
Akhirnya Heilong bisa melihat aura yang memancar dari tangan kiri Li Ziqi setelah dia memusatkan konsentrasinya sehingga semua indra yang ada di tubuhnya berada dalam kondisi puncaknya.
Aura itu memiliki bentuk yang sangat mirip sekali dengan pedang yang sebelumnya di pegang oleh Li Ziqi. Namun, Heilong juga bisa merasakan bahwa aura itu membawa tekanan yang sangat menakutkan.
“Bagaimana aura yang ada di tangan kiri Guru bisa menyerupai sebuah pedang?! Apakah Guru memiliki kemampuan untuk merubah sebuah senjata menjadi aura?” tanya Heilong terkejut sambil membelalakkan matanya.
Heilong seakan-akan tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Dia beberapa kali mengusap matanya untuk memastikan bahwa yang dilihat saat ini bukanlah sebuah ilusi. Sebab, Ini adalah pertama kalinya dia melihat aura seseorang yang mirip sekali dengan sebuah pedang.
“Jangan-jangan itu adalah sebuah ilusi,” tambah Heilong menyangkal ucapannya sendiri. Padahal Li Ziqi belum memberikan jawaban.
Li Ziqi langsung menatap Heilong dengan dingin dan menggerakkan tangan kirinya ke arah lengan kanan Heilong.
Seketika luka goresan memanjang langsung muncul di lengan kanan Heilong. Aliran darah mulai menetes dengan perlahan dari lengan kanan Heilong bagaimana tetesan air dari dedaunan yang tersapu embun.
Heilong segera memegangi luka itu dengan tangan kirinya. Meskipun luka itu sama sekali tidak terasa sakit, tapi dia harus tetap menghentikan pendarahan dari luka itu. Sebab, luka dari goresan pedang aura milik Li Ziqi itu ternyata cukup dalam.
“Apakah kau masih berpikir bahwa pedang aura yang ada di tanganku ini adalah sebuah ilusi? Aku tidak sama sepertimu yang suka menggunakan ilusi untuk menyerang musuhnya,” ucap Li Ziqi tersenyum menyeringai.
Heilong akhirnya percaya dengan apa yang dilihatnya meskipun hal itu sangat mustahil untuk dilakukan oleh seorang kultivator. Sebab, dia belum pernah melihat ada kultivator di Planet Dreamland yang menggunakan teknik seperti itu.
Jika jurus yang mendekati dengan pedang aura, Heilong pernah melihatnya yaitu jurus selendang es milik Xue Xian Hou. Tapi Xue Xian Hou harus tetap menggunakan perantara suatu benda untuk menggunakan jurus itu yaitu sebuah selendang yang biasa melingkar di tubuh indahnya.
“Bagaimana Guru melakukan itu? Apakah itu adalah sebuah sihir?” tanya Heilong memburu karena penasaran.
__ADS_1
“Sihir?! Jangan konyol. Apakah kau melihatku membaca sebuah mantra? Teknik yang aku gunakan ini adalah murni dari aura yang memancar dari tubuhku. Bukan sebuah energi yang aku pinjam melalui sebuah mantra sihir,” jawab Li Ziqi yang membuat Heilong semakin penasaran.
“Ajari aku, Guru. Jurus itu akan sangat berguna bagiku saat bertarung dengan tangan kosong. Lagipula dalam sebuah pertempuran, aku tidak akan mungkin selalu memegang sebuah senjata karena setiap lawanku pasti akan berusaha menjatuhkan senjataku terlebih dahulu,” ucap Heilong sedikit memohon.
“Mengajarimu teknik ini adalah suatu hal yang mudah. Tapi jurus ini memiliki tingkat bahaya yang sangat besar ketika kau mulai mempelajari teknik ini,” jawab Li Ziqi.
“Bahaya seperti apa itu?” balas Heilong.
“Teknik ini membutuhkan pemahaman hukum pedang tingkat tinggi. Dan saat kau mulai mempelajari tentang hukum pedang, rohmu akan seperti ditusuk oleh ribuan pedang. Apakah kau sanggup menahan siksaan seperti itu?” jawab Li Ziqi sambil menatap mata Heilong karena dia ingin mengetahui seberapa besar tekad Heilong untuk mempelajari teknik ini setelah mendengar penjelasan Li Ziqi.
