LEGENDA DEWA PEDANG

LEGENDA DEWA PEDANG
V1 # CH 84 MISTERI SUNGAI ES BERDARAH


__ADS_3

“Bai gege, apakah ada sesuatu yang sedang kamu pikirkan? Sepertinya hatimu sedang gelisah,” tanya Yang Tzuyu dari belakang.


Heilong segera berbalik ketika mendengar suara seorang gadis dari arah belakang. “Tzuyu, sejak kapan kamu di sini?”


“Aku baru saja datang dan melihatmu berdiri sendirian di atas atap karena itu aku memutuskan untuk menghampirimu,” jawab Yang Tzuyu.


“Aku sedang memikirkan kemana aku harus mencari roh senjata yang cocok untuk memperbaiki pedang milikku. Tanpa adanya roh senjata, pedangku ini tidak lebih dari pedang biasa. Pedang seperti ini tidak cukup kuat jika digunakan dalam sebuah pertempuran,” ucap Heilong.


Heilong lalu memandang Yang Tzuyu yang berdiri di depannya. Kali ini penampilan Yang Tzuyu agak sedikit berbeda.


Rambutnya yang panjang dibiarkan terurai dan dia juga memakai baju berwarna merah yang selaras dengan warna bibirnya yang merah merona.


“Kamu terlihat sangat cantik ketika memakai baju merah itu,” ucap Heilong menatap mata Yang Tzuyu.


Yang Tzuyu langsung menundukkan kepalanya ketika mendengar ucapan Heilong. Dia berusaha menyembunyikan wajahnya yang mulai memerah karena malu.


Baju berwarna merah yang dipakai Yang Tzuyu saat ini adalah baju yang dibelikan Heilong tadi sore ketika mereka berdua sedang berjalan kembali menuju ke penginapan.


“Mari kita duduk dulu, aku akan memberitahumu sesuatu.”


Yang Tzuyu segera meraih tangan kanan Heilong dan mengajaknya duduk di sebuah kursi yang ada di atap.


Mereka berdua duduk saling berhadapan lalu Yang Tzuyu mengeluarkan sebuah peta. Peta ini adalah peta Benua Utara.

__ADS_1


Tangan Yang Tzuyu kemudian menunjuk pada sebuah pulau kecil yang jauh berada di utara. Meskipun pulau itu dipisahkan oleh sungai, tapi masih termasuk bagian wilayah Benua Utara.


“Pulau ini namanya adalah Pulau Salju Hijau. Penduduk sekitar menyebutnya pulau ini dengan nama Pulau Salju Hijau karena di pulau itu, wilayah yang tertutup salju hanyalah wilayah yang ada di bagian tengah pulau saja. Dan di tepi pulau itu di tumbuhi banyak pepohonan yang rimbun sehingga pulau ini terlihat berwarna hijau di bagian luarnya dan terlihat bersalju di bagian tengahnya.”


Jari Yang Tzuyu kemudian berpindah ke sungai yang menjadi pembatas antara pulau itu dengan Benua Utara.


“Sungai kecil yang memisahkan Benua Utara dan pulau ini disebut Sungai Es Berdarah,” lanjut Yang Tzuyu.


“Sungai es berdarah?! Kenapa nama sungai ini terdengar begitu menyeramkan?” tanya Heilong penasaran.


“Itu karena airnya yang sedingin es berwarna merah seperti darah,” jawab Yang Tzuyu.


“Apakah ada sesuatu yang menyebabkan airnya bisa berwarna merah seperti itu?" lanjut Heilong bertanya.


“Menurut penduduk sekitar, di sungai itu hidup seekor siluman buaya salju yang sering memangsa hewan dan penduduk yang ada di sekitar sana. Buaya itu menyeret mangsanya ke tengah sungai dan memangsanya di dasar sungai sehingga membuat warna air itu merah seperti darah,” jawab Yang Tzuyu.


“Para penduduk di sana sudah sering melapor ke Istana. Begitu mendapat laporan dari penduduk, Kaisar Xuan Wu langsung meminta prajuritnya untuk menangkap dan membunuh Buaya Salju itu. Tapi ketika prajurit Kerajaan tiba di sungai itu, buaya salju itu telah menghilang tanpa meninggalkan jejak sedikitpun. Para prajurit terus menyisir daerah di sekitar sungai es berdarah bahkan mereka sampai mendirikan tenda dan menginap di sekitar sana selama beberapa bulan. Tapi mereka tidak pernah menemukan buaya itu,” jawab Yang Tzuyu.


“Sepertinya di sana terdapat sebuah terowongan yang menghubungkan sungai es berdarah dengan tempat lain,” tebak Heilong.


