
"Sudah aku peringatkan berulang kali, untuk tidak menjelaskan semuanya sementara waktu. Biarkan kesalahpahaman ini berlarut dan tidak menimbulkan masalah baru. Tapi ... kenapa, kamu tetap memberitahukan semuanya," ujar dokter Riyan frustrasi.
"Memangnya kenapa, dok? Aku memang takut dibenci olehnya, tapi setidaknya ... dia tahu alesanku, kenapa aku tidak bisa membelanya di malam itu," jawab Irma bangkit dari duduknya, "Ya sudah, aku pergi dulu," lanjutnya lagi.
"Tunggu!" cegah dokter Riya memegang pergelangan tangan rekan kerjanya, "Jika, kamu mengatakan bahwa ... sekarang perasaan mu lega, lantas mengapa, wajahmu terlihat masam?" tanya dokter Riyan berdiri dan memandang teman wanitanya.
"Emm-- memang wajahku terlihat masam?" tanya dokter Irma menangkup kedua pipinya, "Mungkin, aku kelelahan,"
"Terus, kenapa ... tadi, aku melihatmu menangis?" tanya dokter Riyan, "Jangan berbohong, katakan sejujurnya. Aku sudah mengenalmu lama, dan kita sudah seperti sahabat," lanjutnya lagi.
Irma tersenyum lalu menghamburkan dirinya di pelukan pria di hadapannya, "Dia membenciku ... hiks ...," ucap Irma, "Dia bahkan tidak mau di sentuh olehku, padahal aku sudah meminta maaf padanya," sambung Irma menumpahkan isi hatinya.
"Jangan menangis," dokter Riyan mengusap punggung temannya, 'Sebenarnya, dia bukan pria yang kamu cintai, dia adalah kembarannya. Seharusnya, kamu menuruti semua perintahku. Aku tidak mau ... kamu mendapatkan masalah baru, tapi ... sekarang, nasi sudah menjadi bubur, semuanya sudah berakhir,' batin dokter Riyan.
"Apa yang harus aku lakukan untuk menebus kesalahanku agar dia tidak marah padaku," ujar Irma melepas pelukannya. Di bersihkan sisa air mata yang mengalir di pipinya.
"Jangan membencinya," jawab dokter Riyan, "Jangan pernah membencinya, karena--"
"Karena apa? Aku tidak pernah membencinya, tapi dia yang mungkin membenciku," jawabnya pasrah.
"Dari pada menangis tidak jelas, dan semua orang menatapku dengan tatapan yang menusuk, lebih baik ... kembalilah bekerja, aku tidak mau semua orang berburuk sangka padaku," ucap dokter Riyan mengalihkan pembicaraan.
Irma langsung melihat kondisi sekitarnya. Ternyata benar, apa yang dikatakan temannya, banyak pasien yang menatapnya dengan tatapan tajam ke arah dokter Riyan.
"Maafkan aku, teman. Aku tidak bermaksud untuk mempermalukanmu. Ya sudah, aku kembali ka ruang kerjaku, terimakasih sudah mau mendengarkan curhatan hatiku," jawab Irma berjalan meninggalkan dokter Riyan sendiri.
***
Setelah sampai di depan rumah Tuan mudanya, tiba-tiba Jack dikejutkan dengan kehadiran sosok wanita yang sangat dibencinya. Karena wanita itu, Tuan nya sudah seperti orang yang kehilangan arah.
"Di mana Tuan?" tanya Jack pada pria yang menjabat sebagai sekertaris Steven.
"Tuan sedang pergi mengantarkan Tuan kecil Rio," jawab Nanda menghentikan jarinya yang sedang menari di papan keyboard.
__ADS_1
"Lalu Nyonya?"
"Ikut dengan Tuan."
"Lalu, kenapa kalian diam saja? Seharusnya, kalian mengusir wanita itu!" ucap Jack menutup laptop sekertaris Nanda.
"Kau! Kenapa kedatanganmu selalu membuatku kesal. Aku sedang menyelesaikan laporan keuangan minggu ini," gerutu Nanda membuka laptopnya lagi.
"Hei, aku bertanya denganmu, kenapa ... tidak ada yang mengusir wanita itu!" ulang Jack menjatuhkan bokongnya di dekat sekertaris Nanda dengan mata menatap tajam wanita yang sedang menikmati sarapan paginya di meja makan.
"Nyonya meminta kami agar tidak mengusir wanita itu. Dan kami hanya mengikuti perintahnya. Tuan juga menyuruh kami, untuk memantaunya," jawab sekertaris Nanda.
