
"Kondisi Jack saat ini baik-baik saja, dia hanya mendapatkan sedikit luka di bagian wajahnya dan tubuhnya," jawab dokter Riyan, "Bagaimana kondisi Jeff, Tuan?" tanya dokter Riyan saat tidak melihat Jeff.
"Aku tidak tahu, dia pergi setelah memukul Jack. Bagaimana dengan dokter Irma? apa dia baik-baik saja?" tanya Steven meminta dokter Riyan untuk duduk.
"Dokter Irma mengalami shock berat, dia sempat pingsan saat mengetahui Jeff memukul kembarannya sampai tak sadarkan diri," ucap dokter Riyan mengambil kursi di dekat ranjang Zena, "Kita akan mendapat masalah baru, Tuan. Kakak dari Irma tidak mungkin diam saja, saat melihat adik tersayangnya di sakiti apalagi sampai hamil dengan pria lain," sambung dokter Riyan lagi.
"Jika Kakak dari dokter Irma itu meminta pertanggungjawaban. Maka, aku akan meminta Jack untuk bertanggungjawab," jawab Steven lirih.
"Bagaimana dengan Jeff? aku tidak bisa membayangkan jika Jeff melihat wanita yang dicintainya bersanding dengan kakaknya sendiri di pelaminan," ujar dokter Riyan yang merasa iba pada nasib Jeff yang malang.
"Nasi sudah menjadi bubur. Anggap saja, mereka tidak berjodoh,"
"Jika Kakak dari Irma sudah mengetahui semuanya sebelum Jack sadar, kau bisa hubungi aku. Aku tidak mau keluarga ku di cap sebagai keluarga tidak bertanggung jawab," ujar Steven di setujui oleh dokter Riyan.
"Baik, kalau begitu saya pemisi dulu. Dan saya sudah menghubungi OB, mungkin sebentar lagi mereka datang sambil membawa box bayi milik anak anda," ujar dokter Riyan beranjak dari tempat duduknya.
***
Di dalam ruangan Jack, Irma yang baru saja tiba di ruangan Jack pun meremas erat selimut yang menutupi tubuh Jack. Air matanya mengalir deras, kebohongan yang dilakukan Jack membuatnya masuk ke dalam jurang permasalahan yang begitu dalam.
"Kenapa! kenapa kau tega melakukan semua ini. Bagaimana nasibku sekarang? aku ... aku tidak mau menikah denganmu, walaupun wajah dan seluruh postur tubuhmu sama dengan Mas Jeff, tapi hanya Mas Jeff, pria yang aku cintai,"
"Aku harus bagaimana? Mas Jeff sudah marah besar denganku, dan semua itu karena mu, dasar pria brenggsseek!"
"Aku sangat membencimu, jika membunuh tidak berdosa, aku akan membunuhmu sekarang juga!" ujar Irma, tubuhnya merosot ke lantai, tangannya berulang kali mengacak-acak rambutnya.
Drt ...
Drt ....
Di saat Irma sedang menangis tersedu-sedu, tiba-tiba ponselnya berdering, dengan segera Irma merogoh dan melihat nama di layar ponselnya.
"Mas Al," gumam Irma, tangannya gemetar.
__ADS_1
"A-aku tidak bisa mengangkat telfon dari Mas Al, aku tidak mau menambah masalah baru," sambungnya lagi.
Drt ...
Drt ....
Ponselnya berdering kembali, membuat Irma mau tak mau mengangkat panggilan dari kakaknya. Sebelum menggeser tombol hijau di layar ponselnya, Irma menghapus air matanya dan menetralkan suaranya.
"Hallo Mas?" ucap Irma setelah tersambung dengan Kakaknya.
"Ibu menanyakan keberadaan mu, seharusnya jam sekarang, kau sudah kembali ke rumah?"
"Maaf Mas, aku lembur. Pasienku sangat banyak, kemungkinan besar, aku tidak pulang ke rumah," jawab Irma meneteskan air matanya.
"Ir, ada apa denganmu?" tanya Al saat mendengar isak tangis dari adiknya.
"Memangnya ada apa denganku Mas? aku lelah Mas," jawab Irma, "Aku masih ada beberapa pasien, aku sudahi dulu, ya Mas! nanti aku telfon balik," ucap Irma kemudian mematikan panggilannya sepihak.
