LEGENDA DEWA PEDANG

LEGENDA DEWA PEDANG
V1 # CH 87 MUSTIKA AIR BUAYA SALJU


__ADS_3

Setelah melakukan perjalanan selama sehari semalam dan melewati dua buah gunung, mereka berdua akhirnya sampai di sebuah jembatan yang menghubungkan antara Benua Utara dengan Pulau Salju Hijau.


Di bawah jembatan itu, Heilong bisa melihat sebuah sungai yang airnya berwarna merah seperti darah.


“Tzuyu, bukankah kemarin kamu bilang kalau kita melewati jalan memutar untuk menghindari sungai es berdarah ini,” tanya Heilong.


“Sebenarnya jalur memutar ini hanya untuk menghindari palung yang ada di sungai es berdarah karena di palung itulah sebenarnya tempat tinggal siluman buaya salju.” jawab Yang Tzuyu.


“Kalau begitu kita harus segera melewati jembatan ini karena hari sudah mulai gelap. Dan Kita harus segera mencari tempat untuk beristirahat. Bukankah seharusnya rumah yang kamu bangun ada di dekat sini?” lanjut Heilong bertanya sambil melihat daerah sekitarnya.


“Benar. Setelah melewati jembatan ini kita hanya perlu melewati bukit itu. Rumah yang aku bangun ada di balik bukit itu.”


Yang Tzuyu menunjuk sebuah bukit yang ada di depannya dengan menggunakan tangan kanannya.


Dengan mengendarai Gremlin. Heilong dan Yang Tzuyu berjalan untuk melewati jembatan itu dengan kecepatan yang sangat tinggi.


Tapi, saat mereka baru sampai di tengah-tengah jembatan itu. Tiba-tiba Heilong merasakan Aura yang sangat kuat sedang mengintai mereka.


Heilong berusaha mencari dari mana asalnya aura ini dan dia menemukan bahwa Aura yang sangat kuat ini berasal dari sungai es berdarah.


Heilong meminta Gremlin untuk berlari lebih cepat dan hanya dalam beberapa detik saja mereka berdua sudah berhasil melewati jembatan itu.


Mereka segera berjalan melewati bukit yang ada di depannya.


Keenam pendekar bertopeng dan berpakaian serba hitam yang diperintahkan oleh Yang Zhu untuk menjaga Yang Tzuyu terus mengamati Heilong dan Yang Tzuyu dari kejauhan.


Tingkat kultivasi mereka berenam berada di Lapis Grand Emperor tingkat satu sampai tingkat tiga.


Keenam pendekar bertopeng itu juga merasakan aura yang sangat kuat sedang mendekati Yang Tzuyu.


Mereka berenam sudah bersiaga untuk menghalau setiap bahaya yang mendekati Yang Tzuyu.


“Grrrr …”


Buaya Salju tiba-tiba muncul dari permukaan air di bawah jembatan dan berusaha untuk mengejar Heilong yang sudah pergi cukup jauh dengan mengendarai Beast miliknya.


Kelima pendekar bertopeng yang lain menatap ketua mereka dan berdiskusi.

__ADS_1


“Ketua, buaya itu sepertinya mengincar Tuan Putri. Apa yang harus kita lakukan sekarang?”


“Kita harus memusnahkan buaya itu. Ingatlah apa yang telah dikatakan oleh tuan perdana mentri. Kita harus menjaga keselamatan tuan putri dan memusnahkan bahaya yang mendekatinya.”


“Tapi buaya itu bukanlah buaya biasa. Dia adalah buaya salju penunggu sungai es berdarah yang telah lama diburu oleh Kerajaan Green Tortoise. Namun mereka tidak pernah berhasil menangkapnya. Kabarnya buaya ini berada di Lapis Grand Emperor tingkat enam. Dia juga sangat gesit dan lihai dalam melarikan diri.”


“Jadi rupanya Buaya Salju ini sangat kuat. Dengarkan perintahku, jika kita tidak bisa membunuhnya maka kita harus memenjarakannya. Yang penting kita harus mencegah buaya itu untuk mendekati Tuan Putri.”


“Baik ketua.”


Mereka berenam langsung mendarat di depan Buaya Salju dan menghalanginya untuk naik ke daratan Pulau Salju Hijau.


“Berhenti kau Buaya Salju!! Tidak akan aku biarkan kau mengejar mereka. Jika kamu bersikeras untuk mengejar mereka, maka kami terpaksa harus membunuhmu di tempat ini,” teriak ketua dari pasukan bertopeng.