"Apa! Berarti Nyonya sudah tahu, siapa dia?" pekik Jack, "Lalu, bagaimana reaksi Nyonya? Apa dia memaki, mengumpat atau menjambak rambut wanita ular itu," tanya Jack penasaran membuat sekertaris Nanda tidak fokus dalam mengerjakan laporannya.
"Huh!" sekertaris Nanda membuang napasnya lalu menutup laptop, sebelumnya berkasnya sudah dia simpan, "Tidak ada perkelahian yang seperti kau bayangkan, Nyonya menyambut wanita itu dengan baik. Bahkan mereka sempat berbincang," jawab sekertaris Nanda.
"Really? Kau tidak berbohong kan? Bagaimana mungkin mereka berdamai?"
"Jika tidak percaya, tanyakan saja pada Fahri dan lainnya," ketus sekertaris Nanda, "Baiklah, jika kau sudah datang, maka ... di saat itu juga aku harus pergi. Banyak perkerjaan kantor yang belum aku selesaikan."
"Tugasmu menjaga Nyonya dan Tuan kecil Rio dari serangan ular berbisa itu. Jangan pernah membiarkan Nyonya berbicara berdua dengan ular itu, kau tahu kan ... apa maksud ucapanku?" ujar sekertaris Nanda yang diangguki Jack.
"Pergilah, aku akan menjaga rumah ini dari ular itu. Dan aku membutuhkan mereka semua, untuk mengawasinya."
"Ambilah, aku memang sengaja membawa mereka kemari untuk membantumu. Dan kenapa, kau datang terlambat? Bukankah seharusnya kau tiba di bandara pagi ini?" tanya sekertaris Nanda.
"Ada urusan penting yang tidak bisa aku tinggal."
"Oh baiklah,"
***
"Mas membohongiku!"
__ADS_1
"Aku tidak membohongimu sayang, aku benar-benar tidak tahu, jika dia akan datang," jawab Steven meraih tangan istrinya menggunakan tangan kirinya, karena tangan kanannya digunakan untuk menyetir mobil.
"Aku benci pembohong Mas, Mas bilang tidak selingkuh,ternyata semalam Mas bertemu dengan mantan istrimu itu. Oh ... atau mungkin, Mas sering bertemu dengannya di belakang aku?" tuduh Zena menarik tangannya, pandangannya menatap pepohonan pinggir jalan.
"Sayang, aku bersumpah! Aku bertemu dengannya semalam, sewaktu aku membelikan martabak untukmu. Tapi, semua itu karena tidak di sengaja. Aku tidak mungkin, mengkhianatimu dengan wanita ular itu," jawab Steven menurunkan kecepatan gasnya.
"Lalu, kamu akan mengkhianatiku dengan wanita macam apa Mas? Bukankah dia cantik, Sexy, dan pastinya pintar dalam hal dewasa. Atau jangan-jangan selama ini, kamu selalu menghindar dariku karena wanita itu! Kau benar-benar jahat Mas! jahat!" pekik Zena memukul lengan suaminya.
"Sayang, kendalikan emosimu. Aku sedang menyetir, lebih baik ... kita pulang dan selesaikan semuanya di rumah," rayu Steven memegang tangan istrinya.
"Oh, kamu mau kita pulang, karena ada wanita itu kan Mas! Mengaku saja, apa susahnya mengaku mas!"
'Astaga, kenapa semuanya menjadi rumit seperti ini,' batin Steven.
"Ucapanku semuanya benar Mas!" tanya Zena tak percaya saat tidak mendengar jawaban dari suaminya, "Ya sudah, setelah anak kita lahir, aku akan kembalikan kamu pada mantan istrimu. Kalian bisa hidup bahagia tanpa ada orang ketiga sepertiku," sambung Zena yang sudah emosi.
Ciiittt ...
Steven menghentikan mobilnya mendadak. Dia meremas stir mobilnya lalu mengontrol emosinya.
"Sayang, aku tidak mau. Aku tidak mencintainya," jawab Steven meraih tangan istrinya.
"Lalu, kenapa kamu diam saja Mas? Apa karena kamu kasihan padaku? Atau, karena ... aku sedang mengandung anakmu?" tanya Zena menarik tangannya tapi Steven memegangnya dengan erat.
'Jangan emosi, ingat ... Zena sedang hamil, dan dia wanita yang kamu cintai. Jangan sampai dia kabur seperti dulu, aku tidak mau kehilangannya lagi,' batin Steven tersenyum.
"Apa diam berarti benar?" tanya Steven menarik tubuh istrinya kedalam pelukan.
"Lepas Mas!"
Hay gaes, yuk mampir yuk ke karya baru aku.
Judulnya "Istri Diatas Ranjang"
__ADS_1
Bersambungš