berada di bawa kita,” ucap Wong Gie.
Wong Fei hanya diam saja melihat ini semua ini. Tidak ada sedikit pun ekspresi kebahagian dari wajahnya saat melihat kematian Buaya Salju. Dia seperti sedang merasakan bahaya yang besar akan datang sebentar lagi.
“Apa yang terjadi?” tanya Wong Shien yang ada di sebelah Wong Fei.
“Buaya salju itu sepertinya belum mati. Tadi saat menyisir daerah ini menggunakan mata batinku, aku menemukan setiap bagian tubuh Buaya Salju yang tersebar di sungai es berdarah sedang menyerap kekuatan dari Mustika Air Buaya Salju,” jawab Wong Fei.
“Jadi maksudmu Buaya Salju ini akan bangkit kembali,” sahut Wong Gie.
“Aku rasa bukan hanya akan bangkit kembali. Tetapi buaya ini juga akan menjadi lebih kuat dari sebelumnya karena dia juga menyerap hawa yin dari sungai es berdarah. Aku juga tidak tau dari mana asal hawa yin dari sungai es berdarah ini, tapi hawa yin sungai ini sangat pekat seperti ada sarang iblis di dasar sungai ini,” jawab Wong Fei.
“Kalau begitu biar aku yang memberitahukan masalah ini pada pemuda itu, agar dia lebih waspada,” ucap Wong Gien lalu dia mentransmisikan suaranya ke Heilong dari jarak jauh.
Heilong yang mendapat informasi dari Wong Gien menjadi waspada. Dia mengambil kembali kedua pedangnya dan memperhatikan daerah sekitarnya dengan seksama.
Bagian-bagian tubuh buaya salju yang tersebar di sungai es berdarah secara perlahan kembali menyatu. Tetapi ada yang berbeda dari tubuh Buaya Salju ini.
__ADS_1
Tubuh Buaya Salju ini sekarang menjadi lebih besar dari sebelumnya dan seluruh tubuhnya berubah menjadi berwarna merah darah sama seperti warna sungai es berdarah. Sedangkan matanya berwarna hitam pekat.
“Duar … Duar … Duar …”
Tiga buah ledakan terjadi di sungai es berdarah ketika buaya salju itu mulai meledakkan kekuatannya di dasar sungai ini. Dan tidak lama kemudian tubuh Buaya Salju muncul ke permukaan.
“Kamu bocah tengik! Berani. -beraninya kamu membunuhku dengan cara seperti itu. Grrr …” ucap Buaya Salju dingin dan penuh amarah. Sorot matanya memandang Heilong dengan tajam.
"Itu adalah Iblis Buaya Darah. Ternyata wujud sebenarnya dari Buaya Salju adalah Iblis Buaya Darah,” ucap Wong Thing.
“Iblis buaya darah?! Dari mana kamu tahu tentang Iblis Buaya Darah? Apakah sebelumnya kamu pernah melihatnya biaya ini?” tanya Wong Gie yang tampak bingung karena tidak mengerti apa-apa tentang Iblis Buaya Darah.
“Sepuluh tahun yang lalu, aku mendapat tugas dari Kaisar Feng Chen untuk membeli anggur merah di Benua Tengah. Saat berada di Benua Tengah, aku menemui banyak penduduk yang menuju ke ibu kota kerajaan untuk mengungsi dan meminta bantuan kepada Kaisar Fu Hao. Mereka semua meminta bantuan Kaisar Fu Hao untuk membinasakan seekor Buaya Iblis yang menyerang tempat tinggal mereka. Setelah mendengar laporan dari rakyatnya, Kaisar Fu Hao menjadi sangat marah dan memutuskan untuk pergi sendiri melawan Buaya Iblis ini. Secara diam-diam, aku mengikuti Kaisar Fu Hao dan melihat pertarungan mereka berdua dari jarak yang sangat jauh. Karena itulah aku bisa mengenali Buaya Iblis ini,” jawab Wong Thing.
Iblis Buaya Darah itu membuka mulutnya ke atas dan tidak berapa lama kemudian sebuah bola energi air yang sangat besar mulai terbentuk. Di dalam bola energi air itu terdapat ribuan pisau yang terbuat dari es.
“Sekarang adalah giliranku untuk menyiksamu,” ucap Iblis Buaya Darah dingin.
Iblis buaya darah segera melemparkan bola energi air ke arah Heilong dengan menggunakan ekornya.
Heilong yang sudah siap, berhasil menghindari serangan bola energi air itu dengan menggunakan jurus Sambaran Dewa Petir.
“Hehe …” Iblis Buaya Darah tersenyum licik ketika melihat Heilong berhasil menghindar.
Heilong merasa ada yang aneh ketika melihat bola energi air itu. Ternyata bola energi air itu mengarah ke tempat Feng Tzuyu berada.
*****
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1441H.
__ADS_1