“Haha … Memangnya apa yang bisa kalian lakukan untuk menghalangiku mengejar mereka. Aku bisa merasakan hawa energi murni yang muncul dari tubuh mereka. Biar bagaimana juga, aku harus memangsa mereka untuk dapat meningkatkan kekuatanku,” ucap Buaya Salju.


Buaya salju itu lalu melompat dari air dan mengibaskan ekornya yang kuat untuk menyerang keenam orang itu.


Keenam itu langsung berpencar untuk menghindari serangan ekor Buaya Salju.


“Kami sudah memperingatkanmu. Tapi kamu malah melawan. Sekarang kami terpaksa harus membunuhmu,” Ketua pasukan itu lalu melihat kelima anak buahnya. “Kalian berlima gunakan rantai api untuk menghentikan gerakannya.”


Ketua pasukan bertopeng segera mengeluarkan cambuk yang terbuat dari api setelah melihat tubuh Buaya Salju itu berhasil di rantai oleh kelima anak buahnya.


“Terimalah hukumanmu karena telah berani berusaha menyerang Tuan Putri kami.”


“Cambuk Api.”


“Ceter …”


Ketua pemimpin pasukan bertopeng langsung memukulkan cambuk apinya ke punggung Buaya Salju dan meninggalkan bekas luka memanjang di punggung Buaya Salju.


“Ahh ...!! Kalian dasar manusia tak tau diri, beraninya kalian melukai kulitku. Aku tidak akan melepaskan kalian,” teriak buaya salju geram.


Buaya Salju lalu mengibaskan ekornya dengan kuat sehingga rantai api yang mengikat ekornya terlepas.


Setelah ekornya terbebas, Buaya Salju itu bisa dengan leluasa menyerang keempat orang yang lain yang masih memegang rantai api yang mengikat kedua tangan dan kakinya.

__ADS_1


Keempat orang itu terlempar ke udara setelah terkena serangan dari kibasan ekor Buaya Salju dan rantai yang mengikat kedua tangan dan kaki buaya salju terlepas.


Buaya Salju membuka mulutnya lebar-lebar, dia akan memangsa salah seorang pendekar bertopeng yang akan jatuh tepat diatasnya.


Pemimpin pasukan bertopeng yang melihat kejadian itu segera meledakkan energi apinya.


“Swosh …”


Api berwarna merah segera menyelimuti seluruh tubuhnya, dia lalu mengepalkan kedua tinjunya dan melompat ke arah Buaya Salju.


“Tinju Api Amarah.”


“Boom ...”


Suara ledakan terdengar dan Buaya Salju itu terlempar sejauh lima meter saat tinju api amarah menghantam tubuhnya.


“Dasar Buaya kurang ajar! berani-beraninya kamu berniat untuk memangsa anak buahku,” teriak sang ketua.


“Kalian berlima siapkan Formasi Penjara Abadi Dewa Api. Kita akan mengurungnya dalam penjara api. Biar dia merasakan tubuhnya di panggang setiap hari.”


Keenam orang itu segera berkumpul di sekitar buaya salju membentuk sebuah lingkaran. Mereka lalu mengalirkan darah di tangan kanan mereka untuk membuat sebuah segel formasi.


Perlahan-lahan sebuah segel formasi berwarna merah muncul di atas air tempat buaya salju itu berada.


"Penjara Abadi Dewa Api,” teriak keenam orang itu bersamaan.


Segel itu mengeluarkan sinar merah terang yang memancar ke langit dan api berwarna merah menyala muncul dari formasi lalu mengurung Buaya Salju yang terjebak di tengah formasi.


" Kalian manusia sialan! segel kalian tidak akan bisa mengurungku. Suatu saat nanti aku akan membalas kalian berenam,” ancam Buaya Salju.


“Mustika Air Buaya Salju,” teriak Buaya Salju.


Dahi buaya salju itu memancarkan sinar yang menyilaukan mata keenam pendekar bertopeng itu.


Air sungai es berdarah yang tadinya tenang tiba-tiba bergejolak. Air sungai itu tiba-tiba naik setinggi delapan meter mengelilingi formasi penjara abadi dewa api dan menyerang formasi itu sampai hancur.


Tubuh Buaya Salju ikut hilang bersamaan dengan kembali tenangnya air sungai es berdarah.

__ADS_1


"Buaya itu ternyata memiliki Mustika Air Buaya Salju. Pantas saja selama ini dia begitu gesit ketika di dalam air,” ucap pemimpin pasukan bertopeng saat melihat buaya salju itu menghilang.


__ADS_2