
“Teknik Ilusi Tetesan Air.”
Tubuh Buaya Salju seketika berubah menjadi air dan menghilang meresap ke dalam tanah.
Wong bersaudara yang sejak tadi berada di dekat Buaya Salju menjadi terkejut, sebab Buaya Salju itu ternyata memiliki teknik untuk melarikan diri dari Formasi Penjara Abadi Dewa Api yang mereka buat.
“Formasi Penjara Abadi Dewa Api yang kita miliki ini sebenarnya memiliki sebuah kelemahan yang sangat fatal yaitu saat formasi ini belum terbentuk secara sempurna maka akan ada celah di bawah formasi. Dan Buaya Salju itu sepertinya mengetahui kelemahan dari teknik ini, saat kita berusaha mengurungnya kemarin,” ucap Wong Shien.
“Kamu benar. Tapi, Buaya Salju itu seharusnya tidak bisa pergi jauh meninggalkan tempat ini. Kalian harus waspada karena buaya salju itu bisa saja tiba-tiba menyerang kita saat kita lengah,” balas Wong Gie.
Mereka berenam segera melihat daerah sekeliling mereka, tapi mereka semua tidak menemukan jejak dari Buaya Salju itu.
Wong Ding yang mulai kesal karena tidak menemukan jejak Buaya Salju setelah mencari cukup lama akhirnya mengepalkan tangan kanannya kanannya dan menghantamkan tinjunya tanah.
“Tinju Api Amarah.”
“Boom ...”
Suara ledakan langsung terdengar saat tinju Wong Ding menghantam tanah dan membuat kawah sedalam lima meter.
“Sial …!! Kemana Buaya Salju itu pergi melarikan diri?” seru Wong Ding geram karena tinjunya juga tidak membuahkan hasil.
“Wong Fei, coba kamu gunakan kemampuan pendeteksi auramu untuk melacak keberadaan Buaya Salju itu,” ucap Wong Gie memberi perintah.
“Baik Ketua.”
Wong Fei segera menutup kedua matanya dan menggunakan mata batinnya untuk melacak aura dari Buaya Salju yang sedang bersembunyi entah di mana.
Samar-samar Wong Fei bisa melihat aura berwarna biru yang sangat lemah melalui mata batinnya dan aura itu sedang menuju ke arah Kirin Es.
“Gawat!!” ucap Wong Fei saat membuka matanya dan berlari menuju ke arah Kirin Es.
Kelima orang yang lainnya memutuskan untuk segera menyusul Wong Fei setelah melihat kecemasan yang ada di raut wajahnya.
__ADS_1
Saat jarak mereka sudah cukup dekat, Wong Gie kemudian bertanya. “Apa yang sebenarnya kamu lihat? Kenapa kamu begitu tergesa-gesa berlari menuju ke arah tuan putri.”
“Saat menggunakan mata batinku, aku melihat aura berwarna biru yang sangat tipis sedang menuju ke arah Tuan Putri. Aku rasa itu adalah aura dari Buaya Salju,” jawab Wong Fei.
Wong bersaudara segera menambah kecepatannya setelah mendengar jawaban dari Wong Fei tapi sepertinya mereka sudah terlambat.
Buaya Salju itu sudah sampai di belakang Kirin Es dan menusukkan ekor tombaknya ke jantung Kirin Es.
“Jlebb …”
Darah mengalir dari dada Kirin Es saat ekor Buaya Salju itu dicabut dan tubuh Kirin Es pun langsung terjatuh ke tanah.
“Haha … Mati kau sekarang. Inilah akibatnya jika kau berani mencoba membunuhku. Bukan aku yang akan mati, tapi kau …”
Buaya salju tertawa keras mengejek Kirin Es saat melihat tubuh kirin es jatuh tak berdaya ke tanah.
Feng Tzuyu segera memegangi tubuh Kirin Es yang terkulai lemas, sedangkan Heilong segera mengeluarkan pedang Ocean Blue miliknya dan segera menyerang Buaya Salju itu.
“Jurus Pedang Membelah Tanah.”
Pedang Heilong langsung terpental saat menyentuh kulit Buaya Salju yang sangat keras itu.
“Haha … Kamu berusaha menyerangku dengan pedang biasa?! Sangat lucu sekali!! kulitku ini lebih keras dari baja karena selama ratusan tahun telah diperkuat oleh Mustika Air Buaya Salju,” ejek Buaya Salju.
