
Prajurit itu langsung tertawa terbahak-bahak saat mendengar jawaban Heilong.
“Haha … Kau sangat lucu anak muda. Dengan tubuh seperti itu kau tidak akan kuat menjalani latihan menjadi seorang prajurit. Tubuhmu memang tidak terlalu kurus, tapi otot-otot tubuhmu masih kurang besar untuk menjadi seorang prajurit. Kau lebih baik fokus untuk menjadi koki saja agar bisa menggantikan kepala koki yang pemarah itu.”
Heilong menganggukkan kepalanya lalu menanyakan maksud kedatangan prajurit itu ke tempat ini.
“Apa sebenarnya tujuan anda datang ke dapur malam-malam begini? Apakah anda sedang mencari makanan? Seperti yang anda lihat sendiri, semua makanan yang ada di tempat ini sudah habis. Jika anda sabar menunggu, maka aku akan memasakkan beberapa makanan untuk anda.”
Prajurit itu langsung memberikan sebuah kertas yang bertuliskan daftar makanan pada Heilong.
“Bukan aku yang memesan makanan, tapi Tetua Shen Ai Zhi. Cepat kau panggil kepala koki karena makanan yang di pesan Tetua harus segera dihidangkan,” seru prajurit itu sedikit panik karena dia belum juga melihat kepala koki datang ke dapur ini.
Heilong melihat daftar makanan itu dan semua menu makanan yang ada di dalam daftar makanan itu adalah makanan kesukaan Long Yuyin. Heilong jadi ingat bahwa ibunya memiliki kebiasaan makan di malam hari karena dia biasanya melakukan latihan kultivasi saat bulan telah muncul.
“Tidak perlu menunggu kepala koki datang ke sini untuk membuat semua makanan ini. Semua makanan yang ada di dalam daftar menu makanan ini tidak terlalu rumit, aku bisa membuat semua makanan ini dalam waktu tiga puluh menit. Tapi kamu harus menunggu di sini sampai makanan itu selesai.”
Prajurit itu langsung menatap Heilong dengan tatapan sedikit aneh karena dia tidak bisa percaya dengan ucapan Heilong. “Apa kau serius bisa membuat semua makanan itu hanya dalam waktu tiga puluh menit? Semua makanan itu terdiri dari sepuluh macam menu makanan yang sangat terkenal di Benua Timur. Kepala koki saja butuh waktu dua jam untuk membuat semua makanan itu.”
“Aku tidak akan pernah mengatakan hal yang tidak bisa aku lakukan,” jawab Heilong sambil berjalan ke rak bahan makanan.
“Kalau begitu aku akan menunggu di sini dan menyaksikan sendiri kehebatanmu saat memasak,” ucap prajurit itu.
Prajurit itu kemudian berjalan di sebuah meja makan yang ada di sebelah kiri pintu masuk.
Heilong sudah tidak memperhatikan lagi prajurit itu karena dia sedang fokus memilih bahan makanan. Karena dia akan memasak untuk ibunya sendiri, maka dia sengaja memiliki bahan makanan yang paling bagus dan paling segar.
Heilong kemudian membawa semua bahan makanan itu ke sebuah meja yang sangat panjang dan mengelompokka semua bahan makanan itu menjadi tiga macam yaitu sayuran, buah-buahan dan rempah-rempah.
Setelah semua bahan itu tertata rapi di atas meja, Heilong segera mengeluarkan satu set Pisau Taring Singa yang ada di dalam gelang galaxy miliknya.
Prajurit langsung menatap pisau yang ada di tangan Heilong karena dia bisa merasakan tekanan energi yang cukup kuat memancar dari masing-masing pisau.
“Dari mana kau mendapatkan pisau itu? Pisau itu adalah pisau terbaik yang pernah aku lihat. Aura yang memancar dari pisau itu, tidak kalah dari aura yang memancar dari sebuah pedang pusaka.”
“Pisau ini adalah warisan dari Guruku. Pisau itu adalah Raja dari semua pisau masak yang ada di dunia ini. Anda akan segera mengerti dengan apa yang aku ucapkan setelah aku menunjukkan kehebatan yang dimiliki oleh pisau ini.”
__ADS_1
Heilong tidak bisa mengatakan dari mana dia mendapatkan pisau ini karena penyamarannya bisa saja terbongkar jika prajurit ini menyadari bahwa Heilong sebenarnya adalah seorang pendekar berilmu tinggi.
Heilong lalu mengambil pisau berelemen angin yang ada di dalam set Pisau Taring Singa untuk memotong semua bahan makanan ini.
