LEGENDA DEWA PEDANG

LEGENDA DEWA PEDANG
V3 # CH 321 HADIAH


__ADS_3

Waktu 5 jam yang diberikan Li Ziqi akhirnya habis, dinding pelindung cahaya yang melindungi tempat Dao Xue Lian dan Heilong akhirnya menghilang.


Li Ziqi yang sejak tadi menunggu di luar dinding cahaya, akhirnya tersenyum setelah melihat kedua pedang pusaka yang menempel di punggung Heilong. “Sarung pedang pusaka yang sangat bagus. Aku sama sekali tidak bisa merasakan aura dari kedua pedang pusaka yang ada di dalam sarung pedang itu.”


“Itu karena aku membuat sarung pedang ini menggunakan energi kegelapan. Energi kegelapan ini memiliki fungsi untuk menutupi aura yang memancar dari kedua pedang pusaka itu seperti sebuah awan mendung yang menutupi sinar matahari,” sahut Dao Xue Lian menjelaskan.


Li Ziqi menganggukkan kepala karena dia sangat paham dengan keistimewaan yang dimiliki oleh energi kegelapan ini karena energi cahaya miliknya juga memiliki keistimewaan yang hampir mirip dengan energi kegelapan Dao Xue Lian.


“Apakah kita bisa kembali sekarang? Seperti tidak ada yang bisa kita lakukan di tempat ini,” tanya Li Ziqi pada Heilong.


Li Ziqi ingin cepat-cepat meninggalkan tempat ini sebelum Dao Xue Lian menyadari perubahan yang ada di tempat ini karena dia tidak ingin mengatakan para siapa'pun tentang papan roh itu sebelum dia mengetahui identitas roh yang ada di dalam papan roh itu.


“Ayo kita kembali seharusnya rumah yang di buat Lu Zhan dan Lin Chong Wei susah selesai. Kita bisa beristirahat dua jam di sana dan melanjutkan perjalanan kita saat pagi hari,” jawab Heilong.


Mereka bertiga langsung pergi meninggalkan pulau bagian dalam dan kembali menuju ke tengah Hutan Northland.


**


Di depan rumah kayu yang baru saja dia buat, Lu Zhan dan Lin Chong Wei sedang duduk santai di depan api unggun sambil menunggu ke datangan Heilong.


Tidak lama kemudian Heilong akhirnya datang dan menyapa mereka. “Kenapa kalian tidak istirahat di dalam rumah kayu itu saja.”

__ADS_1


“Tuan, akhirnya kembali. Kami lebih nyaman istirahat di luar sambil menikmati hangatnya api unggun,” jawab Lin Chong Wei yang segera berdiri saat melihat kedatangan Heilong.


Lu Zhan langsung memberi hormat pada Heilong saat menyadari bahwa pria yang menghampiri mereka adalah Heilong. “Salam Guru. Benar sekali yang dikatakan oleh saudara Lin Chong Wei, kami berdua merasa lebih nyaman jika istirahat di luar. Lagipula rumah kayu itu sengaja kami buat untuk tempat istirahat Guru, jadi guru saja yang istirahat di dalam sana.


“Karena kalian berdua bilang begitu, maka aku tidak akan sungkan lagi. Terimakasih karena telah membuatkan sebuah rumah kayu untuk kugunakan beristirahat,” ucap Heilong tersenyum pada mereka berdua.


“Sama-sama Guru, ini adalah wujud terimakasihku karena guru telah mengajariku ilmu memasak.”


“Sama-sama Tuan, anda tidak perlu sungkan.”


Lu Zhan dan Lin Chong Wei menjawab secara bersama dengan nada yang sangat ramah karena Heilong sudah seperti seorang Dewa penolong bagi mereka berdua.


Heilong tiba-tiba mengeluarkan pisau unicorn yang baru saja dia buat dan memberikan pisau itu pada Lu Zhan. “Aku baru sadar setelah aku mengangkatmu menjadi muridku, aku sama sekali belum memberikan hadiah padamu. Pisau Unicorn ini aku hadiahkan untukmu.”