Buaya salju itu lalu menyerang dengan ganas ke arah Heilong. Dia langsung menggigit pedang Ocean Blue yang ada di tangan Heilong dan mematahkan pedang itu menjadi dua bagian.
“Kamu lihat sekarang! Aku sudah mematahkan pedangmu. Sekarang kau sudah tidak memiliki lagi senjata untuk menyerangku. Bersiaplah untuk menerima kematianmu,” ucap Buaya Salju menyeringai.
“Tinju Api Amarah.”
“Boom ...”
Tubuh Buaya Salju langsung terpental cukup jauh dan berhenti setelah menabrak sebuah tebing.
__ADS_1
Sebuah bola api tiba-tiba muncul dari arah samping dan menghantam tubuh Buaya Salju dengan cukup keras hingga membuat tubuhnya terpental.
“Kamu lagi manusia ...! Kenapa kalian para manusia selalu mengganggu kesenanganku.” ucap Buaya Salju geram.
Wong Ding yang sampai di tempat itu, segera menyerang Buaya Salju itu dengan jurus tinju elemen api miliknya.
“Tuan muda, sebaiknya anda kembali ke tempat Tuan Putri dan fokus untuk melindunginya. Buaya Salju ini sangat licik, aku takut dia tiba-tiba menyerang Tuan Putri saat kita semua sedang lengah,” ucap Wong Gie yang baru datang bersama empat orang yang lain.
“Baiklah.”
Heilong segera mengerti apa yang dimaksud oleh Wong Gie. Dia lalu kembali ke tempat Feng Tzuyu dan segera membuat perisai es yang sangat besar dan kuat.
**
Di dalam perisai es.
“Bai gege, apa kamu punya cara untuk menolong Kirin Es ini? Serangan tadi telah mengenai jantungnya. Aku takut dia tidak akan bisa bertahan jika lukanya tidak segera disembuhkan,” tanya Feng Tzuyu sambil memegangi tubuh Kirin Es yang lemas tak berdaya.
“Aku tidak mempunyai kekuatan seperti itu. Tapi jika kita bisa membawanya ke Makam Es Seribu Pedang tempat Divine Beast Genbu berada, mungkin saja dia masih bisa diselamatkan,” jawab Heilong.
“Kalau begitu kita harus segera membawa Kirin Es ini ke sana karena kita sudah tidak memiliki banyak waktu lagi,” ucap Feng Tzuyu.
“Tidak perlu. Luka yang ada di tubuhku ini sangat parah. Jika kalian membawaku ke Makam Es seribu Pedang yang jaraknya cukup jauh dari tempat ini, aku tidak yakin apakah aku masih akan tetap hidup saat sampai di sana. Namun, aku sangat berterimakasih karena kalian berdua telah berusaha menolongku,” ucap Kirin Es dengan suara lemas.
Kirin es lalu menatap Heilong. “Anak muda Apakah kamu mau membantuku membalas dendam? Aku tidak rela melihat Buaya Salju pembunuh anak-anakku itu masih hidup dengan nyaman. Jika kamu bersedia membantuku, maka aku akan menyerahkan tubuhku padamu.”
“Tubuhmu?! Memangnya apa yang bisa aku lakukan dengan tubuhmu? Lagipula aku lebih tertarik pada manusia dan aku juga sudah memiliki seorang kekasih. Saat ini kekasihku juga berada di sampingmu,” jawab Heilong sambil menatap Feng Tzuyu.
“Itu benar. Apa maksud anda berkata seperti itu?” Feng Tzuyu menatap Kirin Es dengan aneh.
“Hehe … Bukan seperti itu maksudku. Kalian berdua sepertinya salah paham. Aku tadi melihat pedang pemuda ini dihancurkan oleh Buaya Salju. Aku berniat untuk menyerahkan tubuhku sebagai pengganti dari pedangmu itu. Tubuhku ini sangat istimewa, jika dibuat menjadi sebuah senjata maka senjata itu akan menjadi senjata dengan kualitas terbaik. Jika aku menjadi pedangmu, maka kamu bisa menggunakanku untuk membunuh Buaya Salju itu. Dengan begitu dendamku juga akan terbalaskan,” jelas Kirin Es.
“Bai gege, ini adalah berita yang sangat bagus. Bukankah kamu saat ini juga membutuhkan sebuah pedang yang cukup kuat,” sahut Feng Tzuyu.
__ADS_1
“Aku setuju. Tapi bagaimana caranya membuatmu menjadi sebuah pedang dalam waktu singkat,” jawab Heilong.
Kirin Es lalu menatap Feng Tzuyu.