
Mendengar kata es krim, mata Zena kembali berbinar. Bagaimanapun, dia sangat menyukai es krim, bahkan sewaktu masih ada Dave disampingnya, Dave selalu memberikan es krim padanya setiap hari. Tapi saat melihat ekspresi suaminya, Zena berniat untuk berpura-pura menolak.
"Tidak mau, aku mau nya nasi goreng, tidak mau es krim" ujar Zena ketus sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
"Tapi ini sudah pagi sayang, katanya kita mau datang ke acara pernikahan Dave,"
"Aku juga sangat lelah, dan kamu harus beristirahat, agar kita tidak telat datang ke acara Dave,"
Zena kembali berfikir, dia membenarkan ucapan suaminya, "Baiklah, aku akan meminta es krim ku besok setelah acara Dave selesai,"
"No, setelah kembali ke Indo, besok kita akan melakukan penerbangan setelah selesai dari acara Dave," jawab Steven serius
"Aku tidak mau mas, jangan sesuka hati membawaku pergi, bagaimana dengan mas Riski, aku takut dia akan mencelakaiku lagi," jawab Zena merebahkan tubunya.
"Riski tidak akan mencelakaimu lagi sayang, karena--" ucapan Steven terhenti, dia ragu untuk membicarakan bahwa Riski sekarang terbaring dirumah sakit karena pertengkarannya dengan Leo.
Leo yang mengetahui bahwa Zena, putri kesayangannya dipaksa menikah dengan Riski yang masih berstatus anak tirinya pun tiba-tiba emosinya langsung memuncak, setelah ikatan ditangannya terlepas, Leo mengambil pistol milik Putra dan menembaknya tepat mengenai dekat jantung Riski.
Melihat Riski masih sadar dan berusaha mengambil senjatanya, Leo langsung menghajar habis Riski.
Putra yang melihatpun emosi pada Leo, dia berusaha melerai Ayah tirinya dari kaka tersayangnya.
Seakan tuli karena sudah terbakar emosi, Leo mendorong Putra, dan membentur tembok sampai tidak sadarkan diri.
Anak buah Riski datang disaat semuanya telah selesai, Steven yang masih berada di tempat kejadian, segera menjelaskan kesalahpahaman yang dilihat anak buah Riski, dia menjelaskan jika penyebab Riski adalah Leo bukan dirinya.
Leo sudah berhasil kabur lebih dulu. Dan sampai sekarang, tidak ada yang tahu dimana keberadaan Leo. Dan Riski dinyatakan koma.
"Karena apa mas?"
"Apa kamu tahu tentangku waktu itu?" tanya Zena penasaran.
Steven menghembuskan nafasnya kasar, dia membaringkan tubuh istrinya ke ranjang, "Sudahlah, aku pastikan pria gila itu tidak akan mengganggumu lagi, sekarang tidurlah...," ujar Steven mengusap punggung tangan istrinya.
Ke esokan harinya...
__ADS_1
Tepat di pukul 10 pagi, mereka sudah siap dengan pakaian yang formal. Acara pernikahan Dave akan digelar pukul 12 siang, dan masih ada waktu 2 jam untuk melakukan perjalanan.
"Mas, kira-kira Dave menikah dengan siapa?" tanya Zena pada Steven saat sudah berada di dalam mobilnya, dengan posisi Jeff yang menyetir.
"Aku juga tidak tahu sayang, aku juga tida terlalu mengenal Dave," ujarnya menarik tubuh Zena kedalam pelukannya, sambil sesekali mengecup pucuk kepala istrinya dengan sayang.
"Mas, kamu benar-benar sudah berubah?" tanya Zena sekali yang masih heran.
"Menurutmu?"
"Aku takut, kamu berubah hanya untuk beberapa hari saja, atau beberapa bulan, atau-atau hanya di negara ini saja, agar aku mau pulang denganmu. Setelah aku ikut pulang bersamamu, sikapmu akan berubah kembali." ujar Zena menarik tubuhnya yang berada di pelukan suaminya.