'Aku tidak bisa menceritakan semuanya padamu, Mas! aku tidak mau menambah masalah baru lagi. Biarkan aku menghilang sesaat sampai keadaan benar-benar stabil,' batin Irma kemudian bangkit dan menghapus air matanya.
***
"Sayang, apa kau suka dengan pemandangan negara ini?" tanya Leo setelah sampai di kamar hotelnya.
"Hem ..."
"Aku akan pulang besok, Mas!" ujar Sheila membuat Leo terkejut.
"Jangan becanda, kita baru saja sampai, dan kau ingin kembali? bahkan kita belum mengelilingi kota ini, sayang ...," ujar Leo mengusap pundak Sheila.
"Mas, please! aku ada kerjaan dengan teman-teman ku. Aku harus bersikap profesional, aku tidak bisa seenaknya mengabaikan pekerjaan ku ini," rayu Sheila menepis tangan pria paruh baya itu.
"Mulai sekarang, aku tidak akan mengizinkan mu bekerja, aku akan memberikan semua yang kau mau. Jadi, mulai sekarang ... berhentilah bekerja, bila perlu ... aku yang bicara dengan teman-teman mu," jawab Leo mengejutkan Sheila.
__ADS_1
'Ish, pria tua, jika harta yang sekarang kau nikmati adalah harta pribadimu, aku akan memikirkan tawaran itu, tapi ternyata semua hartamu bukan milikmu. Dan mungkin dalam waktu beberapa hari kemudian, kau akan terkena serangan jantung, karena tiba-tiba menjadi miskin,' batin Sheila berjalan dan menjatuhkan bokongnya di tepi ranjang.
"Aku tidak bisa Mas, aku dan teman-teman ku merintis ini dari nol. Dan aku tidak bisa tiba-tiba keluar, tolong hargai keputusanku, Mas!" jawab Sheila.
"Kenapa tidak bisa, aku bahkan bisa memberikan uang yang jumlahnya 5 kali lipat dalam jumlah gaji mu itu, sayang," ucap Leo.
'Cih, sombong sekali kau! Kita lihat saja nanti, setelah semuanya berakhir, apa kau bisa berbicara seperti ini lagi. Atau kau akan menangis dan meminta ampun karena tidak mau di masukan penjara?' batin Sheila terkekeh, 'Aku benar-benar tidak sabar melihat masa-masa itu terjadi,' sambungnya lagi.
"Sayang, kau mendengarkan ku, kan?" tanya Leo menjatuhkan bokongnya di samping kekasihnya, "Aku sudah bicara dengan putraku, setelah kita beristirahat, kita akan menemuinya, dan aku akan memperkenalkan mu pada putraku, lebih tepatnya putra kita."
"Terserah mu saja Mas, aku mau istirahat. Bisa tinggalkan aku sendiri di sini?"
"Istirahat lah, aku akan membersihkan diriku terlebih dahulu," ujar Leo melepas kemeja yang dikenakan.
"Tunggu Mas!" cegah Sheila.
"Jangan bilang, kamu pesan kamar--"
"Iya, aku sengaja memesan 1 kamar untuk kita," potong Leo yang sudah bertelanjang dada.
'Tidak ada yang sempurna. Tubuhnya tidak seperti Riski, walaupun dia menyebalkan, tapi mencium aroma parfumnya saja, aku sudah bahagia. Oh Tuhan, kenapa tiba-tiba aku memikirkannya,' batin Sheila mencari ponselnya yang berada di tas.
"Mas, aku akan keluar dan memesan kamarku sendiri. Aku tidak mau sekamar denganmu," ucap Sheila membuat langkah Leo terhenti.
"Mengapa? bukankah kita sudah biasa melalui malam-malam bersama?" tanya Leo.
"Aku sedang menstruaassi. Aku takut jika malam hari, daraahku tembus dan mengganggu tidurmu. Karena baunya sangat amis" ujar Sheila mengambil tas dan berjalan menuju pintu kamar Leo.
"Aku tidak keberatan." jawab Leo.
"Tapi, aku yang keberatan Mas, aku tidak mau mengganggu tidurmu!" ucap Sheila membuka pintu kamar Leo.
"Baiklah, malam nanti aku yang akan tidur denganmu," ucap Leo lirih.
__ADS_1
Bersambungš