LEGENDA DEWA PEDANG

LEGENDA DEWA PEDANG
V1 # CH 79 PAVILIUN SAUNG BAMBU


__ADS_3

Heilong dan Yang Tzuyu menikmati sarapan yang dibuatkan oleh Lu Zhan dengan lahap.


Setelah mereka selesai sarapan, mereka berdua segera pergi ke tempat pembuatan senjata milik Keluarga Yang.


Jarak tempat itu kebetulan tidak begitu jauh dari Restoran Bulan Merindu, kira-kira hanya sekitar satu kilo meter saja.


Setelah dua puluh menit berjalan mereka berdua akhirnya sampai.


“Kita sudah sampai. Tempat ini adalah Paviliun Saung Bambu. Di sinilah tempat kami membuat senjata,” ucap Yang Tzuyu sambil menunjukkan bangunan dua lantai yang cukup besar di depannya.


“Bangunan ini lumayan besar,” ucap Heilong sambil mengamati tiap sudut bangunan dan tidak ada yang istimewa.


“Yuk kita masuk,” ajak Yang Tzuyu.


Mereka berdua lalu masuk ke dalam Pavilliun. Ketika melewati pintu masuk, sudah ada seorang gadis yang datang menyambut kedatangan Yang Tzuyu.


“Selamat pagi nona, apakah ada yang bisa saya bantu?” tanya gadis itu dengan ramah.


“Apakah kakakku ada di sini?” jawab Yang Tzuyu balik bertanya.


“Tuan Yang Shuo ada dia lantai dua. Beliau sedang mengecek laporan,” jawab gadis penjaga paviliun.


"Baiklah, aku akan langsung pergi ke lantai dua. Kamu tidak perlu mengantarku. Aku akan pergi ke sana bersama dengan temanku,” ucap Yang Tzuyu.


Yang Tzuyu segera naik ke lantai dua hanya dengan ditemani oleh Heilong. Di sepanjang jalan mereka melihat beberapa rak yang berisi perlengkapan dan senjata-senjata yang terbuat dari bambu.


“Tzuyu, kenapa di sini cuma ada senjata-senjata dari bambu saja?” tanya Heilong penasaran.


“Sebenarnya kami belum mendapatkan ijin untuk membuat senjata dari Kerajaan Green Tortoise, dengan kata lain senjata-senjata yang kami buat ini adalah ilegal karena itu kami tidak bisa memajangnya di etalase toko. Dan kami hanya bisa menyimpan senjata-senjata itu di gudang senjata saja. Senjata yang bisa kami pajang di etalase toko hanyalah senjata-senjata mainan yang terbuat dari bambu saja dan beberapa perlengkapan yang juga terbuat dari bambu karena itu tempat ini diberi nama Paviliun Saung Bambu,” jawab Yang Tzuyu.


“Di mana gudang senjata itu? Apakah gudang itu juga berada di lantai dua?” tanya Heilong.


“Tidak. Lantai dua adalah kantor sedangkan lantai satu adalah toko. Gudang senjata dan tempat menempa senjata kami ada di ruang bawah tanah,” jawab Yang Tzuyu.


Mereka berdua akhirnya sampai di lantai dua. Yang Tzuyu segera mengetuk pintu di ruangan yang paling besar di lantai dua.


"Tok ... Tok ... Tok ... Kakak apakah kamu ada di dalam?” Teriak Yang Tzuyu sambil mengetuk pintu.

__ADS_1


“Ya. Aku ada di sini. Masuklah pintunya tidak dikunci,” teriak Yang Shuo dari dalam ruangan.


Yang Tzuyu segera membuka pintu lalu masuk ke dalam bersama dengan Heilong.


“Apakah kedatanganku mengganggumu kak?” tanya Yang Tzuyu ketika melihat Yang Shuo sedang mengecek setumpuk laporan yang ada di atas mejanya.


“Tidak,aku sudah selesai mengecek semua laporan ini. Ngomong-ngomong ada apa kamu datang ke sini pagi-pagi dan pria di sampingmu itu siapa? Apakah pria itu adalah calon suamimu?” tanya Yang Shuo menggoda.


“Uhuk ... Uhuk ...” Yang Tzuyu terbatuk dan mukanya sedikit memerah. “Bukan, Pria ini bernama Long Bai dan dia sekarang adalah pemilik setengah dari saham Restoran Bulan Merindu. Ayah menyuruhku datang kemari untuk menunjukkan usaha kita yang lain karena sekarang dia bagian dari kita.”


“Apakah benar begitu? Tapi respon wajahmu menunjukkan hal yang sebaliknya. Sepertinya adikku sedang jatuh cinta. Haha …” ucap Yang Shuo sambil tertawa.


