
“Guru Xue Yun tolong kamu bawa Xue Xiang ke ruang pengobatan. Kamu jangan terlalu khawatir karena dia hanya mengalami kehabisan energi saja,” ucap Xue Xian Hou.
Xue Xian Hou kemudian mengeluarkan sebuah botol obat yang pernah diberikan oleh roh senjata mahkota dewi es saat dia sedang terluka parah di dalam Makam Es. Xue Xian Hou mengeluarkan sebutir pil dari botol itu lalu dia berikan pil itu ke Guru Xue Yun.
“Pil ini adalah pil ginseng es musim dingin. Setelah meminum ini, semua energi es yang hilang dari tubuh Xue Xiang akan pulih dengan sangat cepat dan kondisinya akan pulih besok pagi.”
Guru Xue Yun langsung menerima pil itu lalu memasukkan pil itu ke dalam mulut Xue Xiang. “Terimakasih Master Sekte, sekarang saya akan membawa Xue Xiang ke ruang pengobatan agar dia bisa beristirahat dengan nyaman.”
Guru Xue Yun langsung membawa pergi tubuh Xue Xiang masuk ke dalam Istana Suci Giok Salju bersama dengan ke-empat muridnya yang sudah menunggu di depan pintu gerbang sekte.
Xue Xian Hou menatap para Guru pembimbing yang masih ada di sana. “Kalian semua masukkan ke dalam dan ajaklah para murid untuk makan malam. Jangan lupa beri pengertian pada para murid bahwa apa yang mereka lihat barusan itu bukanlah hal yang berbahaya karena sekarang energi es yang ada di tubuh Xue Xiang sudah di segel oleh Divine Beast Genbu.”
“Apakah Master Sekte tidak ikut makan dengan kami?” tanya Guru Xue Ling.
“Malam ini aku akan menghabiskan malamku di bukit yang ada di belakang Istana kita. Di sana aku akan mengobrol dan makan bersama dengan Divine Beast Genbu dan juga Kakekku yang sudah lama tidak aku temui,” jawab Xue Xian Hou.
“Baik Master Sekte.”
Semua Guru pembimbing itu pergi meninggalkan Xue Xian sendirian di depan pintu gerbang sekte tanpa banyak bertanya lagi dan langsung menuju ke lantai dua untuk memimpin para murid makan malam.
__ADS_1
**
Bukit belakang istana Giok Salju.
Heilong mengeluarkan pisau taring singanya dan menaruh semua pisau itu dia atas sebuah meja yang ada di dapur sebuah rumah yang dibangun oleh Xue Xian Hou untuknya.
Heilong langsung memotong sayuran-sayuran dan buah-buahan yang di petiknya sendiri dari kebun yang ada di rumah iyo itu dengan sangat cepat. Hanya dengan beberapa kali ayunan pisau taring singa berelemen angin, semua buah-buahan dan sayur-sayuran itu sudah terpotong dengan rapi dan memiliki ketebalan yang sama.
“Sepertinya masih ada yang kurang. Aku sama sekali tidak menemukan daging di tempat ini. Seperti Hou'er juga lupa untuk memasukkan daging di dalam lemari penyimpan bahan makanan yang ada di dapur ini. Apakah stok daging naga yang ada di cincin galaxyku masih ada ya,” gumam Heilong saat berpikir sambil melihat sayur dan buah-buahan yang baru di potongnya di atas meja.
Heilong segera memeriksa cincin galaxynya, akhirnya dia menemukan hanya ada sepotong daging paha Naga saja yang tersisa. Tapi sepotong daging paha Naga ini sudah lebih-lebih jika hanya dimakan lima atau enam orang saja.
Setelah itu Heilong memanaskan sebuah panci yang berisi air lalu memasukkan daging Naga itu bersama dengan bumbu rempah-rempah untuk membuat soto.
Sambil menunggu soto itu matang, Heilong membuat rujak dari sisa buah dan sayuran itu. Tidak butuh waktu lama dia sudah membuat enam piring rujak yang sangat enak hingga aroma bumbu kacangnya bisa membuat perut menjadi lapar.
“Soto itu masih sekitar lima belas menit lagi baru matang. Lebih baik aku membuat minum dulu.”
Heilong kemudian mengambil enam buah kelapa muda dan memotong bagian atas kelapa itu lalu menaruh semua air kelapa itu ke dalam sebuah panci. Kemudian dia mengambil sebuah panci lain untuk merebus Jahe Phoenix dan juga Ginseng Api Merah yang dia dapat saat dia berkunjung di Benua Selatan.
__ADS_1
Setelah rebusan jahe dan ginseng itu mendidih, dia kemudian memasukkan air rebusan itu ke dalam panci yang berisi air kelapa muda dan mencampurnya. Heilong sengaja tidak merebus air kelapa muda ini karena kelapa muda ini adalah jenis kelapa salju yang akan hilang khasiatnya jika airnya di rebus.
Soto daging Naga yang dia masak, akhirnya matang setelah kurang lebih tiga puluh menit. Dia kemudian menyiramkan soto itu ke atas piring yang berisi rujak yang telah dia buat.
Setelah itu, Heilong pergi mengambil keenam batok kelapa muda tadi, lalu memasukkan air campuran air kelapa muda dan rebusan jahe dan ginseng ke dalam batok kelapa.
“Guru, Xue Lian kalian berdua mau ikut makan di luar atau makan di sini?”
Heilong sengaja bertanya pada Li Ziqi karena dia tahu kebiasaan Gurunya yang tidak suka makan dengan orang yang belum dia kenal.
Li Ziqi dan Dao Xue Lian langsung keluar dari Dunia Jiwa Heilong setelah mendengar Heilong membuatkan makanan untuk mereka berdua.
“Kami berdua makan di sini saja, lagi pula mereka semua belum tentu bisa melihat kami berdua karena hanya orang-orang tertentu saja yang bisa melihat kami selain kamu, akan aneh jadinya jika orang itu nanti melihat sendok bergerak sendiri,” jawab Li Ziqi.
Heilong langsung meletakkan dua porsi makanan berserta minuman di atas sebuah meja makan yang ada di samping dapur. Sedangkan yang empat porsi lagi, dia bawa ke luar rumah untuk di makan bersama-sama di atas meja yang ada di halaman rumah.
Dao Xue Lian langsung duduk di kursi yang ada di meja makan dan memegang sendok yang susah di sediakan Heilong.
“Kakak, apakah dia benar-benar bisa memasak? Bukankan di kehidupan yang sebelumnya, Li Xuan sama sekali tidak bisa memasak. Dia hanya pandai bermain pedang dan membuat obat,” tanya Dao Xue Lian sambil mencoba mencicipi makanan yang ada didepannya.
__ADS_1
“Saat kebangkitan kami berdua, sepertinya sebagian keahlian yang kami miliki telah tertukar. Sekarang, aku sama sekali tidak memiliki keahlian untuk memasak tapi aku memiliki keahlian untuk membuat obat. Padahal kau tahu sendirikan bahwa dulu saat masih menjadi Dewi Xi Shi, aku sangat pandai memasak bahkan kau yang dari bangsa iblis juga mengetahui keahlian memasak yang aku miliki. Aku juga sudah bertemu dengan beberapa bagian dari reinkarnasiku dan aku melihat bahwa mereka semua juga tidak bisa memasak. Mungkin ini semua terjadi karena Dark Etheroz mengganggu proses kebangkitan kami tapi untung saja hanya dua keahlian itu saja yang tertukar,” jawab Li Ziqi.