Ternyata tekad Heilong sama sekali tidak goyah walaupun dia telah mendengar bahwa rohnya akan dihujani oleh ribuan pedang. Matanya semakin menyala-nyala yang membuktikan tekad malah menjadi semakin kuat.
Li Ziqi lalu membuat sebuah ukiran di atas permukaan sebuah batu dengan menggunakan pedang aura yang ada di tangan kirinya.
...Aura adalah sebuah energi yang bergerak bebas bagai angin namun memiliki tekanan sekuat ombak....
...Pedang adalah sebuah kekuatan penghancur yang mampu membelah apapun dan mengguncang langit....
Heilong terus memperhatikan tulisan yang terukir dipermukaan batu itu dengan penuh konsentrasi sambil mengucapkannya secara perlahan agar dia lebih mudah memahami maksud dibalik setiap kata yang terukir di permukaan batu itu.
Tanpa terasa, Heilong mulai tenggelam dalam pemahamannya dan merasakan dirinya terlempar di alam semesta yang sangat luas.
Alam semesta ini dipenuhi dengan bintang-bintang yang memiliki bentuk seperti sebuah pedang dengan berbagai macam warna yang mewakili elemen masing-masing bintang.
__ADS_1
Heilong merasa takjub dan tak percaya dengan sesuatu yang tersaji di depan matanya saat ini. Dia merasa bahwa dirinya sekarang berada di alam ilusi yang tercipta dari ukuran yang telah dibuat Li Ziqi.
Bintang-bintang itu saling bergerak tak beraturan di depan Heilong dan saling menghancurkan satu sama lain.
Heilong akhirnya mendapat pencerahan ketika dia melihat bintang-bintang itu saling berbenturan satu sama lain. Yaitu pemahaman tentang kalimat 'Pedang adalah sebuah kekuatan penghancur yang mampu membelah apapun dan mengguncang langit.'
Sebab, ketika pedang itu saling berbenturan, kedua bintang itu langsung terbelah menjadi dua karena memiliki ketajaman dan kekuatan yang sama-sama kuat. Dan guncangan dari benturan kekuatan mereka membuat langit seakan-akan terbelah.
Heilong akhirnya mengalihkan pandangannya ke arah lain setelah dia mendapatkan pencerahan karena ada sebuah bintang yang membuatnya tertarik. Sebab, hanya bintang itu saja yang tetap diam di tempatnya dan memiliki warna yang paling indah.
Heilong lalu terbang mendekati bintang itu tanpa rasa takut sedikitpun. Meskipun jalan yang harus dia lewati dipenuhi dengan bintang-bintang pedang yang saling bertarung satu sama lain.
Dia akhirnya sampai di bintang itu dan berhasil berdiri di pusat bintang yang berbentuk seperti bagian pembatas antara bilah dan gagang pedang. Di sana ada sebuah batu prasasti kuno yang memiliki bentuk dan warna tulisan seperti yang telah diukir oleh Li Ziqi, namun dengan bahasa yang berbeda.
Heilong sama sekali tidak bisa membaca satupun kalimat yang ada di permukaan batu itu karena bahasanya terlalu aneh. Dan ada beberapa huruf yang sudah hilang karena termakan oleh waktu.
Heilong akhirnya memutuskan untuk meletakkan tangannya di atas permukaan batu prasasti itu karena dia melihat ada bekas tangan seseorang yang menempel di permukaan itu.
Batu prasasti tiba-tiba mengeluarkan cahaya yang sangat menyilaukan mata dan membuat arah dari semua bintang yang ada di sana menjadi berubah.
Sekarang, semua bintang berbentuk pedang itu mengarah ke tempat Heilong berdiri dan siap untuk menyerangnya.
Mungkin inilah yang dimaksud oleh Li Ziqi dengan bahaya yang akan dia alami ketika mempelajari hukum pedang.
__ADS_1