“Swosh …”
Prajurit itu hanya melihat Heilong mengayunkan pisau yang ada di tangannya itu sebanyak tiga kali untuk memotong-motong semua bahan makanan itu sesuai bentuk dan ukuran yang dibutuhkan.
Prajurit yang melihat Heilong saat memotong bahan makanan ini hanya menatap Heilong dengan bengong sampai dia tidak sadar bahwa mulutnya terus terbuka selama menonton Heilong memasak.
Heilong lalu melemparkan potongan cabe ke mulut prajurit itu dan prajurit itu langsung tersadar dari lamunannya saat rasa pedas menyerang mulutnya.
“Hwaa … Panas … Eh pedas … Apa yang kau masukkan ke dalam mulutku koki muda? Kau ingin mati ya? Berani sekali kau mengerjai seorang prajurit!” seru prajurit itu geram.
“Silahkan kalau menyerangku jika kau ingin mendapatkan hukuman berat dari Tetua Shen Ai Zhi karena kau tidak bisa membawakan makanan yang dia inginkan. Lagipula aku juga tidak tahu kapan kepala koki akan kembali ke dapur,” jawab Heilong santai sambil tersenyum mengejek.
Prajurit itu langsung sadar bahwa bahwa saat ini dia sedang menunggu Heilong memasak. “Hehe … Maafkan aku koki muda, aku tadi secara refleks mengancammu karena aku sangat terkejut ketika mulutku di serang rasa pedas yang sangat luar biasa.”
“Tidak apa-apa, aku tadi memang sengaja memasukkan cabe ke mulutmu karena kau sedang melamun. Aku sudah membuatmu makanan ringan dan meletakkan makanan itu di depanmu. Tapi, saat aku memanggil namamu kau sama sekali tidak memberikan jawaban. Karena aku takut kau kerasukan iblis, maka aku sengaja memasukkan cabe api yang pedas ke mulutmu untuk menyadarkanmu,” ucap Heilong memberikan alasan yang terdengar sedikit masuk akal agar prajurit ini tidak marah.
“Hehe … Maafkan aku koki muda, aku sudah salah sangka terhadapmu. Ternyata kau adalah orang yang sangat baik. Kau tahu saja jika sebenarnya aku ini sedang lapar. Ngomong-ngomong apa nama makanan ini?” tanya prajurit itu kembali duduk di tempatnya.
“Itu adalah rujak manis. Kau pasti belum pernah memakan makanan ringan seperti itu. Aku jamin kau akan ketagihan setelah memakan itu karena rasa dari paduan buah buah segar yang disiram dengan saus gula pedas manis, akan membuatmu tidak bisa berhenti memasukkan makanan itu ke dalam mulutmu,” ucap Heilong.
“Kau cuma melebih-lebihkan rasa dari masakanmu. Aku tidak percaya ada makanan yang memiliki rasa seenak itu hingga membuat aku ketagihan,” balas prajurit itu tak percaya.
“Silahkan kau coba jika kau tidak percaya,” jawab Heilong santai lanjut kembali memasak.
Karena sangat penasaran dengan rasa makanan ini setelah Heilong menggambar bagaimana rasa dari makanan ini, prajurit itu langsung mengambil mengambil sebuah sumpit dan memasukkan salah satu potongan buah yang ada di dalam rujak manis itu ke dalam mulutnya.
Seketika dia seperti berada di tengah-tengah hutan yang ada di tengah pengunungan saat rasa segar dari buah bercampur rasa pedas manis dari saus rujak menyerang ke dalam mulutnya.
“Hwaa … Masakanmu benar-benar enak koki muda. Rasa masakan buatan koki tua itu jauh berada di bawahmu. Pantas saja dia tidak merasa khawatir saat meninggalkanmu sendirian di dapur ini,” ucap prajurit itu memuji Heilong.
“Anda terlalu memuji, baguslah jika anda suka dengan rasa masakanku. Silahkan anda lanjut menikmati makanan itu, aku akan lanjut memasak. Sepertinya Tetua Shen Ai Zhi sudah menunggu kedatangan masakan ini,” jawab Heilong yang mulai mengganti pisaunya dengan pisau elemen es karena dia ingin memotong daging ikan.
__ADS_1
“Silahkan koki muda.”
Prajurit itu sudah tidak lagi memperhatikan Heilong saat memasak karena sekarang dia sudah di sibukkan dengan beberapa makanan ringan yang sudah disajikan Heilong di atas mejanya.
Tanpa diketahui oleh prajurit itu, Heilong menyisipkan sebuah surat di bawah salah piring yang telah di susun rapi di atas sebuah nampan.
