
Steven yang sedang berdansa di atas panggung pun tak mendengar nada dering di ponselnya, karna ponsel Steven sengaja dia matikan untuk menenangkan hatinya dari Zena
"Sayang, apa kau merasa senang?" Tanya Sheila disela dansanya
"Kau tahu, temanku hari ini akan melakukan siaran langsung untuk kita, bagaimana? Apa kau sudah siap mempublikasikan hubungan kita ke jenjang yang serius" Sambung Sheila yang menatap wajah Steven
Steven menghentikan pergerakannya lalu melepaskan tangannya yang melingkar dipinggang ramping Sheila membuat semua mata yang sedang menatap mereka terkejut, bisik-bisik dari teman-teman Sheila pun mulai terdengar di telinga wanita yang sedang menatap Steven
"Aku tidak bisa Shei, maafkan aku tapi aku benar-benar tidak bisa membawamu kedalam hubungan yang lebih serius, karna aku sudah mempunyai wanita yang aku cintai, kau boleh memberitahukan pada publik kalau kau kekasihku, tapi untuk hubungan yang lebih serius aku tidak bisa" Jawab Steven yang hendak pergi tapi lengannya sudah di pegang erat Sheila
"Sayang, kau becanda bukan? Apa kau benar-benar tidak serius padaku? dan siapa wanita itu? jangan becanda sayang,!" Bisik Sheila yang mendekat kepada Steven, wajahnya dia benamkan di punggung Steven agar terkesan lebih romantis dimata teman-temannya
"Jangan membuatku malu sayang, ingat ini pesta temanku " Sambung Sheila yang mengeratkan pelukannya dari belakang
Steven mengedarkan pandangannya, dia melihat sosok pria yang sedang mengawasinya masih duduk dipojok dengan gelas ditangannya
"Kenapa dia masih disana, apa benar dia sedang mengawasiku? dan kenapa dia bisa masuk kedalam pesta ini" Gumam Steven dalam hati, dia kemudian memutar tubuhnya dan menatap Sheila
"Ingat shei, jika kau masih ingin hidup mewah dengan uangku, maka turuti saja perintahku, kau hanya boleh mengakui aku di depan media bahwa aku kekasihmu, dan kita bisa bersikap mesra setiap saat, tapi jika kau tetap memaksaku untuk melanjutkan hubungan ini ke jenjang serius, aku tidak bisa dan aku akan menutup semua aksesku untuk karirmu, kau boleh fikirkan itu semua,"
"Baiklah, aku akan menuruti semua ucapanmu sayang"
"Okeh, aku akan mentransfer uang ke rekeningmu, bersenang-senanglah dengan temanmu, sekarang aku harus kembali ke kantor karna ada beberapa urusan yang belum aku selesaikan" Ujar Steven saat melihat jam dipergelangan tangannya sudah menunjukkan pukul 2 siang
"Terimakasih sayang, aku akan tetap disini sampai pesta ini berakhir lalu bersenang-senang dengan temanku menggunakan uangmu" UcapSheila lalu mencium bibir Steven di atas panggung membuat semua orang yang melihatnya heboh, apalagi kini Zena juga sedang melihat adegan ciuman itu di ipad milik Rio, Rio yang baru saja kekenyangan akhirnya tertidur saat Zena menceritakan dongeng untuknya
"Mereka benar-benar jahat! " Geram Zena, dia meremas ipad yang dipegangnya
"Ingin sekali aku pergi dari tempat terkutuk ini tapi bagaimana caranya, aku bahkan sudah menandatangani surat itu, surat yang mengatakan kalau aku akan menjadi istri pria jahat itu selamanya. " Gumam Zena, lalu pandangannya tertuju pada Rio
"Sayang, mommy harap, setelah kamu besar nanti jangan pernah mengikuti jejak Daddymu yang kejam, kau harus bisa menghargai perasaan wanita" Ujar Zena lalu mencium kening Rio dan merebahkan tubuhnya disamping Rio,
Di dalam mobil, Jeff melihat Steven keluar dari hotel dan sedang mencari keberadaan mobilnya
"Tuan! " Titah Jeff yang menyembulkan sedikit kepalanya agar Steven dapat melihat dirinya dan tak lupa dia melambaikan tangannya ke udara
__ADS_1
Melihat Jeff melambaikan tangannya, Steven langsung menuju mobilnya.
"Ayo kita pulang Jeff" Ujar Steven saat dia sudah masuk kedalam mobil
"Baik Tuan,"
"Oh iya, Tuan kenapa ponsel anda tidak aktif, saya sudah beberapa kali menelfon anda, karna-" Ucapannya terputus saat Steven memotongnya
"Aku mematikannya, aku tidak mau ada yang mengangguku di dalam hotel, memangnya ada apa? " Tanya Steven yang merogoh sakunya dan mengambil ponselnya, dia kemudian menyalakan ponsel tersebut, alangkah terkejutnya saat banyak notif panggilan dari Jeff dan telfon rumah
"Jeff, apa ada masalah dirumah? Kenapa kau dan orang rumah menelfonku? "
Jeff menarik nafas dalam-dalam lalu mengeluarkannya perlahan "Maaf Tuan, saya mendapatkan kabar dari Riki bahwa Nyonya sakit"
Deg!