“Kakak berhentilah menggodaku. Kamu membuatku malu,” seru Yang Tzuyu dengan muka yang sudah memerah.


Yang Shuo berdiri dari tempat duduknya lalu berjalan menghampiri Heilong dan menepuk pundaknya. “Kamu mulai sekarang jagalah adikku baik-baik. Adikku yang polos ini jarang sekali keluar dengan laki-laki apa lagi jatuh cinta. Seluruh waktunya dihabiskan untuk mengelola restoran itu. Aku sampai takut kalau nanti dia akan menjadi perawan tua. Untungnya ....”


“Kakak ....!!” teriak Yang Tzuyu memotong perkataan Yang Shuo.


“Haha … Aku cuma bercanda,” ucap Yang Shuo dengan tawa terbahak-bahak setelah melihat wajah adiknya yang semakin memerah karena malu.


“Benar, namaku adalah Long Bai dan aku berasal dari Benua Timur,” jawab Heilong.


Yang Shuo mengulurkan tangan kanannya untuk berjabat tangan dan Heilong pun menyambutnya dengan senyum yang ramah mereka saling berjabat tangan.


“Selamat datang di bisnis Keluarga Yang kami. Namaku Yang Shou, aku adalah pengelola Paviliun Saung Bambu ini.” Yang Shuo memperkenalkan dirinya pada Heilong.


“Karena kamu sudah datang kemari, aku akan mengajakmu untuk melihat bengkel pembuatan senjata kami,” ajak Yang Shuo ramah.


Mereka bertiga lalu pergi ke ruang bawah tanah.


**


Hanya berjalan lima menit mereka sudah sampai di ruang bawah tanah.


“Ding ... Ding ... Teng ... Teng ...”


Suasana di tempat ini cukup berisik karena banyak pengrajin senjata sedang menempa senjata. Tapi, bukan itu yang membuat Heilong terkejut.

__ADS_1


Saat ini mata Heilong sedang tertuju pada suatu alat yang mirip dengan mesin pemotong. Selama ini dia berpikir bahwa di Planet ini belum ada teknologi tapi sepertinya dia salah.


“Alat itu namanya apa?” Long Bai menujuk mesin pemotong.


“Alat itu namanya mesin gerinda. Aku membelinya seharga seratus keping emas ketika aku berada di Benua Tengah,” Jawab Yang Shuo.


Heilong kembali berpikir, alat ini membutuhkan listrik untuk bergerak. Sedangkan selama dia berada di planet ini, dia belum menemukan adanya pembangkit listrik.


Namun setelah melihat mesin itu bisa beroperasi berarti Paviliun Saung Bambu ini memiliki listrik.


Heilong semakin penasaran dan akhirnya memutuskan untuk bertanya. “Bagaimana cara menjalankan alat itu?”


“Alat ini membutuhkan sebuah energi yang mirip dengan petir. Dan energi itu biasa disebut dengan nama Listrik,” ucap Yang Shuo.


Yang Tzuyu terus memperhatikan sikap Heilong yang mencoba untuk menyelidiki. Tapi, dia tidak menghentikannya karena dia menganggap itu hal yang wajar.


“Listrik?! Bagaimana cara kalian mendapatkan listrik?”


Jawaban Yang Shuo membuat Heilong menjadi semakin penasaran dan ingin terus menggali informasi tentang ini.


“Mari ikuti saya.”


Yang Shuo mengajak mereka berdua turun ke ruangan bawah tanah. Rupanya tempat ini memiliki ruang bawah tanah dua lantai.


Di lantai paling bawah, Heilong bisa melihat bahwa ruangan ini dibagi menjadi dua.


“Yang sebelah kanan adalah gudang senjata kami dan yang sebelah kiri adalah ruang listrik kami,” jelas Yang Shuo sambil menunjuk kedua ruangan itu secara bergantian.


Mereka bertiga lalu masuk ke ruangan sebelah kiri yang luasnya seperempat dari ruangan ini.


Saat Yang Shuo membuka pintu ruangan itu, Heilong bisa melihat bola-bola kristal berwarna ungu seukuran bola basket berjejer dengan rapi di tiap rak yang ada di ruangan itu.


Heilong memperhatikan dengan teliti setiap bagian ruang ini.


Di dalam ruangan ini ada sepuluh rak dan di tiap rak ada sepuluh bola kristal ungu, jadi totalnya tempat ini memiliki seratus bola kristal ungu. Dan di dekat masing-masing bola kristal ungu itu ada kabel yang menuju ke atas untuk mengalirkan listrik.


“Bagaimana cara bola-bola kristal ungu ini bisa menghasilkan Listrik,” tanya Heilong sambil menatap Yang Shuo.

__ADS_1


__ADS_2