
Cuaca hari ini sangat cerah sehingga sama sekali tidak ada hambatan jika melakukan perjalanan melalui jalur udara. Gremlin terbang dengan kecepatan tinggi menuju ke Benua Timur karena dia juga bisa merasakan kegelisahan Tuannya.
“Guru, butuh waktu berapa lama untuk sampai ke Benua Timur?” tanya Lu Zhan.
“Seharusnya kita butuh waktu delapan jam jika melakukan perjalanan melalui jalur udara. Tapi saat ini Gremlin sedang menggunakan kecepatan penuhnya, seharusnya enam jam lagi kita sudah sampai di gerbang perbatasan Benua Timur,” jawab Heilong.
“Kalau begitu masih cukup lama,” ucap Lu Zhan.
“Memang masih lama. Istirahatlah dulu di punggung Gremlin. Bulu-bulu yang dimiliki Gremlin ini sangat nyaman jika di pakai alas untuk tidur,” balas Heilong yang sudah berbaring sejak tadi di atas punggung Gremlin.
Lu Zhan mengikuti saran Heilong untuk istirahat di atas punggung Gremlin karena saat tiba di Benua Timur, belum tentu dia bisa beristirahat dengan tenang.
Yang Zhu sudah memberitahu tahu pada Lu Zhan bahwa selain menjadi koki utama, dia juga akan mengelola restoran di Benua Timur karena Yang Zhu harus segera kembali ke Benua Selatan setelah restoran yang ada di Benua Utara di selesai di bangun.
Sedangkan untuk restoran yang ada di Benua Utara, dikelola oleh Wong Lei. Dia adalah satu-satunya yang masih hidup dari Wong bersaudara. Setelah mendengar kematian saudara-saudaranya, Wong Lei memutuskan untuk menetap di Benua Utara sambil menjaga makam dari kelima saudaranya yang gugur saat menolong Putri Feng Tzuyu.
**
Goa Kirin Tanduk Emas, Benua Atlantis.
Di istana milik Divine Beast Lambda, Xin Ye sedang berlatih keras untuk mengendalikan energi kegelapan yang ada di dalam tubuhnya di bawah pengawas kakak seperguruannya yaitu Nero.
“Xin Ye sekarang coba kau selimut seluruh tubuhmu dengan aura kegelapan yang memancar dari tubuhmu. Bayangkan bahwa energi kegelapan itu adalah sebuah baju pelindung yang akan menahan semua serangan dari musuhmu,” seru Nero memberi perintah.
__ADS_1
Xin Ye yang saat ini sedang berdiri sambil menutup kedua matanya, berkonsetrasi dengan keras untuk menstabilkan kembali aura energi kegelapan miliknya yang meluap-luap.
Setelah aura energi kegelapannya itu menjadi stabil, barulah Xin Ye bisa dengan bebas mengendalikan energi kegelapan itu seperti keinginannya. Xin Ye mengatur energi kegelapan yang memancar dari tubuhnya agar membentuk sebuah aura pelindung yang sangat tipis namun sangat kuat.
Aura energi kegelapan yang memancar dari tubuh Xin Ye, secara perlahan mulai menipis tapi warna auranya berubah menjadi semakin gelap. Dalam sekejap, aura kegelapan ini sudah menyelimuti tubuh Xin Ye dan berubah menjadi seperti baju perang yang berwarna hitam.
“Bagus. Kemampuanmu untuk mengendalikan energi kegelapan sekarang sudah sempurna. Tadinya aku pikir butuh waktu lebih dari satu minggu untuk mengajarimu, tapi kamu berhasil menguasai teknik ini hanya dalam waktu dua hari saja,” ucap Nero memuji Xin Ye.
“Ini semua berkat bantuan Kakak seperguruan yang telah menjelaskan tentang teknik ini padaku dengan bahasa yang mudah di pahami,” jawab Xin Ye.
Saat mengajari Xin Ye tentang teknik pengendalian energi kegelapan ini, Nero memang sengaja menggunakan berbagai macam perumpamaan yang mudah di pahami oleh manusia saat menjelaskan tentang teknik ini pada Xin Ye.
“Kerja bagus Nero. Tidak sia-sia aku memintamu untuk melatih adik seperguruanmu.”