"Sakit? " Ulang Steven
"Sakit apa Jeff! Kenapa kau tak memberitahukan ku dari tadi hah! kenapa!!! kau kan bisa masuk dan menemuiku dihotel! Kenapa kau- ahh bodoh! bodoh! bodoh!!" Steven melempar ponsel milik Jeff yang berada di dashboard keluar mobil
"Tu-tuan! itu ponsel saya! " Seru Jeff yang melihat ponselnya terlempar kejalanan
"Cepat pulang kerumah!! " Geram Steven, dia berusaha menelfon rumah tapi tak ada yang mengangkatnya dan dia mencoba menghubungi Rio lewat ipad yang diberikan sekertarisnya tapi tetap tak bisa, membuat Steven khawatir dan menyuruh Jeff menancap gas full
"Cepat Jeff!! " Pekikan Steven yang cemas membuat Jeff yang sedang meratapi nasib ponselnya terkejut,
"Ini sudah cepat Tuan, bahkan kecepatan ini diatas rata-rata, jika ada polisi yang melihatnya kita akan kena tilang Tuan" Jawab Jeff yang memperlihatkan kecepatannya pada Steven
"Bodoh! Istriku lebih penting daripada tilang! Cepat! Aku tidak mau terjadi sesuatu kepada istriku!
"Jika terjadi sesuatu kepada istriku maka orang yang pertama aku bunuh adalah kau! " Ancam Steven lagi
"Sa-saya? Tapi saya tidak melakukan kesalahan apapun Tuan, bukanya Tuan yang melakukan kesalahan padaku, bagaimana nasib ponselku Tuan, itu ponsel belum lunas, saya membelinya dengan kredit"
"Hei!! Kau berani melawanku hah! "
__ADS_1
"Cepat bodoh! aku bisa membelikan ponsel jadul seperti itu 10 kali lipat jika aku mau! "
"Tapi Tuan tidak mau" Gerutu Jeff yang masih bisa di dengar Steven
"Kau! Kau benar-benar ingin mati Jeff" Steven langsung mengeluarkan pisau kecilnya yang selalu dia bawa di dalam saku jasnya membuat bulu kuduk Jeff berdiri merinding
"Ti-tidak Tuan, maafkan saya, saya belum mau mati Tuan" Ujar Jeff yang langsung menancapkan gas lebih kencang agar sampai lebih cepat
Akhirnya setelah berdebat di sepanjang jalan, mobil Steven mulai memasuki halaman rumahnya, Steven membuka pintu mobil dengan cepat membuat Jeff yang sedang melepaskan sabuk pengamannnya mengaga
"Bagaimana keadaan istriku! " Ujar Steven saat bi sari menyambut kepulangan Tuan mudanya
"Nyonya baik-baik saja, dan sekarang nyonya sedang dikamar Tuan kecil Rio" Jawab bi sari
"Oh! Jeff bilang dia sakit" Ujar Steven yang mengontrol gesturnya agar tidak terlihat cemas di mata bibi
"Itu kesalahpahaman saja antara Nyonya dan Tuan kecil Rio"
"Ya sudah, bibi silahkan kembali bekerja" Ujar Steven,
Saat melihat bibi pergi, Steven langsung berlari menuju liftnya, bohong jika dia tak cemas dengan istrinya
Ting..
Lift terbuka, Steven keluar dari lift dan menuju kamar putranya,
Krek, pintu dibuka pelan oleh Steven, nafasnya begitu lega saat melihat istri dan putranya tidur saling memeluk,
Perlahan Steven masuk dan menutup pintu, dia berjalan menuju dua sosok yang dia sayangi
"Apa kau sakit hem? " Steven berjongkok lalu mengusap pipi Zena yang semakin kurus, Steven melihat dari ujung kaki sampai rambut istrinya,
"Apa kau benar-benar tersiksa hidup denganku? Sampai-sampai tubuhmu menjadi sekurus ini dan-" Steven menjeda ucapannya "Dan wajahmu yang kusam dengan mata sembabmu,"
"Jika membunuhmu adalah kebahagiaan untukmu, maka aku tidak bisa mengabulkan itu, aku menyayangi kalian"
__ADS_1
"Kalian bersabarlah, aku janji aku akan memberikan kebahagiaan untuk kalian" Gumam Steven menatap nanar wajah istrinya yang kusam karna tak pernah dirawat
Bersambungš