
Pipi Irma terasa pedas saat dirinya mendapatkan tamparan keras dari ibunya, "Siapa yang mengajarkanmu menjadi pembunuh, hah! Siapa!" tanya Ibu Irma.
"Maafkan, aku Bu!" ucap Irma menunduk.
"Nak Riyan, maafkan kelakuan anak tante, ya. Bagus, jika kamu dan Irma sudah tidak mempunyai hubungan," ucap Ibu Irma pada Riyan.
"I-iya tante. Tapi, lebih baik ...tante jangan bersikap seperti itu pada Irma, karena bagaimana pun dia korban," ujar Riyan.
"Korban atau tidaknya, anak ibu tetap bersalah. Tidak pantas seorang wanita mabuk-mabukan, apalagi dia seorang dokter!"
"I-iya Tante. Kalau begitu, aku pamit. Ada beberapa pasien yang sudah menungguku," ucap Riyan menghampiri Irma dan ibunya.
"Bolehkah, Irma masuk bekerja? dia juga harus bersikap profesional terhadap pekerjaan," sambung Riyan kembali.
"Boleh ya, Bu? aku tetap harus bekerja. Aku mempunyai beberapa pasien, aku tidak mau dipecat," timpal Irma mengatupkan kedua tangannya di depan dada.
"Masuk kamar!" titah Ibu Irma dingin.
"Tapi Bu, bagaimana dengan pekerjaanku?"
"Tante, jika berkenan. Aku akan menjaga Irma di rumah sakit, dan tante bisa percayakan aku. Aku berjanji, akan memantau Irma, karena kebetulan ruang praktek kami saling berdekatan," ucap Riyan tersenyum kemudian menganggukkan kepala saat Ibu Irma menatapnya, "Tante, bisa percayakan saya," sambungnya lagi.
"Baiklah, tapi Ibu mohon ... jaga Irma dengan baik, jangan sampai dia melakukan kesalahan fatal lagi. Dan Ibu akan beritahukan semuanya pada Al, biar dia mencari tahu semuanya," jawab Ibu Irma.
"Terimakasih, Bu ...."
"Terimakasih, tante, ...."
"Ayo Ir, berangkat denganku saja," titah Riyan mengulurkan tangannya di depan teman wanitanya.
Irma tersenyum kemudian menganggukkan kepalanya, "Aku ambil tas dulu. Tunggu sebentar," titah Irma.
"Terimakasih Bu, aku akan menjaga diriku sebaik mungkin," ucap Irma mencium punggung tangan Ibunya.
Setelah Irma mengambil tas, mereka kemudian berpamitan dengan Ibu Irma, matanya masih memancarkan kekecewaan dan kesedihan, bahkan untuk membalas ucapan putrinya dia enggan.
"Tante, aku pamit dulu," ucap Riyan.
__ADS_1
"Hati-hati nak Riyan, Ibu mempercayakan dia padamu," ujar Ibu Irma kemudian masuk ke dalam kamarnya.
Setelah kepergian ibunya, Irma dan Riyan langsung berjalan menuju mobil, tak ada yang saling bicara.
"Ir?" panggil Riyan saat mereka sudah berada di dalam mobil.
"Iya?"
"Kenapa harus berbohong?"
"Kenapa? menurutmu, kenapa?"
"Aku tidak mungkin bicara jujur pada Ibu, aku tidak mau menambah masalah, apalagi jika aku harus menikah dengan kembaran Mas Jeff, aku tidak bisa membayangkan betapa hancurnya hati Mas Jeff. Lebih baik, aku rahasiakan semua ini. Aku tidak mau masalah ini menjadi rumit," jawab Irma dengan mata yang memandang pepohonan pinggir jalan.
"Sampai kapan, Ir? kamu tahukan, sikap Kakakmu seperti apa? dia tidak mungkin diam saja setelah mengetahui adiknya hamil di luar nikah." jawab Riyan ekor matanya sesekali melirik pada wanita yang tengah memalingkan wajahnya.
"Aku sudah mempunyai rencana sendiri, Aku akan menghilang dari kota ini sampai anak ini lahir. Ibu memintaku untuk tidak menggugurkan kandungan ini, dan menurutku cara satu-satunya, agar tidak mempermalukan keluargaku hanyalah pergi menghilang sampai anak ini lahir," ucap Irma.
"Jangan menatapku seperti itu," kekeh Irma setelah melihat wajah teman prianya tertekuk lesu.
"Bicaralah baik-baik dengan Jack, aku rasa dia tipe orang yang bertanggungjawab," ucap Riyan.
"Tidak bisa, aku tidak mau menikah dengan Jack. Aku takut mengecewakan hati Mas Jeff," tolak Irma.
"Lalu, kau mempertaruhkan masa depan anakmu ini? Rasanya dibully karena tidak mempunyai seorang Ayah? Hinaan dari tetangga sekitar yang mencap mu sebagai wanita--"
"Aku bisa melewati semuanya. Aku bisa bertahan."
"Anakmu? apa anakmu mampu melewati semuanya?"
"Bagaimana kalau anakmu perempuan? Bagaimana kalau anakmu bertanya tentang keberadaan Ayahnya. Tolong pikirkan ke depan, Ir! kamu tidak bisa berpikir menggunakan perasaan. Pikirkan anakmu juga!"
"Aku tidak mau membahas apapun lagi."
"Ya sudah, pikirkan ucapanku. Bicara baik-baik dengan Jack! karena bagaimana pun, dia Ayah kandung dari anak yang kamu kandung," ucap Riyan.
"Hem ...."
__ADS_1
"Dengarkan ucapanku, Ir!" bentak Riyan saat teman wanitanya mengabaikan ucapannya.
"Aku sudah dengar, dan aku tidak mau membahas itu lagi. Aku mau bekerja! percepat lagi laju mobilnya" ketus Irma.
'Aku tidak mungkin menikah dengan seorang pembohong sepertinya. Awalnya saja, dia sudah berani berbohong. Apalagi setelah menikah, bisa-bisa setiap hari aku ditipu. Lagi pula, kita tidak saling mencintai.' gumam Irma dalam hati.
Setelah beberapa menit mobilnya membelah jalanan Ibukota, akhirnya Irma dan Riyan sudah sampai di parkiran bawah tanah rumah sakit.
"Sekarang turunlah," titah Riyan sambil melepas sabuk pengamannya.
"Apa dia masih ada di sini?" tanya Irma tiba-tiba.
"Dia?" ulang Riyan menautkan kedua alisnya.
"Iya, dia, penipu itu!" ketus Irma saat melihat ekspresi wajah teman prianya yang terlihat kebingungan.
"Aku tidak tahu, memangnya ada apa?" tanya Riyan.
"Ish! kau kan dokter yang menanganinya, masa tidak tahu keadaannya!"
"Memang pasienku hanya satu? memang aku tidak mempunyai pasien lagi selain dia?"
"Sudah, ayo masuk! ingat, pesanku tadi." titah Riyan membuka pintu mobilnya.
"Ayo!" sambungnya lagi.
"Hem ...." gumam Irma melepas sabuk pengamannya dan keluar dari mobil Riyan.
"Terimakasih!"
"Hem ...." jawab Riyan membuat Irma menatap teman prianya.
"Tukang tiru!" ketus Irma.
"Irma!" teriak seseorang dari kejauhan.
Bersambungš
__ADS_1