Raut wajah Lu Zhan langsung berubah menjadi sangat bahagia saat memegang pisau unicorn ini karena dia bisa merasakan bahwa pisau ini bukanlah pisau biasa. Meskipun dia bukan seorang kultivator tingkat tinggi, tapi dia bisa merasakan ada aliran energi api yang sangat kuat di dalam pisau unicorn ini.


“Kalau begitu aku akan istirahat dulu. Apakah kalian berdua yakin tidak ingin ikut denganku istirahat di dalam?” tawar Heilong karena dia merasa tidak enak jika harus istirahat di rumah itu sendirian, sementara yang membuat rumah itu tidur di luar.


“Kami berdua serius. Aku dan saudara Lu Zhan akan tetap berada di luar karena sebentar lagi pagi juga akan tiba, jadi kami akan menyiapkan makanan untuk sarapan selama Tuan tidur karena besok pagi kita harus segera melanjutkan perjalanan ke Benua Timur,” jawab Lin Chong Wei.


“Baiklah kalau begitu. Aku tidak akan memaksa lagi,” ucap Heilong lalu dia masuk ke dalam rumah kayu itu dan beristirahat di atas tempat tidur yang terbuat dari bambu. “Akhirnya aku bisa merebahkan tubuhku sebentar setelah melakukan penempaan senjata yang sangat melelahkan. Aku harap semua energiku akan pulih saat aku bangun nanti.”

__ADS_1


Sementara itu Lu Zhan menjadi sangat penasaran ingin mencoba kemampuan Pisau Unicorn yang baru saja di berikan Heilong.


“Apakah kau masih memiliki sisa bahan makanan?” tanya Lu Zhan pada Lin Chong Wei.


“Aku ingin mencoba pisau ini. Jika ada bahan makanan lebih, cepat berikan padaku. Aku berjanji akan membuatkan makanan yang enak,” jawab Lu Zhan sedikit memohon.


“Akan aku periksa dulu gelang galaxy milikku. Mungkin saja ada beberapa bahan makanan yang tersisa,” Lin Chong Wei langsung memeriksa gelang galaxy yang diberikan oleh Heilong saat dia berada di dalam pesawat Max-Lightning.


Setelah memeriksa selama lima menit Lin Chong Wei akhirnya tersenyum. Lu Zhan yang melihat senyuman Lin Chong Wei buru-buru bertanya. “Apa yang kau temukan, kenapa kau terlihat sangat senang?”


“Aku menemukan beberapa ikan kesukaanku di dalam gelang galaxyku. Apakah kau bisa memasak ikan ini?” tanya Lin Chong Wei.


“Tentu saja aku bisa. Cepat kau keluarkan ikan-ikan itu dari gelang galaxymu,” seru Lu Zhan semangat.


Lin Chong Wei langsung mengeluarkan semua ikan yang dia tangkap tadi siang dan segera memberikan semua ikan itu pada Lu Zhan.


Lu Zhan langsung menerima semua ikan itu dengan semangat dan segera membersihkan semua sisik ikan itu. Setelah semua ikan itu bersih, dia kemudian segera memotong daging itu menjadi beberapa bagian.


Saat memotong daging inilah Lu Zhan bisa melihat keistimewaan yang di miliki pisau unicorn. Dia sama sekali tidak perlu menggunakan tenaganya untuk menekan pisau itu ke bawah saat memotong daging ikan karena pisau yang sangat tajam itu seperti membuka jalannya sendiri untuk membelah daging ikan itu.


“Pisau yang sangat tajam, dengan ini aku tidak perlu lagi menggunakan banyak tenagaku saat memotong daging. Semua potongan daging yang aku buat juga menjadi lebih rapi,” ucap Lu Zhan lirik sambil melihat pisau itu dengan teliti.

__ADS_1


“Sampai kapan kau akan terus melihat pisau itu. Aku sudah sangat lapar,” protes Lin Chong Wei tak sabar menunggu.


__ADS_2