"Maafkan aku, memang kesalahanku sangat fatal dan mungkin tidak bisa di maafkan, tapi... aku benar-benar ingin berubah, aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan kedua darimu" jawab Steven yang menarik lagi tubuh istrinya agar jatuh kedalam pelukannya .
"Aku masih tidak percaya dengan ucapan manismu itu mas,"
"Dan lepaskan aku, jangan peluk-peluk aku, manti make up ku berantakan,"
"Kalau tidak percaya, ya sudah... aku tidak akan memaksamu, lihat saja bukti yang akan kuberikan," ujar Steven enteng, dia engga melepaskan pelukannya dari istrinya.
"Apa ini yang dinamakan cinta?"
"Cinta buta, yang tidak memandang situasi atau kondisi? apa mereka tidak tahu, disini ada jiwa jomblo yang meronta- ronta? atau mereka memang sengaja membuat hatiku panas," gumam Jeff dalam hati yang sesekali melirik majikannya di kaca spion mobil.
Ekhemm....
Jeff berdehem, dia benar-benar merasa seperti tidak dianggap di dalam mobil.
Mendengar deheman dari Jeff, membuat Steven yang tengah mengucapkan rayuan maut pun terhenti. Bersusah payah Steven merangkai kata sampai tak tidur, hanya untuk membuat hati istrinya berbunga-bunga, dan itu semua di kacaukan oleh anak buahnya yang baperan.
"Ada apa Jeff, apa tenggorokanmu bermasalah lagi," tanya Zena saat mendengar deheman dari Jeff.
"Bermasalah? memangnya apa yang terjadi pada Jeff sayang?" tanya Steven mengkerutkan keningnya.
"Oh, itu mas, semalam... Jeff waktu makan nasi goreng, dia lupa membeli minum. Dan nasinya berhenti di tenggorokan,"
__ADS_1
"Lalu? "
"Aku beri saja botol minum yang ada di meja dekat sofa, bukankah itu botol minummu mas?" tanya Zena yang diangguki Steven, tapi semenit kemudian wajah Steven berubah memerah.
Melihat perubahan wajah Steven yang memerah membuat Jeff tak berani menatap bossnya, dia sangat merutuki kebodohannya kali ini.
"Haduh, aku fikir Nyonya lupa dan tidak akan memberitahukan pada Tuan masalah botol minum yang semalam," gumam Jeff dalam hati
"Hahaha... " tawa Steven menggema di dalam mobil membuat Jeff dan Zena heran,
Jeff fikir tuannya akan marah, dan Zena fikir suaminya sudah sedikit gila karna tanpa angin dan hujan tiba-tiba suaminya tertawa renyah.
"Mas, kenapa kamu tertawa...,".
"Apa ada yang lucu?" tanya Zena penasaran.
"Ada sayang, dan aku yakin... jika kamu mendengar ini, pasti kamu akan tertawa, hahaha," ujar Steven di sela tawanya.
"Apa?" tanya Zena penasaran.
Dan wajah Jeff sudah pucat, perasaannya berkata bahwa botol minuman itu tidak beres,
"Kamu yakin memberikan botol itu pada Jeff" tanya Steven sekali lagi yang diangguki Zena.
"Iya, sangat yakin mas, kalau tidak percaya tanya saja pada Jeff" jawab Zena, ekor matanya melirik Jeff sekilas.
"Benar Jeff?" tanya Steven memastikan.
"Be-benar Tuan, memangnya ada apa dengan botol minuman itu Tuan?" tanya Jeff juga penasaran,
"Hahaha, sayang... kau minta maaflah pada Jeff, karena didalam botol itu bukan berisi air matang yang siap minum. Air di dalam botol itu sudah habis aku minum, aku sengaja mengisi botol itu dengan air kran. Dan aku berniat untuk membuang botol itu setelah selesai makan," ujar Steven tertawa terbahak-bahak.
"A-apa maksud Tuan?" tanya Jeff yang belum mengerti.
"Hei! kau tidak tahu ya, banyak luka lebam di wajahku, aku sengaja mengisi botol itu dengan air dingin untuk mengompres lebam di wajahku, karena tidak ada baskom di rumah sakit ini. " ujar Steven menjelaskan secara detail pada anak buahnya.
__ADS_1
Bersambungš