Heilong kemudian menyalakan tiga buah Kompor Batubara sekaligus untuk mempercepat proses saat dia memasak. Masing-masing kompor dia gunakan untuk fungsi yang berbeda. Yang satu dia gunakan untuk merebus, sedangkan yang satunya khusus dia gunakan untuk menggoreng. Dan yang terakhir yaitu kompor yang memiliki ukuran paling besar, dia gunakan untuk membakar daging ikan.
Heilong terus memasak dengan kecepatan tinggi, sampai-sampai prajurit itu terkadang tidak bisa melihat gerakan tangan Heilong. Tapi dia tidak berani bertanya karena takut mengganggu konsentrasi Heilong saat memasak. Lagipula dia bisa menanyakan hal ini nanti setelah Heilong menyelesaikan masakannya.
Waktu tiga puluh menit akhirnya selesai. Sesuai dengan yang telah dijanjikan, Heilong sudah selesai memasak sepuluh menu masakan pesanan Tetua Shen Ai Zhi. Seketika seluruh ruangan yang ada di dapur ini dipenuhi dengan masakan yang sangat harum dan menggugah selera.
“Koki muda, sebenarnya siapa Gurumu? Kemampuan memasak yang kau miliki ini sangat hebat. Bahkan aku bisa mengatakan bahwa tidak ada koki di Istana Giok Biru ini yang bisa menandingimu, termasuk si koki tua itu yang tiba-tiba bisa menjadi kepala koki di istana ini,” tanya prajurit itu.
Heilong diam sejenak untuk memikirkan alasan yang tepat karena jika sampai dia salah bicara, maka penyamarannya akan terbongkar. Setelah terdiam selama satu menit, Heilong akhirnya menemukan sebuah jawaban yang sangat masuk akal.
“Guru adalah Master Xiao Heifeng, Dia adalah kepala koki di istana Blue Dragon,” jawab Heilong dengan nada penuh keyakinan agar prajurit itu tidak curiga.
“Master Xiao Heifeng?! Pantas saja kemampuan masakmu begitu hebat. Ternyata kau adalah murid dari legenda masak Benua Timur,” ucap prajurit itu terkejut.
Heilong hanya tersenyum saja ketika mendengar ucapan dari prajurit ini karena dia sebenarnya sama sekali tidak terlalu dekat dengan koki ini. Dia tanya beberapa kali bertemu dengan koki ini saat berkunjung ke tempat Kakeknya.
“Tapi ada kenapa kau malah pergi ke tempat ini dan mau menjadi asisten dari pak tua itu? Padahal kemampuan memasak yang dia miliki, jauh berada di bawahmu. Masa depanmu akan lebih cerah jika kau mengikuti Gurumu dengan menjadi seorang Koki muda di Kerajaan Blue Dragon,” lanjut prajurit itu bertanya.
“Seorang murid tidak akan pernah bisa menunjukkan kemampuan aslinya jika dia tetep berada di bawah perlindungan Gurunya. Itulah alasan kenapa Guruku memintaku datang ke tempat ini. Guruku akan membawaku ke Istana Blue Dragon, jika aku berhasil menjadi kepala koki di Dapur Istana Giok Biru,” jawab Heilong tegas.
“Sangat masuk akal. Kalau begitu aku akan mengantar makanan ini ke tempat Tetua Shen Ai Zhi,” ucap prajurit itu sambil mengambil nampan yang sudah di siapkan Heilong di atas meja,” ucap prajurit itu dengan semangat karena dia sudah bisa membayangkan bahwa Tetua Shen Ai Zhi akan memberinya hadiah jika makanan ini berada di hadapannya.
“Tunggu!! Biarkan aku sendiri yang mengantar makanan ini pada tetua Shen Ai Zhi. Ini adalah kesempatanku untuk memperkenalkan diri sehingga jalanku untuk menjadi seorang kepala koki akan menjadi semakin lancar,” seru Heilong menahan prajurit itu.
“Aku bisa mengerti maksud dari keinginanmu itu. Tapi kamar Tetua Shen Ai Zhi saat ini dijaga ketat oleh prajurit Istana Blue Dragon. Siapapun tidak diijinkan masuk ke sana kecuali atas perintah Tetua Shen Ai Zhi. Tapi kau tenang saja, aku akan memberitahu Tetua Shen Ai Zhi tentang kemampuan memasakmu.”
Prajurit itu langsung pergi dari dapur sambil membawa nampan berisi makanan yang dimasak Heilong.
“Untung saja aku sudah menulis sebuah surat rahasia untuk ibu. Ibu pasti akan segera memanggilku setelah dia membaca surat itu,” gumam Heilong lirih setelah dia melihat prajurit itu pergi dari dapur.
__ADS_1