“Guru, kenapa kau sudah kembali? Bukankah Guru mengatakan bahwa Guru membutuhkan waktu satu minggu untuk pergi ke Alam Dewa dan membuatkan senjata pusaka untuk Xin Ye,” tanya Nero terkejut saat melihat kedatangan Gurunya.
“Tadinya memang begitu rencananya tapi siapa sangka bahwa saat aku tiba di Alam Dewa, aku bertemu dengan sahabatku dan dia langsung memberiku bahan yang aku butuhkan untuk membuat senjata pusaka yang akan aku berikan pada Xin Ye. Dia juga membantuku untuk menempa senjata pusaka ini jadi waktuku menjadi lebih cepat karena aku tidak perlu mencari bahan ini dan menempa senjata pusaka ini sendiri,” jelas Divine Beast Lambda.
Divine Beast Lambda menatap Xin Ye lalu memanggilnya . “Xin Ye kemarilah.”
“Murid memberi hormat pada Guru,” ucap Xin Ye saat berada di depan Divine Beast Lambda.
Nero juga mengikuti gerakan Xin Ye karena dia ingat bahwa dia belum memberi hormat pada Gurunya. “Muridmu ini juga ikut memberi hormat pada Guru. Maafkan aku Guru karena aku tadi lupa untuk memberi hormat saat melihat Guru telah kembali.”
__ADS_1
“Kalian berdua berdirilah,” seru Divine Beast Lambda.
Divine Beast Lambda lalu mengeluarkan sebuah senjata pusaka berbentuk sebuah tongkat yang memiliki ujung berbentuk lingkaran. Di tengah-tengah lingkaran yang ada di ujung tongkat itu, terdapat sebuah teratai hitam yang melayang-layang tepat di tengah-tengahnya.
Divine Beast Lambda lalu memberikan senjata pusaka itu pada Xin Ye. “Ini adalah senjata pusaka yang telah aku janjikan sebelumnya. Terimalah!”
Xin Ye menerima senjata pusaka itu dengan kedua tangannya. “Terimakasih Guru. Aku berjanji bahwa aku akan berlatih dengan keras agar aku tidak membuat Guru kecewa.”
Divine Beast Lambda menjawab dengan anggukan kepala dan senyuman yang indah.
“Guru apakah senjata pusaka ini sudah memiliki nama?” tanya Xin Ye sambil memegang tongkat pusakanya.
“Senjata itu bernama Tongkat Teratai Hitam Nirwana,” jawab Divine Beast Lambda.
“Nama yang sangat bagus,” jawab Xin Ye tersenyum lebar.
“Teratai Hitam Nirwana. Nama ini seperti tidak asing bagiku. Tapi aku lupa di mana aku pernah mendengar nama ini,” ucap Nero mengerutkan kening sambil menundukkan kepala untuk mengingat di mana dia pernah mendengar nama Teratai Hitam Nirwana.
“Aku rasa kau pernah mendengar nama benda ini dari sahabatmu yaitu Penguasa Istana Teratai Putih karena Teratai Hitam Nirwana itu adalah pemberian dari Dewi Teratai Putih yang merupakan Cucu dari sahabatmu itu,” jawab Divine Beast Lambda.
“Sekarang aku ingat. Memang aku pernah mendengar nama ini dari dia saat dia berkunjung ke Pagoda Raja Api. Tapi sejak kapan Guru bersahabat dengan cucunya? Seingatku cucunya itu adalah roh yang secara tidak sengaja dia jumpai di Benua Atlantis,” tanya Nero penasaran.
“Beberapa tahun ini aku sering bepergian ke Alam Dewa karena tidak ada yang bisa aku lakukan di istana yang sangat sepi ini. Saat itu semua muridku telah menyelesaikan pendidikannya jadi aku hanya sendiri di istana yang sangat besar ini. Ketika di Alam Dewa itulah aku mulai bersahabat dengan Dewi Teratai Putih. Tapi aku juga tidak mengerti alasan kenapa dia mau memberiku Teratai Hitam Nirwana ini secara cuma-cuma karena aku tahu bahwa benda ini adalah benda pusaka dari Istana Teratai Putih yang di jaga dengan sangat ketat,” jawab Divine Beast Lambda.
__ADS_1