Partner Ranjang Om Duda

Partner Ranjang Om Duda
Episode 124_3 bulan kemudian


__ADS_3

"Itu hak saya!" ketus dokter Riyan.


"Silahkan anda pergi!" sambungnya lagi.


"Oh baiklah, jika dokter berani bermain-main dengan saya, maka saya akan membuat konten yang berisi jika dokter itu bersekongkol dengan keluarga pasien yang bernama Riski untuk membunuhnya," ucap Sheila tersenyum mengejek saat melihat ekspresi dokter Riyan yang terpaku.


Merasa menang, Sheila berjalan dengan angkuhnya. Tapi baru tiga langkah, Sheila menghentikan langkahnya karena ucapan dokter Riyan yang menusuk hatinya.


"Karir anda sudah hancur, Anda tidak bisa mengancam saya!" ujar dokter Riyan membalas senyuman Sheila.


"Apa! apa kau bilang!" pekik Sheila memutar tubuhnya, tangannya sudah mengepal erat, "Karirku belum hancur!" sambungnya lagi.


"Lalu apa? diambang kehancuran?" ejek dokter Riyan membuat Sheila semakin emosi.


"Mau apa hah!" tanya dokter Riyan saat Sheila mencengkram kerah bajunya.


"Aku akan membunuhmu sekarang juga!" pekik Sheila keras.


"Silahkan saja, lalu rekan saya akan melaporkan anda kepolisi untuk menangkap anda,"


"Tidak ada bukti!"


"Di ruangan ini terdapat CCTV" ujar dokter Riyan mengarahkan ekor matanya pada pojok ruangannya.


Glek,


Sheila melepaskan cengkramannya kasar, "Dok! bantu aku ... apa dokter tega, membiarkan Riski mati ditangan pria tua seperti itu!" ujar Sheila dengan lembut.


"Saya yakin, dokter masih mempunyai hati nurani," sambungnya lagi membuat dokter Riyan tersenyum simpul.


"Pergilah, jangan ganggu saya yang sedang bekerja," titah dokter Riyan.


"Ta-tapi dok, saya mohon,"


"Pergi, atau saya panggilkan security untuk mengusir Anda!" seru dokter Riyan membuat Sheila mau tak mau beranjak pergi dari ruangan dokter Riyan.


Hari demi hari Sheila berkunjung ke rumah sakit tempat Riski di rawat, dan sudah 3 bulan Riski belum juga ada perkembangan.


"Jika dalam dua hari ini pasien tidak ada perkembangan, maka saya dengan terpaksa akan melepas alat bantu yang berada di tubuh pasien," ujar dokter Riyan kepada Sheila saat berada di ruangan Riski.


"Ta-tapi dok, dua hari waktu yang sangat cepat, coba dokter beri waktu seminggu lagi. Saya pastikan dia akan sadar," jawab Sheila yang sedang berpura-pura menjadi suster di rumah sakit.


"Bapak Leo sudah sepakat, dan beliau juga sudah menandatangani surat dari rumah sakit. Saya sebagai dokter sudah bekerja keras untuk membangunkan pasien," ujar dokter Riyan.


"Kalau begitu, kita pergi sekarang sebelum ada yang mengenali kamu!" sambungnya lagi.


"Baik dok, tapi tunggu sebentar," titah Sheila, dia mendekatkan wajahnya ke telinga Riski.

__ADS_1


"Cepat sembuh, ingat hartamu! dan kasihan adikmu tidak ada yang mengurusnya!" bisik Sheila tepat di telinga Riski.


"Cepat!" ujar dokter Riyan saat melihat Sheila yang berbisik sesuatu pada pasiennya.


"Sabar, dokter gila!" ketus Sheila berjalan menuju dokter Riyan.


***


"Mas, aku pengin," ucap Zena saat mereka sudah di dalam kamarnya.


"Pengin?" ulang Steven menggelengkan kepalanya.


"Iya," jawab Zena mengatupkan kedua tangannya, "Please!" sambungnya lagi.


"Untuk hari ini kita libur dulu," ujar Steven merebah tubuh istrinya di ranjang empuk.


"Mas, please ... aku mohon Mas, bukan aku yang menginginkan tapi anak kita," ucap Zena sekali lagi.


"Tidak sayang, setiap hari kita melakukannya. Dan malam ini, aku menginginkan kamu beristirahat lebih awal," jawab Steven tak ingin dibantah.


"Mas, hiks ... hiks ...,"


"Mas, ayolah ... please!" ujar Zena menggoyangkan tubuh suaminya.