“Aku juga punya pikiran yang sama. Sebab, di sekitar sana ada sebuah palung yang sangat dalam. Beberapa orang pernah mencoba menyelam ke dasar palung itu tapi mereka tidak pernah kembali. Akhirnya hal ini hanya menjadi sebuah misteri tentang sungai es berdarah yang sampai saat ini tidak ada seorang pun yang berhasil menemukan jawabannya,” ucap Yang Tzuyu sambil menghela nafas.


“Tapi tujuan kita bukan sungai es berdarah ini. Kita bisa melewatinya lewat jalur memutar meskipun agak lama, tapi aku rasa jalur ini cukup aman,” lanjut Yang Tzuyu.

__ADS_1


“Kemana sebenarnya kita akan pergi?” balas Heilong bertanya.


“Tujuan kita sebenarnya adalah sebuah gunung yang ada di tengah Pulau Salju Hijau. Gunung ini namanya Gunung Taring Putih. Menurut informasi yang aku dapat, di kaki gunung itu ada sebuah goa dan di dalam goa itu hidup seekor Beast Kirin Es berusia lima ratus tahun. Beast ini memiliki sifat yang cenderung memberontak dan susah dijinakkan karena itu dia tidak cocok dijadikan Beast Kontrak untuk tunggangan. Jadi menurutku dia lebih cocok jika dijadikan sebagai roh senjata. Bagaimana menurutmu Bai gege?” tanya Yang Tzuyu.


“Aku sependapat denganmu. Kirin Es ini memiliki sifat yang sangat buas dan aku juga sudah memiliki Beast sebagai tunggangan. Jadi aku akan menjadikannya menjadi roh senjata dari pedangku jika aku berhasil menangkapnya. Apa kamu bisa memberiku informasi lebih detail tentang kekuatan Kirin Es ini?” tanya Heilong menatap Yang Tzuyu.


“Menurut informasi yang kudapat, kekuatan Kirin Es ini setara dengan kultivator Lapis King Emperor dan dia memiliki kekuatan elemen es yang sangat kuat. Mungkin dialah yang menyebabkan daerah di tengah pulau itu menjadi bersalju. Dia juga memiliki cakar yang sangat tajam dan taring yang sangat panjang. Taringnya yang berwarna putih itu kabarnya merupakan bahan yang sangat keras dan sangat langka. Jika dibuat senjata maka senjata itu akan susah dihancurkan, mungkin karena inilah gunung itu di sebut Gunung Taring Putih,” jelas Yang Tzuyu.


Heilong mengerutkan keningnya dan tangan kanannya memegang dagunya. Dia berpikir keras bagaimana caranya agar bisa mengalahkan Kirin Es itu karena tingkat kultivasi yang dia miliki saat ini, berada jauh dibawah tingkat kultivasi yang dimulai Kirin Es itu.


“Ada apa Bai gege? Apakah kamu tidak tertarik untuk menangkapnya?” tanya Yang Tzuyu melihat keanehan pada sikap Heilong.


“Aku cuma tidak yakin bisa menangkapnya karena kekuatan yang dia miliki hampir setara dengan kekuatan Emperor White Bear yang pernah aku temui di dekat wilayah Sekte Snow Moon.”


Heilong mengingat kembali kejadian ketika Emperor White Bear menyerangnya. Untungnya pada saat itu ada Xue Xian Hou yang datang menolongnya.


“Kamu tidak perlu khawatir, sebenarnya ada satu lagi informasi tambahan yang belum aku katakan. Dan informasi ini adalah yang terpenting,” ucap Yang Tzuyu.


“Apa itu? Cepat katakan informasi itu padaku, jangan membuatku penasaran,” ucap Heilong dengan nada sedikit memerintah.


“Tiba-tiba aku jadi lupa apa yang akan aku katakan. Sepertinya otakku jadi kacau kalau lagi lapar, mungkin aku akan bisa mengingatnya kembali kalau Bai gege membuatkan aku makanan yang enak. Hehe …” ucap Yang Tzuyu sambil tertawa kecil.


“Baiklah, kamu tunggu di sini, aku akan segera pergi ke dapur dan membuatkanmu makanan yang sangat enak,” ucap Heilong.

__ADS_1


“Tapi aku mau menu makanan yang berbeda. Makanan yang belum pernah ada di kota ini dan yang bisa menghangatkan suasana yang dingin ini,” ucap Yang Tzuyu.


“Siap tuan putri, aku akan segera membuatkan makanan sesuai pesanan anda,” jawab Heilong sedikit bercanda dan langsung pergi menuju ke dapur.


__ADS_2