Steven menghembuskan nafasnya kasar, "Baiklah, tunggu Rio tidur. Kita tidak bisa melakukannya jika Rio belum tidur," jawab Steven yang mengecup kening istrinya, "Aku akan keluar dan memastikan, apakah Rio sudah tidur atau belum. Seharusnya dia sudah tidur," sambung Steven yang di angguki Zena.


"Iya sayang,"


Di luar kamar, Steven menghembuskan nafasnya kasar, dia benar-benar tidak habis fikir dengan istrinya. Sudah hampir sebulan ini tingkat hasraaat istrinya tinggi.


"Jeff, apa Rio sudah tidur?" tanya Steven saat melihat Jeff keluar dari kamar anaknya.


Jeff menoleh lalu menganggukan kepalanya, "Sudah Tuan," jawab Jeff menghampiri Tuan mudanya.


"Apa ada yang bisa saya bantu?" sambungnya lagi.


"Jeff, aku heran dengan istriku," curhat Steven sambil mendudukan bokongnya di sofa lantai dasar.


"Memangnya kenapa dengan Nyonya?"


"Bukankah Nyonya baik-baik saja. Akhir-akhir ini bukankah Nyonya sangat manja kepada Tuan?" tanya Jeff.


"Ish kau ini, bukan masalah itu. Ini masalah orang dewasa Jeff!" gerutu Steven menepuk samping sofa agar Jeff duduk.


"Biar saya ambilkan dulu minuman untuk Tuan," ujar Jeff


"Baiklah, aku memang sedang menghindari istriku,"

__ADS_1


"Dan cepat, bawakan minum beserta cemilannya," ujar Steven yang di angguki Jeff.


"Baik Tuan," jawab Jeff beranjak pergi meninggalkan Steven yang sedang melamun..


"Aku sangat senang saat melihat istriku merengek seperti itu. Tapi sudah hampir sebulan dia selalu merengek meminta, aku takut akan berakibat buruk pada calon anak-anakku," gumam Steven dalam hati, dia memijat pelipisnya pelan.


"Ini Tuan, saya buatkan teh hangat beserta biskuit untuk Tuan," titah Jeff meletakkan nampan yang berisi minuman juga cemilannya.


"Letakan saja, dan sekarang dengarkan curhatanku. Aku tidak bisa memendam ini sendirian," ujar Steven membuat Jeff penasaran, dia duduk di hadapan Tuan nya.


"Silahkan Tuan, saya siap menjadi pendengar yang baik untuk Tuan,"


"Jeff, aku ada sedikit masalah dan masalah ini sangat susah di pecahkan,"


"Kau pasti tidak bisa memberikanku solusi," ujar Steven menyeruput teh hangatnya.


"Memang masalah apa Tuan?"


"Bukankah Tuan bilang ini hanya sedikit masalah?"


"Iya sedikit masalah, dan ini masalah sepele, tapi aku bingung harus menceritakan darimana dulu," ujar Steven memakan biskuitnya.


"Ah Tuan, jangan membuat saya penasaran, sebenarnya masalah apa? dan saya janji, saya akan membantu Tuan," kesal Jeff karena Steven membuatnya penasaran.


"Masalahnya adalah--" ucapanya terhenti saat Steven mendengar teriakan istrinya dari lantai tiga.


"Mas! Mas Steven," pekik Zena mencari keberadaan suaminya.


"Haduh Jeff, lebih baik kita bicara di teras halaman, jangan sampai istriku tahu jika kita sedang mengobrol di sini," titah Steven, "Bawa minuman juga cemilannya Jeff, dan cepatlah!!" seru Steven berjalan menuju teras rumahnya.


"Baik Tuan," jawab Jeff tergesa-gesa.


"Mas! Mas Steven!" pekik Zena, tubuhnya terasa lelah saat keluar dari lift nya, "Di mana Mas Steven, aku cari di kamar Rio tidak ada. Apa mungkin Mas Steven sedang di ruang kerjanya?" gumam Zena yang berjalan menuju ruangan kerja suaminya.


Tokk ... Tokk ...


"Mas Steven?" ucap Zena membuka pintu ruangan kerja suaminya, "Tidak ada Mas Steven," sambungnya lagi saat ekor matanya tidak melihat batang hidung suaminya.


"Kemana dia!" kesal Zena menutup pintu ruang kerja suaminya keras.


...Hay gaes, mohon dukungannya ya, ...


...yuk like, komen, favorit, vote dan hadiah🎁...


...Terimakasih...


Bersambung😘

__ADS_1


__ADS_2